
Rasa sakit di dada terasa sangat menyiksaku, di setengah sadarku aku mendengar suara beberapa pria begitu kkhawatir denganku, tanpa membuka mataku aku berusaha mendengarkan ucapan pria itu.
"Alan sudah kakek katakan kan kau jangan menerima tawaran Putri itu! Tapi kamu menerima ajakan Putri!" protes seseorang yang terdengar seperti suara tetua mafia pusat.
"Aku menolak kakek, tapi dia menggunakan obat perangsang untuk menjebakku bagaimana aku tidak..." ucap Alan serius, "Tunggu, Putri menggunakan obat perangsang?" gumamku dalam hati.
"Kau selalu beralasan seperti itu Alan, sudah berapa wanita yang tidur denganmu karena kamu sangat lemah Alan!" protes tetua kesal. "Apa Alan tidur dengan banyak wanita?" gumamku dalam hati terkejut.
"Kakek tahu kan aku selemah apa sebelum bertemu Sani, kalau aku kuat aku tidak mungkin melakukannya kakek..." desah Alan mengusap lembut rambutku. "Tapi benar juga, kalau penyakitnya kambuh dia sangat panas dan tidak berdaya sih...astaga aku harus apa!" gerutuku dalam hati.
"Kalau kamu mendengarkan perkataan kakek menjadi pria biasa pasti Sani tidak akan menderita Alan. Kalau kau masih saja seperti itu lebih baik aku menjodohkan Sani dengan Soni atau Ryuki itu!"
"Tidak boleh kakek, dia istriku!" protes Alan kesal.
"Mau istri atau apapun kakek tidak peduli, Sani sudah aku anggap cucuku dan semenjak dari Sani kecil aku merawatnya dan membesarkannya layaknya anakku sendiri, aku tidak ingin dia menderita. Tapi kalau kau membuatnya menderita, enyahlah dari kehidupan Sani!" gerutu tetua keluar dari kamar.
"Tapi kakek...kakek...kakek dengarkan aku!" ucap Alan mencoba mengejar tetua tapi tetua terlihat sangat marah sekali, sama seperti ayah kalau sudah marah sangat menakutkan. "Eeeh tetua bisa marah juga ternyata ya, aku kira dia tidak bisa marah..." gumamku dalam hati.
Setelah berdebat dengan tetua, Alan hanya terduduk di sampingku dan terus menatapku, sesekali dia ingin kembali mengusapku tapi dia nampak ragu-ragu.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Alan menangis pelan.
"Kehilangan Sani? Tidak aku tidak boleh kehilangannya..."
"Tapi... ucapan kakek benar, aku tidak pantas untuk Sani..." desah Alan kembali menatap wajahku.
"Mmmm maaf istriku, aku tidak bisa jika melihatmu dengan pria lain. Kalau kamu meninggalkanku tidak masalah, lebih baik aku mati dari pada melihatmu dengan pria lain," desah Alan mengambil pedangnya dan mengarahkannya ke tubuhnya.
"Jaga dirimu baik-baik ya istriku sayang..." gumam Alan memejamkan matanya dan mengayunkan pedangnya, melihat itu dengan cepat aku menahan pedangnya dengan tanganku membuat tanganku berdarah dan menatap Alan serius.
"Apa yang kau lakukan?" protesku kesal.
"Ka...kamu sudah sadar istriku?" gumam Alan terkejut.
"Menurutmu? Kau mau bunuh diri di depanku setelah kau selalu menahanku bunuh diri tapi kamu malah mau bunuh diri di depanku?" gumamku membuang pedang itu.
"A...aku..." desah Alan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Uuhhuukkk..uuuhhuuukkk..." rintihku kembali terbatuk-batuk tanpa henti.
"Sayang minum obatmu! Kenapa kamu membuang obatmu waktu itu?" tanya Alan khawatir, melihat wajahnya yang khawatir membuatku sedikit mengerti penderitaan pria lemah seperti apa, mungkin karena tidak mendapatkan darahku, Alan benar-benar pria yang sangat lemah dan mudah untuk di bohongi.
"Tidak apa, jangan khawatirkan aku."
"Bagaimana aku tidak mengkhawatirkanmu? Tanganmu terluka dan kamu sangat pucat Sani, tolong minumlah obatmu."
"Hmmm baiklah aku akan meminum obatku..." desahku pelan, Alan mengambil obatku dan segera meminumnya.
"Tolong ambilkan tasku." gumamku pelan dan Alan mengambilkan tas di atas meja, aku mengambil obat penawar di dalamnya dan segera meminumnya.
"Kamu kenapa meminum obat penawar?"
"Hanya ingin saja...uuuhhuukkk...uuhhuuukk" gumamku terus bermuntah darah.
