
Kota Selatpanjang berubah menjadi emas. Sangat indah dilihat. Walau pun cahaya matahari sore masih secerah dikala tengah hari, tapi cahaya keemasannya mengandung kelembutan dan tidak menyengat.
Kendaraan berseliweran memenuhi jalan. Kedai kopi, taman, pantai Dorak dan swalayan dipenuhi oleh orang-orang yang sedang JJS, jalan-jalan sore setelah seharian bekerja di kantor.
Di salah satu bangku yang terletak di sudut kolam Telaga Bening, Selatpanjang, Mumu sedang duduk menikmati pemandangan kolam besar bagaikan danau di pusat kota Selatpanjang.
Sedangkan di depannya, dipisahkan oleh meja kecil duduk seorang wanita berperawakan agak gemuk dan berjilbab biru muda.
Wanita muda itu mengaku bernama Nisa. Dia yang menelpon Mumu tadi dan memintanya untuk bisa bertemu walau hanya sesaat.
Mumu menyadari ada nada kekhawatiran dalam nada Nisa saat menelponnya tadi sehingga Mumu menyempatkan diri untuk menemuinya.
Mumu mengalihkan pandangannya dari kolam ke wajah Nisa dan berkata, "Jadi kamu teman kuliah Erna? Apa yang ingin kamu diskusikan tentang dia? Sebagaimana kamu tahu, aku tak begitu mengenal dia, hanya sebatas kenalan saja."
"Ya, aku tahu. Ini mengenai hutang perusahaan orang tuanya. Aku juga tak tahu persis seperti apa masalahnya, yang jelas hutang perusahaan sudah beberapa hari jatuh tempo sehingga harus segera dibayar."
"Lalu apa masalahnya? Kan sudah lumrah menjalankan bisnis dan melakukan pinjaman, tak ada yang salah tentang itu." Ujar Mumu tak mengerti. "Lagi pula dengan status orang tuanya mustahil jika mereka tak mampu untuk membayar hutangnya kan?!"
Nisa menggelengkan kepalanya dengan sedih, "Masalah ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan, hutang uang memang bisa dibayar tapi dalam surat perjanjian mereka juga disebutkan bahwa Erna harus diserahkan kepada rentenir itu jika telat membayar."
"Apa? Mumu sangat terkejut, lalu ia berkata dengan nada tak percaya, " Mungkin kamu salah info, walaupun tidak mengenal dekat tapi aku tahu seperti apa sifat Pak Sukamto, tak mungkin dia tega mengorbankan anaknya demi sebuah pinjaman. Lagi pula perjanjian itu terlalu mengada-ada. Pasti ada kesalahfahaman di sini.
Menurut cerita Nisa, memang bukan Ayah Erna yang meminjam uang dan membuat kesepakatan seperti itu, tetapi pamannya dengan mengatasnamakan perusahaan. Masalahnya sekarang adalah surat perjanjian tersebut memang asli dan sah menurut notaris.
Hal ini membuat Pak Sukamto sekeluarga tak berkutik dan hanya bisa mengutuk almarhum iparnya yang telah membuat masalah begitu besar dalam keluarga mereka.
"Mengapa kamu menceritakan semuanya kepadaku? Aku hanya seorang tabib, apa yang bisa aku lakukan terhadap permasalahan besar seperti itu." Tanya Mumu heran.
Nisa menarik nafasnya dengan berat dan berkata, "Aku hanya kasihan dengan nasib yang menimpa Erna, tapi aku tak tahu harus mengadu kepada siapa. Sangat disayangkan gadis sebaik Erna harus jadi korban."
__ADS_1
Tak lama kemudian Nisa pun pulang sedangkan Mumu masih tetap duduk memandang kolam.
Ia memang tidak dekat dengan keluarga Pak Sukamto. Hubungan mereka hanya sebatas tabib dan pasien. Itu pun sudah lama berlalu.
Saat membayangkan nasib Erna di tangan rentenir Mizan, mau tak mau muncul juga jiwa kepahlawanannya.
Hanya saja saat ini Mumu sendiri pun tak tahu cara apa dan bagaimana yang harus ia lakukan untuk membantu Erna dan keluarganya keluar dari kesulitan tersebut.
