Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 68 : Pesta Keluarga Kim


__ADS_3

Aku memakai topeng di wajahku dan mengikuti langkah kaki para tetua di depanku, aku tidak tahu apakah pilihanku akan tepat atau tidak, aku pribadi hanya ingin bertemu dengan kakakku saja dan tidak lebih, aku tidak ingin menyakiti kakakku karena aku tidak ingin kakakku menaruh dendam kepadaku.


"Sani...apa kamu siap?" tanya pemimpin mafia mengagetkanku.


"Eeh mmm ya tetua..." gumamku pelan.


Saat pemimpin mafia membuka pintu, aku melihat banyak orang yang menatap kami dan di tengah sederet kursi aku melihat Lanlan yang sedang menulis sesuatu seperti tidak peduli dengan sekitarnya.


"Aaah pemimpin mafia ya? Silahkan...silahkan masuk..." ucap seorang pria berpakaian militer di depan kami.


" Oh ya bagaimana tuan apa ada perwakilan militer yang sanggup?" tanya pemimpin mafia serius


"Tidak ada yang berani tuan, melihat medan yang curam, banyaknya jebakan, dan anggota mafianya yang sangat banyak dan hebat membuat para anggota saya tidak berani tuan."


"Oh begitu ya... ini saya membawa satu mafia yang benar-benar kami percaya sebagai penyusup dari dahulu."


"Yang itu? Katanya dia menolak?"


"Ya benar tapi akhirnya dia bersedia."


"Oh benarkah? Kenapa kamu bersedia?" tanya pemimpin militer manatapku serius.


"Hanya... melakukan tugas saja."


"Eeeh suara wanita?" gumam beberapa anggota militer terkejut.


"Apa kamu tahu dia siapa?"


"Belum, saya meminta informasi kepada anda tuan..."


"Oh mmm baiklah... tuan Lanlan tolong jelaskan bagaimana keadaan disana!" ucap pria itu serius.


"Mmm baiklah, lokasi target berada di tengah hutan Amazon, di sepanjang perjalanan ada banyak jebakan yang tertanam di tanah, dan bawahan mereka yang menguasai seluruh jenis senjata."


"Hanya itu?" tanyaku beranjak berdiri.


"Ya, jebakannya seluruhnya dari racun. Kemarin ada mafia yang berhasil membawa pulang racun itu. Kami mencoba mengecek di lab tapi tidak ditemukan kandungan racunnya."


"Oh benarkah? Bisakah aku melihat racunnya?" gumamku pelan. Tiba-tiba ada seorang pria yang memberikanku sebotol racun cair dan sebotol racun gas. Aku segera melihatnya dan sedikit merasakannya.


"Eeh... ka...kamu meminum dan menghirupnya?" tanya pemimpin militer terkejut.


"Tenang saja tuan, dia ahli dalam racun juga..." gumam tetua santai.


"Ohh..." desahku mengembalikannya kepada pria tadi.


"Kamu tahu apa isinya?" tanya tetua menatapku serius.


"Ya, aku tahu. Baiklah kami akan mengambil tugas ini, tapi aku ada satu permintaan kepada petinggi militer..." gumamku pelan.


"Apa itu?"


"Yang memberikan hukuman untuk target harus kami."


"Heei kenapa bisa begitu!!" teriak seorang wanita kesal.


"Ya sudah kalau tidak mau, lakukan saja sendiri.." gumamku membalikkan badanku.


"Baiklah, tapi kamu hanya bisa mengurangi hukuman sepuluh tahun saja, apalagi kamu yang tahu bagaimana keadaan disana bagaimana?" tanya pria itu menawariku.


"Oh mmm memangnya berapa tahun hukumannya?"


"Masalah itu belum bisa di pastikan, kalau kamu mau mengambil tugas itu kamu harus memakai kamera tersembunyi agar kami tahu bagaimana keadaan didalamnya."


"Oh baiklah... kami terima."


"Kamu tidak butuh bantuan?"


"Tidak perlu tuan..." gumamku pelan.


"Oh ya ngomong-ngomong siapa kamu?" tanya pria itu serius.


"Saya Sani, ketua mafia penguasa..." gumamku membuka topengku yang membuat semua orang terkejut.


"Tunggu dulu... dia mafia yang dikenal kejam itu?" tanya beberapa anggota militer serius.


"Eeehhh...astaga.. kamu...kamu benar-benar mengambilnya?" teriak Lanlan terkejut.

