
Saat Pak Aripin tersadar dari lamunannya, dia segera meloncat berlari dengan tergesa-gesa mengejar Mumu. Tapi Mumu sudah tidak kelihatan lagi.
Dia dilanda kebingungan, dia tak tahu Mumu tinggal di tingkat berapa dan bilik nomor berapa, setelah berputar-putar antara tingkat dua hingga di atas tenda, dengan lunglai Pak Aripin kembali ke biliknya.
Saat itu dia melihat istrinya dalam kondisi yang aneh.
Ada air mata di pipi istrinya, ternyata dia menangis. Pak Aripin mendapat firasat buruk.
Dia segera berlari dan naik ke bilik, saat melihat kondisi Tiara baik-baik saja, masih tetap tidur dengan nyenyak, Pak Aripin menoleh ke arah istrinya dan berkata, "Ada apa, Dik, apa yang terjadi denganmu?"
"Kaki Tiara, Bang, kaki Tiara..."
"Ada apa dengan kaki anak kita?" Timpal Pak Aripin dengan nada panik.
Dia segera melihat kaki anaknya. Dia takut kaki Tiara bertambah parah. Jika hal itu terjadi, maka dia tak bisa tidak menyalahkan dirinya karena telah mempercayai Mumu, pemuda yang baru dikenalnya.
Tapi tak ada yang aneh dengan kaki anaknya. Kedua kakinya baik baik sa...
Pak Aripin terkejut. Dia melihat kaki anaknya sekali lagi. Dipegang-pegang kaki anaknya. Mata terbelalak dan mulut yang ternganga lebar.
"Kaki anak kita sudah sembuh, Dik! Kaki anak kita sembuh." Dia langsung menangis sesunggukan. Dia sangat terharu.
"Ada apa, Pak?"
"Apa yang terjadi di sini?"
Beberapa tetangga menjenguk bilik Pak Aripin dengan penasaran. Rupanya mereka punya loyalitas yang tinggi juga.
"Tidak ada apa, Pak, Buk. Hanya sedikit terharu saja." Pak Aripin tertawa sambil mengusap air matanya dalam waktu yang bersamaan.
Setelah memastikan memang tidak ada apa-apa yang terjadi, para tetangga itu pun kembali ke bilik mereka masing-masing.
Dalam pada itu Mumu sedang melakukan meditasi untuk mengembalikan tenaga dalamnya yang kosong.
Walaupun dalam kondisi meditasi, Mumu menyadari bahwa kekuatan spiritualnya memindai keadaan sekitarnya secara otomatis tanpa ia kendalikan.
Ini adalah hal baru baginya. Setelah menyelesaikan meditasinya selama dua jam, tanpa merubah posisi duduknya, Mumu langsung menggunakan kekuatan spiritualnya untuk memindai keadaan sekitar.
Ternyata benar, kekuatan spiritualnya semakin mudah digunakan seperti melihat menggunakan kedua matanya sendiri, tanpa ancang-ancang.
__ADS_1
Yang lebih mengembirakan lagi adalah jangkauan kekuatan spiritualnya sudah mencapai 25 meter yang sebelumnya adalah 15 meter.
Mumu tertegun, ini kenaikan 10 meter dalam sekali jalan.
Ia tak mengerti kenapa bisa meningkat sebanyak itu.
Sekali lagi ia hanya bersyukur karenanya. Saat Mumu menarik kekuatan spiritualnya, "Kriuk....kriuk...." Perutnya berbunyi. Ia merasa lapar.
Mumu melihat jam jam di handphonenya, jam 00.15 wib, rupanya ia telah melakukan meditasi selama dua jam lebih.
Mumu bangkit, membuka pintu bilik, ia melihat rata-rata bilik penumpang semuanya tertutup tanda mereka sudah tidur. Cuma ada satu dua bilik yang masih terbuka dan orang-orang tersebut masih ngobrol sambil merokok.
Setelah menutup pintu biliknya Mumu langsung turun ke lantai satu, tadi sore ia sudah melihat tak jauh dari kamar mesin, ada orang yang menata dagangannya. Ke sanalah ia menuju.
