
Hal pertama yang Siti Aisyah lakukan saat bangun tidur adalah memeriksa handphonenya dengan tak sabar. Dia berharap ada panggilan dari Mumu atau pun hanya sekedar membalas pesan singkatnya.
Tapi dia hanya bisa mendesah kecewa. Jangankan ditelpon kembali bahkan pesannya pun belum dibaca sama sekali.
Dengan berat hati dia bangkit menuju kamar mandi yang memang berada di dalam kamarnya sehingga dia tak perlu ke luar kamar untuk berbagai keperluan.
Setelah selesai sholat dan mengaji sebentar, Siti Aisyah kembali melirik handphonenya hanya untuk menerima kenyataan bahwa pesannya tetap belum dibaca.
'Apakah aku ini tidak berarti apa-apa dalam pandangan matanya?' Gumam Siti Aisyah dengan sedih.
Setelah termenung lebih kurang lima menit, dengan tubuh lesu Siti Aisyah pun bangkit menuju dapur.
Sedari dulu dia memang sudah terbiasa membantu ibunya masak walau pun mereka punya pembantu sehingga Siti Aisyah bisa masak berbagai masakan.
"Aisy kenapa? Kok lesu begitu? Kamu kurang tidur ya." Tanya Ibunya yang tampak risau melihat wajah anak semata wayangnya yang tidak bercahaya sebagaimana biasanya.
Seharusnya dia merayakan atas kesembuhannya dari penyakit bisu yang selama ini diidapnya, bukannya murung seperti itu.
"Tidak ada apa-apa, Bu, cuma sedikit lelah saja." Siti Aisyah mencari alasan agar ibunya tidak curiga.
"Benar begitu? Jika memang kondisi kamu tidak fit, istirahat saja di kamar, lagi pula ibu masak yang biasa-biasa saja pagi ini, jadi sebentar lagi juga selesai."
"Tak apa-apa, Bu." Siti Aisyah menarik kursi. "Sini biar Aisy yang meracik bawang, Bu." Ucap Siti Aisyah sambil duduk di kursi.
Melihat anaknya tetap ingin membantunya masak Buk Juwita langsung menyerahkan pekerjaan meracik bawang kepadanya sedang dia langsung mengambil sayur dan mulai memotongnya.
Siti Aisyah baru saja mulai meracik bawang saat handphonenya bergetar, dia mengambilnya dengan ogah-ogahan.
Saat melihat pesan yang masuk, matanya langsung berbinar dan dia tersenyum-senyum sendiri.
Dia bangkit dari kursi dan berkata dengan tergesa-gesa, "Buk, Aisy istirahat di kamar dulu ya...."
Belum sempat Buk Juwita meresponnya, Siti Aisyah sudah berlari-lari kecil ke kamarnya dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.
"Ada apa dengan anak itu? Tadi murung, tak bersemangat, kenapa tiba-tiba ceria seperti itu saat melihat handphonenya? Jadi penasaran." Desis Buk Juwita sambil terus melihat ke arah anaknya menghilang tadi.
__ADS_1
Cuaca semakin terang. Sambil sesekali membalas pesan dari Siti Aisyah, Mumu terus berjalan santai mengitari kota Siak.
Di mana-mana, berjalan di pagi hari membuat pikiran bertambah segar dan nafas menjadi lancar.
Saat melihat kedai kopi ada yang buka, Mumu langsung membelokkan kakinya ke arah itu.
Bagaimana pun juga ia sudah sangat lapar. Mungkin ini ada kaitannya dengan proses meditasi yang telah ia lakukan.
Sambil menikmati sarapannya Mumu dibuat bingung dengan pesan masuk dari Siti Aisyah yang bertubi-tubi. Ia tidak terbiasa dengan perhatian seperti itu, apa lagi perhatian dari seorang gadis sehingga Mumu menjadi agak canggung.
Mau terus membalas pesannya salah, tak membalas nanti apa kata Siti Aisyah?
Walau pun hanya tamatan SMA, Mumu bukan lah orang yang ber EQ rendah, sehingga samar-samar ia tahu ke mana arah pemikiran Siti Aisyah.
Tak ada namanya laki-laki yang tidak senang diperhatikan dan disukai oleh seseorang, apa lagi oleh seorang gadis yang cantik, baik hati dan kaya, cuma waktunya yang kurang pas menurut Mumu.
