TABIB KELANA

TABIB KELANA
86.


__ADS_3

Mumu tahu makhluk tak kasat itu masih berada di sana, tapi karena jangkauan kekuatan spiritual tidak bisa melingkupi seluruh halaman sehingga ia tidak tahu makhluk apa tersebut.


Apakah makhluk ini sama dengan yang dirasakan saat di jembatan Perumbi tadi?


Mumu hanya bisa pasrah, ia segera menutup pintu dan menguncinya.


Setelah tiba di kamar, Mumu segera membuang pikiran yang menganggunya dan bersiap untuk tidur.


Banyak orang yang mengalami kesulitan saat mau tidur, walaupun mata sangat mengantuk tapi tidak bisa tidur sehingga berapa banyak orang yang harus mengkonsumsi pil tidur agar bisa tidur.


Pada hal salah satu penyebab tidak bisa tidur karena banyak hal yang menganggu dalam pikiran, berbagai persoalan yang belum diselesaikan tapi tidak bisa diendapkan untuk sementara waktu sehingga kesulitan mau tidur.


Berbeda dengan Mumu, ia cukup mengesampingkan masalah yang punya potensi menganggu kualitas tidurnya sehingga ia masih tetap bisa tidur nyenyak walaupun banyak masalah yang dipikirkan.


Saat melihat Mumu menutup pintu dan menguncinya, makhluk tak kasat mata itu masih duduk di sebuah dahan pohon jambu sekitar dua puluh meter dari tempat Mumu berdiri tadi.


Dia tetap berada di sana. Pandangan matanya tetap mengarah ke pintu, tak berpindah sedikitpun seolah-olah menunggu pintu itu terbuka kembali.


Saat angin malam bertiup agak kencang, makhluk tersebut tiba-tiba menghilang tanpa jejak, seolah-olah dia adalah bagian dari pada angin itu sendiri.


Dalam pada itu Wulan masih terbaring terlentang di kasur yang empuk. Dia berbaring dengan gelisah.


Bola matanya bergerak-gerak menatap plafon kamarnya. Sudah tengah malam tapi dia belum bisa tidur.


Sebuah dengkur halus bergema di sampingnya.


Wulan menoleh ke arah Lisa yang sudah tidur dengan nyenyak sedari tadi.


"Hmmm..." Wulan mengembuskan nafasnya berkali-kali seolah-olah ingin membuang beban berat di hatinya, tapi tak mampu.


Dia teringat kejadian tadi pagi. Ada terselip rasa bersalah di relung hatinya saat mengingat sikapnya yang terlalu keras terhadap Mumu.


Saat teringat kembali fakta bahwa Mumu sudah menikah selama ini, rasa bersalah kembali ditekan oleh rasa marah.


Wulan menggigit bibirnya. Dia mempertanyakan kepada dirinya sendiri, 'kenapa harus marah?'


Wulan tersentak, dia berusaha untuk mencari jawaban yang menyebabkan dia harus marah saat mengetahui fakta bahwa Mumu sudah menikah.


Lama dia berpikir tapi tak menemukan jawaban yang cocok selain cemburu.


Cemburu? Dahi Wulan mengernyit. Apakah benar dia cemburu?

__ADS_1


Tapi kenapa dia harus cemburu?


"Bib....bib....bib..." Serangkaian pemikirannya dihentikan oleh suara handphonenya yang tiba-tiba berbunyi.


Wulan hanya melirik sekilas pada layar handphonenya tapi tak berusaha untuk menjawabnya.


Ini entah sudah panggilan yang ke berapa kali, tapi Wulan tak pernah mau mengangkatnya.


Jika pun terpaksa, dia hanya menyuruh Lisa untuk menjawabnya.


Akhirnya Wulan mematikan jaringan handphonenya dah segera memejamkan mata berusaha untuk tidur.


Menjelang dini hari baru lah dia benar-benar terlelap.


Jam 03.36 Wib, Mumu tersentak dari tidurnya.


Rupanya ia mimpi lagi. Mimpi yang sama seperti yang ia alami dalam beberapa hari terakhir ini.


Seingat Mumu, sudah tiga kali ia memimpikan hal yang sama. Mumu bermimpi ia sedang berada di kota Siak Sri Indrapura.


Saat itu dari seberang sungai ada seorang laki-laki tua yang melambaikan tangan ke arahnya, memanggilnya supaya datang.


