TABIB KELANA

TABIB KELANA
79.


__ADS_3

Saat mendengar ucapan Pak Sukamto, suara di seberang sana tertawa, "Ha ha..Pak Sukamto jangan bilang seperti itu! Karena umur saya lebih tua sedikit dari Pak Sukamto, jadi mulai sekarang panggil saya Abang, sedang kan saya akan memanggilmu langsung nama atau adik saja. Kita sesama orang sendiri jadi tak perlu banyak peradatan segala." Suara di seberang sana tertawa renyah.


Pak Sukamto melihat layar handphone, setelah memastikan bahwa penelponnya memang benar-benar Mizan sang rentenir, Pak Sukamto kembali menempelkan handphone di kuping sebelah kiri.


Dia masih sangat terkejut dengan perubahan nada suara Mizan.


Jika sebelumnya dia tidak diancam oleh Mizan dan orang-orangnya, dan seandai dia belum pernah mendengar sepak terjang Mizan, maka dia pasti menyangka bahwa Mizan adalah salah seorang saudara kandungnya yang telah puluhan tahun tidak ketemu.


Karena dia tahu siapa Mizan sehingga dia tidak ingin terkecoh dengan tipu muslihat Mizan. Oleh karena itu Pak Sukamto lebih berhati-hati dalam bertindak.


"Mana bisa begitu, Pak. Saya tak berani."


"Ok...oke....mana baik menurut kamu saja kalau begitu, Suk." Pak Sukamto lega, Mizan tak menekannya lebih jauh. Cuma dia tak tahu apa maksud Mizan menelponnya hingga dia mendengar Mizan berkata dengan tenang.


"Abang tak ingin terlalu lama menganggumu, Suk, Abang cuma mau ngasi tahu, segala hutang piutang di antara kita sudah dianggap lunas, jadi kamu tak perlu risau lagi tentang itu." Setelah diam sejenak, suara Mizan terdengar lagi, "Jika ada masalah yang kamu tidak bisa mengatasinya, jangan segan-segan menelpon, Abang, Oke. Abang pasti akan bantu." Pak Sukamto ternganga lebar saking terkejut mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Mizan.


Apakah dia salah dengar?


Atau dunia ini sudah terbalik?


"Aduh!" Pak Sukamto mengaduh sakit saat jarinya dengan kuat mencubit paha kirinya. Dia tidak sedang bermimpi, dia juga tidak sedang berhalusinasi.


Ini ternyata benar. Semua ini memang terjadi.


Tak mungkin Mizan menggunakan taktik murahan seperti ini untuk menjebaknya. Hal itu tak ada faedahnya bagi Mizan.


Tapi itu lah yang terjadi, hutangnya lunas begitu saja.


Masalahnya selesai bagaikan embun yang menguap terkena sinar matahari pagi. Lenyap tak bersisa.


...****************...


Mumu sedang sarapan sambil tersenyum sendiri saat Bik Esah memasuki dapur.


"Ayo....sedang tersenyum sama siapa itu? Apakah nasi sedang mengajak kamu bicara?" Seloroh Bik Esah.

__ADS_1


Mumu sedikit terkesiap. "Ah, Bik Esah bisa saja, tak ada apa-apa, Bik." Mumu jadi malu.


"Ya, sudah kalau begitu...Jangan sampai pikiranmu kosong nanti dirasuki jin." Bik Esah keluar sambil membawa pakaian yang mau dijemur.


Walaupun dia dan cucunya tinggal di rumah ini, mereka jarang bertemu karena Mumu lebih sering pergi. Jika pun ada di rumah, Mumu lebih sering di dalam kamar atau pun latihan di halaman belakang.


Bik Esah seperti tinggal di rumah sendiri. Dia hanya masak dan mencuci pakaian untuk dirinya dan cucunya saja.


Sedangkan Mumu mencuci pakaiannya sendiri. Ia tak ingin membebani Bik Esah.


'Sedang apa dia sekarang ya?' Mumu kembali terbayang sosok wanita yang mampu mengaduk-aduk perasaannya.


'Kenapa aku tak minta nomor kontaknya ya? Kalau ada kan bisa telfonan.'


Tapi Mumu berusaha menepis pikiran konyolnya.


