TABIB KELANA

TABIB KELANA
Hadiah Tak Terduga


__ADS_3

Kata untung bagi sebagian suku Melayu Kepulauan Meranti selalu ada diucapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Jika ada anak SD yang nilai ulangan mata pelajaran matematika mendapat nilai 50. Dia paling akan berkata, "Untung dapat nilai 50, kalau dapat nilai 45 kan lebih parah lagi."


Atau ada juga anak tetangga yang jatuh karena main sepeda sehingga menyebabkan lututnya lecet-lecet, palingan si ibunya akan berkata, "Untung cuma lecet, Nak. Bagai mana kalau kaki mu patah atau terkilir, kan tak bisa main sepeda lagi."


Pernah juga terjadi di salah satu wilayah Kepulauan Meranti, rumah warganya terbakar akibat korsleting listrik, saat ditanya berapa kerugian akibat kebakaran ini? Setelah menjawab dengan perkiraan angka sekian dan sekian lalu warga tersebut menambahkan, "Tapi untung lah kami sekeluarga masih sempat menyelamatkan diri." Sudah jelas-jelas dia rugi secara materi, tapi bibirnya masih sempat mengatakan 'untunglah'.


Begitu juga dengan kasus drg. Saloka yang dibilang oleh stafnya mempunyai anak di luar nik*h di kota Siak, sangat jelas bahwa opini tersebut sangat merugikan drg. Saloka, tapi karena dia tidak mendengarnya langsung maka dianggap 'Untung'.


Saat drg. Saloka dan stafnya yang berprofesi sebagai dokter penyakit dalam itu tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba mata mereka dikejutkan dengan pemandangan yang terpampang di hadapan mereka.


Mereka berdua tanpa sadar mengucek-ngucek mata saat melihat kulit tangan dan wajah wanita yang telah meninggal itu mulai berubah warna. Tidak pucat lagi.


Lalu dibalik selimut putih itu mereka melihat area perut dan dada mulai ada pergerakan pelan namun pasti.


Mereka berdua saling pandang.


"Pak Direktur....!" Gumam Dokter spesialis penyakit dalam itu.


"Ya....ya...saya tahu....!" Tentu saja drg. Saloka tahu apa yang ingin dikatakan oleh stafnya itu.


Jantung mereka berdebar sangat kencang. Ini adalah sebuah keajaiban. Mereka berdua berusaha menekan kegembiraannya sambil terus mengawasai proses itu.


Dalam kegembiraan yang semakin bertambah karena melihat perubahan wanita itu semakin baik, pernafasan dan detak jantungnya semakin lama semakin teratur, tiba-tiba wajah drg. Saloka sedikit berkerut melihat kondisi Mumu yang malah semakin lama tampak semakin pucat karena pengerahan tenaga dalamnya yang dilakukan secara terus menerus untuk menstimulasi titik-titik saraf wanita itu agar kembali berfungsi dengan baik.

__ADS_1


Drg. Panik. Dia takut terjadi sesuatu pada diri Mumu. Walau pun dia gembira melihat kondisi istri Ketua Dewan yang semakin membaik tapi dia juga takut jika Mumu kenapa-napa.


Baginya Mumu adalah aset yang sangat berharga, tentu saja dia tak ingin Mumu mendapat celak*.


Memang saat ini Mumu tampak sangat menderita. Sedari awal ia sudah tahu bahwa tingkat keberhasilannya hanya sekitar 35%. Tak lebih. Hal ini bukan karena wanita tersebut tidak bisa diobati lagi tapi Mumu menyadari bahwa tenaga dalamnya tak akan cukup untuk mengobati hingga sembuh.


Paling tidak dengan tingkat keberhasilan 35% maka wanita tersebut bisa melewati keadaan koma.


Sedangkan untuk dirinya sendiri, Mumu merasa paling berat ia akan pingsan akibat kelelahan karena telah memforsir tenaga dalamnya hingga menjadi kosong.


Paling tidak ia bisa menolong seseorang melewati masa kritisnya sehingga ia berharap pihak RSUD bisa menangani selebihnya.