__ADS_1


"Ya, kan aku sudah mengatakannya."


"Tidak boleh, aku melarangmu!" protes Lanlan kesal.


"Kenapa juga? Hanya membawanya saja apa susahnya..." gumamku memakai topengku lagi.


"Kamu wanita disana bahaya, nanti kamu..."


"Tuan Lanlan! Kenapa anda tiba-tiba menolaknya?" gerutu pria itu serius.


"Dia istriku ketua, aku tidak mungkin membiarkan istriku terluka!" protes Lanlan serius.


"Tidak mau lah, aku mau mengambil tugas ini!" protesku kesal.


"Tidak boleh!"


"Tidak mau! Pokok aku harus mengambilnya!"


"Kalau begitu, aku akan ikut sama denganmu!"


"Tidak mau, nanti kamu menjadi bebanku tahu!" Protesku kesal.


"Mana ada aku jadi bebanmu!"


"Lanlan, jangan khawatir. Sani bisa melakukannya!" gerutu tetua serius.


"Tidak bisa kakek, aku tidak mau dia terluka, banyak yang terluka saat..."


"Dia berbeda, dia bisa melakukannya, percaya sama kakek."


"Tapi... baiklah... kalau sampai istriku terluka...aku akan membunuh pria itu!"


"Tidak perlu, kalau tidak sesuai keinginanku...aku yang akan membunuhnya sendiri..." gumamku berjalan pergi.


"Oh ya nona Sani, persiapkan dirimu dua hari lagi kamu harus berangkat karena mereka melakukan penyelundupan senjata militer secara ilegal lagi!" ucap pemimpin militer dibelakangku dengan kencang, tanpa menjawab apapun aku hanya membuka pintu ruangan dan berjalan pergi.


"Hanya ini kesempatanku..." desahku pelan. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku dan mendorongku ke dinding, aku mengangkat wajahku dan menatap Lanlan yang sangat terlihat kesal.


"Ada apa?" tanyaku pelan.


"Aku sudah memperhitungkan semuannya, jadi jangan khawatir."


"Bagaimana aku tidak khawatir kalau..."


"Sayang dengar, aku berjanji padamu untuk tidak terluka okey. Aku melakukan ini hanya ingin memastikan kalau dia adalah kakakku, kalau dia benar kakakku...aku harus menanyakan sesuatu kepadanya..."


"Kalau dia bukan kakakmu bagaimana?"


"Aku sudah memikirkan rencana lainnya, jadi jangan khawatir."


"Kalau kamu terluka bagaimana?" ucap Lanlan serius.


"Kalau aku terluka kamu boleh membunuhku tapi kalau aku terbunuh...kamu boleh membunuh kakak kandungku bagaimana?"


"Apa kau serius?"


"Ya aku serius, sekalian... anggap saja sebagai hukuman untuk kami keluarga Shin padamu. Apalagi kan kamu juga mengawasiku walaupun dari jauh jadi jangan khawatir..." gumamku mencium Lanlan lembut.


"Hmmm baiklah...jaga dirimu ya istriku..." gumam Lanlan menciumku lembut.


"Ya aku tahu."


"Aku sudah selesai rapat, mau ke pesta sekarang?"


"Sekarang?" tanyaku terkejut.


"Ya, ayah sudah menunggu disana."


"Oh mmm baiklah..." desahku mengikuti langkah kaki Lanlan.


"Oh ya... maaf ya, aku... menentang kamu..." gumamku pelan.


"Tidak masalah, asalkan kamu menepati janjimu untuk tidak terluka saja."


"Oh mmm baiklah...jangan khawatir..." gumamku pelan, aku sendiri sebenarnya tidak yakin apa aku bisa membujuk kakakku itu apalagi kami tidak pernah bertemu sama sekali, yang ada di pikiranku adalah hanya satu kemungkinan jika aku gagal adalah, aku pasti akan mati ditangan kakakku sendiri.


"Sayang ada apa?" tanya Lanlan menatapku bingung.

__ADS_1


"Emmm ti...tidak ada kok..." gumamku mencoba tersenyum.


"Kalau ada apa-apa bilang padaku ya!" gumam Lanlan berjalan ke area pesta. Aku melihat Lanlan yang sedang berbincang dengan seseorang lalu menatapku.


"Ayah sedang berbincang dengan ayahmu, nanti kita kesana."


