Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 44 : Sakit Hati


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan lumayan panjang, kami sampai di markas mafia pusat. Aku membuka pintu markas dan melihat tetua sedang menungguku sambil meminum teh jepang.


"Kamu datang juga ya Sani, apa sudah selesai urusanmu?" tanya tetua santai.


"Ya, aku sudah menyelesaikannya tetua. Ini batu kristalnya." gumamku memberikan dua batu kristal itu.


"Oh baguslah, biar tidak ada kesalahan lagi...." gumam tetua menggabungkan kristal itu menjadi satu.


"Ini pakailah."


"Kenapa aku yang memakainya?" tanyaku terkejut.


"Pemimpin petinggi mafia memberikanmu karena dia percaya padamu jadi aku memberikan kalung satunya juga kepadamu agar kamu semakin ditakutkan mafia lainnya."


"Oh mmm baiklah, terimakasih tetua."


"Tidak masalah, nih minum tehnya..." gumam tetua memberikanku segelas teh hijau kepadaku.


"Ngomong-ngomong Soni kenapa bisa ada di pesta itu tetua?" tanyaku penasaran.


"Aku yang menyuruhnya, semua tamu undangan kami yang mengaturnya jadi ya semua hadir kecuali orang yang kamu racun."


"Begitu ya," desahku meminum teh hijau itu.


"Oh ya Sani, ini beberapa tugas mafia yang harus kamu selesaikan kedepannya..." gumam tetua memberikanku buku catatan yang tebal.


"Astaga, banyak sekali!!" teriakku terkejut.


"Ya kan kamu menjadi orang yang di percaya oleh petinggi seluruh mafia jadi ini juga akan menjadi tugasmu."


"Oh mmm baiklah, saya permisi dulu tetua."


"Ya, hati-hati dijalan cucuku!" teriak tetua dari dalam markas.


"Haish ya sudahlah, istirahat saja aku capek..." desahku kembali ke dalam mobil dan Wan mengarahkan mobil kembali ke markas polisi militer mafia.


Jarak yang sedikit dekat tidak membuatku harus menunggu lama untuk sampai ke markas Alan, aku berjalan masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku sambil menatap laingit-langit kamar.


"Ingin pensiun tapi kenapa semua terus memberikanku tugas sih!" gerutuku kesal.


Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil beberapa botol wine di ruang penyimpanan milik Alan. Aku membawa botol itu di depan balkon sambil menatap matahari yang akan terbit kembali.


"Haish ternyata waktu sangat cepat ya..." gumamku meneguk wine di tanganku.


Di Bawah markas aku melihat mobil Alan masuk ke dalam markas, tanpa memperdulikannya aku kembali meminum wine di tanganku.


"Apa Sani disini?" tanya Alan di depan markas.


"Tadi mobil yang dikendarai nona muda baru sampai tuan muda, tapi kami tidak melihat nona muda."


"Oh benarkah?" tanya Alan segera turun dari mobil dan berlari sambil membawa beberapa kantung plastik di tangannya.


Cekreeekkk


"Huuuuhh...Huuuhhh...Huuuhh Sa...Sani..." desah Alan mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kamu tergesa-gesa mencariku?" tanyaku santai sambil meminum wine.


"A...aku kira kamu pergi meninggalkanku..." gumam Alan pelan.


"Kamu ingin aku meninggalkanmu? Baiklah aku akan melakukannya.." gumamku beranjak dari tempat dudukku, dengan cepat Alan memelukku erat yang membuatku terasa sesak.


"Tidak...tidak boleh, kamu istriku...kamu tidak boleh meninggalkanku!" teriak Alan memelukku kencang.


"Le...lepasin, pelukanmu sangat..."


"Tidak...aku tidak mau melepaskanmu!" protes Alan terus memelukku erat.


"Haaah...Waaannn..." gumamku mencoba berteriak dan Wan datang dengan wajah terkejut.


"Eeh mmm tuan muda, tolong lepas nona muda, nanti nona muda..." gumam Wan terkejut.


"Tidak...tidak akan aku lepaskan!!" protes Alan kembali memelukku erat, pelukan Alan sangat erat membuatku sangat kesulitan bernafas.


"Tapi tuan muda..."


"Tidak ada tapi-tapi!"


"Tuan muda nanti nona muda bisa mati!" teriak Wan yang membuat Alan terkejut, Alan melepaskan pelukannya yang membuatku terjatuh di lantai balkon.


"Uuuhhuukkk...uuuhhuukkk..uuuhhuuukkk..." aku berusaha mengatur nafasku tapi dadaku terasa sangat sesak.


"Nona muda... ini obat anda.." ucap Wan memberikan obatku, tanpa berkata apapun aku membuang obat itu dan kembali mengatur nafasku.


"Nona muda minum obatnya."


"Kenapa dia Wan?" tanya Alan khawatir.


