TABIB KELANA

TABIB KELANA
46.


__ADS_3

"Sabar, Mumu! Jangan salah paham dulu! Aku tak bermaksud menganggumu. Aku hanya minta tolong kepadamu." Amran menyelesaikan perkataannya dalam satu nafas. Dia tak berani menatap mata Mumu secara langsung.


Dulu, sebelum dia kenal dengan sosok Mumu, jika ada orang yang bertanya siapa yang dia takuti selain abangnya? Dia dengan tegas akan mengatakan, tidak ada.


Sekarang, jika ada pertanyaan serupa, maka dia akan mengatakan bahwa orang yang dia takuti selain abangnya adalah pemuda yang di depannya ini.


Jika saja dia secara tak sengaja mendengar bahwa Mumu adalah seorang tabib yang terkenal, dia tak akan berani menemui Mumu lagi.


Tapi mengenang nyawa abangnya yang di ujung tanduk, terlepas dari berbagai usaha yang telah dia lakukan, dia hanya menaruh harapan terakhir dari pada uluran tangan Mumu.


Dia cukup tahu bahwa Mumu adalah musuhnya dan dia pernah punya dendam setinggi langit sedalam lautan terhadap pemuda yang di depannya ini dan dia cukup mafhum bisa saja Mumu juga menyimpan dendam terhadapnya, tapi dia tak mau melepaskan harapan terakhir demi nyawa abangnya.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Mumu tanpa bertele-tele.


Ia bukanlah anak kemarin sore. Ia tak akan dengan mudah percaya dengan musang berbulu domba.


"Bisakah kamu pergi ke rumahku? Abangku sedang sekarat sangat membutuhkan pertolonganmu." Ujar Amran dengan nada sedih.


"Mengapa mesti aku?" Mumu mengerutkan alisnya. Curiga. "Memangnya sakit apa abangmu itu? Kenapa tidak kamu bawa saja ke RSUD. Di sana kan banyak dokter yang lebih berpengalaman dan alat-alat yang lengkap.


Salah seorang teman Amran tak senang mendengar perkataan Mumu. Saatnya ingin maju, bahunya langsung ditahan oleh Amran.


"Ceritanya panjang dan tak enak kalau harus bicara di sini." Ucap Amran sambil mengedar pandangannya ke sekeliling.


Memang ada beberapa warga yang melihat ke arah mereka, karena mereka berhenti di jalan seakan-akan mau berkelahi.


"Kalau begitu pendek kan saja ceritanya." Mumu tak terlalu peduli dengan tanggapan warga sekitar.


Mungkin karena sedari awal ia memang tidak ada kesan baik terhadap Amran sehingga sikapnya agak ketus.


Ketiga teman Amran mengepalkan tangan dan menggertakkan gigi melihat sikap Mumu yang menurut mereka tak tahu diri itu.


Saat mereka ingin memberikan pelajaran terhadap Mumu, Amran kembali memberi isyarat dengan matanya agar tidak bergerak memperkeruh suasana.


Mau tak mau mereka kembali mundur dengan hati mendongkol.


Yang mereka tak habis pikir adalah sikap Amran terhadap anak muda yang pongah itu sangat merendah dan sabar.


Ini bukan lah sikap adik bos yang mereka kenal selama ini.

__ADS_1


Apakah gara-gara abangnya yang sekarat membuat ot*k Amran sudah tidak berada di tempat yang seharusnya?


Walaupun sikap Mumu tidak bersahabat akhirnya Amran tetap menceritakan musibah yang dialami abangnya, mulai dari serangan di markas rahasia mereka hingga akhirnya di bawa ke RSUD tapi tak bisa mendapatkan perawatan karena ilmu kebal abangnya.


"Itu lah yang terjadi. Tak ada yang bisa aku lakukan lagi. Sekarang abangku dalam keadaan koma. Aku tak tahu sampai kapan dia bisa bertahan." Ucap Amran dengan sedih.


Mumu terdiam. Ia ragu apakah ia bisa menembus ilmu kebal Handoko untuk melakukan pengobatan.


Jika tak bisa, maka akan sia-sia juga jika ia ke sana. Ia belum pernah mengobati orang yang punya ilmu kebal sehingga ia sedikit penasaran.


Tapi diamnya Mumu membuat Amran dan teman-temannya salah tafsir.


"Cish, buat apa punya ilmu pengobatan kalau ternyata hatinya sempit." Sindir teman Amran dengan pandangan menghina.