Mereka baru saja berjumpa sehingga belum terlalu mengenal antara satu sama lain.
Selain itu juga, di hati Mumu masih ada Wulan, biar pun mereka tidak pernah pacaran dan perkenalan mereka sangat singkat tapi tetap saja tidak mudah melupakan sosok tersebut.
Wanita itu diciptakan pertama kali dari tulang rusuk. Sehingga jika terlalu keras kita berusaha untuk meluruskannya dikhawatirkan akan patah. Tapi jika kita tidak berusaha untuk meluruskannya maka dia akan tetap bengkok.
Siti Aisyah berbaring dengan posisi tengkurap dengan kepalanya dinaikkan. Kata orang-orang tua dulu, posisi seperti tidak boleh dilakukan apa lagi jika menghadap ke arah bayi.
Menurut kepercayaan orang-orang tua dulu, posisi tengkurap seperti ini seperti buaya yang akan memakan anaknya sehingga posisi ini dilarang dilakukan.
Itu dahulu. Sekarang tidak ada yang akan mengingatkan akan hal tersebut.
Siti Aisyah tak henti-hentinya tersenyum bahagia dengan kedua tangannya menggenggam handphonenya.
Hatinya sangat gembira bagaikan anak perempuan yang diberi hadiah kejutan berupa sebuah boneka yang cantik.
Perasaan ini jauh....jauh lebih menyenangkan dibandingkan saat dia jadian sama pacarnya Santana.
Pada hal hanya sekedar mendapat balasan pesan singkat dari Mumu, tapi rasanya sungguh luar biasa.
__ADS_1
Pesan itu hanya lah pesan biasa. Tak ada yang istimewa. Tapi bagi Siti Aisyah, pesan yang biasa itu mampu membuat dia merasakan kebahagian yang luar biasa. Siti Aisyah pun merasa aneh mengapa dia bisa menjadi seperti ini.
Tapi dia tak terlalu memikirkannya lagi. Yang penting sudah ada kabar dari Mumu sudah lebih cukup baginya.
Lama Siti Aisyah berdiam di kamarnya hingga akhirnya ibunya datang.
"Tok tok....."
Buk Juwita mengetuk pintu kamar anaknya.
"Kamu ada di dalam Aisy? Ayo sarapan, nanti makanannya menjadi dingin."
Terdengar suara langkah kaki. Tak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Aisy masih kenyang, Bu. Ibu sarapan saja dulu sama Ayah ya...."
"Jangan seperti itu, nanti sakit perut lho. Ayo kita sarapan bersama-sama."
Buk Juwita memperhatikan bahwa anaknya sangat ceria. Tak ada tanda-tanda lesu seperti yang ditunjukkan tadi.
Buk Juwita menarik nafas lega. Berarti anaknya tidak ada masalah apa-apa.
Mereka pun akhirnya sarapan pagi bersama.
Dalam pada itu drg. Saloka menelpon Mumu mengajak pulang bersama-sama jika Mumu memang tidak ada kegiatam lagi di kota Siak.
Setelah mendapatkan jawaban dari Mumu dia pun bersiap-siap mengurus segala urusan di RSUD untuk pulang bersama-sama dengan pak Ketua Dewan dan istrinya.
...****************...
Di sebuah ruangan rumah sakit, lima orang pria dan wanita sedang duduk mengelilingi sebuah meja yang berbentuk bundar.
Dari raut wajah mereka yang nampak tegang, jelas bahwa apa pun yang menjadi topik pembahasan mereka kali ini bukan lah perkara remeh temeh belaka.
Seorang wanita berusia empat puluhan tahun yang duduk di kursi pimpinan mentap keempat orang itu beberapa lama.
__ADS_1
Setelah menarik nafasnya berulang kali dia pun berkata, "dr. Faisal, coba kamu uraikan kembali kasus pasien yang sudah divonis meninggal di ruang ICU, tapi tiba-tiba menjadi sehat kembali. Seingat saya, dokterlah yang menjadi penanggung jawab hari itu. Tolong uraikan sedetail mungkin agar kami semua yang ada di sini bisa menentukan sikap untuk langkah selanjutnya."