Dari penampilan dan tutur katanya, Wulan sepertinya dari kalangan orang kaya, lagi pula sepertinya dia bukan orang Selatpanjang, mungkin dari kota lain.


Mumu menyadari bahwa ia hanyalah orang biasa, belum punya pekerjaan tetap dan bukan orang kuliahan. Mumu sadar diri.


Karena hari ini Mumu punya waktu luang sehingga ia pun pergi ke halaman belakang tapi bukan untuk latihan sebagaimana hari-harinya yang lain karena Mumu sudah selesai latihan tadi.


Mumu mengambil parang dan mulai menebas rerumputan yang tumbuh liar di sebagian halaman ini.


Rencananya Mumu ingin menyulap halaman tersebut menjadi sebuah kebun kecil. Ia ingin menanam sejenis sayur-sayuran yang cepat panen seperti bayam dan kangkung.


Setelah selesai menebas dan tanahnya sudah dibersihkan dari sisa rerumputan dan sampah lainnya, Mumu mulai melakukan proses mencangkul agar tanahnya jadi gembur.


Keringat mengalir dengan deras yang keluar dari tubuhnya yang penuh otot tersebut. Jika ia tidak terlalu mengerahkan energinya, otot tersebut tidak akan kelihatan dengan jelas sehingga hal ini telah banyak menipu penilaian musuh-musuh Mumu yang pernah ia hadapi.


Menjelang tengah hari Mumu sudah selesai. Ia menatap tanah yang ia cangkuli membentuk gelombang-gelombang.


Ada lima belas gelombang totalnya dengan panjang lebih kurang sepuluh meter.


Mumu sangat puas dengan hasilnya. Ternyata mencangkul sekaligus mengolah nafas sangat bermanfaat baginya. Selain kerjanya menjadi tambah cepat, ia pun tidak merasa terlalu lelah. Hanya saja keringatnya keluar sangat banyak. Bagaimana pun juga itu adalah pertanda baik baginya.

__ADS_1


Berarti tubuhnya sangat sehat.


Menjelang sore Mumu langsung ke pasar untuk membeli kapur dan juga pupuk NPK serta benih sayuran. Jika sudah ada niat harus segera dilaksanakan. Jika rasa malas sudah mulai menyerang nanti semua yang direncanakan tak bakalan dilaksanakan.


Selesai belanja, Mumu tak langsung pulang, ia pergi ke kolam 'Telaga Bening' yang terletak di jalan Merdeka di depan kantor BPKAD.


Ia teringin pula makan rujak buatan ibuk-ibuk yang sering mangkal di situ, rasanya pas dilidah.


Sambil menunggu pesanan datang, Mumu menatap air kolam yang katanya tak pernah kering walaupun di musim kemarau sekalipun.


Mumu kadang penasaran ada apa di dasar sana.


Saat Mumu dengan iseng melepaskan kekuatan spiritualnya untuk memindai isi kolam tersebut dia sedikit terkejut.


Ada sebuah penghalang tipis yang tak kasat mata yang melindungi dasar kolam tersebut.


Dengan kekuatannya saat ini, Mumu bisa saja mendobrak penghalang tersebut.


Baginya penghalang seperti itu bagaikan kertas tipis yang bisa diterobos dengan mudah.


Tapi Mumu tak mau melakukan itu.


Karena seseorang ingin merahasiakan tempat ini maka biarlah tetap menjadi rahasia.


Mumu menarik kembali kekuatan spiritualnya. Tak lama kemudian pesanannya pun datang.


Mumu pun makan rujak dengan perlahan. Saat ini ia kembali teringat pertemuannya dengan Nisa di tempat ini.


Nisa tidak pernah menghubungi lagi sejak saat itu.


Mumu tidak terlalu memperdulikannya, ia hanya berharap masalah Pak Sukamto dan keluarganya sudah selesai.


"Mumu!!" Sebuah suara yang sangat merdu menyebut namanya.


Walaupun belum terlalu lama mendengarnya tapi Mumu sangat kenal dengan suara tersebut. Awalnya ia mengira telinganya telah salah dengar, tapi saat ia menoleh ke kiri, matanya yang cerah sontak bercahaya melihat sosok wanita dengan senyum cerah merekah dibibirnya.

__ADS_1


__ADS_2