
Aku berjalan cepat menuju ke tempat yang dimaksud oleh Taka Zenn apalagi aku tidak mau siapapun tahu pertemuanku dengan Taka dan juga identitasku sebenarnya.Aku menaiki tangga rahasia dan mendorong pintu yang ada di depanku dengan kencang. Di depanku aku melihat Taka yang sedang duduk di ppinggir balkon sendirian
"Kamu sudah datang istriku" gumam Taka menatapku dengan tersenyum
"Iya, kenapa kamu duduk disitu sendirian?" gumamku berjalan mendekatinya
"Tidak ada, aku hanya ingin menikmati matahari terbenam bersamamu"
"Cuma ini kamu memanggilku kemari?" tanyaku kesal
"Bukan, aku ingin memberitahumu masalah ini" gumam Taka memberikanku sebuah kertas
Aku terduduk di samping Taka dan membaca isi kertas itu. Sebuah hasil mata - mata dari bawahanku, mata - mataku menyebutkan kalau perkumpulan Harimau Putih sedang melakukan rencana untuk menghancurkan Kilat petir dan mafia - mafia lainnya dan kemarin mafia Harimau Putih menyerang saat penjagaan lengah karena kilat petir sudah mengetahui sebelumnya jadi anggota mafia harimau putih banyak yang berguguran
"Hanya ini?" gumamku dingin
"Ya, tapi selain itu akibat penyerangan Harimau putih itu informasi tentang mafia penguasa sedikit bocor"
"Bocor?"
"Ya, jadi Samuel tahu siapa ketua mafia penguasa"
"Hanya itu saja?"
"Iya hanya itu yang mereka dapatkan"
"Siapa yang membocorkannya?"
"Biasalah penghianat, mereka ada disini juga" gumam Taka santai
"Kalau begitu... Roy, Zaki, Wan kemarilah" teriakku dan datang tiga bawahanku yang aku percaya
"Kami disini tuan putri" ucap tiga orang itu menunduk di belakangku
"Habisi mereka" gumamku dingin
"Siap laksanakan taun putri"gumam mereka bertiga dan pergi dari tempat itu
"Kamu tetap seperti biasanya ya" desah Taka pelan
"Ya emangnya aku bisa berubah apa?" gumamku kesal
"Aku pikir setelah kamu bersama dengan Ryuki kamu akan berubah tidak seperti istriku yang aku kenal dulu"
"Tidak juga, aku hanya menutupi identitasku saja"
"Tapi kan kamu baru saja mengatakan siapa dirimu sebenarnya kepada Ryuki"
"Oh kamu tahu ya seperti biasanya kamu bisa tahu apa yang aku lakukan... Ya hanya identitasku kalau aku ketua mafia penguasa saja, tidak lebih" desahku pelan
"Oh benarkah? Ku kira kamu akan membocorkan seluruhnya"
"Tidak, aku hanya ingin dia tau aku siapa itu aja. Apalagi kamu ingin bekerjasama dengan mereka bukan?"
"Ya begitulah"
"Ya sudah ikuti aja alur permainanku"
"Tidak aku duga kamu bisa bertemu dengan Ryuki di situasi yang tidak terduga"
"Ya aku juga sedikit terkejut, cuma ya ini kesempatan yang bagus untukmu. Kamu tinggal melakukan apa yang harus kamu lakukan"
"Ya aku tahu.." desah Taka pelan
Doorrr.. Ddoooorrr
Suara tembakan yang keras terdengar sampai di telingaku, mungkin bawahanku telah melakukan tugasnya dengan baik
"Tuh udah dimulai.."
"Di mulai apanya?" tanyaku bingung
"Peperangan di kapal pesiar ini"
"Haaah? Maksudnya?"
