
Bukannya gembira melihat Pak Somad duduk sambil merokok, raut wajah Buk Senah tampak pucat, nyata benar dia ketakutan.
Seingatnya orang yang sakit parah lalu tiba-tiba sehat kembali, itu adalah pertanda ajalnya hampir sampai.
Biasanya gejala seperti itu, seperti sengaja diberikan kesehatan sehari hingga maksimal tiga hari. Setelah itu dia akan meninggal. Tamat riwayatnya.
Memikirkan suami yang menjadi tulang punggung keluarga akan pergi meninggalkannya, tanpa terasa air mata mengalir dari kedua pipinya yang mulai tampak tanda-tanda keriput tersebut.
Buk Senah tentu saja tak kuasa menahan kesedihannya.
Selain merasa sedih karena akan ditinggal oleh orang yang disayang dan merupakan pemimpin dalam rumah tangganya, di hati Buk Senah juga terbersit rasa bersalah karena sudah puluhan tahun mereka berumah tangga tapi dia merasa belum bisa sepenuhnya berbakti kepada suaminya yang pendiam itu.
Dia langsung menangis sambil memegang kaki suaminya.
"Maaf kan, Nah, Bang jika selama ini, Nah belum bisa menjadi istri yang baik dan berbakti kepada Abang. Ampunkan segala dosa-dosa, Nah, Bang. Nah janji, Nah akan selalu mengirimkan hadiah bacaan surah Al Fatihah dan surah Ya Siin kepada Abang nanti."
Pak Somad yang sedang menghisap rokok dengan penuh nikmat langsung tersedak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.
Matanya mendelik, "Apa yang kamu katakan, Nah? Kamu sudah muak mengurus aku selama ini ya sehingga kamu mendoakan supaya aku cepat-cepat minggat dari dunia ini?"
Buk Senah tambah sedih. Dia mengeratkan rangkulannya di kaki Pak Somad.
"Abang jangan bilang seperti itu, Bang. Nah hanya takut karena Abang tiba-tiba sehat. Abang kan tahu kalau ini ada lah sebagai pertanda."
"Pertanda! Pertanda! Pertanda kepalamu. Justru karena aku sehat ini lah makanya aku ingin menanyakan kepadamu, Nah. Siapa yang telah mengobati aku dan bagai mana caranya dia bisa menyembuhkan penyakit aku tanpa operasi."
Buk Senah bangkit dan duduk di hadapan suaminya. "Jadi Abang tidak tiba-tiba sembuh dengan sendirinya?" Tanya dia dengan penuh selidik. Buk Senah tak sepenuhnya yakin ucapan suaminya.
Bisa saja Pak Somad berkata seperti itu agar dia tidak menjadi galau menjelang perpisahan yang akan terjadi.
"Justru itu aku nanya sama kamu, Nah! Siapa yang telah mengobati aku. Walau pun dalam keadaan tidur, aku bisa merasakan sesuatu yang dimasukkan ke dalam kepala aku. Rasanya dingin tapi menyenangkan sehingga kepala aku jadi tambah ringan dan tambah ringan."
"Saat aku sadar barusan, aku merasakan bahwa tubuhku sangat segar, penglihatan aku jadi jelas. Bahkan aku merasa....aku merasa...."
"Merasa apa, Bang?" Melihat suaminya ragu, Buk Senah langsung bertanya. Penasaran.
"He he aku merasa....aku merasa kita akan menambah keturunan malam ini, Nah."
__ADS_1
"Ah...abang bisa saja." Buk Senah tersipu malu. Dia tak berani melihat langsung ke arah mata Pak Somad. Pandangannya melirik ke ke kanan, saat itu lah dia melihat sebuah amplop yang tergeletak di bawah kasur. Hanya ujungnya saja yang kelihatan.
Buk Senah menarik amplop tersebut dan membukanya.
"Bang...!!" Pekiknya dengan mata terbelalak.
"Eh....!!!" Tangan Pak Somad pun ikut gemetar saat melihat uang yang berada dalam amplop tersebut.
"Uang siapa, Nah?" Tanya dia.
Buk Senah memejamkan matanya. Berusaha mengingat sesuatu. Tak lama kemudian dia bergumam, "Pasti dia! Aku yakin pasti dia."
