TABIB KELANA

TABIB KELANA
80.


__ADS_3

"Wulan!" Seru Mumu senang. Dia segera berdiri menyambut Wulan.


Wulan seperti biasanya tetap cantik dan menawan dengan balutan baju gamis warna mocca yang dipadukan dengan jilbab warna yang senada.


Walaupun kali ini dia menggunakan cadar agar kecantikannya tidak terekspos ke luar, tapi Mumu masih dapat mengenalinya tanpa harus menggunakan kekuatan spiritualnya.


"Silahkan duduk, Wulan!" Ujar Mumu dengan semangat.


Wulan mengangguk. Dia langsung duduk berhadapan dengan Mumu.


"Mau pesan apa, Wulan?"


Wulan sedikit ragu. Dia tidak terbiasa memanfaatkan orang lain untuk makan atau minum sesuatu.


"Pesan saja apa yang kamu mau. Tenang saja, nanti aku yang bayar. Anggap saja sebagai syukuran atas pertemanan kita." Mumu tersenyum sambil menatap Wulan.


Wulan pun tak sampai hati menolak niat baik Mumu. Dia menaruh sedikit hormat terhadap Mumu yang telah menolong mereka tadi pagi.


Sambil menunggu pesanan datang, Wulan bertanya kepada Mumu, "Mengapa kamu berada di sini? Apa yang kamu lakukan, Mumu?"


Mumu lalu menceritakan apa yang terjadi, mulai dari toko untuk membeli benih sayuran hingga ia istirahat di sini karena ingin makan rujak.


"Kamu memang tidak kuliah atau kerja? Sebenarnya berapa sih usia mu?"


Ini adalah pertanyaan yang menganggu pikiran Wulan dan Lisa sedari tadi, memang ada perkiraan samar dari mereka. Karena kali ini Wulan bisa bertemu langsung dengan Mumu tanpa Lisa sehingga dia tak bisa lagi menahan pertanyaan yang cukup mengganjal dihatinya itu.


Melihat betapa seriusnya Wulan, Mumu tak bisa menahan senyumnya, "Apakah harus seserius itu, Wulan? Apakah kamu ingin mengajak aku ke kantor Capil untuk mengurus KTP?" Mendengar hal itu Wulan hanya bisa tersipu malu, untung saja wajahnya tertutup cadar sehingga Mumu tak melihat wajahnya berubah merah.


"Aku hanya tamat SMA, saat ini masih belum kuliah dan juga belum ada pekerjaan yang tetap alias pengangguran."

__ADS_1


Jika Lisa ada di sini mungkin dia akan mencemooh Mumu yang berstatus pengangguran dan tidak kuliah. Berbeda dengan Wulan, secara kasar dia sudah menebak ke arah sana. Lagi pula dia tak terlalu peduli dengan status Mumu seperti itu. Dia tidak mempermasalahkan sedikit pun. Yang dia pedulikan adalah usia, Mumu.


Melihat Mumu masih belum menyebutkan usianya, Wulan kembali bertanya, "Lalu usiamu berapa tahun?" Tapi kali ini nadanya lebih tenang dan santai.


"Delapan belas tahun!"


"Delapan belas tahun?" Mata Wulan terbelalak tidak percaya. Dia menatap mata Mumu seolah-olah ingin mengetahui kebenaran di sana. Tapi mata itu tetap tenang. Setenang danau yang membuat Wulan merasa nyaman saat melihatnya.


Memang wajah Mumu kelihatan masih muda, tapi melihat sikapnya yang kelihatan dewasa, Wulan berpikir paling tidak umur Mumu berada di rentang dua puluh atau dua puluh satu tahun. Dia tak pernah menyangka bahwa ternyata Mumu masih berusia delapan belas tahun.


Mereka terpaut tiga tahun, usia Wulan dua puluh satu tahun. Tapi Wulan merasa Mumu lebih dewasa dibandingkan dirinya.


Wulan tak terlalu banyak menceritakan tentang dirinya, selain usia dia hanya mengatakan bahwa dia salah seorang mahasiswi ilmu ekonomi syariah semester enam di salah satu kampus di luar Selatpanjang.


