
Bahkan ada yang berteriak, "Hei! Kalau mau balap jangan di sini!"
Tapi Mumu sudah sangat jauh untuk mendengarnya.
Saat ini Mumu sudah sampai di depan jalan Pramuka, tapi ia tidak berbelok, Mumu terus melaju lurus ke depan, melewati persimpangan Lintas Timur, simpang rumahnya, melewati kawasan perkantoran dan terus melaju di penghujung jalan Dorak.
Setelah melewati kantor BPS dan Asrama Meranti, Mumu berbelok ke kanan. Ia memasuki kawasan Rumah Sakit.
Setelah memarkirkan motornya dengan tergesa-gesa, Mumu bergegas masuk ke RSUD.
Ia langsung menuju ke atas, setelah membaca sebentar penunjuk arah yang dipasang di dinding tembok, Mumu berjalan lurus ke depan.
Banyak pengunjung mau pun keluarga pasien yang duduk-duduk di kursi ruang tunggu. Ada juga yang duduk dan berbaring di ruangan agak di sudut, khusus ruangan beristirahat bagi keluarga pasien.
Saat Mumu sampai di depan pintu masuk ke ruangan besar, dia segera dihentikan oleh dua orang Satpam.
"Mau ke mana, Dik?"
"Asoka empat." Jawabnya singkat.
"Di sana ada tiga orang pasien, adik mau membesuk pasien atas nama siapa? Saat ini ketiga pasien tersebut sedang dijaga oleh dua orang keluarganya. Jadi Adik harus menunggu giliran, maksimal pengunjung hanya dibatasi dua orang dan itu sudah termasuk yang menjaganya juga.
"Maaf, Pak, saya sedang terburu-buru, jadi mohon buat pengecualian kali ini." Mumu segera menerobos masuk.
"Berhenti!!"
Kedua Satpam itu mengejar. Salah seorang dari mereka langsung mencekal tangan Mumu.
"Tolong ikuti aturan, Dik!"
Melihat adegan itu para pengunjung dan keluarga pasien pun segera berkomentar.
"Anak muda tak tahu diri, mau seenaknya saja. Disangkanya Rumah Sakit ini Bap*knya yang punya."
"Itu lah, beri malu saja. Tak tahu aturan!"
__ADS_1
"Dia tak tahu kalau Satpam di sini sangat tegas. Jangankan pemuda sederhana itu, seandainya anak pejabat yang buat ulah saja akan ditangani oleh Pak Satpam."
"Itu lah bagusnya manajemen RSUD ini, mereka menerapkan peraturan tak pandang bulu. Semuanya dianggap sama. Tak ada istilah anak pejabat, anak emas di sini."
"Kita lihat saja, bagaimana ekspresinya saat diseret oleh Pak Satpam itu."
Mendengar komentar para pengunjung yang memuji tindakan mereka, apa lagi mereka memang bertindak sesuai aturan sehingga jika ada sesuatu yang terjadi, Direktur RSUD pasti akan membela mereka, Satpam yang mencoba mencekal tangan Mumu segera mengeratkan jari-jarinya.
Maksudnya jelas, sekali cengkeram, tangan Mumu tidak akan lepas. Sehingga mereka berdua bisa langsung menyeretnya keluar dari ruangan tersebut.
Tak dinyana, saat Satpam itu memegang tangan Mumu, dia langsung menggelepar seperti orang sakit ayan. Otomatis cengkeramannya langsung lepas. Temannya terkejut, "Kamu kenapa, bro?"
Para penonton tentu saja terkejut melihat perubahan peristiwa yang tidak disangka-sangka itu.
Mata mereka melotot melihat Satpam yang terduduk di lantai dan memandang Mumu yang terus berjalan memasuki kamar Asoka empat. Ada jejak kengerian di sorot mata mereka. Apa lagi mereka yang telah melontarkan kata-kata kasar penuh cemooh tadi, diam-diam mundur ke belakang dengan kepala tunduk.
Walaupun mereka tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi tetap saja mereka merasa tidak tenang saat membayangkan jika seandainya pemuda misterius itu tiba-tiba menyerang mereka.
