TABIB KELANA

TABIB KELANA
39.


__ADS_3

Mereka kaget setengah mati. Bagaimana bisa Mumu menyerang dengan kekuatan seperti itu?


Bukankah tadi dia sudah lemah tak berdaya?


Yang lebih aneh lagi bagaimana dia bisa menyerang dengan sangat akurat pada hal matanya tidak lagi bisa melihat keadaan sekitar?


Kali ini Mumu tidak memberikan kesempatan, ia langsung merobohkan keempat pria itu. Sedangkan pria yang sudah berhasil dirobohkan Mumu pada awal -awal pertarungan sebenarnya baru saja siuman dari pingsannya. Demi melihat teman-temannya dirobohkan oleh Mumu dengan mudah, pria yang masih terbaring dikejauhan itu langsung memejamkan matanya kembali. Pura-pura pingsan.


"Bagaimana matamu bisa melihat kembali?" Tanya Ijal dengan penasaran campur takut.


"Mustahil!" Gumam ketiga pria yang lain tak percaya dengan penglihatan mereka.


Mereka terkejut setengah mati melihat mata Mumu kembali pulih. Lebih terkejut saat mereka mengetahui keahlian bela diri yang diperlihatkan oleh Mumu sepanjang pertarungan tadi.


Bagaimana tidak? Mereka sangat mengetahui dampak racun yang menjadi senjata rahasia perguruan mereka itu.


Racun itu seperti racun saraf Novichok yang dikembangkan oleh Uni Soviet pada tahun 1970-an dan 1980-an.


Beda dengan racun saraf Novichok yang menyerang pada sistem saraf otak, mata, paru-paru, jantung, pencernaan dan kulit, racun yang mereka gunakan adalah sejenis racun yang hanya fokus merusak sistem saraf pada mata yang bisa menyebabkan kebutaan.


Jangankan orang lain sedangkan mereka berlima yang setingkat pelatih utama saja tidak mempunyai obat penawarnya. Hanya guru besar yang punya itu pun hanya sedikit.


Tapi hari ini mata mereka telah melihat sebuah keajaiban. Racun yang sangat mereka banggakan dapat dengan mudah dilawan oleh seorang pemuda.


Betapa menakjubkan itu?


Selain rasa kagum, terselip juga rasa takut dan gentar di hati mereka.


Pemuda ini pasti mempunyai latar belakang yang luar biasa sehingga mempunyai kemampuan untuk menawarkan racun yang mengerikan itu.


Pria berotot itu menggeram ke arah Ijal karena telah menyinggung musuh yang sangat kuat dan berbahaya ini.


Rasanya ingin dia menjitak kepala Ijal sekarang untuk mengurangi rasa frustasinya.


Jangankan dia, teman-temannya yang lain pun melirik Ijal dengan wajah tak senang. Ijal hanya bisa cemberut melihat tingkah polah temannya yang kini berbalik memusuhinya.

__ADS_1


Tadi tak sabar ingin melumpuhkan Mumu tapi sekarang sibuk menyalahkan dirinya. Ijal serasa ingin menangis melihat sikap temannya yang tak konsisten.


Mumu mendekati mereka, "Kalian sangat kejam dan licik. Kalian tega menggunakan racun hanya untuk melumpuhkan lawan kalian yang masih tak sebanding dengan usia kalian."


'Kamu itu tak normal! Masih muda tapi sudah mempunyai tata bela diri yang hebat. Mana bisa kamu disamakan dengan anak-anak yang lain' Rutuk mereka dalam hati. Tentu saja mereka tak berani mengutarakan apa yang mereka pikirkan.


"Kami khilaf, kami minta maaf." Ucap pria berotot itu tiba-tiba.


Ijal mendelik kearahnya tapi pria berotot itu tak peduli.


Nyawa mereka lebih penting dari harga diri. Harga diri bisa dicari tapi nyawa tak bisa dibeli!


"Kalau begitu sebutkan dari perguruan mana kalian berasal? Saya yakin kalian berasal dari perguruan yang sama." Mumu menatap wajah mereka satu per satu.


Mereka berempat saling berpandangan. Jika mereka berani menyebut nama perguruan mereka dan seandainya nanti pemuda ini ternyata berani mendatangi perguruan mereka untuk meminta pertanggungjawaban maka mereka berempat akan kena hukuman perguruan karena telah memberi malu dan membuat masalah atas nama perguruan.


