TABIB KELANA

TABIB KELANA
50.


__ADS_3

Kemungkinan Bik Esah akan datang menjelang siang nanti. Oleh sebab itu Mumu sedang bersiap-siap mau ke rumah pasien.


Tadi malam juga pasien itu nelpon. Kalau tak salah sekitar jam sebelas malam. Waktu itu Mumu sudah tidur.


Tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Awalnya Mumu biarkan saja, kadang kan salah sambung, orang salah nelpon. Setelah panggilan pertama tak dijawab, muncul lagi panggilan kedua, 'ini pasti penting ini' pikir Mumu.


Oleh sebab itu ia langsung menjawab telponnya.


Menurut pengakuannya pria itu bernama Seno. Setelah curhat beberapa menit tentang masalah pelik yang sedang dihadapinya, akhirnya dia minta tolong kepada Mumu supaya bisa membantunya.


Memang terkesan agak memaksa sebenarnya, tapi Mumu maklum, mungkin pria itu sedang panik. Akhirnya Mumu menyanggupi untuk datang dan memeriksanya besok.


Pada saat yang bersamaan, di sebuah rumah yang terletak di jalan Banglas gg Sempaya, pasangan suami istri sedang cekcok hingga mogok masak, mogok makan dan mogok bicara.


Ini bukan gara-gara ketahuan sang suami yang seling*uh dengan sekretarisnya sendiri di sebuah ho*el mewah, karena pada kenyataannya si suami bukanlah Bos suatu perusahaan besar, dia hanyalah seorang tenaga honorer di salah satu kantor di kota Selatpanjang.


Bukan juga karena sang istri menggondol suami orang bak pela*or yang lagi booming di mana-mana.


Masalah mereka berpunca karena omongan tetangga. Sudah tiga tahun menikah tapi belum juga dikaruniai seorang anak pun.


Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat, jika sudah tamat kuliah tapi belum kerja maka yang ditanya saat ketemu, 'Kapan mulai kerja?'


Jika sudah kerja tapi belum punya pasangan, maka pertanyaan dirubah menjadi, 'Kapan menikah...bla...bla...bla...'


Jika sudah menikah tapi belum punya anak, pertanyaannya diganti, 'Kapan punya anak? Si anu sudah punya anak sekian...bla..bla..


Itu lah yang terjadi pada keluarga kecil Seno dan istrinya Marini saat ini.


Sudah tiga tahun usia pernikahan mereka, hingga kini belum juga dikaruniai seorang anak pun.


Awalnya biasa saja mendengar hal tersebut, namanya juga belum rezeki. Tapi saban hari sekian tahun mendengar celotehan tetangga, lama-lama telinga mereka suami istri panas juga.


Seperti saat ini di ruang tv, Marini cemberut dalam diam.


"Sudah lah, Dik. Abang tau ini salah Abang. Nanti Abang cuba periksa ya." Pujuk Seno dengan memasang tampang memelas.

__ADS_1


Rupanya tidak mempan. Marini bergeming.


"Perce*aian itu bukan pilihan yang bijak, Dik. Itu hanya perangkap se*an saja. Tapi kalau memang Adik dah ada pilihan lain, orang yang lebih baik dari pada Abang, apa boleh buat. Mau tak mau, Abang akan mundur teratur, Dik."


Marini menoleh. Mendengar kata-kata suaminya, terenyuh juga hatinya.


"Abang tu bilang mau periksa hanya untuk menenangkan Adik saja, pada kenyataannya Abang tak pernah mau jika diajak ke Pekanbaru." Keluh Marini.


Memang Seno belum pernah cek kesuburan pria di Pekanbaru karena di Selatpanjang belum ada dokter yang menangani tentang itu.


Seno bukannya tak mau, tapi dia takut jika hasil tes nanti benar-benar menyatakan ada yang salah dalam dirinya. Dia tak sanggup menerima kenyataan itu.


Lagi pula dari zaman dulu yang disalahkan pasti si wanita jika belum mempunyai keturunan bukannya pria. Sehingga Seno belum siap mental.


Makanya Seno diam-diam mencari alternatif lain, seperti pergi ke tukang urut, membeli obat-obatan yang dijual bebas di int*rnet. Masalahnya hingga kini belum menunjukkan hasil.


"Jika Abang memang serius untuk mempertahankan pernikahan kita, biar Adik temankan Abang ke Pekanbaru minggu besok. Tapi kalau Abang tak mau juga, ya apa boleh buat.


