
Siti Aisyah menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara isak tangisnya saat mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
Dengan langkah perlahan takut mengeluarkan bunyi, dia kembali ke kamarnya dengan tubuh sempoyongan.
Siti Aisyah hanya bisa menangis untuk meredakan kesedihannya. Air mata ada lah obat bagi sebagian orang yang sedang dilanda masalah. Dengan mengeluarkan air mata, masalah berat akan terasa lebih ringan.
Siti Aisyah kenal Pak Danu, bahkan sangat kenal, karena dia adalah orang tua dari Santana, mantan pacarnya dahulu.
Yang mengherankan mengapa Santana ingin memilihnya sebagai istri, bukan kah dahulu Santana yang memutuskan hubungan mereka dan mencampakkannya begitu saja. Santana lebih memilih gadis lain ketimbang dia.
Jadi mengapa sekarang Santana kembali?
Semenjak Siti Aisyah aktif kuliah lagi dan saat mengetahui bahwa dia sudah sembuh dan bisa bicara kembali, Siti Aisyah memang melihat gelagat Santana yang seperti ingin mendekatinya. Tapi Siti Aisyah sudah hilang rasa terhadap pria yang tidak bisa dipercayai itu.
Buat apa memiliki wajah ganteng dan berasal dari keluarga kaya tapi mempunyai sifat tercela dan tidak setia?
Oleh karena itu Siti Aisyah pasti berusaha untuk menghindari setiap kali Santana berusaha untuk mendekatinya bahkan nomor kontaknya pun sudah Siti Aisyah blokir.
Hanya saja dia tidak menyangka bahwa Santana mempunyai cara lain untuk mendapatkannya. Yang anehnya mengapa kedua orang tuanya sepertinya sangat mendambakan menjadi bagian dari keluarga Pak Danu. Hal ini yang tidak Siti Aisyah mengerti.
Itu lah salah satu sisi buruk yang terdapat pada manusia.
Pada saat mereka memerlukan pertolongan Mumu, kedua orang suami istri tersebut sangat baik dan ramah terhadap Mumu. Mereka berdua tak henti-hentinya memuji Mumu dan merasa sangat berhutang budi kepada Mumu hingga mereka memberikan hadiah berupa kebun sawit.
Tapi saat anak mereka sudah sembuh, rasa terhutang budi lama kelamaan mulai tergerus dari hati dan sanubari mereka, sehingga mereka mulai melihat kekurangan Mumu yang hanya pemuda tamatan SMA dan dari keluarga yang sederhana yang statusnya tidak bisa dibandingkan dengan Santana, anak Pak Danu, sehingga mereka berdua tidak ingin anak semata wayang mereka mempunyai hubungan khusus dengan Mumu.
Oleh karena itu lah mereka harus cepat-cepat bertindak mencegah komunikasi di antara Aisy dan Mumu.
Mereka lupa bahwa harta dan kedudukan bukan lah segala-galanya. Kelak mereka berdua akan menyesali keputusan yang telah mereka buat tanpa musyawarah dengan kedua orang tua mereka ini.
Hal bagusnya adalah Siti Aisyah tahu penyebab sikap Ayah dan ibunya yang tiba-tiba berubah sehingga dia harus pandai-pandai membawa diri ke depannya jika berhadapan dengan Ayah dan ibunya.
__ADS_1
Selain itu juga dia perlu bertemu dengan Atuk Udin dan Nenek Kam, karena mereka berdua nampaknya sangat mendukung melihat kedekatannya dengan Mumu.
Siti Aisyah berencana besok pagi, saat kedua orang tuanya pergi kerja, maka dia akan meluncur ke rumah Atuk dan Neneknya.
Saat memikirkan rencananya, Siti Aisyah pun kembali tersenyum dan meraih handphonenya untuk mengirim pesan dengan Mumu.
Tentu saja dia tidak akan menceritakan prihal masalahnya kepada Mumu, karena dia takut Mumu akan menjadi risau sehingga tidak bisa fokus di sana.
Bahkan yang lebih buruk lagi seandainya Mumu memilih untuk tidak menghubunginya lagi karena tak ingin membuat kedua orang tuanya marah. Memikirkannya saja sudah membuat Siti Aisyah bergidik.
...****************...
