
Laki-laki yang menggunakan kaca mata tanpa gagang itu menegakkan punggungnya.
Sambil bertelekan di atas meja yang berbentuk bundar tersebut, laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu mulai menceritakan semua peristiwa yang terjadi, dari pertama pasien tersebut terpaksa datang ke sini karena kondisinya tiba-tiba menjadi lebih buruk, lalu dilakukan tindakan penyelamatan terhadap pasien dengan segera namun tak ada tanda-tanda perbaikan hingga akhirnya peralatan medis tidak bisa lagi mendeteksi nafas, urat nadi dan pergerakan jantung sehingga dinyatakan pasien tersebut sudah meninggal.
"Saat kita akan menyelesaikan proses pemulangan jenazah, tiba-tiba dari pihak keluarga pasien meminta waktu, hal yang agak ganjil menurut saya, tapi karena mereka tetap ngotot maka dengan terpaksa kita harus mundur selangkah agar tidak terjadi perselisihan dengan mereka, hingga akhirnya, Bapak-bapak dan Ibuk-ibuk paham cerita seterusnya, entah bagai mana pasien tersebut bisa hidup kembali dengan kondisi fisik yang sangat sehat seperti tak pernah mengalami sakit sama sekali. Jika saja waktu itu saya tidak memeriksa penyakitnya secara pribadi, maka saya pun tidak akan percaya bahwa pasien tersebut mempunyai riwayat penyakit jantung kronis bahkan sudah kompikasi dengan berbagai penyakit lain."
Mendengarkan keterangan dokter Faisal yang panjang lebar mau tak mau keempat orang yang berada di ruangan itu hanya bisa menarik nafas dingin.
Walau pun sulit untuk mempercayainya, tentu saja mereka tak punya pilihan lain untuk itu.
"Apa kah itu artinya ketahuan meninggalnya hanya berdasarkan hasil dari peralatan medis tanpa membuktikannya dengan pemeriksaan yang...."
"Dokter Faisal menggelengkan kepalanya saat dia memotong perkataan dokter pria yang berambut cepak tersebut, " Saya faham apa yang ingin dokter katakan, tapi izinkan saya untuk menjelaskan bahwa kami juga telah melakukan pemeriksaan secara manual dengan cara mengecek nadinya, kami juga sudah memeriksa melalui matanya, tak ada respon apa pun terhadap pencahayaan, malah kami juga sudah melakukan periksaan EKG, dan hasilnya menunjukkan flat yang berarti pasien tersebut sudah meninggal dunia. Kalau dokter tidak percaya, silahkan lihat buktinya ada di sini." Dokter Faisal meletakkan sebuah file hasil periksaan di meja.
Dokter yang berambut cepak itu kurang senang karena perkataannya tadi dipotong oleh dokter Faisal dengan sembrono. Dia merasa lebih senior dan lebih kompeten sehingga harga dirinya menjadi terusik.
Oleh karena itu dia mencondongkan badannya ke depan lalu berkata, "Kalau begitu, Dokter Faisal yang terhormat tolong jelaskan kepada kami bagai mana pasien yang sudah dinyatakan meninggal bisa hidup kembali. Bukan hanya itu, bahkan penyakit yang dideritanya juga langsung sembuh dalam sekelip mata. Apalah anda sedang membuat lelucon di sini dokter Faisal?"
Saat dokter Faisal ingin membalas kata-kata yang pedas tersebut, wanita yang duduk di kursi pimpinan itu mengangkat tangannya supaya diam. Lalu dengan nada dalam dia berkata, "Tak perlu Bapak-bapak sekalian berselisih faham dan saling menyalahkan di antara sesama rekan kerja. Tujuan saya mengadakan rapat kecil ini hanyalah untuk mencari fakta yang sebenarnya." Wanita itu menatap semua yang hadir dengan pandangan tajam.
