Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 50 : Mulai Rencana


__ADS_3

Disaat kami sampai di gedung, Alan masuk bersama dengan Fians sedangkan aku masuk bersama Wan. Di pesta ini memang pesta untuk petinggi perusahaan tapi disisi lainnya pesta ini adalah pesta untuk seluruh mafia yang ada di dunia.


Di pesta ini juga akan hadir wakil ketuaku yang bernama Fiyoni, walaupun dia memiliki mafia tersendiri tapi dia mengabdikan diri menjadi wakil ketua yang sangat aku percaya sejak remaja sampai sekarang, tidak ada yang tahu kalau Fiyoni adalah wakilku bahkan Taka tidak mengetahui akan hal itu, hanya ketiga bawahanku yang tahu akan hal itu.


"Hei...Sani!!" teriak seorang pria berlari ke arahku.


"Fiyoni...kamu benar-benar datang disini?" tanyaku terkejut.


"Ya Wan yang memberitahukan kepadaku, lagi pula aku memiliki undangannya."


"Oh begitu ya, baguslah..." desahku melangkshkan kakiku kembali.


"Sani kamu tadi satu mobil dengan Alan?"


"Kenapa kamu bisa tahu?" tanyaku terkejut.


"Aku dari tadi mengawasi mobil yang digunakan Alan."


"Oh mmm ya aku datang dengan Alan."


"Kenapa bisa kamu datang dengan Alan?" tanya Fiyoni terkejut.


"Dia suamiku.."


"Tunggu..APA!!" teriak Fiyoni keras.


"Ya, kami terikat pernikahan awal dan dia jodoh yang dijodohkan denganku."


"Astaga jadi tambah rumit ya Sani, apalagi aku dengar kalau Alan itu sangat lemah dan tidak berguna."


"Memang, tapi kalau penyakitnya sembuh pasti kuat."


"Kamu optimis sekali ketuaku..." sindir Fiyoni tersenyum dingin.


"Ya, dia adik Lanlan pasti kamu tahu akan hal itu kan?"


"Aku tahu, Wan yang memberitahukan semuanya bahkan rencanamu."


"Baguslah kalau kamu tahu..." desahku pelan.


"Apa kamu sama sekali tidak menyesal melakukan pernikahan awal dengan dia?" tanya Fiyoni serius.


"Aku tidak tahu, kau tahu sendiri kan aku tidak tertarik hubungan percintaan..." gumamku membuka pintu gedung dan melangkahkan kakiku melewati aula.


"Benarkah? Jangan bilang kau sudah punya anak Sani?"


"Belum, aku belum berhubungan sama dia."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kan sudah aku katakan kan aku tidak tertarik percintaan..." gumamku mengambil wine di pojok ruangan sambil melihat situasi sekitarku.


"Kalau kau ingin jadi gadis biasa harusnya kau tertarik pada pria Sani."


"Aku tahu tapi ya...kamu mau menggantikanku jadi ketua agar aku pensiun dini?" tanyaku menatap Fiyoni serius.


"Nooo...aku tidak mau! Memikirkan magiaku saja pusing apalagi memikirkan mafiamu yang terbesar itu, tidaklah terimakasih!" gerutu Fiyoni meminum whisky di depannya.


"Oh ya Fiyoni, apa kamu memiliki informasi selama kamu mengelana sendiri?" tanyaku pelan.


"Informasi apa yang kamu inginkan?"


"Apapun itulah..."


"Tidak ada yang menarik, informasi pentingnya sudah ku beritahu Wan."


"Oh baguslah, ngomong-ngomong kau tidak tergila-gila dengan wanita? Banyak tuh wanita disini!" sindirku menatap Fiyoni.


"Kalau tidak ada kau sudah aku karungin satu persatu Sani. Kalau ada kau pasti kau berulah dan bilang kalau kamu istriku seperti dulu. Kan menyebalkan!" gerutu Fiyoni membuang mukanya.


"Memang, aku tidak mau wakilku jadi pria itu..." gumamku menunjuk Alan.


"Astaga dia suamimu Sani! Kau...kau malah...astaga!!" gerutu Fiyoni menggelengkan kepalanya.


"Ya kau tahu sendirikan rasanya jika pasanganmu melakukan sesuatu dengan wanita lain sedangkan denganmu saja belum pernah? Kesal tau Fiyoni!" gerutuku pelan.