Mumu bangkit untuk meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa, setelah berwudhu, ia langsung melaksanakan sholat istikharah dua rakaat.


Kata Pak Ustadz, sholat istikharah adalah sholat untuk meminta petunjuk. Oleh karena itu Mumu ingin mendapatkan petunjuk apa yang harus ia lakukan atas mimpi tersebut.


Setelah selesai marathon dan latihan bela diri di halaman belakang, Mumu segera mandi dan sarapan.


Ia sudah memutuskan hari ini mau berangkat ke Siak.


Setelah selesai sholat istikharah tadi malam, hati Mumu terasa ingin sekali berkunjung ke kota Siak, mengunjungi istana Siak.


Oleh karena itu ia bergegas mengemasi beberapa stel pakaian dan dimasukkan ke dalam tas.


Tak lupa juga Mumu membawa peralatan jarum akupunturnya, mana tahu di sana nanti perlu menggunakan jarum akupuntur tersebut.


"Tiket.....tiket...."


"Mau berangkat ke mana, Bang?"


"Tiket, Bang...."

__ADS_1


Saat Mumu baru belok ke simpang pelabuhan Tanjung Harapan sudah ada beberapa orang yang menawarkan tiket.


Mumu berhenti, "Tiket ke Siak satu, Bang."


"Wahhhh, kalau arah Siak dan Pekanbaru sudah kosong, Bang, Sekarang hanya ada kapal ke Dumai, Bengkalis dan Batam."


"Kosong? Kenapa bisa begitu, Bang? Kan biasanya banyak kapal berangkat." Tanya Mumu heran.


"Sudah dibooking semua, Bang. Kalau Abang tak percaya coba saja langsung ke agen di pelabuhan."


Mumu hanya bisa berlalu dengan penasaran. Setelah memarkirkan motornya Mumu berjalan menuju agen resmi.


"Ada tiket ke Siak atau Pekanbaru, Pak?"


"Maaf, Dik. Kosong. Sudah dipesan semua."


"Satu saja, Pak." Mumu berusaha memujuk.


"Mohon maaf betul, Dik. Memang benar-benar kosong. Tak ada ruang untuk nyisip walau satu orang pun."


"Siapa yang memesan semuanya, Pak?"


"Saya juga kurang tahu. Dengar-dengar kabar orang pusat sana." Orang pusat yang dimaksud adalah pejabat yang berasal dari ibu kota Jakarta.


Saat Mumu berbalik pergi masih sempat Agen tiket tersebut berkata, "Kalau mau berangkat hari ini juga, mending pakai Jelatik saja, Dik. Tapi berangkatnya sore."


Kapal Jelatik satu-satunya kapal pengangkut orang yang terbuat dari kayu yang tetap menjadi idola masyarakat Selatpanjang yang akan berpergian menuju Siak dan Pekanbaru.


Kapal Jelatik secara waktu tempuh memang tergolong lambat dibandingkan kapal motor cepat lainnya. Waktu tempuh dengan kapal Jelatik dari kota Selatpanjang menuju Pelabuhan Sungai Duku, Pekambaru bisa memakan waktu 16 jam. Sedangkan jika menggunakan speed boat bisa ditempuh 6-7 jam saja.


Dari segi fasilitas kapal Jelatik juga jauh dibandingkan kapal cepat modern lainnya. Di kapal Jelatik, tidak tersedia tempat duduk khusus penumpang. Bahkan penumpang hanya bisa duduk atau berbaring di dalam kamar atau bilik kecil bersekat kayu saja di dalam kapal yang berlantai empat ini. Kapal Jelatik juga tidak memiliki pendingin ruangan (Air Conditioner) layaknya dimiliki kapal cepat.


Tapi disinilah letak keunikannya, sehingga Kapal Jelatik tetap menjadi pilihan bagi sebagian besar orang-orang.


Terima kasih banyak, Pak." Ucap Mumu dengan sungguh-sungguh.


Ia langsung berlalu dari sana.


Agen tiket kapal Jelatik biasanya mangkal di sekitar pelabuhan Camat, pas persimpangan jalan Tebing Tinggi, oleh karena itu Mumu langsung menuju ke sana. Ia takut kehabisan tiket.


Benar saja, saat sampai di sana sudah banyak yang antri di depan Agen pada hal hari masih pagi.

__ADS_1


__ADS_2