TABIB KELANA

TABIB KELANA
Kanker Otak Stadium Akhir


__ADS_3

Cahaya fajar yang agak kemerahan menghiasi langit menjelang terbitnya mentari.


Udara yang sangat bersih sangat bermanfaat bagi paru-paru saat menghirupnya dengan tenang dan penuh perasaan.


Suasana pagi seharusnya membawa kebahagian bagi makluk hidup ditandai dengan dimulainya berbagai aktivitas menyambut hari yang baru.


Di salah satu rumah terbuat dari papan sederhana, seorang pria paruh baya sedang terbaring diam di atas sebuah kasur tipis.


Kasur tersebut hanya beralaskan sebuah tikar pandan lalu dibentangkan di lantai.


Apa kah kehidupan pria paruh baya ini betul-betul miskin sehingga tak mampu membeli sebuah ranjang meski pun hanya ranjang yang sederhana?


Sebenarnya bukan begitu juga kisahnya. Karena jika diperhatikan dengan seksama, walau pun rumahnya kelihatan sederhana karena terbuat dari papan, ternyata papannya berasal dari kayu punak, raja dari segala raja kayu yang baik sekali untuk dijadikan papan.


Jika kita melirik ke dalam kamar lewat celah pintu yang sedikit terbuka, maka akan didapati ada sebuah ranjang yang lengkap dengan kasurnya yang tebal.


Jadi jelas pria paruh baya itu berbaring dikasur tipis yang digelar di lantai tak ada hubungannya dengan tidak punya ranjang. Hanya saja dia lebih nyaman berbaring langsung di lantai yang hanya dialasi dengan kasur yang tipis.


Pria paruh baya itu bernama Pak Somad. Dulu dia bekera sebagai petugas keamanan di Kantor Bupati.


Jika kawan-kawan masih ingat pria paruh baya pendiam ini lah yang pernah menolong Mumu saat dipukul oleh Hardi di depan gerbang Kantor Bupati.


Sekarang jangankan bekerja, untuk bangun saja sulit. Menurut dokter, Pak Somad mengalami kanker otak stadium akhir.


Dahulu Pak Somad sering mengalami sakit kepala, tapi dia tak pernah mencoba berobat di rumah sakit karena takut seandainya dirawat.


Baru lah setelah dia sakit hingga tak sadarkan diri, para tetangga pun membawanya ke rumah sakit.


Saat itu lah baru diketahui ternyata dia mempunyai penyakit kanker di dalam kepalanya. Yang lebih parahnya lagi kanker tersebut sudah sangat parah.


Pihak rumah sakit menyarankan supaya segera dilakukan operasi tapi mereka tidak bisa menjamin hasilnya.


Tanpa dijelaskan lebih lanjut, Pak Somad sudah paham apa maksudnya.

__ADS_1


Sama saja artinya bahwa penyakitnya tidak mempunyai harapan untuk sembuh. Oleh karena itu dengan alasan ingin berpikir dan berunding dengan keluarga, Pak Somad minta pulang dahulu sebelum membuat keputusan yang sulit.


Pak Somad mempunyai anak dua orang. Tapi kedua-duanya masih merantau di Kota Batam. Cari pengalaman hidup di tempat orang.


Dahulu, Pak Somad lah yang menganjurkan supaya anak-anaknya bekerja mencari nafkah karena jika hanya tamatan SMA agak susah mencari uang lebih jika bekerja di Meranti.


Gaji sebagai karyawan toko hanyalah 1 juta setengah. Bagi laki-laki yang merokok, uang segitu pas-pasan apa lagi jika sudah berumah tangga nanti, tak akan cukup untuk menafkahi keluarga.


Sekarang, saat Pak Somad tergeletak tak berdaya, baru lah muncul penyesalan di hatinya.


Menyesal karena anaknya kerja jauh dari rumah sehingga tak ada yang ikut menjaga dan merawatnya kecuali istrinya.


Jika memikirkan hal tersebut maka tanpa terasa air matanya akan keluar.


Penyesalan tidak ada obatnya dan penyesalan hanya hadir di akhir.


Jika dia memaksa kedua anaknya pulang, maka dia dan istrinya terpaksa harus hidup dengan cara meminta-minta atau menjual harta warisan, karena anaknya hanya bisa berhenti bekerja jika harus pulang.


