
Drg. Saloka terperangah. Dia memperkirakan bobot pria gemuk itu tidak kurang dari sembilan puluh tujuh atau sembilan puluh delapan kilo, tapi gerakannya sangat cepat. Hanya dalam dua kedipan mata, pria itu sudah menghilang dari pandangannya.
Drg. Saloka mau tak mau hanya bisa mengu*uknya di dalam hati atas prilaku pria yang tidak bertanggung jawab itu.
Dia hanya bisa menghela nafas sembari menimang kartu ATM pria gemuk tersebut.
Saat dia duduk di ruang tunggu, dia kembali melirik kartu ATM tersebut, rupanya ada secarik kertas kecil yang bertuliskan angka, mungkin kode PIN nya.
Bukannya senang melihat angka yang tertera di kertas kecil tersebut, drg. Saloka kembali menyump*h di dalam hati, ternyata pria gemuk itu sudah merencanakannya sejak lama, berpura-pura menjadi domba untuk menipu harimau, sengaja memasang wajah memelas agar hati nurani drg. Saloka tersentuh, sehingga pria gemuk itu sukses melarikan diri dari Pak Dewan dan drg. Saloka lah yang akan menjadi korban kemarahan Pak Ketua Dewan.
Pada akhirnya kembali lagi kepada ego manusia yang ingin menang sendiri, mencari muka di saat ada maunya, menghindar di saat tak ada keuntungan baginya.
Bagai mana mungkin orang yang dalam keadaan panik dan cemas masih sempat-sempatnya terpikir untuk menulis kode PIN nya sebelum dia berniat untuk pergi.
Drg. Saloka hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Ternyata dia masih terlalu polos, dalam menjalani kehidupan yang keras ini kadang kala kita tak bisa hanya mengandalkan hati nurani untuk bertahan hidup.
Setengah jam berlalu, Pak Ketua Dewan keluar dari ICU dengan wajah muram, alisnya menyatu dan bibir menyempit, yang menjadi pertanda dia sedang marah dan bermasalah.
Drg. Saloka tak ada pilihan lain selain berjalan mendekat, "Bagai mana keadaan ibuk, Pak?"
Pak Ketua memandang drg. Saloka seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup, "Tipis harapan." Jawabnya singkat. "Mana pria gemuk, kolega mu, Pak Dokter? Saya perlu melurusakan beberapa urusan dengannya selepas ini. Bagai mana pun juga dia lah yang telah memujuk saya untuk segera merujuk istri saya."
"Anu, Pak....dia terpaksa kembali ke Selatpanjang, ada rapat mendadak, dia menyampaikan permintaan maaf kepada Bapak."
Pak Ketua menatap drg. Saloka dengan sinis, "Saya tak peduli jika Pak Dokter berusaha membelanya. Jika terjadi apa-apa dengan istri saya di sini, saya hanya berharap Pak Dokter tidak terlalu berharap untuk terus memimpin RSUD yang akan datang."
Drg. Saloka membuka mulutnya tapi tak ada kata-kata yang keluar.
Mengapa dia yang dikambinghitamkan? Apa salah dia?
__ADS_1
Sejujurnya dia tak terlalu peduli dengan jabatan Direktur RSUD, jika memang tidak dipercaya kenapa harus bertahan.
Cuma dia tak mau reputasinya menjadi jelek jika harus dipaksa mundur dengan alasan yang tak logis.
'Apa kah wanita tua itu sengaja ingin menjerumuskan dirinya dengan memintanya untuk ikut mendampingi Pak Ketua Dewan membawa istrinya walau hanya sampai di Pekanbaru?'
Drg. Saloka melangkahkan kakinya keluar dari RSUD kota Siak, setelah memanggil gojek dia pun pergi dengan kepala tunduk.
Ini adalah kali ketiga drg. Saloka datang ke sini, dia langsung memesan ikan masak asam pedas yang menjadi favoritnya.
Karena terlalu memikirkan kondisi istri Pak Ketua Dewan membuat drg. Saloka melupakan kondisinya sendiri.
Sedari tadi dia belum makan.