"Oh mmm baiklah..." gumamku melepaskan tangan Lanlan dan mengambil wine didepanku. Di pojok ruangan aku melihat Alan yang sedang berdiri menatapku dan disebelahnya ada wanita cantik bermata sedikit kemerahan dan jika dilihat memang wajahnya mirip denganku. Apa dia yang bernama Sainy itu? Batinku


"Eeehh... huufftt ku kira kamu mau menghilang..." desah Lanlan kembali menggenggam erat tanganku.


"Menghilang kemana juga, aku hanya ingin minum Wine saja."


"Ya aku kira kamu akan kabur..." gumam Lanlan pelan, aku menarik kerah pakaian Lanlan dan menciumnya lembut. Melihat kami berciuman membuat banyak tamu yang terkejut melihat kami berdua.


"Kamu milikku jadi...apa yang kau khawatirkan..." gumamku pelan.


"Ini banyak orang loh, kamu sekarang mulai nakal ya sayang..." gumam Lanlan membalas ciumanku.


"Nakal kepada suami sendiri? Tidak salahkan tentunya..." gumamku pelan.


"Oh baiklah..."


"Eeehheeemmm kalian berdua...oh astaga sekarang kalian tambah berani ya berciuman di depan umum!" gerutu Fiyoni berjalan kearah kami bersama Tuan Kim dan Tuan Shinju.


"Lalu kenapa?" tanya Lanlan dingin.


"Lalu kenapa? Astaga, ini di pesta tahu. Dan... kau tak kasihan padaku yang jomblo ini!" gerutu Fiyoni kesal.


"Ya sudah kakak cari wanita lah apa susahnya... Oh ya pria ini lagi jomblo, ada yang mau tidak!!" teriakku kencang dan dengan cepat banyak wanita yang mengangkat tangannya dan berteriak kencang.


"Aku mau!!"


"Aku mau nona muda!"


"Aku..."


"Aku juga mau!!" teriak beberapa wanita cantik kegirangan.


"Haish astaga Sani, kau menawarkan kakakmu sendiri? Sungguh teganya kau!" gerutu Fiyoni kesal.


"Kan kesempatan emas bukan? Lagi pula kapan lagi banyak wanita yang mau denganmu, apalagi dua hari lagi kita harus berangkat kak Fiyoni."


"Eeh kamu jadi mengambilnya?" tanya Fiyoni terkejut.


"Ya, dia mengambilnya. Aku sudah melarangnya tapi dia tetap ngotot ingin pergi..." gerutu Lanlan kesal.


"Kan aku sudah berjanji padamu jika..."


"Ya aku tahu, hanya kita berdua saja yang tahu..." gumam Lanlan membungkam mulutku.


"Oh kalau benar-benar jadi, ikutlah kami sebentar..." gumam tuan Shinju dan tuan Kim berjalan melewati kami, melihat mereka pergi Lanlan menarik tanganku mengikuti mereka pergi.


Di sebuah ruangan aku melihat Tuan Kim dan Tuan Shinju menatapku dengan serius yang membuatku sedikit takut.


"Baiklah, apa kau serius menantuku?" tanya tuan Kim serius.


"Iya ayah."


"Kamu harus berhati-hati jika bertemu dengan Tian."


"Berhati-hati?" gumamku bingung.


"Ya benar dan tunjukan ini kepadanya Sani..." gumam tuan Shinju memberikanku sebuah kalung.


"Mmm apa ini ayah?" tanyaku bingung.


"Pakai saja, ini miliknya. Dia dulu pernah memberitahukanku untuk memberikannya kepadamu sebagai penanda kalau wanita yang ditemuinya adalah adik kandungnya, semoga saja dia mendengarkanmu..." gumam tuan Shinju serius.


"Memangnya kenapa ayah?" tanyaku pelan.


"Dia sangat keras kepala sepertimu, kami sering bertengkar dahulu karena masalah sepele. Ya walaupun aku tidak banyak membantu tapi aku akan berusaha membuat Tian mendengarkan ucapanmu!" ucap Fiyoni serius.


"Oh baiklah, aku mengerti..." gumamku pelan.


"Kalau begitu sebentar aku akan memberikan sesuatu kepadamu, jangan kemana-mana..." gumam tuan Kim beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar dari ruangan.


Aku menatap kalung warna merah di tanganku, kalung yang berbentuk seperti kristal yang telah terbelah, aku tidak tahu kemana sebelahnya tapi jika dilihat kristal ini terbelah bukan karena alat tapi terkesan benar-benar patah.

__ADS_1


__ADS_2