
Mumu menyudahi pemeriksaannya. Sambil mengelap keringat dengan punggung tangannya ia mendapati drg. Saloka yang sedang memelototinya sedangkan Pak Ketua kembali menatap wajah istrinya dengan pandangan sendu.
"Apa yang kamu periksa Mumu? Apakah kamu curiga bahwa penyebab kematiannya karena disebabkan oleh racun?"
Sambil menghela nafasnya Mumu hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Pak Dokter terlalu banyak berpikir. Sejak kapan saya bilang saya akan memeriksa Ibuk ini karena curiga keracunan?"
"Kalau begitu apa yang kamu lakukan? Kamu tak boleh berbuat sembarangan, Mumu. Bagai mana pun juga orang sedang dalam keadaan berduka." Emosi drg. Saloka tersulut mendengar jawaban Mumu seolah-olah mengejeknya karena terlalu banyak menghayal.
Memang anak muda sekarang perlu ditata lagi sopan-santunnya.
Mumu tak memperdulikan drg. Saloka lagi sebaliknya ia langsung berkata kepada Pria yang masih menatap wajah istrinya dengan sendu tersebut, "Pak Ketua, bolehkah saya mengobati istri Bapak? Tapi tingkat keberhasilan hanya...."
"Silahkan, Pak Dokter." Tanpa memalingkan wajahnya Ketua Dewan langsung memotong dan menyetujui keinginan Mumu.
Saat Mumu melihat di kedalaman matanya, Mumu hanya bisa menggelengkan kepala, ternyata pria ini mengalami depresi berat karena kehilangan istri tercinta.
Mustahil menunggunya menjadi stabil kembali karena Mumu khawatir ia tidak mempunyai waktu untuk itu.
Tanpa ada pilihan lain ia hanya bisa meminta bantuan kepada drg. Saloka yang saat ini masih dalam keadaan syok.
"Apa kah menurut mu, istri beliau belum meninggal, Mumu? Dan kamu mencoba ingin mengobatinya? Bukan kah keahlian kamu hanya berkenaan dengan racun?" drg. Saloka membombardir Mumu dengan berbagai macam pertanyaan.
Mumu tak punya waktu untuk menjawab pertanyaan drg. Saloka, karena ia tahu bahwa setiap jawaban akan melahirkan berbagai pertanyaan yang lain lagi.
Oleh karena itu ia hanya berkata dengan singkat, "Tingkat keberhasilan saya hanya 35%, Pak. Tolong diamankan ruangan ini jangan sampai ada yang menganggu."
Tanpa menunggu jawaban dari drg. Saloka, Mumu langsung mengeluarkan jarum akupuntur peraknya.
__ADS_1
Setelah mensterinya menggunakan tenaga dalam, Mumu langsung menusuk ke 108 jarum akupuntur tersebut ke titik-titik saraf di tubuh wanita itu.
Saat tubuh istrinya ditusuk dengan jarum akupuntur, wajah Ketua Dewan sedikit pun tidak berubah, bahkan pandangan sedikit pun tidak bergeser dari wajah istrinya seolah-olah Mumu berubah jadi transparan di hadapannya.
Sedangkan drg. Saloka seperti kehabisan nafas. Dia tahu Mumu mahir dalam mengobati orang yang keracunan tapi dia tidak tahu metode pengobatan yang dilakukan oleh Mumu.
Saat melihat Mumu mengeluarkan jaruk akupunturnya, dia sudah terkejut karena sedikit pun tidak menyangka Mumu mengobati orang menggunakan jarum akupuntur.
Ada orang yang menggunakan pengobatan jarum akupuntur selain dari suku China
Tapi bukti di depan matanya telah membuka wawasan drg. Saloka sekali lagi.
Apa lagi saat melihat Mumu menusuk jarum akupuntur dengan gerakan cepat dan tanpa kesulitan sama sekali, drg. Saloka hanya bisa terperangah.
'Ini adalah seorang ahli!'
Drg. Saloka berdebar gembira. Ternyata dia telah mendapatkan jackpot. Jika pihak Dewan Direksi tahu, maka tanpa usaha apa pun darinya, mereka pasti akan mencoba sekuat tenaga agar Mumu tidak berpaling dari RSUDnya.
