TABIB KELANA

TABIB KELANA
Kehidupan Buk Senah


__ADS_3

Walau pun dia memikirkan kejelekan Mumu dengan harapan supaya dia bisa melupakannya , namun di relung hatinya yang paling dalam, dia tahu ada sesuatu yang membuat dia menjadi ragu. Tapi Wulan tak tahu pasti, perkara apa kah yang membuat dia menjadi ragu tersebut.


Di satu sisi dia ingin melupakan Mumu, di sisi lain, kadang kala wajah Mumu masih menari-nari dalam pikirannya.


Jika perkataan Mirna itu benar, di hati kecil Wulan, dia berharap Mumu lah yang sedang merindukan dirinya bukan 'orang itu.'


Wulan menertawakan pemikirannya yang konyol tersebut.


Dia menggelengkan kepala, mencoba menepis pemikiran yang aneh tersebut.


Wulan bukan lah seperti gadis kebanyakan yang suka hura-hura jalan ke sana sini.


Walau pun dia anak orang kaya, dia tak terlalu suka ngumpul-ngumpul di cafe-cafe atau coffe shop.


Makanya dia tak terlalu banyak kawan yang bisa diajak curhat. Zaman sekarang ini susah cari kawan yang mengerti tentang kita. Yang minta dimengerti banyak.


Wulan cocok dengan Mirna, tapi ada beberapa hal yang dia belum sanggup curhat dengannya, bagai mana pun juga mereka belum terlalu lama kenal sehingga Wulan perlu berhati-hati takut harimau berbulu domba.


Dalam pada itu, Mumu baru saja selesai menyiangi kebun sayuran di halaman belakang. Semenjak Bik Esah tidak ada, Mumu jarang meninggalkan rumah terlalu lama. Bagaimana pun juga ia telah menyanggupi untuk menjaga rumah ini sehingga ia tidak bisa terlalu sering meninggalkannya jika tidak terpaksa.


Setelah mengirim uang dan barang-barang keperluan dapur untuk orang tuanya di kampung, Mumu sengaja mampir di kedai harian untuk membeli beberapa barang.


Mumu ingat pesan orang tuanya dahulu supaya mengutamakan belanja di kedai-kedai kecil seperti ini. Anggap saja kita membeli keperluan sambil menolong agar dagangan mereka laris.


Ada juga seorang wanita paruh baya yang baru masuk ke kedai saat Mumu baru saja keluar. Tapi ia tidak terlalu memperhatikannya, bagai mana pun juga memang ada beberapa orang yang juga berbelanja di kedai ini.


Mumu sudah berjalan ke arah motornya saat telinganya yang tajam mendengar suara pemilik kedai berkata dengan nada minta maaf kepada seseorang, "Maaf, Buk, hutang Ibuk yang kemaren-kemaren belum dibayar, sehingga saya tak bisa memberikan hutang lagi."


"Tolong lah, Nak, jika sudah dapat kiriman dari anak nanti semua hutang akan Ibuk bayar." Ternyata yang berkata itu adalah wanita paruh baya tadi.


"Sekali lagi saya mohon maaf, Buk, bukannya saya tak mau membantu, hanya saja modal saya juga sedikit, Buk, jika terlalu banyak yang berhutang, modalnya akan tertanam. Kami mau pakai apa untuk membeli barang-barang yang sudah habis nanti."

__ADS_1


Pemilik kedai itu lumayan sopan. Dia tidak langsung marah-marah tapi malah dia lah yang meminta maaf karena tak bisa membantu.


"Ini ada beras satu kilo, Ibuk ambil saja. Ini bukan hutang ya, Buk. Anggap saja saya bersedekah kepada Ibuk." Pemilik kedai itu menyodorkan beras yang dibungkus kantong plastik hitam.


"Terima kasih banyak, Nak. Semoga rezeki mu berkah." Wanita paruh baya itu mengambil beras sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca karena terharu. Setelah itu dia langsung pergi menyusuri jalan aspal dengan langkah perlahan-lahan.


Mumu tak jadi pergi. Ia kembali masuk ke kedai kecil tapi memiliki pemilik yang mempunyai hati seluas lautan.


Tidak semua orang bisa bersikap seperti pemilik kedai ini sehingga membuat Mumu kagum.