Ijal menggelengkan kepala dan berkata, "Masalah ini tak ada kaitannya dengan perguruan kami. Ini hanyalah tindakan kami pribadi."


"Oo begitu. "Mumu menaikkan alisnya, Kalau begitu kalian tidak benar-benar merasa menyesal. Kalau tidak diberi hukuman, suatu saat nanti kalian masih tetap melakukan hal yang sama."


Ijal merasakan sedikit sakit tapi setelah itu dia merasakan tubuhnya lemah tanpa tenaga.


"Apa yang kamu lakukan?" Teriaknya panik.


"Ooo tak ada yang spesial, saya hanya menyegel kekuatan beladiri kamu agar tidak bisa berbuat semena-mena pada masa yang akan datang." Jawab Mumu kalem.


"Apa?!" Mata Ijal terbelalak. Dia memang merasakan tenaganya seperti hilang tapi dia tak mau mempercayainya.


Tak mungkin ada orang yang bisa menyegel kekuatan seseorang yang sudah dilatih selama sekian tahun.


Dia mencoba menyalur kekuatan tata bela dirinya ke arah tangan. Tak ada tenaga yang keluar. Dia seperti manusia biasa lainnya.


Wajahnya sontak pucat.


"Tolong lepaskan segelnya! Saya bertobat! Saya mohon ampun!" Ijal meratap.

__ADS_1


Melihat ekspresi Ijal yang nampak ketakutan dan putus asa, pria berotot dan teman-temannya yang lain mulai mempercayai perkataan Mumu. Mereka semua langsung menundukkan kepala mohon ampun dan belas kasihan kepada Mumu.


Jika benar Mumu bisa menyegel kekuatan bela diri mereka, ini adalah kiamat bagi mereka yang menuhankan kekuatan.


Tapi Mumu tidak peduli. ia langsung menyegel kekuatan mereka semua termasuk yang pura-pura pingsan tadi.


Mumu tak percaya mereka benar-benar bertobat. Tak lupa Mumu juga menyita serbuk racun di saku masing-masing dari mereka.


Racun ini menjadi ancaman yang sangat besar jika disalahgunakan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.


Setelah selesai Mumu segera berlalu pergi.


Ijal dan teman-temannya hanya bisa membenturkan kepala mereka ke tanah.


Mereka sangat menyesal. Bukan menyesal atas tindakan mereka yang sewenang-wenang. Tapi mereka menyesal karena telah menganggu lawan yang salah.


Mereka telah menendang dinding baja yang seharusnya tidak mereka usik.


Merek berlima akhirnya bangkit dengan tertatih-tatih menuju motor mereka dan segera menuju ke markas perguruan mereka dengan harapan guru besar bisa membuka segel yang telah ditanam di tubuh mereka.


Setelah memasuki jalan Perjuangan Alah Air, mereka segera masuk ke halaman sebuah rumah yang luas.


Mereka berlima sedikit pun tak mengetahui sebuah motor merah sedari tadi mengekori mereka dari belakang.


Setelah melihat mereka berlima masuk ke dalam halama sebuah rumah yang luas itu, pemilik motor merah lalu membalikkan motornya dan segera pergi dari sana.


Mereka berlima terus berjalan memasuki rumah besar tersebut. Saat sampai di depan sebuah kamar, Ijal mengetuk pintu.


"Guru, kami berlima mohon izin menghadap."


"Masuklah!" Terdengar jawaban dari dalam.


Mereka berlima pun masuk dengan kepala tunduk. Selain gurunya yang duduk di sebuah kursi besar, ternyata di ruangan itu juga ada beberapa orang yang melihat tindakan mereka yang tidak terlalu peduli dengan kehadiran mereka berlima dapat dipastikan bahwa pangkat mereka di perguruan ini tidak lebih rendah dari mereka berlima.


Pria yang berumur lima puluhan tahun dengan jenggot yang sengaja dibiarkan panjang menolahkan kepalanya ke arah Ijal berlima. Dia mengerutkan dahinya sejenak dan bertanya, "Ada apa dengan keadaan kalian? Mengapa aku tidak merasakan fluktuasi energi di tubuh kalian berlima?!"

__ADS_1


__ADS_2