Dalam pada itu Mumu terus menerus membagi tenaga dalamnya dan menyalurkan ke 108 buah jarum akupunturnya untuk menstimulasi kembali titik saraf yang tidak berfungsi lagi.
Tentu saja Mumu memfokuskan pada titik-titik saraf seputar jantung terlebih dahulu.
Pengobatan Mumu kali ini bagaikan saat ia melakukan proses meditasi. Konsep waktu tidak dikenal di sini, sehingga Mumu tak tahu berapa lama ia telah menyalurkan tenaga dalamnya berusaha mengembalikan secercah cahaya yang hampir padam tersebut.
Mungkin sebagian orang tak ingin melakukan pekerjaan yang beresiko seperti ini tanpa ada kejelasan tentang pembayaran atas jerih payahnya.
Bagi Mumu bukan itu yang dicarinya. Niatnya hanya untuk menolong orang. Bagaimana dengan kemampuannya yang masih sedikit itu bisa memberikan manfaat bagi orang lain yang membutuhkan.
__ADS_1
Saking konsentrasinya Mumu sehingga ia tak tahu bahwa gara-gara ia telah menyebabkan sedikit kegaduhan di ruang ICU.
Masalahnya pihak RSUD dilarang masuk ke ruangan sedangkan mereka sedang mengurus segala macam proses pemulangan jenazah.
Karena pesan Mumu, drg. Saloka benar-benar tak memberikan siapa pun yang masuk ke ruangan ini.
Hampir saja terjadi tindak kekerasan. Untunglah dokter spesialis yang ikut mendampingi pasien dari Selatpanjang pun datang dan membantu drg. Saloka melarang orang-orang untuk masuk ke ruangan.
Karena alasan privasi pasien dan etelah mendengar janji drg. Saloka untuk memberikan penjelasan kepada pihak RSUD terkait sikapnya itu, akhirnya dengan wajah masam mereka pun meninggalkan drg. Saloka.
'Sejak kapan posisi tamu dan tuan rumah berganti posisi?' Bukannya tuan rumah yang mengusir tamu, malah tamu yang mengusir tuan rumah tanpa malu.
"Siapa dia, Pak? Apa yang dia lakukan terhadap jenazah istri Pak Ketua?" Dokter spesialis itu panik sekaligus takut.
"Shhhhhhhttt..." drg. Saloka menyuruh diam. "Awasi saja dan jaga jangan sampai ada orang lain yang menganggunya."
Walau pun dia tak mengerti apa yang sedang terjadi tapi dia hanya bisa memilih diam.
Sesekali dia melirik pemuda yang bersimbah peluh seolah-olah sedang mengobati pasien dan mengalihkan pandangannya ke arah Pak Ketua Dewan yang tetap duduk dalam diam serta drg. Saloka yang sedang memfokuskan pandangannya terhadap anak muda itu.
'Apakah anak muda itu sedang melakukan mal praktek dengan menjadikan jenazah istri Pak Dewan sebagai bahan percobaan? Jika iya, mengapa drg. Saloka tidak melarangnya, apa kah ini atas persetujuan beliau? Siapa kah anak muda itu? Apa mungkin dia adalah anak har*m dari Pak Direktur?' Mau tak mau Dokter spesialis itu mencoba mencari kesamaan antara wajah Mumu dan wajah drg. Saloka.
Tak lama kemudian dia mengangguk-angguk kan kepalanya sambil mengelus janggutnya sambil bergumam dal hati, 'Ini bakalan jadi berita viral nanti. Tak kusangka Pak Direktur seperti itu. Ternyata dia punya simpanan di sini. He he...'
Drg. Saloka sedang fokus melihat pengobatan Mumu. Semakin lama dia semakin takjub terhadap sosok Mumu.
Tentu saja dia tak tahu dengan pemikiran salah seorang karyawannya ini.
__ADS_1
Jika saja dia tahu, mungkin dia akan langsung muntah darah karena dituduh mempunyai anak di luar nik*h di sini.
Jika dia tahu apa yang dipikirkan oleh dokter spesialis itu, mungkin dia akan menjepit kepala dokter spesialis itu ke lift agar tidak mempunyai pemikiran yang negatif terhadapnya.