
"Assalamu'alaikum, Pak, maaf menganggu. Bolehkah minta waktunya sebentar, Pak?"
Pria tua itu melihat Mumu dari ujung kaki hingga ujung kepala, dia tak mengenal anak muda ini, dari logat bahasanya pasti orang luar Siak, tapi saat memandang wajahnya, pria tua itu merasakan sedikit keakraban.
Rasa itu entah datang dari mana, tak dapat dicari hanya dapat dirasakan, oleh karena itu dia dengan senang hati menuruti permintaan anak muda tersebut.
"Ada apa, anak muda? Apa yang bisa saya bantu? Ayo kita ngobrol sambil duduk di sana!" Pria tua itu menunjuk bangku di bawah sebatang pohon yang menghadap langsung ke sungai Siak.
Mumu pun mengikuti langkah orang tua itu dan langsung duduk di sebelahnya.
"Kalau boleh tahu siapa kah nama Bapak ini? Saya seperti pernah melihat wajah Bapak di suatu tempat tapi lupa di mana." Ucap Mumu dengan sopan.
"Nama saya Udin, Nak. Biasa dipanggil Pak Udin atau Tuk Udin. Saya asli orang sini. Kalau anak muda sendiri siapa dan dari mana?"
"Saya Mumu, Tuk, dari Selatpanjang." Mumu langsung mengubah panggilan 'Bapak menjadi Tuk, Atuk'. "Hati ini teringin pula untuk jalan-jalan ke sini, makanya saya..."
Belum selesai Mumu bicara langsung dipotong oleh Tuk Udin, "Apa kah kamu Mumu dari Tanah Jantan?" Tanya Tuk Udin dengan mata berbinar penuh antisipasi.
Mumu heran melihat sikap Tuk Udin menjadi aneh, tapi ia tetap menjawab juga, "Iya, saya Mumu, Tuk. Kalau memang Tanah Jantan yang Atuk maksud itu adalah sebutan untuk kota Selatpanjang, memang dari sana lah saya datang. Memangnya Atuk kenal dengan saya?"
"Syukur Alhamdulillah. Panjang ceritanya. Kalau Mumu tak keberatan dan tidak punya kesibukan, ayo ke rumah Atuk!"
Meskipun Mumu tak tahu mengapa sikap Tuk Udin tiba-tiba berubah lebih ramah dan perhatian semenjak ia mengenalkan dirinya tapi Mumu paham bahwa Tuk Udin adalah orang yang baik, oleh karena itu ia langsung setuju saat diundang ke rumahnya.
Rupanya rumah Tuk Udin tak terlalu jauh dari sana.
Mereka berjalan sekitar sepuluh menit sehingga sampai di depan rumah yang berhalaman lumayan luas.
Sangat jarang ada rumah orang di kawasan perkotaan dengan halaman seluas itu.
__ADS_1
Saat mereka masuk ke halaman rumah, ada dua buah mobil yang terparkir di depan rumah, luar biasa, ternyata Tuk Udin yang tampak bersahaja rupanya adalah orang yang berada.
Memang kita tak bisa menilai sesuatu dari bungkusnya.
Menilai seseorang dari luarnya saja.
Nenek Kam membawa sendiri minuman dan kue. Sama seperti Tuk Udin, walau pun sudah berumur, mereka masih tampak kuat dan sehat.
Sambil sesekali menyeruput minumannya, Mumu mendengarkan cerita Tuk Udin. Semakin lama Tuk Udin bercerita kesan yang ia dapat adalah seperti dongeng saja. Tapi Mumu yakin, Tuk Udin tidak mempunyai banyak waktu luang untuk membuat sebuah lelucon dengan orang yang baru dijumpainya.
Mumu meraba kupingnya dengan canggung, "Saya tidak seperti itu, Tuk. Saya hanya orang biasa. Mungkin itu hanya sekedar mimpi kosong saja."
"Saya yakin kamu punya kemampuan itu, Mumu." Tuk Udin sangat optimis.