"uffff....." Mumu menyelesaikan rute sirkulasi pernafasannya. Ia merasa sangat lapang dan tubuhnya bertambah ringan.
Mumu bisa merasakan bahwa tenaga dalamnya telah sedikit bertambah.
Hanya saja ia kembali mengernyit saat menyadari bahwa kekuatan spiritualnya masih stagnan dalam cakupan lima puluh meter.
Metode pernafasannya hanya mampu menambah tenaga dalamnya sedikit demi sedikit bukan menambah kekuatan spiritualnya.
Mumu menyeka keringat di dahinya. Setelah itu ia langsung pergi ke teras rumah agar tubuhnya yang penuh keringat bisa kering karena angin malam.
Saat ini sudah jam 23.15 wib. Sudah sangat malam bagi sebagian orang.
Jam segini biasanya Mumu sudah tidur. Hanya saja kali ia ingin memeriksa sesuatu. Ia ingin tahu apa kah sosok makluk tak kasat mata itu masih berusaha memata-matai dirinya atau tidak.
Dia sengaja memancingnya dengan duduk di teras pada malam hari.
Sambil memeriksa keadaan dengan pandangan wadak dan kekuatan spiritualnya tapi tidak ada yang mencurigakan, Mumu kembali teringat pembicaraannya dengan drg. Saloka tadi siang.
Jujur saja, tawaran drg. Saloka sangat menggiurkan. Mumu sudah lama berencana ingin kuliah, satu-satunya kuliah yang sesuai dengan profesinya saat ini memang di bidang kesehatan.
__ADS_1
Hanya saja uangnya belum cukup untuk melanjutkan pendidikan.
Mumu tak ingin berhutang budi dengan Pemda. Apa lagi mendapat beasiswa bersyarat. Bukannya ia tidak ingin mengabdi di Kabupaten kelahirannya ini, hanya saja Mumu teringin berkelana ke berbagai daerah dan negeri, menyusuri pelosok-pelosok desa dan berbagai tempat, melihat kehidupan masyarakat dari dekat, menolong menyembuhkan berbagai penyakit bagi mereka yang membutuhkan sehingga Mumu tidak bisa menjanjikan bahwa ia akan tetap tinggal di Kabupaten Meranti.
Sudah lama ia mempunyai niat seperti itu. Hanya saja saat ini ia belum bisa merealisasinya.
Selain ilmunya belum cukup tinggi, Mumu pun belum tega meninggalkan kedua orang tuanya dalam waktu lama.
Oleh karena itu ia hanya bisa memendam keinginannya untuk saat ini.
Mumu melirik handphonenya. Ada beberapa pesan yang masuk dari Siti Aisyah. Mumu tahu bahwa gadis itu ada perasaan terhadapnya.
Jika saja tidak ada Wulan di hatinya, mungkin Mumu sudah menerima Siti Aisyah untuk mengisi hatinya.
Siapa juga yang tidak tertarik dengan seorang gadis yang cantik, menarik, baik hati dan kaya. Tidak ada kekurangan pada sosok Siti Aisyah.
Hanya saja sudah ada Wulan.....
Saat menyebut nama Wulan dihatinya, wajah Mumu menjadi melankolis. Ia tak tahu bagai mana kabar Wulan sekarang. Di mana dia dan apa yang sedang ia kerjakan.
Saat mengingat Wulan, ada sesuatu yang menyesak di dadanya. Sangat sesak.
Apa kah ini yang dinamakan rindu? Mumu tak tahu itu karena rindu adalah milik bagi orang-orang yang sedang kasmaran. Rindu itu hanya milik orang yang sedang jatuh hati dan saling mencintai antara satu sama lain.
Sedangkan kondisi Mumu berbeda. Ia tak tahu apa kah ia benar-benar mencintai Wulan.
Ia belum pernah mengutarakannya. Ia pun tak tahu bagai mana perasaan Wulan terhadapnya. Mereka belum pernah membicarakan dari hati ke hati. Bukannya Mumu tak mau hanya saja belum ada waktu untuk itu.
"Hmmmm....." Mumu menghela nafasnya.
Dalam pada itu tepat di seberang jalan, di atas sebatang pohon Akasia yang tumbuh rimbun di pinggir jalan, sesosok makhluk yang tak kasat mata sedang memandang Mumu dengan pandangan sendu.
__ADS_1