"Siapa, Nah?" Pak Somad penasaran.
Sejurus kemudian Buk Senah pun menceritakan kedatangan seorang anak muda dengan alasan ingin menjenguk Pak Somad.
Mendengar cerita istrinya, Pak Somad mengelus-elus janggutnya yang sudah lama tak terurus. Berkata lah dia, "Dari cerita kamu sebenarnya ada beberapa kejanggalan, Nah. Yang pertama, apa ada orang baik seperti itu di zaman sekarang ini? Menolong tapi tidak mengharapkan imbalan, malah dia memberikan kita uang. Yang kedua, Penyakit aku kan mustahil untuk disembuhkan, bagaimana bisa anak muda itu mengobati aku? Bagai mana menurutmu, Nah?"
"Kalau diturut logika memang benar apa yang Abang katakan. Tapi jika cerita Nah tidak sesuai kenyataan, bagai mana kita menjelaskan semua ini, Bang? Bagai mana Abang bisa sembuh dan siapa yang memberikan uang di rumah kita. Tak ada orang lain yang datang ke sini selain anak muda itu."
Mereka berdua pun tenggelam dalam pikiran masing-masing, berusaha menghubungkan fakta dan logika.
Dalam pada itu, Mumu, orang yang mereka bicarakan sedang menepikan motornya di pinggir jalan saat merasakan getaran dari handphonenya.
Setelah mematikan motornya, Mumu merogoh handphone dari dalam saku.
Ternyata ada pesan masuk.
"Assalamu'alaikum, Mumu, apa kabar? Sudah makan?"
"Di sini hujan hingga banjir. Apakah di sana sedang banjir juga?"
Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Siti Aisyah kepadanya.
Setelah membalas pesan Siti Aisyah, Mumu melihat pesan yang satu lagi.
'Erna?' Gumam Mumu. Dia lalu membuka pesan tersebut.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mumu, apakah kamu sibuk hari ini? Bisa kah kita bertemu? Ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu, itu pun jika kamu ada waktu."
Mumu termenung saat membaca pesan tersebut.
Pikirannya tanpa sadar membayangkan seraut wajah cantik dan periang anaknya Pak Sukamto.
Seingatnya mereka jarang berkomunikasi, mengapa tiba-tiba Erna ingin mengajaknya bertemu. Mumu jadi penasaran.
Lalu ia membalas pesan Erna.
Ternyata langsung dibaca dan Erna langsung mengetik balasan.
"Kalau begitu bagaimana jika kita bertemu di coffee shop yang di jalan Siak itu?"
Mumu pun membalas, "Baik lah."
"Oke, saya tunggu."
Mumu memutar motornya menuju ke arah pasar, Jalan Siak. 'Kira-kira apa yang ingin dibicarakan oleh Erna ya?'
Mumu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tak akan tahu sebelum mereka nanti bertemu. Oleh sebab itu ia langsung memacu motornya lebih kencang agar cepat sampai di tujuan.
Saat Mumu masuk ke dalam coffee shop, sebagian meja saja yang sudah berisi sedangkan sebagian lagi masih kosong.
Ia langsung menemukan Erna yang duduk sendirian di pojok kanan coffee shop tersebut.
Hal ini sedikit mengejutkan Mumu. Karena ia menyangka bahwa Erna akan membawa temannya di sini. Tak disangka bahwa dia hanya datang sendiri.
"Sudah lama, Erna?" Mumu memandang wajah Erna sekilas. Ia terkesiap. Mau tak mau ia memuji kecantikan Erna yang alami di dalam hati.
Selain itu juga Mumu menyadari bahwa Erna memang sudah berada di sini saat dia mengirim pesan tadi.
Menarik nafas dalam-dalam. Ia semakin penasaran.
"Silahkan duduk, Mumu. Mau pesan apa? Pesan saja. Oh ya,.kamu sudah makan, Mumu?" Ucap Erna dengan lembut.
Mumu memang belum makan tapi dia menjawab, "Sudah, Erna. Terima kasih."
__ADS_1
Ada sedikit kekecewaan di wajahnya. "Mau kah kamu menemani saya makan, Mumu? Saya belum makan dari tadi...."