Karena Wulan tak mau terlalu banyak menceritakan prihal dirinya, Mumu pun tidak ingin bertanya lebih jauh. Hal ini meningkatkan rasa senang Wulan terhadap sikap Mumu.


Walau bagaimana pun mereka pun berbicara banyak hal. Hanya saja mereka tidak lagi membicarakan tentang hal-hal yang bersifat pribadi.


"Hmm, bagai mana ya...." Wulan tampak ragu. Melihat hal itu, walaupun sedikit kecewa, Mumu tak memperlihatkan di wajahnya. Mumu menyadari bahwa ia meminta terlalu lebih.


Bagaimana pun juga dunia mereka berdua sangat berbeda. Wulan anak kuliahan dan kemungkinan besar anak orang kaya.


Karirnya yang akan datang sudah jelas, sedangkan Mumu hanya seorang pengangguran yang tak jelas masa depannya, bukan orang kuliahan jadi wajar saja jika Wulan tetap ingin menjaga jarak darinya.


"He he jangan terlalu dipikiran, Wulan. Aku tak serius, anggap saja aku salah ngomong tadi. Oh ya, kenapa kamu hanya sendirian? Mana temanmu si Lisa?" Mumu segera mengubah topik pembicaraan.


Suasana yang awalnya terasa kaku karena permintaan Mumu tadi kembali mencair.


Rupanya Lisa sedang ada kegiatan sehingga Wulan tinggal sendiri di rumah. Karena bosan, dia akhirnya berjalan-jalan tanpa tujuan. Akhirnya dia ingin duduk-duduk sebentar di kolam Telaga Bening, tak menyangka dia akan ketemu Mumu di sini.

__ADS_1


Wulan melihat jam di handphone, "Sudah sore, Mumu. Aku pulang dulu ya. Terima kasih atas traktiran dan waktunya."


"Sama-sama, Wulan. Perlu dikawal sampai di rumah?"


Wulan segera menggelengkan kepala dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Jangan, Mumu, tak usah lagi." Dia tak ingin Mumu tahu rumah Lisa yang menjadi tempat tinggal sementara baginya saat ini.


Lagi pula dia tak ingin terlalu dekat dengan Mumu, walaupun dia merasa nyaman saat berbicara dengan Mumu. Tentu saja ini bukan karena status Mumu.


Mungkin karena khawatir Mumu akan membututinya secara diam-diam, Wulan langsung pergi saat Mumu membayar makan dan minum mereka.


Mumu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Wulan tapi ia tidak menyalahkannya sama sekali.


Seperti yang Wulan duga, Mumu memang membututinya, walau pun Wulan sudah sangat jauh, Mumu masih bisa melihatnya.


Cuma alasan Mumu membututi Wulan bukanlah semata-mata karena ingin tahu rumahnya agar ia bisa menyambangi Wulan.


Tidak! Sama sekali tidak seperti itu. Mumu hanya ingin memastikan bahwa Wulan sampai di rumahnya dengan selamat.


Terlepas dari perasaan Mumu apakah menyukai Wulan atau tidak, yang jelas ia tak ingin membina suatu hubungan dengan paksaan.


Sebagaimana pepatah yang pernah ia baca di dalam sebuah buku mengatakan bahwa 'Lepaskan dari pada memaksakan, ikhlaskan dari pada menyakitkan, relakan dari pada berjuang sendirian.'


Ternyata rumah Wulan berada di jalan Banglas lalu masuk ke gang yang tak ada papan plangnya sebelah kiri.


Tapi Mumu bisa dengan mudah menandainya karena gang tersebut persis di sebelah Kelenteng.


Dari kejauhan Mumu melihat Lisa keluar dari rumah menyambut Wulan, Mumu pun menarik nafas lega dan segera berlalu dari sana.


Dalam pada itu Lisa langsung mencecar Wulan dengan berbagai macam pertanyaan yang membuat Wulan langsung menutup kedua telinganya dan langsung berlari ke kamar.

__ADS_1


Lisa tentu saja tak ingin melepaskan Wulan. Sambil mengikuti Wulan ke kamar dia terus mengomel, "Sampai hati kamu jalan-jalan sendirian tak nunggu aku pulang. Pada hal kegiatan aku bukannya lama, saat aku pulang kamu malah tidak ada."


__ADS_2