
Setelah menusuk tiga jarum akupuntur di tempat yang berbeda di sekitar kepala Pak Amat, Mumu memasukkan sedikit kekuatan tenaga dalamnya melalui jarum tersebut untuk membuka simpul saraf dan jaringan darah yang tersumbat.
Dengan menggunakan media jarum akupuntur tenaga dalamnya bisa menjangkau langsung pada titik yang bermasalah.
Walaupun Mumu tetap bisa mengobati langsung melalui kekuatan spiritualnya untuk menggerakkan tenaga dalamnya tapi prosesnya lebih lama dibandingkan dengan menggunakan media jarum akupuntur.
Bagaimana pun juga simpul saraf yang di bagian kepala lebih rumit dan banyak, jika tidak hati-hati malah akan mengenai saraf-saraf yang lain.
Setelah menghidangkan kopi untuk tabib muda dan suaminya, Buk Rofeah langsung duduk tak jauh dari suaminya.
Walau pun sedikit ngeri melihat jarum yang tertancap di kepala suaminya, tapi demi melihat suaminya tenang-tenang saja seolah-olah tidak merasakan sakit sama sekali sehingga Buk Rofeah kembali tenang mengamati proses pengobatan tersebut.
Buk Rofeah memang tak faham dengan cara pengobatan seperti yang dilakukan Mumu, tapi dia tetap berdecak kagum melihat kelihaian Mumu dalam mengobati suaminya.
Mungkin hanya perlu waktu sekitar lima belas menit Buk Rofeah melihat Mumu sudah selesai mengobati suaminya.
Dia seperti tak percaya, apa memang semudah itu?
Sedangkan sakit kepala biasa saja memerlukan minum obat 3x1 dalam sehari semalam, apakan lagi penyakit pelupa yang dialami suaminya ini.
Dengan degup jantung yang semakin laju, Buk Rofeah melihat apakah ada perubahan yang terjadi pada suaminya ini.
Pak Amat tak tahu jika kepalanya ditusuk dengan tiga batang jarum akupuntur, jika dia tahu, walaupun dengan alasan membuka aura unik, kemungkinan besar Pak Amat akan menolaknya mentah-mentah.
Saat kepalanya dimasukkan oleh sesuatu, Pak Amat hanya merasakan sedikit dingin di sekitar kepalanya.
Lalu dia merasakan sesuatu yang lembut seolah-olah memijat kepalanya, rasanya nyaman sekali. Saking nyamannya Pak Amat merasa ingin sekali tidur, suatu perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Oleh karena mengenang bahwa ada tamu di rumahnya dan tidak sopan jika tidur di saat tamu sedang berkunjung sehingga Pak Amat berusaha menahan rasa kantuknya.
Tak lama kemudian Pak Amat merasakan pikirannya menjadi cerah, seolah-olah sebuah beban sudah terangkat dari dalam kepalanya. Dia segera berbalik dan duduk, dia menyadari bahwa anak muda yang di depannya ini telah mengobatinya sehingga dia segera berucap, "Terima kasih banyak atas bantuannya, anak muda, kepala Bapak terasa sangat ringan. Ayo diminum kopinya nanti keburu dingin."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Pak."
"Oh ya, siapa nama kamu, anak muda?" Lalu dia menoleh ke arah istrinya dan berkata, "Buk tolong ambil rokok Bapak di atas lemari, tadi belum sempat mau merokok setelah kamu beli."
Buk Rofeah tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca karena terharu.
Rupanya suaminya telah benar-benar sembuh.
"Buk....ooo buk, kamu kenapa? Tolong ambil rokok Bapak! Paling pas merokok sambil ngopi ini."
"I..iya, Pak..." Buk Rofeah bergegas mengambil rokok sambil mengusap air mata yang tiba-tiba keluar dari pelupuk matanya karena saking terharunya.
Setelah istrinya pergi, Pak Amat kembali mengulangi pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh Mumu tadi, "Oh ya, siapa nama kamu tadi, anak muda?"
"Saya Mumu, Pak."
Lalu mereka pun mengobrol hingga masuk waktu maghrib.