Karena ia sudah berketetapan hati untuk menolong orang dengan resiko kehabisan tenaga dalam sehingga selama proses pengobatan ia bisa fokus dan tenang.


Mumu berpikir paling-paling ia harus beristirahat selama tiga hari di tempat tidur sampai tenaga dalamnya pulih kembali.


Mungkin karena niatnya semata-mata untuk menolong sesama tanpa pamrih, dengan hati yang ikhlas dan lurus sehingga walau pun sudah menggunakan kekuatan tenaga dalamnya mencapai titik akhir, anehnya Mumu tidak menjadi lemah sama sekali.


Biar pun di luaran keringatnya mengucur tanpa henti, tapi di dalam tubuhnya, Mumu bisa merasakan tenaga dalamnya terus bertambah dengan perlahan seiring dengan penggunaan tenaga dalamnya yang terus ia transfer ke titik-titik saraf wanita malang itu dengan perantaraan jarum akupuntur tersebut.


Siklus itu terus berlangsung dengan ritme yang sama. Seberapa banyak tenaga dalamnya yang keluar maka sebanyak itu pula tenaga dalamnya bertambah.


Ini sebenarnya adalah fenomena langka. Terus terang Mumu belum pernah mengalaminya.


Jika bukan karena harus berkonsentrasi penuh, mungkin Mumu sudah mengerahkan kekuatan spiritualnya untuk mempelajari fenomena yang aneh tapi unik tersebut.

__ADS_1


Jelas ini merupakan suatu anugrah. Ia menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan tanpa peduli dengan resiko yang ia alami, dan Yang Maha Kuasa pun menolongnya dengan cara yang tidak ia sangka dan ia duga.


Saat ini jantung wanita itu sudah berfungsi dengan normal, memompa darah dan menyebarkan ke seluruh tubuh. Jantung bukan hanya sudah sembuh tapi juga menjadi lebih kuat dibanding jantung orang lain.


Begitu juga dengan organ tubuh yang lain, yang awalnya banyak cacat karena penyakit, setelah diobati dengan tenaga dalam Mumu sehingga menjadi lebih kuat.


Sungguh beruntunglah orang yang pernah diobati oleh Mumu dengan menggunakan tenaga dalam, secara tak langsung fisik mereka menjadi lebih kuat dan lebih kebal terhadap berbagai penyakit yang akan datang.


Tak lama kemudian tampak jari-jari wanita itu mulai bergerak seperti ingin meraih sesuatu, seakan-akan dia ingin meraih tangan yang biasanya menaungi dan melindunginya dalam setiap keadaan.


Saat kelopak matanya terbuka dengan perlahan, tanpa sadar dia langsung menangis bahagia melihat orang yang sangat dicintainya duduk di hadapannya dengan pandangan sayu.


Dia langsung berusaha bangkit dan mencoba meraih tangan suaminya.


Ketua Dewan langsung tersentak dari perasaan linglungnya saat merasakan sesuatu yang sangat dia kenal menyentuh kedua tangannya.


Rasa hangat itu sepertinya sudah sangat lama berlalu, rasa yang dia rindukan.


Kepala Ketua Dewan tersentak bagaikan terkena sengatan listrik dan pandangan matanya yang awalnya kosong kembali menjadi fokus saat merasakan pergelangan tangannya menjadi hangat karena digenggam oleh sesuatu. Genggaman yang sangat dia kenal.


Saat dia melihat wajah yang sangat dikenal dan dirindukannya hadir dalam jangkaun matanya dengan tersenyum tipis, dia langsung bergerak maju dan merangkul sekencang-kencangnya seakan-akan takut ini hanyalah sebuah hayalan, yang akan hilang jika dia melepaskan rangkulan tersebut.


Tak ada kata-kata yang terucap, sebuah pelukan yang erat bagaikan sejuta makna sehingga mereka berdua sama-sama paham dan mengerti.


Sehingga mereka tak memerlukan apa-apa lagi yang ingin dikatakan. Semuanya sudah tersampaikan lewat detak jantung mereka yang menyatu.

__ADS_1


Mumu dengan perlahan mengungsi ke belakang. Untung saja jarum akupuntur sudah ia selamatkan dari tadi.


__ADS_2