TABIB KELANA

TABIB KELANA
Secercah Harapan


__ADS_3

Ada semacam anekdot yang mengatakan bahwa jika sudah masuk ruang ICU pasti mati, atau jika sudah keluar dari ICU juga bakalan mati.


Memang bahasanya terkesan kasar, tapi memang itu lah adanya menurut pandangan masyarakat.


Sebenarnya bukan tanpa alasan mengapa anekdot tersebut berkembang di masyarakat.


Pasien yang masuk ke ICU adalah pasien dengan penyakit yang sangat parah jadi wajar saja jika di antara mereka tidak bisa bertahan hidup.


Lalu mengapa setelah keluar dari ICU juga bisa meninggal?


Bisa jadi karena sewaktu di ICU pasien tersebut terbiasa menggunakan berbagai alat bantu yang bisa memantau kesehatan selama 24 jam atau bahkan 48 jam.


Setelah keluar dari sana, tidak siap karena tidak ada lagi alat bantu dan alat kontrol kesehatan sehingga menjadi sedikit lalai.


Apa kah memang seperti itu?


Bisa jadi iya....bisa juga tidak.....


Mengapa begitu???


Yaaaaah, Mumu kan bukan orang yang serba tahu....!


Faktanya di Indonesia angka kematian di ICU mencapai 27,6%.


Tapi jangan ditanya dari mana Mumu mendapatkan angka tersebut.


Saat mereka berdua sampai di RSUD Tengku Rafi'an Siak, Mumu dapat merasakan suasana berkabung. Rasa sedih yang mendalam.


Drg. Saloka langsung membawa Mumu ke ruang ICU tentunya setelah melewat beberapa prosedur.


Hanya ada Pak Ketua dan yang sedang menunggu jenazah istrinya dalam keadaan lesu.


Jika bertemu di jalan orang pasti tidak akan menyangka bahwa pria ini adalah salah seorang yang sangat penting di Meranti, nyata benar kehilangan istrinya telah membuat dia berubah total.

__ADS_1


Mumu bisa merasakan bahwa pria ini sangat mencintai istrinya, jika tidak maka sikapnya tidak akan seperti itu.


"Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, Pak. Semoga Ibuk ditempatkan di tempat yang layak, dan Bapak juga diberikan kesabaran dan ketabahan." Ucap drg. Saloka yang juga ikut sedih melihat kondisi Pak Ketua seperti itu.


Menanggapi ucapan drg. Saloka, Pak Ketua hanya bisa tersenyum sedikit dan berkata dengan tidak semangat, "Terima kasih, Pak." Lalu dia kembali menatap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang. Dia tak memperdulikan lagi drg. Saloka dan Mumu yang masih berdiri tak jauh darinya.


Seolah-olah hanya ada dia dan istrinya, tak ada orang lain lagi di sana.


Sejak diberitahu oleh dokter tentang nasib istrinya, Pak Ketua tidak bergerak dari ruangan ini.


Dia tidak berusaha untuk pergi, tidak berencana untuk menelpon seseorang dan tidak ada usaha untuk mengurus pemindahan jenazah istrinya dari RSUD ini.


Dia hanya duduk dalam diam di sini sambil menatap wajah istrinya.


Bibirnya tampak gemetar seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar.


Hanya saja jika diperhatikan dengan seksama maka akan tampak air mata bening yang keluar dari sudut kedua matanya.


Jika sudah tiada baru terasa! Mungkin itu adalah salah satu hal yang dirasakan oleh Pak Ketua saat ini.


Namun saat mereka masuk ke sini, mereka tidak menjumpai dokter pendamping tersebut, entah ke mana dia pergi.


Drg. Saloka menjadi serba salah. Dia merasa tidak pada tempatnya untuk tetap di sini menyaksikan Pak Ketua yang sedang bersedih sedangkan dia tak punya cukup ide untuk berusaha menghiburnya. Dia melirik Mumu ingin mengatakan sesuatu, sekedar meminta pendapat, tapi bibirnya tak mampu mengucapkan apa-apa melihat keseriusan di wajah Mumu yang sedang menatap istri Pak Ketua.