Bila sudah begitu, tentu saja mereka tidak punya sumber penghasilan lagi.


Ternyata punya anak sedikit juga bukan pilihan yang bijak.


Karena sakitnya sudah sangat parah, penglihatan Pak Somad sudah mulai kabur dan dia juga sering mengalami kejang-kejang sehingga istrinya tidak bisa ke mana-mana selain harus senantiasa menjaganya.


"Bang," Panggil istrinya dengan lembut, "Apa tak sebaiknya kita kembali ke rumah sakit agar Abang bisa dirawat? Penyakit Abang semakin hari semakin parah."


Pak Somad menggelengkan kepala dengan lemah. "Walau pun bisa dioperasi tapi tingkat keberhasilannya sangat rendah, Nah. Apa gunanya? Hanya membuang-buang dana Pemerintah dengan sia-sia saja tanpa ada hasil yang memuaskan." Pak Somad menarik nafasnya dengan berat.


"Biar lah dana Pemerintah itu bisa digunakan untuk pasien lain yang lebih membutuhkan. Lagi pula hidup hampir setengah abad membuat Abang sudah merasa puas. Jika pun harus meninggal, Abang lebih suka meninggal di rumah dari pada di rumah sakit."


Senah, istri Pak Somad hanya bisa mengusap air matanya saat mendengar perkataan suaminya.


...****************...

__ADS_1


Mumu menyelesaikan meditasinya dengan raut wajah sangat gembira.


Melalui pengamatannya secara menyeluruh, ia mendapati tenaga dalamnya sangat berlimpah.


Setelah melakukan berbagai pengujian sederhana maka ia akhirnya mengetahui bahwa jenis tenaga dalamnya akan terus bertambah seiring dengan berapa banyak telah dikonsumsi atau digunakan.


Artinya tenaga dalamnya tidak akan pernah habis walau pun sudah digunakan hingga maksimal, karena akan terisi kembali dengan perlahan-lahan. Selain terisi kembali, maka tenaga dalamnya akan bertambah walau pun persentasenya belum terlalu banyak, Mumu tetap saja bersyukur.


Tidak mudah untuk menambah tenaga dalam selain dengan cara meditasi terus menerus.


Tapi sekarang selain dengan meditasi, mengolah nafas, ia juga punya cara unik untuk bisa menambah kapasitas tenaga dalamnya.


Ke depannya ia tak perlu risau kehabisan tenaga dalam saat menolong mengobati pasien yang membutuhkan pertolongannya.


Hal apa lagi yang akan ia lakukan selain bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas segala nikmat dan anugrah yang telah diberikan?


Sebenarnya hal tersebut bukanlah akhir dari kabar gembira yang ia peroleh hari ini.


Karena selain tenaga dalamnya bisa mengisi ulang secara otomatis ketika habis saat digunakan, Mumu juga diberi sebuah kejutan berupa kekuatan spiritualnya juga bertambah hingga mencapai radius 50 meter.


Sungguh perjalanan ke Kota Siak ini tidak sia-sia belaka.


Walau pun sudah menjadi lebih tinggi ilmunya, hal tersebut tidak lah membuat Mumu menjadi sombong, karena ia sangat menyadari bahwa semua ini hanyalah titipan semata-mata agar bisa ia gunakan untuk kemaslahatan umat.


Setelah selesai sholat subuh di Musholla, Mumu baru teringat dengan handphonenya karena baru punya waktu untuk itu.


Ada belasan panggilan dari Siti Aisyah. 'Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu hal?'


Saat Mumu memeriksa pesan masuk, hatinya menjadi tenang. Tidak ada terjadi apa-apa, hanya saja Siti Aisyah menanyakan kabarnya.


Setelah menjawab pesan singkat Siti Aisyah, Mumu langsung menelpon drg. Saloka untuk menanyakan perkembangan selanjutnya. Bagai mana pun juga, Mumu berniat pulang ke Selatpanjang pagi ini setelah semalam tak sempat pulang.


Ternyata telpon drg. Saloka berada di luar jangkauan. Mumu hanya bisa mengirimnya pesan dan langsung ke luar dari area RSUD untuk mencari sarapan.

__ADS_1


Perutnya sangat lapar!


__ADS_2