Mumu yakin yang dilakukan oleh pemilik kedai ini bukan lah rekaan semata, tapi memang sudah menjadi sifatnya. Suatu sifat yang terpuji.


"Ada yang ketinggalan, Dik?" Sapa pemilik kedai itu.


"Tidak, Buk. Tak ada." Baru kali ini Mumu memperhatikan pemilik kedai itu. Dia ternyata adalah seorang wanita yang berusia lebih kurang 36 atau 37 tahun. Wanita yang mempunyai fitur wajah keibuan.


"Kalau boleh tahu, siapa Ibuk yang tadi itu, Bu?"


"Oooo, memangnya suaminya sakit apa, Buk? Bagai mana dia memenuhi kebutuhan sehari-hari jika tidak bekerja?" Tanya Mumu dengan penasaran.


"Duduk dulu, Dik." Wanita itu mempersilahkan Mumu duduk di bangku depan kedai, dia pun ikut duduk tak jauh dari sana. Kebetulan pelanggan pun belum ada.


Lalu dia pun menceritakan kisah kehidupan Buk Senah dan suaminya Pak Somad yang ternyata mempunyai penyakit kanker otak stadium akhir.


Wanita itu pun menceritakan penyebab Pak Somad tak mau dilakukan operasi, bukan karena takut gagal, tapi takut uang pemerintah yang digunakan untuk biaya operasinya menjadi mubazir.


Sungguh alasan yang membuat hati Mumu menjadi terenyuh.


Di saat kebanyakan orang lebih mementingkan diri sendiri, ternyata ada sosok Pak Somad malah mementingkan Pemerintah dan orang lain. Dalam sehari yang singkat ini Mumu sudah ditunjukkan dengan orang-orang yang mempunyai perilaku baik seperti Pak Somad dan wanita pemilik kedai ini.


Mereka sama-sama berbuat baik dengan cara mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ooo jadi gaji anaknya tersendat sehingga mereka berdua terpaksa berhutang ya, Buk. Memangnya berapa hutang mereka, Buk?"


"Sebentar ya!" Wanita itu berdiri. Dia memeriksa catatan hutang Buk Senah, "Tiga ratus lima puluh ribu, Dik." Ucapnya kemudian.


Mumu mengeluarkan uang lima ratus ribu. "Ini ada sedikit rezeki yang orang titipkan melalui saya, Buk. Ini untuk membayar hutang Buk Senah, selebihnya buat Ibuk."


"Tapi, Dik...." Tangan wanita itu sedikit gemetar saat menerima uang tersebut.


Bagi orang lain uang seratus lima puluh ribu mungkin hanya jumlah yang sedikit.


Bagi dia yang jualan dengan penghasilan yang pas-pasan, jumlah uang begitu sudah sangat banyak.


"Terima saja, Buk. Namanya juga amanah orang. Saya permisi dulu, Buk. Terima kasih atas waktunya."


Mumu segera berlalu dari sana dengan diringi pandangan wanita pemilik kedai dengan penuh haru.


Ternyata rezeki bisa datang dari mana-mana saja. Bahkan dari arah yang tiada disangka-sangka.


Mumu terus menyusuri jalan Dorak, saat ternampak plang penanda jalan, Mumu langsung masuk ke gang tersebut.


Ia akhirnya sampai di depan sebuah rumah yang terbuat dari kayu punak.


Menurut ancang-ancang wanita pemilik kedai tadi, ini lah rumah Buk Senah dan Pak Somad.


Rumahnya tampak sepi seakan tiada berpenghuni. Tapi Mumu tahu ada orang di dalam.


"Assalamu'alaikum....!"


Setelah mengucapkan salam dua kali, terdengar jawaban dari arah dapur dan suara langkah kaki yang datang menghampiri.


Tak lama kemudian seraut wajah wanita paruh baya yang Mumu temui di kedai tadi langsung muncul di depan pintu.

__ADS_1


"Mau cari siapa, Nak? Ada keperluan apa ya?" Tanya dia dengan penasaran. Sekilas pandang saja dia tahu bahwa anak muda yang di hadapannya ini bukan orang dari gang ini. Wanita paruh baya itu kenal semua wajah anak-anak di gang ini.


__ADS_2