__ADS_1
"Kita tahu kasus ini merupakan kasus yang aneh, walau pun secara tak langsung bisa mendongkrak nama baik RSUD kita, tapi kita juga harus bisa mencari fakta yang sebenarnya. Saya juga telah menemui drg. Saloka yang kebetulan beliau adalah Direktur RSUD Meranti. Saya mencoba mengorek rahasia, tapi dia hanya bungkam seribu bahasa. Saya tahu bahwa dia menyembunyikan rahasia. Tapi saya tidak punya hak untuk memaksanya untuk bicara. Saya yakin pasti ada tokoh di balik layar yang entah dengan cara bagaimana bisa menghidupkan dan menyembuhkan pasien tersebut. Jadi saya minta kepada Bapak, Ibuk yang ada di sini, tolong kerahkan usaha anda bagai mana pun caranya agar kita mengetahui rahasia tersebut. Jika ada di antara Bapak-bapak atau Ibuk-ibuk yang kebetulan berjumpa dengan sosok misterius tersebut, tolong rekrut dia apa pun imbalan yang dia minta akan kita penuhi."
...****************...
Menjelang siang, Mumu akhirnya tiba di kota Selatpanjang. Tak ada peristiwa aneh yang terjadi. Semuanya berjalan mulus tanpa ada aral melintang.
Sebenarnya sewaktu di kota Siak, ada yang membututi Mumu secara diam-diam. Mereka berjumlah delapan orang. Lewat kekuatan spiritualnya yang kini bisa menjangkau 50 meter, mudah bagi Mumu untuk melacak mereka walau pun mereka melakukan dengan sembunyi-sembunyi.
Mumu tahu mereka berniat untuk mengeroyoknya. Karena lagi malas berurusan dengan orang-orang tersebut sehingga Mumu hanya bisa memainkan trik, mencoba mengelabui mereka sehingg ia pun luput dari pengawasan mereka.
Mumu tertawa sendiri saat membayangkan kedelapan orang itu pasti uring-uringan karena telah kehilangan mangsanya.
Mumu langsung masuk, setelah meletakkan tasnya di kamar, Mumu menuju dapur. Lewat pandangan matanya yang tajam, Mumu melihat ada secarik kertas di atas meja makan.
Mumu meraihnya, ternyata pesan dari Bik Esah. Isinya mengatakan bahwa dia dan cucunya kembali ke kampung halaman karena ingin mengurus suatu hal. Tapi dia tidak mengatakan apa hal tersebut.
Setelah melipat kertas dan diletakkan di atas meja, Mumu segera mengambil sapu.
Ia mulai membersihkan rumah dari debu.
__ADS_1
Itu lah anehnya rumah, jika sehari saja ditinggal pasti akan berdebu, apa lagi jika ditinggal selama berhari-hari.
Makanya rumah, apa lagi yang terbuat dari papan akan cepat lapuk jika ditinggal dalam waktu yang lama.
Setelah selesai beres-beres rumah, Mumu pun langsung memasak nasi. Rencananya lauk pauk nanti beli di luar saja. Mumu lebih suka makan nasi masakan sendiri, apa lagi saat masih panas, rasanya luar biasa nikmat.
Jam empat lewat tiga puluh sore Mumu keluar. Selain berencana membeli lauk pauk, Mumu ingin sekedar jalan-jalan ke pantai Dorak.
Sudah lama ia tidak ke sana. Mumu ingat saat pertama kali ia bertemu dengan Wulan adalah ketika ia sedang di pantai Dorak.
Entah bagai mana kabar dia sekarang. Mumu tak tahu Wulan tinggal di mana dan nomor kontak pun tidak ada.
Jika pun ada Mumu yakin, Wulan tak ingin dihubungi. Mumu masih ingat saat Wulan marah-marah denganya saat mengetahui bahwa ia pernah menikah walau pun hanya secara admimistrasi.
Tapi ia tidak punya kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya saat itu karena Wulan sudah terlanjur tidak percaya padanya.
Mumu hanya bisa menghela nafasnya.
Ia berdiri di bebatuan yang disusun sepanjang pantai Dorak. Banyak orang yang sedang bersantai di sini.
__ADS_1
Mumu melirik ke arah tempat Wulan saat dulu pertama kali ia bertemu seakan-akan berharap agar Wulan benar-benar hadir di sana, menatapnya, dan tersenyum kepadanya.