"Nona...nona muda sudah bangun?" tanya Wan, Roy, dan Zaki masuk ke dalam kamar, tapi saat melihatku mereka terlihat sangat terkejut.
"Ini nona muda..." gumam Wan yang mengetahui apa yang terjadi kepadaku segera memberikanku obat penawar khusus.
"Kamu tidak perlu memberikanku itu."
"Racun?" tanya Alan terkejut.
"Saat tetua menemukan nona muda, tetua melihat sebuah pisau kecil di punggung nona muda, mungkin nona muda tidak merasakan apapun karena pisau itu amat kecil dan ditambah racun milik nona muda sendiri yang jika terlambat akan menyebabkan kematian perlahan." jelas Wan serius.
"Racun milik siapa itu?" tanya Alan serius.
"Milik Lanshi, nona muda pernah terkena juga waktu itu tapi masih bisa diselamatkan dengan penawar racun milik nona muda, tapi saat ini nona muda telat penanganannya di tambah racun miliknya sendiri membuat penyakut nona muda kambuh dan nona muda tidak sadar selama beberapa hari." jelas Roy serius.
"Hmmm apa kamu tidak merasa sayang?"
"Aku tahu kok, cuma aku memang sengaja tidak mengatakan kepada bawahanku. Mungkin tetua sadar ada yang tidak beres kepadaku jadi dia datang mencariku..." gumamku pelan.
"Ya memang, aku datang mencarimu karena kamu terlihat sangat pucat Sani. Kalau saat itu aku terlambat menemukanmu mungkin kau benar-benar mati!" gerutu tetua masuk ke dalam kamar.
"Seharusnya tetua biarkan aku mati saja."
__ADS_1
"Aku sudah tahu akibatnya kalau kau tahu apa yang sebenarnya terjadi apalagi kejadian Soni dahulu, tapi kalau bukan kamu tidak ada siapapun yang berani dengan Putri apalagi ayahnya itu bahkan petinggi dan polisi militer mafia saja pengecut dan tunduk kepadanya. Kau kira aku akan membiarkan kau mati!" gerutu tetua menarik telingaku.
"Tidak perlu mengingatku dengan masalah itu tetua, aku belum bisa membalaskan dendamku dengan Sasha tetua!" gerutuku kesal.
"Dan Alan juga melakukannya apa kamu tidak marah kepada Alan?" tanya tetua serius, aku menatap Alan yang terus menundukkan kepalanya.
"Alan berbeda dengan Soni tetua."
"Kata siapa, ada wanita yang sudah hamil terbunuh olehnya."
"Terbunuh?" tanyaku terkejut.
"Iya nona muda, berita terhangat yang saya berikan saat anda masih dengan tuan Taka tapi anda bilang tidak tertarik." gumam Wan serius, aku melihat Alan terus menunduk dan terus meneteskan air matanya.
"Oh berita itu ya? Aku memang tidak tertarik, kalau Alan yang melakukannya aku juga tidak masalah apalagi semua wanita yang bermain dengannya dibunuhnya kan? Ya itu resiko wanita itu bermain dengan Alan." desahku meminum obat penawar yang diberikan bawahanku.
"Apa kamu tidak benci kepada Alan?"
"Tidak, dia malam itu menolaknya berarti Alan memang tidak ingin melakukannya. Kalau Soni berbeda, Soni sudah tahu melakukan kesalahan tapi dia bermain kedua kalinya dibelakangku dengan sadar lagi...ya siapa yang tidak emosi, apalagi aku juga belum balas dendam Sasha jadi kan sudah aku katakan Alan dan Soni berbeda."
"Apa kamu benar-benar tidak ingin menghukum Alan? Kalau mau biar aku yang menghukumnya!" gumam tetua serius.
"Tidak perlu, aku punya hukumanku sendiri. Ya sudahlah tetua istirahat sana, tetua udah tua nanti kalau sakit aku juga yang repot."
"Huuh baiklah terserah kamu, oh ya Alan...ingat perkataanku tadi!" gerutu tetua dingin dan Alan hanya mengangguk pelan.
"Kalian bertiga juga istirahatlah."
"Tapi nona muda."
"Tenang saja, aku sudah meminum obat penawarnya kan jadi jangan khawatir."
"Oh mmm baik nona muda..." gumam ketiga bawahanku pergi meninggalkanku dengan Alan.
"Kamu tidak istirahat sekalian kak Alan?" tanyaku dingin dan Alan hanya menggelengkan kepalanya.
"Oh mm ya sudah..." desahku memainkan handphoneku membaca berita kasus yang dilakukan Alan sebenarnya.
__ADS_1
Membaca beberapa berita yang menyangkut masalah Alan memang terlalu banyak dan itu berita beberapa tahun kebelakang bahkan mungkin akan susah aku mendapatkan beritanya kembali karena telah tertimbun berita yang baru.