"Aku hanya menghibur diriku saja, Putri tidak benar-benar mati kok. Lanlan yang menyelamatkannya..." gumamku menunjukkan seorang wanita dan seorang pria bertopeng berdiri di atas balkon.


"Apa? Kenapa bisa?" tanya Wan terkejut.


"Tenang saja Wan, dia sekarang seperti mayat hidup kok. Mungkin kalau tugasnya malam ini belum terlaksana dengan baik pasti Lanlan akan membunuhnya langsung."


"Mayat hidup? Maksudmu?" tanya Fiyoni terkejut.


"Ya dia sebenarnya terluka parah karena racunku tapi dia diberi obat penawar yang...mmm ya bisa dibilang tidak ampuh menangkal racunku."


"Ohh aku kira kalau dia mati terus dihidupkan dengan magic!"


"Astaga kau jangan kebanyakan membaca komik dan novel, imajinasimu terlalu tinggi Fiyoni!"


"Tidak masalah lah, mengisi waktu luang juga."


"Yah terserah kamu lah..." desahku membaca pesan dari Zaki dan Roy.


*Nona muda, kamar yang akan di tempati tuan muda di nomor 555 sedangkan wanita yang akan menjadi pancingannya wanita berbaju hitam di depan tuan muda-Zaki

__ADS_1


Nona muda markas tuan Lanlan berada di tengah Gurun Sahara. Tapi menurut mata-mata kita tempatnya di bawah tanah-Roy*


"Oh di gurun ya..." gumamku memasukkan kembali handphoneku.


"Ada apa Sani?" tanya Fiyoni menatapku.


"Markas Lanlan di gurun Sahara."


"Masa? Aku tidak pernah tahu kalau..."


"Tempatnya di bawah tanah!"


"Bawah tanah? hmmm pantas saja aku tidak tahu akan hal itu...Kalau begitu dia sama seperti kita Sani, akan melakukan apapun dengan hati-hati." gumam Fiyoni dingin.


"Ya memang aku tahu akan hal itu..." gumamku menatap Alan yang sedang berdiri dengan seorang wanita cantik di depannya.


"Fiyoni kamu kenal wanita itu?" gumamku pelan.


"Dia ketua mafia... mmm apa ya aku tidak ingat, kalau tidak salah sih..."


"Ketua mafia utara nona muda!" ucap Wan serius.


"Mafia utara ya?" gumamku pelan.


"Ohh ya itu maksudku, dia ketua mafia utara. Sedangkan di sebelahnya adalah ketua mafia Barat Daya...ya anda pasti mengerti lah seberapa hebat mereka ketua..." gumam Fiyoni tersenyum dingin ke arahku.


"Hebat ya? Tidak juga, lagi pula mau dia hebat atau tidak kalau melawanku juga bakal mati..." gumamku memakai topeng hitamku dan berjalan -jalan.


"Apa kamu akan melakukannya sekarang?" tanya Fiyoni serius.


"Ya...kamu awasi Alan saja, aku dan Wan akan memancing Lanlan."


"Hei...Hei...aku? Tidak terimakasih, aku lebih suka melawan Putri saja."


"Bilang saja kau takut dengan mereka."


"Bukan takut tapi ya... mmm takut juga sih, mereka berdua kalau bergabung sama seperti aku melawanmu Sani! Kau ingin wakilmu yang setia ini mati apa!" gerutu Fiyoni kesal.


"Tenang saja kamu tidak akan mati kok, kalau begitu kamu dengan Wan saja."


"Apa anda serius melakukan sendirian nona muda?" tanya Wan terkejut.


"Ya, lagi pula Lanlan juga pasti tidak akan membiarkan siapapun mengganggunya berbicara denganku apalagi dia pasti tahu aku lebih suka berbicara empat mata dari pada berbicara di depan publik," gumamku santai.


"Oh...mmm baiklah, jangan sampai kau mati di bunuh dia Sani!"


"Tenang saja..." gumamku berjalan meninggalkan Wan dan Fiyoni sambil membawa segelas wine keluar gedung.

__ADS_1


Aku memang berencana bertemu dengan Lanlan tapi jauh dari gedung, takutnya kalau kami bertengkar Lanlan melempati orang-orang dengan pisau beracunnya sama seperti yang aku alami dulu.


Aku menatap bulan pernama indah tepat di atasku, aku berdiri di bawah pohon sambil menehuk wine yang ada di tanganku, aku memang memiliki rencana tapi aku berusaha tidak membiarkan rencanaku gagal kali ini.


__ADS_2