Lagi pula semenjak awal, saat ia mulai diberi karunia ilmu pengobatan, ia sudah bertekad ingin menggunakan ilmu tersebut untuk menolong sesama sedangkan bayaran hanyalah bonus, apa lagi sekarang Mumu diberi kelebihan rezeki dengan gaji bulanan yang lumayan besar dari RSUD, walaupun ia belum menerima gaji tersebut tapi hal-hal yang berkaitan dengan itu sudah tercantum semua di kontraknya, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya menunggu waktu.
Tak ada kejadian apa-apa saat Mumu pulang dari Semukut. Walaupun malam hari, masih tetap banyak orang-orang yang menyeberang kempang menuju Selatpanjang.
Hanya saja sewaktu Mumu melewati jembatan Perumbi, jembatan yang menghubungkan desa Alai dan desa Gogok, Mumu merasakan bulu kuduknya sontak berdiri, ia merasakan seperti ada sesuatu atau seseorang yang sedang menatapnya dari kegelapan.
Mumu segera membentangkan kekuatan spiritualnya tapi ia tak merasakan apa pun, hal tersebut mungkin disebabkan kekuatan spiritualnya hanya bisa mencangkup area seluas lima belas meter sekarang. Walaupun sudah meningkat sebanyak lima meter dalam beberapa hari terakhir, tapi tetap saja Mumu tak berhasil memindai sesuatu tersebut.
Setelah Mumu melewati jembatan tersebut, baru lah ia merasakan normal kembali. Tak ada lagi rasa seperti sedang diamati.
Mumu hanya bisa menggeleng tak berdaya dan melanjutkan perjalanannya.
Ketika sampai di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 wib.
__ADS_1
Setelah mandi dan makan, Mumu langsung beristirahat di kamarnya.
Sebagian besar anak muda pasti menghabiskan waktu di kamar sambil bermain game atau menjelajah dunia maya.
Beda dengan Mumu, walaupun ia selalu di kamar, ia lebih senang membaca buku dan melakukan meditasi olah nafasnya.
Sehingga dari hari ke hari pasti ada progres dalam hal kekuatan tenaga dalam dan kekuatan spiritualnya, walau pun hanya sedikit, hal tersebut tetap merupakan sebagai karunia bagi Mumu sehingga ia tidak akan bermalas-malasan.
Walau pun Bik Esah dan cucunya berada di rumah yang sama tapi mereka jarang bersua.
Bik Esah dan cucunya lebih nyaman berada di tempat lamanya, kamar bagian dapur sehingga mereka jarang ke rumah bagian depan jika tidak penting sekali.
Sebenarnya Mumu tak pernah membuat pengaturan seperti itu, ia telah memberi kebebasan kepada mereka hanya saja mereka merasa sungkan.
Suasana malam semakin sepi, saat Mumu menyudahi meditasinya jam sudah menunjukkan pukul 23.10 wib, tanpa terasa ia sudah melakukan meditasi selama dua jam lebih. Badannya terasa lebih enteng dan pikirannya terasa lebih jernih.
Mumu juga bisa merasakan organ dalam tubuhnya menjadi semakin kuat dari hari ke hari.
Mumu keluar kamar, memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci, ia bermaksud mengambil air minum di dapur.
Saat itulah ia kembali merasa seperti sedang ditatap oleh sesuatu dari jendela depan yang menghadap ke jalan.
Mumu sontak menoleh ke arah jendela tapi tak ada apapun di sana.
Sambil membentangkan kekuatan spiritualnya Mumu segera membuka pintu depan dan melihat sekelilingnya, tapi ia tidak menjumpai sesiapa pun.
Kekuatan spiritualnya pun tak mampu mendeteksi sesuatu itu.
Walaupun Mumu yakin pasti ada sesuatu di luar sana sedang memata-matainya.
Mengenai maksud dan tujuannya jelas Mumu tak bisa menebaknya dengan pasti.
__ADS_1
Yang jelas ia semakin mawas diri bahwa ada berbagai macam cabang ilmu di dunia ini sehingga ia harus lebih rendah hati dan tidak merasa sombong.