Sambil menunggu pesanannya datang, drg. Saloka menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil mengedarkan pandangannya dengan acuh tak acuh, bukan karena dia tak ingin peduli, tapi dia tahu bahwa tak akan ada orang yang dikenalnya di sini, bagai mana pun juga ini adalah kota Siak, bukan kota Selatpanjang.
Betapa kelirunya dia!
Saat ini mereka berdua sedang mendengarkan obrolan Mumu dan cucunya terkait pengetahuan umum yang biasa dipelajari di bangku kuliah. Setiap pertanyaan Aisy pasti bisa dijawab Mumu dengan mudah. Karena tak tahan lagi, akhirnya Tuk Udin ikut nimbrung, "Dari mana kamu tahu pengetahuan tersebut, Mumu? Bukan kah tadi kamu mengatakan hanya tamatan SMA saja?"
"He he apakah Atuk menyangka saya telah membohongi Atuk? Saya suka membaca buku, Tuk, kebetulan apa yang ditanyakan oleh Aisy, materinya pernah saya baca sekilas, kalau tidak bagai mana saya bisa nyambung apa yang dibahas oleh Aisy, Tuk."
"Benar kah seperti itu?" Tuk Udin tak percaya. Memang tak bisa kita menyimpulkan buku hanya melihat dari sampulnya saja.
"Benar, Tuk."
Mata Siti Aisyah berbinar-binar. Semakin dekat dia dengan Mumu semakin gembira hatinya.
"Mau kah kamu tinggal di sini hingga besok, Mumu. Aku merasa tercerahkan saat membahas berbagai hal dengan mu. Mata kuliah yang awalnya aku anggap sulit ternyata bisa kamu kupas dengan mudah."
__ADS_1
Mumu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "Di Selatpanjang aku diamanahkan untuk menjaga rumah orang, Aisy, tak enak rasanya jika harus ditinggal terlalu lama."
"Kamu jangan mempersulit Mumu, Aisy. Kasihan dia." Timpal Nenek Kam.
Dengan wajah sedih Siti Aisyah berkata, "Baik lah, Nek." Lalu dia memandang Mumu dengan penuh harap, "Kamu harus membalas pesanku jika aku nanti konsultasi kepada mu, Mumu."
"Insya Allah."
"Janji ya!?"
"Aisy......kamu jangan sering menganggu Mumu, bagaimana pun juga dia sibuk, tak mungkin bisa mengurus kamu saja." Ujar Nenek Kam sambil melotot ke arah Cucunya. Dia hanya pura-pura marah. "Jangan terlalu ditanggapi kelakuan dia, Mumu."
"He he iya, Nek..." Mumu hanya bisa terkekeh melihat tingkah Nenek Kam. "Terima kasih atas jamuannya, Tuk, Nek, Aisy, saya undur diri dulu. Kapan-kapan kalau ada ke Selatpanjang, jangan sungkan-sungkan menghubungi saya." Mereka pun bersalaman. Siti Aisyah dengan dengan berat hati melepaskan kepergian Mumu.
"Hati-hati di jalan, Mumu." Tuk Udin menepuk-nepuk punggung Mumu.
"Mumu!" Mereka dikejutkan oleh teriakan seseorang. Mereka berempat serempak menoleh ke arah pria yang berjalan cepat menuju ke arah mereka.
Saat melihat pria itu, Mumu sedikit terkejut tapi segera mengukir senyum dibibirnya sambil berkata, "Pak Dokter, gerangan apa yang membawa anda ke sini?"
Mereka bersalaman. Lalu Mumu mengenalkan drg. Saloka dengan rombongan Tuk Udin.
Mereka berbincang sebentar, lalu Tuk Udin berinisiatif untuk pergi, karena dia melihat dokter tersebut seperti ada masalah yang ingin diceritakan dengan Mumu.
Dia sebagai orang luar tentu saja tak sopan jika terus berada di sana.
Akhirnya setelah ketiga orang itu pergi, drg. Saloka menarik tangan Mumu untuk ikut di mejanya yang terletak di sudut ruangan.
"Kamu pesan saja makanan atau minuman yang kamu ingin, Mumu. Ada hal mustahak yang ingin aku bicarakan."
__ADS_1
"Aku sudah kenyang, Pak, Bapak makan saja dulu, nanti kalau teringin sesuatu, aku akan pesan."