Abang tak merasakan bagaimana sakitnya hati Adik setiap kali bertemu tetangga, mendengar cemoohan mereka, sindiran dan padangan merendahkan dari mereka. Adik tak tahan, Bang. Jika terus begini, lama-lama Adik bisa gil*." Marini menangis sambil masuk ke kamar meninggalkan Seno sendiri yang masih galau untuk mengambil keputusan antara pergi ke Pekanbaru atau membiarkan perasaan istrinya tercabik-cabik akibat ulah mulut tetangga.


Di tengah kegalauannya handphonenya tiba-tiba berbunyi. Ini nomor yang dia telpon tadi malam. Seno bergegas menjawab telponnya dengan tangan sedikit gemetar.


"Ya, Hallo!"


"Saya Mumu, Bang. Sudah masuk Gg. Sempaya. Bisakah Abang keluar sebentar! Soalnya saya ragu rumah Abang yang mana satu. Rumah di sini hampir-hampir mirip."


"Siap...siap...tunggu sebentar!" Seno bergegas keluar rumah tanpa sempat mengenakan baju. Dia hanya memakai celana pendek.


Tak jauh dari rumahnya ada seorang pemuda yang menggunakan helm sedang duduk di atas motor matic.


'Apa ini orangnya? Kok masih muda.' desisnya. Tak mungkin tabib yang katanya mempunyai kemampuan yang tinggi dalam ilmu pengobatan semuda ini. Apa kata dunia nanti?


Seno melihat ke sekeliling, tapi tak ada orang lain selain pemuda itu.


Akhirnya dia coba memanggil untuk memastikan, Mumu!" Teriaknya.

__ADS_1


Pemuda itu menoleh. Tersenyum lalu memutar motornya. Sejurus kemudian dia sampai di hadapan Seno.


"Dengan Bang Seno?" Tanya Mumu.


"Jadi kamu Mumu?" Seno tidak menjawab sapaan Mumu. Dia mencoba menilai Mumu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kurang percaya dia. "Jadi kamu tabib itu?"


Mumu hanya tersenyum melihat tingkah Seno. "Apakah Abang tak mempersilahkan saya masuk dulu?"


"Eh...iya...ayo masuk...ayo masuk..."


Tanpa basa basi Mumu langsung masuk ke inti masalahnya setelah ia duduk di sebuah kursi sederhana yang terbuat dari kayu. Nampaknya kursi hasil buatan sendiri.


"Jadi apa masalah Abang sebenarnya? Saya lihat Abang sehat-sehat saja nampaknya."


Seno kembali menceritakan masalahnya. Tapi kali ini lebih detail, tanpa ada yang dia tutup-tutupi.


"Biar saya cek dulu. Ulurkan tangan Abang." Kata Mumu setelah mendengarkan masalah Seno dengan seksama.


Ini merupakan kasus baru bagi Mumu sehingga ia belum punya pengalaman bagaimana cara mengatasinya.


Walaupun ia bisa mengecek tubuh Seno tanpa harus menyentuhnya, tapi Mumu lebih memilih memeriksa lewat urat nadi, biar diagnosanya nanti tidak salah.


Seperti dugaannya, tak ada masalah dalam hal kesuburan pria di depannya ini. Kualitas Sp*rmanya bagus. Aliran darah menuju tes*is tak ada masalah. Tapi tunggu dulu, seperti ada suatu masalah di bagian tulang ekornya.


"Apakah Abang pernah jatuh terduduk dari ketinggian dalam beberapa tahun belakangan ini?"


Seno mengerutkan dahinya, berpikir.


"Sepertinya tidak ada. Orang kerja cuma duduk-duduk di kursi saja. Mana ada jatuh dari..."


Seno menghentikan ucapannya. Ingatannya kembali ke tiga atau empat tahun silam.


Waktu itu dia belum menikah. Dia dan teman-temannya pernah memanjat pohon mangga milik Pak Haji Duski, tetangganya yang pelit itu.


Seno ingat waktu malam Jum'at. Rumah Pak Haji sepi. Karena setiap malam jum'at biasanya Pak Haji mengisi pengajian di sebuah Musholla.

__ADS_1


Seno dan tiga temannya dengan mengendap-ngendap mendekati halaman rumah Pak Haji dan memanjat pohon mangga tersebut.


__ADS_2