Setelah bisa mengatur nafasnya yang agak sesak, Satpam itu berkata kepada kawannya, "B..beri tahu Direktur..pengacau..."
"Baik lah... Baik lah..." Kawannya segera menuju meja jaga dan langsung menyambar telpon, menceritakan peristiwa yang terjadi.
Saat Mumu masuk, semua orang mandang ke arahnya, tapi ia langsung menuju ke sudut ke tempat pasien yang sangat dikenalnya.
"Pak,...Buk....." Mumu menyapa kedua orang paruh baya itu dan langsung menyalami keduanya dengan mencium tangan keduanya dengan takzim.
Pria paruh baya itu menepuk pundak Mumu. "Maaf karena telah merepotkan kamu, Nak."
Mumu hanya mengangguk. Matanya tertuju kepada pria yang terbaring dalam diam di pembaringan. Tak ada tanda-tanda kehidupan padanya kecuali nafasnya yang kadang timbul kadang tenggelam. Sangat pelan.
Mumu sangat terenyuh melihat pria yang sudah ia anggap sebagai abang kandungnya sendiri.
Pria ini adalah pria yang baik. Dia lah yang awalnya mempercayai Mumu walaupun saat itu Mumu belum mempunyai kemampuan seperti sekarang.
Dia memberlakukan Mumu sebagai orang yang setara dengannya pada hal dia dari kalangan orang-orang yang kaya sedangkan Mumu lebih mirip seperti gembel.
__ADS_1
Dulu pria ini sangat gagah, tapi sekarang dia sangat kurus, hanya ada kulit yang membalut tulang, daging tubuhnya sudah hilang entah ke mana.
Dia adalah Randi Sunandar. Orang yang menghadiahi Mumu dengan uang, handphone. Bahkan motor yang sekarang Mumu gunakan juga pemberian dari pria paruh baya tadi, Pak Surya Atmaja yang pernah Mumu tolong dulu.
Betapa terkejutnya Mumu saat Pak Surya mengirim pesan menggunakan handpone Bang Randi, yang mengabarkan kondisi Bang Randi saat ini.
Makanya ia bergegas ke sini.
Mumu sangat menghargai ikatan persaudaraan dan persahabatan.
Jika ada orang yang bersikap tulus terhadapnya, maka ia akan berusaha lebih tulus lagi terhadap orang tersebut.
Tapi jika ada orang yang mencoba memusuhinya, maka Mumu pun tidak akan berbelas kasihan terhadap orang tersebut.
Setelah mengusap air matanya yang entah kapan mengalir di pipinya, Mumu menarik gorden pembatas sehingga langsung menutupi mereka berempat.
"Tolong jaga jangan sampai ada orang yang datang menganggu, Pak, Buk." Ucap Mumu sambil menuju pembaringan Randi.
"Baik lah, Nak." Jawab Pak Surya Atmaja. Sedangkan Buk Husnalita hanya diam saja. Dia sepertinya tidak bersemangat untuk bicara untuk saat ini.
"Apa yang mereka lakukan? Siapa anak muda itu, Buk?"
Agus Deka yang kebetulan masih berada di ruangan itu bertanya kepada Buk Larasati dengan bingung.
Biasanya jika pasien mau mengganti pakaian atau saat perawat atau dokter yang akan memeriksa pasien, barulah gorden pembatas itu ditutup.
Tapi tindakan anak muda itu agak aneh. Jelas-jalas dia bukan dokter atau perawat jaga. Tak mungkin juga dia akan mengganti pakaian pasien tapi kenapa dia tiba-tiba menutup gorden pembatas tersebut.
Apa yang akan dia lakukan.
Agus Deka penasaran.
Sedangkan Buk Larasati hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti. Dia pun tidak mengenal anak muda tersebut. Baru kali ini dia melihat anak muda itu datang ke sini.
Mumu tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang-orang atas tindakannya tersebut.
__ADS_1
Saat ini ia mulai berkonsentrasi mengatur nafas dan tenaga dalamnya. Ia menyalurkan tenaga dalamnya sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Randi.
Mumu sedikit terkejut saat merasakan ada penolakan yang datang dari dalam tubuh Randi saat tenaga dalamnya mencoba masuk ke dalam menyusuri urat dan peredaran darah Randi.