Tak sulit mencari rumah Mizan sang rentenir yang kaya raya itu.
Rumahnya berada di jalan besar Alah Air, tak jauh dari pasar sore.
Walaupun cuaca mulai gelap, tapi rumahnya terang benderang dihiasi lampu yang banyak sekali.
Tak tahu dari mana sumber kekayaan Mizan yang jelas, dalam pandangan publik, dia adalah orang yang taat hukum dan taat pajak.
Mizan merupakan sumber keuangan yang cepat bagi para orang-orang berpangkat yang ingin meminjam dana segar.
Setelah mengetahui lokasi rumah rentenir Mizan, Mumu melihat jam tangannya sebentar, 'Masih cukup waktu' gumamnya, lalu pergi ke suatu tempat.
Dalam pada itu di ruangan tengah rumah, Niken terbaring di atas sebuah kasur yang empuk.
Kondisinya masih sangat lemah, karena racun yang diminumnya belum sepenuhnya bisa dinetralkan oleh obat-obatan.
Sebuah slang infus masih terpasang di tangannya.
Menjelang sore tadi, setelah diskusi yang alot dari orang tua Niken, Buk Larasati dengan dibantu oleh Agus Deka telah menandatangani surat penolakan perawatan dari pihak RSUD dan langsung membawa Niken pulang ke rumah.
Sempat terjadi penolakan keras dari Ayah Niken, tapi setelah diberi penjelasan, akhirnya dia setuju.
__ADS_1
Pihak RSUD juga sudah mewanti-wanti keluarga Buk Larasati bahwa mereka tidak akan bertanggung jawab jika sesuatu hal terjadi atas Niken.
Agus Deka sedang menyeruput teh panas saat Buk Larasati mendekatinya dengan wajah cemas. Pandangan matanya sebentar-sebentar melihat ke arah pintu yang hanya terbuka separuh, seolah-olah ada yang sedang ditunggunya.
"Apakah kamu yakin dia akan datang, Gus?"
Agus Deka meletakkan gelas tehnya di meja lalu mendongakkan kepalanya, dia berkata, "Aku yakin dia pasti datang, Buk! Walaupun aku belum begitu mengenalnya, tapi aku merasa dia orang yang bisa dipercaya." Pada hal dalam hatinya ada sedikit kebimbangan. Jika saja orang tersebut tidak jadi datang, tentu saja bukan karena ingkar janji tapi lebih kepada sebab-sebab lain, Agus Deka tak bisa membayangkan betapa malunya mereka jika terpaksa membawa Niken ke RSUD kembali setelah apa yang terjadi hari ini.
Saat Agus Deka bimbang apakah dia harus menelpon orang tersebut, terdengar suara deru motor memasuki halaman rumah.
Dia dan Buk Larasati serempak berdiri dan bergegas menuju pintu.
"Hmm...ternyata Ayah...!" Bibir Buk Larasati melengkung. "Kirakan siapa tadi."
"Memangnya kenapa?" Tanya suaminya heran, "Masa tak kenal dengan suara motor Ayah." Pak Rustam membawa belanjaan makanan siap saji ke dalam.
"Sini saya bantu, Pak." Agus Deka mengambil sebagian belanjaan tersebut dan menaruhnya di meja.
Mereka kembali duduk dengan gelisah.
Saat jarum panjang jam menunjuk ke arah angka sebelas serta mulai timbul rasa putus asa, mereka kembali memalingkan kepalanya ke arah pintu saat kembali terdengar suara motor yang memasuki halaman.
Agus Deka segera membuka pintu. Dia segera tersenyum lebar. Ini memang orang yang mereka tunggu.
"Ayo! Silahkan masuk Mumu."
"Terima kasih, Bang. Memang detail alamat yang Abang beri." Mumu menyalami mereka satu per satu.
Saat melihat Mumu datang, senyum manis langsung tersungging di bibir Buk Larasati, walaupun dia tidak melihat bagaimana proses Mumu mengobati Randi, dengan melihat kesembuhan Randi secara ajaib sudah membuatnya menaruh harapan seratus persen terhadap Mumu.
__ADS_1
Jika tidak begitu, tak mungkin dia rela membawa anaknya pulang hingga menandatangani surat penolakan di RSUD.