"Pop mie satu, Bang." Saat Mumu tiba, ada beberapa orang penumpang yang juga memesan pop mie karena lebih instan, hanya tinggal buka dan disiram air panas langsung beres.
Selain itu juga, Bapak-bapak lebih suka memesan kopi panas.
Setelah memesan pop mie dan jajanan ringan, Mumu bermaksud langsung naik ke atas, ke biliknya.
Saat itu lah pendengarannya yang tajam menangkap bisik-bisik yang mencurigakan dari dua orang pemuda yang barusan melewatinya.
Benar saja, walaupun agak jauh, lamat-lamat Mumu bisa bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua dengan jelas.
"Saat dia ke kamar mandi atau pun ke mana-mana tasnya dibawa terus. Selain handphone, aku rasa ada banyak barang berharga di dalam tasnya." Bisik seorang pemuda yang kurus tinggi.
"Apa kah dia sendiri?" Tanya temannya yang satu lagi dengan semangat.
"Aku rasa dia sendiri. Aku perhatikan dari tadi tak ada teman-temannya yang muncul."
"Tapi payah juga kita mau begerak, kita tak tahu kapan dia tertidur. Jangan-jangan nanti kita akan ketahuan seandainya dia tidak tidur."
"He he kamu tenang saja." pemuda kurus itu terkekeh misterius.
"Aku telah menaburkan sesuatu di biliknya sewaktu dia ke kamar kecil tadi. Paling lama dalam setengah jam setelah dia menghirup aroma itu, dia akan tertidur pulas."
"Ayo cepat kita pesan kopi dulu, sebentar lagi dia pasti tertidur. Oh ya, bilik berapa dia tadi?"
"Masa kamu lupa, kan bilik 403."
__ADS_1
"Oh iya ya...." Suara mereka semakin pelan hingga akhirnya tak terdengar lagi.
Tapi hal tersebut sudah lebih cukup bagi Mumu.
Ia langsung memindai, mencari bilik 403. Karena kekuatan spiritualnya baru mencapai 25 meter sehingga tidak bisa melingkupi seisi kapal.
Mumu langsung naik ke lantai tiga, memindai bilik 403, karena tak ketemu juga ia langsung naik ke lantai empat.
Saat kekuatannya memindai bagian tengah kapal, Mumu tersenyum senang saat kekuatan spiritualnya menyapu nomor bilik 403.
Ia langsung menuju ke sana.
Saat Mumu memindai bilik 403 wajahnya tiba-tiba berubah. Ia sangat terkejut saat melihat siapa sosok di dalamnya.
Ia sangat mengenali wajah tersebut.
Mumu berlari-lari kecil hingga sampai di depan bilik 403.
Ia mengetuk pintu bilik dengan pelan tapi tak ada pergerakan dari dalam.
Mumu sangat khawatir, saat ia memindai wajah sosok tersebut yang sangat mencemaskan ia langsung membuka pintu bilik dan bergegas masuk ke dalam.
Saat ini wajah yang sangat cantik itu tampak sangat pucat.
Setelah menutup pintu bilik, Mumu segera menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh wanita itu.
Tapi wajah Mumu menunjukkan ekspresi terkejut saat tenaga dalamnya tak mampu memasuki tubuh wanita tersebut.
Saat Mumu ingin meningkatkan tenaga dalamnya, ia mendengar suara dua orang yang mempunyai niat jahat tadi.
Mumu segera tahu karena tadi ia terus memantau keadaan sekitar dengan kekuatan spiritualnya.
Mumu segera menyelimuti gadis tersebut dengan sehelai kain panjang, setelah itu ia segera memposisikan tubuhnya di depan pintu bilik dan berpura-pura tidur.
Saat kedua pemuda itu mencoba membuka pintu bilik dengan perlahan-lahan, mereka sangat terkejut dan bergegas mundur ketika melihat ternyata ada orang lain di dalam bilik tersebut.
Mereka salah perhitungan karena ternyata target mereka tidak tinggal sendiri.
Sebelum pasangan wanita itu bangun, kedua pemuda itu langsung bergegas pergi.
__ADS_1
Mumu membuka matanya dengan perlahan dan tersenyum tipis melihat kepergian kedua pemuda itu.