"Coba baca bagian bawah" umam Taka dan aku langsung membaca tulisan yang terletak di bawas kertas itu
Perkumpulan Harimau Putih akan melakukan penyerangan di saat kapal pesiar sedang berlayar
__ADS_1
"Haish kenapa aku tidak membaca ini..." desahku kesal
"Roy, Zaki, Wan kembalilah" gumamku dan tiga orang bawahanku berdiri di belakangku
"Mohon maaf tuan putri, kami belum sempat membunuhnya malah mafia harimau putih sudah membunuh penghianatnya dan melakukan penyerangan di bawah"
"Oh baguslah kalian tidak apa - apa, kita seperti biasa kerja dalam senyap... Bilang yang lain jangan bertindah sebelum aku menyuruh" gumamku tegas
"Baik tuan putri" gumam tiga orang itu dan pergi dari hadapanku
"Jadi apa yang akan kamu lakukan?" gumamku menatap Taka, tetapi Taka langsung mencium bibirku dengan lembut dan menggigit bibirku
"Aaauu sakitlah!!!" protesku kesal
"Itu hukumanmu karena kamu berciuman dengan Ryuki tanpa seizinku" gumam Taka dingin
"Itu juga bukan keinginanku tahu!!!" gerutuku kesal
"Sama aja!!!"
"Ya udah aku lepas nih alat pengintaimu" gumamku memegang antingku
"Gak boleh, aku bisa tahu apa yang kamu lakukan dari alat itu tahu"
"Ya udah kamu juga tahu kan kalau itu bukan keinginanku. Jadi jangan menyalahkanku!!!" protesku kesal
"Iya ... Iya tuan putri, aku tidak akan protes... Apapun yang terjadi kamu tetap istriku" gumam Taka menciumku kembali
"Hiiih istri ya? Sejak kapan aku setuju menjadi istrimu" gumamku kesal sambil mendorong Taka
"Walaupun kamu terus menolak kamu tetap istriku tahu"
"Ya ya ya aku sudah bosan dengan perkataanmu itu" gerutuku kesal
"Jadi kamu sudah tahu kenapa keluargamu dibunuh oleh Samuel?"
"Ya, Ryuki bilang keluargaku dibunuh karena ayah tidak mau memberikan mafia gelap kepada Samuel"
"Oh ya pastilah, bekerjasama denganku saja tidak mau apalagi menyerahkannya" desah Taka pelan
"Ya makanya ini aku sedang menghasut Ryuki agar dia mau bekerjasama denganmu"
"Haish jangan memujiku terus, ayo kita ke bawah melihat apa yang sedang terjadi" gumamku beranjak dari tempat duduk itu sambil memakai jubah hitamku
"Baiklah istriku" gumam Taka berjalan mengikutiku
Aku dan Taka berjalan menuruni tangga dan melihat banyak orang yang mati tertembak dengan peluru dari mafia harimau putih itu
"Kejam juga ya mereka" desahku pelan
"Ya begitulah, jadi kamu harus berhati - hati"
"Ya aku tahu itu Taka" gerutuku berjalan menuju ke tempat mereka bertarung
Suara tembakan terus terdengar di telingaku dan suara jeritan kesakitan juga mengikuti suara tembakan itu. Aku dan Taka berjalan mengendap - endap mengikuti sumber suara itu. Di sebuah aula aku melihat banyak anggota mafia harimau putih sedang beraksi dan di depan mereka terdapat beberapa anggota mafia lainnya yang berjuang melawan anggota mafia harimau putih . Di antara mereka berdiri Lanlan dan Ryuki yang sama - sama sedang berusaha melawan Samuel
"Hei Ryuki kenapa kamu tidak mau bekerjasama denganku?" teriak Samuel kesal
"Heeeh? Bekerjasama denganmu? Mimpi sajalah" gumam Ryuki kesal
"Kalau begitu aku tidak sungkan - sungkan lagi" gumam Samuel bertarung pedang sangan Ryuki
"Tuh bosmu sedang bertarung" sindir Taka di belakangku
"Mmm hebat juga dia, kamu aja kalah denganku" sindirku balik
"Hei, aku juga hebat ya" protes Taka
"Hebat sih hebat tapi melawanku saja tidak mampu" gumamku mengejek Taka
Pertarungan Ryuki dan Samuel sangat sengit bahkan Ryuki sangat terpojok saat ini dan akhirnya Ryuki terjatuh ke atas lantai
"Haaah? Cuma segini kemampuanmu?" Ejek Samuel dingin
"Kamu yang curang"
"Curang? Heeh di dunia mafia curang itu sudah biasa"