"Orang cuma pura-pura baik, tapi ternyata hatinya lebih bu*uk dari pada kita." Pungkas yang lain.


Mumu hanya menatap mereka sebentar tanpa membalas.


"Maaf, Amran aku tak bisa."


"Tolonglah, Mumu. Tolong selamatkan abang ku! Berapa pun biaya yang kamu pinta akan aku bayar. Jika kamu masih dendam sama aku, aku menyerah, tapi tolong selamatkan dulu abang ku." Amran tiba-tiba bersujud kepada Mumu.


"Apa-apaan kamu, Amran! Bangun!


Tak ada manusia yang bersujud kepada manusia!" Mumu menarik bahu Amran supaya berdiri.


"Aku tak mau menolong bukan karena dendam dan bukan juga karena minta biaya yang besar. Aku hanya tabib biasa. Aku tak yakin bisa menembus ilmu kebal abang kamu. Bagaimana aku bisa mengobati seandainya aku tak mampu menembus ilmu kebalnya. Coba kamu pikirkan!" Jelas Mumu panjang lebar.


Amran terdiam. Teman-temannya pun saling lirik karena malu.


"Tapi setidaknya tolong kamu lihat dulu kondisinya, Mumu. Perkara kamu dapat atau tidak mengobatinya nanti kita serahkan saja pada keadaan." Ujar Amran dengan lunglai.


Mumu menghela nafas, "Baiklah kalau begitu. Tunjukkan jalannya!"


"Yang benar, Mumu?" Amran terkejut tak percaya.


"Maksud kamu apa?"


"Eh..iya..ya, ayo kita segera berangkat." Amran tergagap. Dia bergegas menuju motornya dan melaju dengan kencang menyusuri jalan Rumbia dan berbelok ke jalan Revolusi.

__ADS_1


Ternyata ini rumahnya.


Rumahnya sangat mewah, bertingkat dengan halaman yang luas. Bunga-bunga dalam pot ditata rapi di depan rumah.


Di halaman samping ada sebuah kolam ikan seukuran 2x1 meter.


Amran langsung membawa Mumu masuk ke dalam. Sedangkan teman-temannya disuruh menunggu di luar.


Mereka berjalan melewati beberapa ruangan lalu tiba di depan sebuah kamar yang dijaga oleh dua orang di kiri kanan pintu.


Amran hanya mengangguk ke arah mereka dan langsung membawa Mumu masuk ke ruangan tersebut.


Sosok Handoko terbaring diam dengan wajah yang pucat pasi.


Tubuhnya kurus tanpa pergerakan apa pun.


Nafasnya sangat pelan seakan-akan setiap saat akan menghilang begitu saja.


Detak jantungnya hampir tidak ada. Jika bukan karena suhu tubuhnya masih terasa panas, mungkin orang akan mengira dia sudah tiada.


Inikah akhir kisah dari seorang preman pasar yang mempunyai ilmu kebal?


Segagah apa pun seseorang, sedigdaya apa pun, punya ilmu kebal dan ilmu kesaktian, jika sudah sakit seperti ini tak ubahnya seperti manusia biasa saja.


Ilmu yang dibangga-banggakan tak bisa lagi digunakan.


Di samping pembaringan seorang wanita muda tertunduk lesu. Dia bergeming walaupun tahu ada yang datang. Mumu meliriknya sebentar, ternyata wanita ini sedang hamil besar, mungkin ini adalah istri Handoko.


Mumu bisa melihat ada tiga bintik kehitam-hitaman sebesar bulir padi di jantung Handoko sehingga tak mampu bekerja maksimal untuk memompa dan mengedarkan darah ke setiap sel-sel di tubuhnya.


Mumu mencoba menotok beberapa bagian tubuh Handoko tapi jarinya seperti menusuk dinding baja. Tak bisa nembus.


Lalu Mumu mengeluarkan beberapa jarum akupuntur dan menyalurkan sedikit tenaga ke jarum tersebut sebelum diarahkan ke tubuh Handoko.


Hasilnya nihil.


Mumu menghela nafas dan berpaling ke arah Amran sambil menggelengkan kepalanya.


Amran hanya bisa pasrah. Ada kekecewaan di sana. Tapi mau dibilang apa lagi.

__ADS_1


Mungkin sudah takdir abangnya tidak berumur panjang.


__ADS_2