"Penyakitnya kambuh tuan muda, nona muda kecapekan ditambah terlalu banyak minum wine maka tubuhnya tidak kuat tuan muda." jelas Wan yang membuat Alan khawatir.


"Sayang minum obatnya..." gumam Alan mencoba membujukku.


"Enggak mau!" protesku kesal.


"Sayang minumlah!"


"Gak mau! Pergi kalian!" gerutuku menahan sakit di dadaku.


"Hmmm Wan, mana obat itu..." gumam Alan meminum obat itu dan menciumku dengan paksa yang membuat aku hampir menelan obat itu.


"Uuuhhuukkk...uuuhhhuukkk kau ingin aku mati apa!" protesku berpura-pura kesal.


"Minumlah..." desah Alan memberikanku air minum di dalam kamar dan aku langsung meminumnya.


"Haaah...Haaahh..." desahku terbaring di lantai balkon, tanpa berpikir panjang Alan menggendongku masuk ke dalam kamar.


"Terimakasih Wan, kamu bisa istirahat." gumam Alan pelan.


"Tapi nona muda?"


"Aku akan menjaganya..." gumam Alan pelan.

__ADS_1


"Ba...baiklah tuan muda." gumam Wan pergi dari balkon kamar. Alan merebahkan tubuhku dan menatapku sedih.


"Kenapa kamu memperdulikan aku?" gumamku membelakangi Alan.


"Apa kamu marah sayang?" tanya Alan pelan.


"Menurutmu?"


"Mmm...ma...maaf sayang, aku..."


"Kenapa kau tidak mau jujur kepadaku Alan? Kenapa kau mau saja jadi budak si Putri itu!" proresku kesal.


"Maaf aku tidak berani mengatakannya kepadamu."


"Kenapa kamu memilih Putri dari pada aku? Haaah? Kalau kamu ingin dengan Putri sana nikahlah dengannya tidak perlu dengan....mmmpphh..." belum selesai aku memarahi Alan, Alan dengan cepat menciumku yang membuatku tidak bisa berkata apapun.


"Dengar sayang, alasanku bukan itu. Para petinggi mafia sangat takut dengan Putri, apalagi kalung milikmu dipakai Putri. Kalau aku menentang aku takut akan di hukum para petinggi mafia dan menyebabkan aku tidak bisa bertemu denganmu." jelas Alan serius.


"Lalu apa yang sudah kamu lakukan dengan Putri atau dengan wanita lainnya?" tanyaku dingin.


"A...aku..."


"Katakan yang sejujurnya!"


"Maaf Sani...ak... aku terpaksa melakukannya..." guman Alan pelan yang membuatku sangat terkejut.


"Oh dengan siapa saja?" tanyaku dingin.


"Dengan...Putri tapi ada beberapa wanita saja...aku terpaksa melakukannya Sani ini bukan keinginanku...maafkan aku Sani."


"Oh..."


"Sani...jangan tinggalkan aku..." gumam Alan pelan sedangkan aku hanya terdiam meneteskan air mataku.


"Sani...Sani...apa kamu marah?"


"Jangan ganggu aku, aku capek..." gumamku menahan tangisku.


"Mmm... aku mandi sebentar ya Sani..." desah Alan berjalan meninggalkanku.


"Hmmm... kenapa semua pria sama saja!" gerutuku beranjak dari tempat tidurku. Aku membuang obat yang belum aku minum ke atas sebuah tisu dan ku letakkan di atas meja.


"Nanti saja lah minum obatnya..." gumamku pelan, aku berjalan meninggalkan markas disaat para penjaga lengah.


Aku berjalan pelan ke tengah hutan dan terduduk di bawah pohon, aku menatap satu foto yang tidak aku tunjukkan yaitu foto Putri berhubungan dengan Alan. Melihat foto itu membuatku sangat sakit, ini kedua kalinya pria yang aku cinta bermain dengan wanita lain bahkan pria yang menjadi kekasih masa lalukupun melakukan yang sama.


"Sungguh menyakitkan..." desahku menggores di dekat beberapa goresan lenganku dengan pedangku. Lenganku ada banyak goresan yang menandakan pengkhianatan cinta seorang pria kepadaku.


"Racun Lanshi sangat menyakitkan juga ya..." desahku ingin meraihnya tapi tidak sampai karena pisau itu tepat di punggungku


Tiba-tiba hujan deras membasahi tubuhku, aku menatap darah yang mengalir dari lenganku yang terluka karena pedang beracunku di tambah racun milik Lanshi.


"Haaah...uuuhhhuukk...uuhhhuukk..."


Aku terus terbatuk-batuk tanpa henti, tubuhku terasa sangat sakit semua. Aku memejamkan mataku dan bersandar di pohon belakang tubuhku, rasa sakit di tubuhku sangat menyiksaku entah aku akan benar-benar mati atau aku akan kembali hidup di selamatkan oleh ketiga bawahanku.

__ADS_1


__ADS_2