"Ya memang, aku tahu itu"
__ADS_1
"Kamu sudah kalah Ryuki, serahkan mafia gelap kepadaku"
"Heeeh tidak akan aku serahkan"
"Kalau begitu... Kamu mati saja" gumam Samuel mengangkat pedangnya ke udara
"Mari kita mulai Taka" gumamku mengambil samurai dan pedangku yang aku bawa
"Oh baiklah, ini juga yang aku tunggu dari tadi" desah Taka mengambil samurainya dan semua bawahanku ikut beraksi
Aku menuruni lantai balkon aula itu dan berusaha melindungi Ryuki dengan menahan samurai yang di hempaskan itu
Taaaaaaannggg
Suara pedang dan samuraiku yang berhasil menahan pedang Samuel itu, Semua orang yang ada di tempat itu sangat terkejut dengan kehadiranku dan juga kehadiran Taka
"Siapa kamu?" teriak Samuel kesal
"Kamu tidak perlu tahu" gumamku dingin
"Aku tidak ada urusannya denganmu!!!" teriak Samuel kesal dan menyerangku habis - habisan
"Oh itu menurutmu, tapi kamu punya banyak salah kepadaku" gumamku dingin
"Suara ini... Sani..." gumam Ryuki terkejut
"Hei kamu bisa diam tidak" protes Taka menatap Ryuki dingin
"Oh baiklah, maaf" desah Ryuki yang sedang menatapku
"Ternyata kekuatan mafia Harimau Putih hanya segini ya" sindirku
"Apa kamu bilang!!! Dasar wanita sialan!!!" teriak Samuel kesal
Kami berdua bertarung dengan serius, sedangkan bawahanku yang lain dan Taka sedang mengalahkan anggota Harimau putih yang jumlahnya lumayan banyak. Kekuatan Samuel bagiku tidak terlalu mengkhawatirkanku karena dia sangat tertinggal dariku apalagi dia hanya pengguna pedang biasa.
Pertarungan kami semakin sengit tapi apapun yang terjadi aku yang menang. Aku melukai lengan Samuel dengan pedang beracunku sehingga dia terjatuh di lantai
"Uuuukkhh" rintih Samuel pelan
"Kan sudah aku bilang, kamu bukan tandinganku" gumamku dingin
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Aku hanya bawahan Ryuki, itu saja tidak lebih"
"Aku tidak percaya, Ryuki tidak punya bawahan yang hebat sepertimu"
"Emang apa yang kamu tahu tentang mafia gelap? Kamu tidak tahu apa - apa mending kamu diam saja... Dari pada aku membungkam mulutmu" gumamku memasukkan senjataku kembali
"Apa kamu Sani Shin?" gumam Samuel menatapku dingin
"Bukan, aku hanya wanita biasa" gumamku santai
"Tidak, aku yakin itu kamu. Sani Shin, ketua mafia penguasa!!!" gumam Samuel dingin
"Apa yang kamu ketahui tentangku? Aku bukan mafia penguasa"
"Kamu benar - benar Sani Shin, aku bisa mengenalimu!!"
"Apa yang kamu ketahui tentangku... Dan aku tidak mengenalmu" gumamku dingin
"Bawa dia" gumamku dan beberapa bawahanku membawa Samuel pergi dari tempat itu
Samuel tidak bisa melakukan perlawanan apapun karena racun dari pedangku, racun yang ada di pedangku sangat berbahaya dan membuat korbannya tidak bisa melakukan apapun karena syarafnya mati rasa. Jadi itulah kenapa dia tidak bisa melawan bawahanku
"Mari pergi..." gumamku serius, tapi Ryuki memegang tanganku
"Sani, kamu Sani kan?" gumam Ryuki serius
"Kenapa kamu ingin tahu?"
"Dari pedangmu aku tahu kamu Sani" gumam Ryuki serius, aku mendekatkan bibirku di telinga Ryuki
"Ya aku Sani, jadi jangan beritahu siapapun" bisikku pelan dan Ryuki hanya mengangguk pelan
"Baguslah kalau kamu mengerti, istirahatlah... Mungkin aku akan ada urusan dan tidak tahu aku selesai kapan, dan juga jangan lupa obati lukamu. Anggap ini adalah hutangmu karena aku sudah menyelamatkanmu" gumamku pelan dan bergegas pergi dari tempat itu
Aku segera mungkin meninggalkan tempat itu, aku ingin menginterograsi si Samuel sialan itu tentang pembantaian keluarga besarku jadi aku tidak akan melepaskannya dan ingin membunuhnya malam ini
__ADS_1