'Apa maksud semua ini? Apa kah Mumu sudah menjadi gil* tiba-tiba tertarik dengan istri orang lain, apa lagi orang yang sudah meninggal?'


Drg. Saloka menggeram. Anak ini perlu diberi pelajaran, karena menunjukkan sikap yang tak patut dan dalam kondisi yang salah.


Saat dia berencana menjitak kepala Mumu, dia melihat Mumu melangkah ke arah Pak Ketua dan berkata, "Pak, izinkan saya memegang nadi istri Bapak sebentar?"


'Ampuunnn....habis sudah.....' drg. Saloka membelalak matanya sambil kedua tangan memegang kepalanya yang mendadak sakit.


Sudah terlambat untuk mencegahnya, drg. Saloka hanya berkata dengan nada setengah berteriak, "Mumu hentikan!!! Apa yang ingin kamu lakukan???!!"

__ADS_1


Pak Ketua yang masih dalam keadaan setengah linglung akibat kesedihan dengan perlahan memutar lehernya, menatap Mumu, "Apa yang ingin dokter periksa?"


Dalam kesedihannya dia tidak fokus sehingga menganggap Mumu sebagai dokter ICU.


"Saya tidak bisa memastikan sebelum saya memeriksa nadi istri Bapak." drg. Saloka yang mendengarnya hanya bisa ternganga.


Mumu kan hanya ahli dalam menyembuhkan racun. Apa kah itu artinya istri Pak Ketua sebenarnya terkena racun?


Tapi bukan kah sudah terlambat untuk mengobatinya jika istri Pak Ketua benar-benar keracunan.


Drg. Saloka tetap diam. Dia hanya menatap bingung ke arah Mumu. Semakin dia berusaha mengenal Mumu semakin banyak misteri yang menyelimutinya.


Oleh karena itu dia hanya ingin melihat perkembangan keadaan terlebih dahulu.


Awalnya drg. Saloka menyangka bahwa Pak Ketua pasti akan menolak Mumu untuk memeriksanya, tapi anehnya Pak Ketua memundurkan kursinya dan mempersilahkan Mumu untuk memeriksanya.


Dia belum terpikir apa yang bisa diperiksa terhadap sesosok jenazah.


Mumu langsung memeriksa denyut nadi 'jenazah' tersebut dengan hati-hati. Ia memejamkan mata dan mengatur nafasnya agar bisa berkonsentrasi.


Dalam keadaan biasa Mumu tak perlu melakukan seperti itu, cukup dia menenangkan dirinya sebentar maka dia sudah bisa berkonsentrasi.


Tapi saat ini berbeda. Ia perlu mengkondisikan hati dan pikirannya setenang mungkin.


Tadi saat ia mencoba memeriksa kondisi jenazah wanita tersebut, walau pun ia tak menemukan denyut nadi atau pun nafas, tapi Mumu merasakan seolah-olah masih ada sisa-sisa tanda kehidupan yang dipancarkan dari sosok tersebut, walau pun sangat lemah dan hilang timbul-hilang tumbul sehingga Mumu tak bisa memastikan sebelum melakukan pemeriksaan yang mendalam.


Mumu mengernyit, ia tak bisa merasakan apa-apa, tapi tanda kehidupan itu masih ada. Ibarat lilin, hanya tinggal nyala yang terakhir, jika terkena angin sedikit saja maka lilin tersebut akan padam untuk selama-lamanya.


Mumu tak berputus asa. Ia kembali memeriksanya sekali lagi. Keringat mengembun di dahinya sebagai pertanda ia telah mengerahkan energinya sekuat mungkin.


Akhirnya, di sana, di kejauhan, Mumu melihat secercah cahaya di antara kegelapan. Cahaya itu sangat kecil sehingga Mumu tak bisa mendeteksinya sesegera mungkin.


Walau pun sudah bisa menemukan cahaya tersebut tidak lah membuat air muka Mumu bahagia, karena ia tahu harapannya sangat tipis, jauh lebih tipis dibandingkan dengan kondisi Handoko abangnya Amran dahulu.

__ADS_1


Oleh karena itu ia tak yakin apakah bisa menolongnya atau tidak, karena cahaya yang sangat kecil itu bisa saja padam setiap saat.


__ADS_2