"Atuk terlalu tinggi menilai saya. Bagaimana pun juga mimpi itu tidak bisa kita jadikan patokan, Tuk. Lagi pula saya rasa cucu Atuk masih bisa disembuhkan oleh tenaga medis." Bukan karena tak mau menolong cucu Tuk Udin, tapi menilai dari ceritanya penyebab penyakit cucunya agak aneh. Tuk Udin menyiratkan bahwa penyakit cucunya karena dibuat oleh orang lain secara gaib.
Jika diserang secara fisik, Mumu tak takut karena ia masih bisa memberikan perlawanan serba sedikit. Tapi jika diserang secara gaib, Mumu hanya bisa angkat tangan.
Atuk Udin yang awalnya gembira kembali terduduk lesu mendengar penolakan Mumu.
Bukan perkara yang mudah untuk minta tolong dengan seseorang apa lagi berkaitan langsung dengan keselamatan penolong itu sendiri.
Memang sudah lumrah jika mengobati atau menolong seseorang yang diguna-guna dengan ilmu tertentu, maka sang penolong pun tak bisa lari dari balas dendam dan sakit hati oleh orang yang mengguna-guna tersebut.
Makanya tak jarang dijumpai, jika sang penolong ada pendinding, istilah ilmu yang bisa membentengi dirinya dari serangan tak kasat mata dari si penyerang, maka si penyerang tersebut akan merubah targetnya menjadi, suami, istri atau keluarga terdekat si penolong.
Makanya dalam ilmu pengobatan yang berkaitan dengan metafisika itu, sering terjadi serang menyerang ilmu kebatinan sesama mereka.
Sangat jelas Mumu belum sampai pada tahap itu.
__ADS_1
Walau pun kemampuan ilmu pengobatan Mumu mulai diakui, tapi dalam hal ilmu metafisika, ia masih tak bisa apa-apa.
Suasana pun menjadi canggung, Mumu jadi tak penyampai hati, akhirnya ia berkata,
"Walau pun saya tidak bisa mengobatinya, jika diizinkan biarkan saya melihat keadaannya, Tuk."
"Benarkah?"
"Benar, Tuk."
"Baik lah, kalau begitu menjelang sore nanti kita ke sana. Persilahkan istirahat dulu, Mumu. Ayo, saya antar ke kamar tamu."
Setelah mengantar Mumu ke kamar, tak lama kemudan Tuk Udin kembali menemui istrinya.
"Apakah anak muda itu bisa diandalkan, Bang? Aku lihat biasa-biasa saja. Tak ada getaran ilmu yang aku rasakan sewaktu mengamatinya secara diam-diam tadi. Jangan-jangan Abang salah orang."
"Aku juga tidak merasakan hal yang sama, seolah-olah dia hanyalah orang biasa. Jika tidak mengingat mimpi cucu kita, mungkin aku juga tidak akan memperhatikannya."
"Lalu mengapa Abang masih mengharapkan bantuannya? Entah dia punya kemampuan atau tidak, jelas-jelas dia telah menolak permintaan kita."
Tuk Udin menggelengkan kepala dan berucap, "Aku merasa dia bukan lah anak muda sederhana seperti yang kita bayangkan. Jika dia tidak punya kemampuan bagaimana mungkin cucu kita bisa memimpikan dia ketimbang orang lain? Namanya sama, asalnya juga sama. Aku tak percaya ini hanya kebetulan semata, makanya kita tak boleh meremehkan dia. Walaupun dia menolak untuk menolong karena resikonya memang besar, tapi dia masih tetap mau melihat kondisi cucu kita, itu juga sudah merupakan hal baik bagi cucu kita."
Dalam pada itu, Mumu tidak benar-benar beristirahat di kamarnya, karena memang ia tidak lelah sama sekali.
Ia menenangkan dirinya dengan melakukan meditasi mengolah pernafasannya agar semakin stabil.
Ia tidak boleh gegabah, bagaimana pun juga kota Siak ini adalah bekas kerajaan dahulu sehingga ia bisa merasakan bahwa di sini masih kental dengan berbagai hal yang berbau mistis.
Awalnya ia memang tidak menyadarinya, tapi lewat kekuatan spiritualnya akhirnya ia bisa merasakan hal itu.
__ADS_1