
Aku berjalan kembali ke danau dan menunggu Hasan kembali ke danau ini. Tiga bawahanku berdiri di belakangku tanpa berkata apapun, aku menatap ketiga bawahanku dan terdiam sejenak
"Ada apa nona muda?" gumam Wan menatapku
"Kita harus pindah mencari markas baru, apa kalian keberatan?" gumamku pelan
"Tidak nona muda, itu lebih baik apalagi orang - orang yang sudah tahu tentang mafia kita" gumam Roy serius
"Hmmm ya benar, tapi kita pindah kemana?"
"Biar kami bertiga yang akan mencarikan tempat untuk nona"
"Oh baiklah, makasih ya. Maaf merepotkan kalian" desahku pelan
"Baik nona muda, kami ijin untuk mencarinya" gumam Wan serius
"Baiklah, hati - hati kalian. Kalau sudah dapat segera kabari aku" gumamku pelan
"Baik nona..." gumam ketiga bawahanku dan pergi meninggalkanku
"Hmmm... " desahku menatap wajahku ke air danau
"Ingin aku mati ya?" desahku mengambil pedangku dan mengarahkan ke leherku, tiba - tiba ada seseorang yang menarik pedangku dan memelukku dari belakang
"Jangan lakukan itu Sani" gumam Hasan pelan
"Kenapa kakak seperguruan datang kemari" gumamku pelan
"Kan kamu yang menyuruhku datang kemari"
"Ya memang, tapi tidak secepat ini" gumamku pelan
"Apa kamu menyuruhku datang kemari hanya untuk menguburkan mayatmu?"
"Yaaaa... Itu yang aku maksudkan" desahku pelan
"Dasar adikku satu ini, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu"
"Kenapa juga? Mending kakak seperguruan cari adik yang lebih baik dari pada aku" gumamku pelan
"Tidak akan, kamu adikku. Aku sudah menganggapmu adikku sejak kita masih di perguruan" gumam Hasan memelukku erat
"Aku tidak ingin kakak di..."
"Tidak masalah, kamu adikku, kamu satu - satunya keluarga yang aku punya, aku hanya ingin kamu hidup" desah Hasan memelukku erat
"Hmmm... Harusnya bunuh aku saja kakak" desahku tersenyum
"Tidak adikku, kamu harus tetap hidup tahu"
"Kamu harus tetap hidup Sani..." gumam Han Lee terduduk di sebelahku
"Kenapa juga aku harus tetap hidup?" desahku pelan
"Ya kamu masih muda, masa depanmu masih panjang"
"Masa depan ya? Ujung - ujungnya aku juga akan terbunuh" desahku pelan
"Tidak juga, kamu hebat Sani banyak petinggi mafia yang tidak bisa melawanmu" gumam Han Lee menatapku
"Karena mereka lemah, kalau mereka kuat pasti bisa membunuhku" gumamku pelan
"Sekuat apapun mereka, mereka tidak bisa menyaingi kecepatan dan kelihaianmu dalam menggunakan senjata"
"Hmmm.... Tidak juga, mereka yang hanya lambat"
"Ternuata kamu sangat keras kepala ya"
"Memang, kakak seperguruan pastivberfikir sama" desahku pelan
"Sani, jangan terus disini nanti mereka mengetahuinya" gumam Hasan pelan
"Mengetahui apa?"
"Mengetahui kalau kamu mengenal Hasan" gumam Han Lee pelan
"Ya udah kalian pergilah, tinggalkan aku disini"
"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu disini. Tinggallah di tempatku untuk sementara waktu"
"Tidak perlu, kakak pergilah saja"
"Kan kamu tadi yang meminta"
"Aku hanya bercanda"
"Aku berpikir itu serius, jadi kamu harus ikut"
"Gak mau... Biarkan aku sendiri disini" gumamku pelan
"Tidak akan, kalau kami meninggalkanmu. Pasti kamu akan melakukan sesuatu seperti tadi"
"Tidak kakak, percaya kepadaku"
"Aku tidak mempercayaimu, sifatmu berubah pasti kamu merencanakan untuk bunuh diri kan? Aku tidak mau hal itu terjadi" gumam Hasan serius
"Kakak pergilah, tinggalkan aku disini" desahku pelan
"Sani dengar..." gumam Hasan memutar tubuhku
__ADS_1
"Kamu adikku, aku tidak akan membiarkanmu terluka ataupun terbunuh. Aku juga sudah berjanji dengan ayahmu dan juga tetua untuk menjagamu jadi aku tidak akan melakukan hal itu" ucap Hasan serius
"Tapi kak..."
"Gak ada tapi - tapi. Kamu harus tetap hidup demi aku, kakak seperguruanmu" gumam Hasan mencium bibirku dengan lembut
"Ka... Kakak menciumku?" tanyaku terkejut, aku tidak percaya kakak seperguruanku menciumku dengan lembut
"Ya, itu ciuman pertamaku dan juga ciuman keseriusanku kepadamu Sani" gumam Hasan dengan wajah merahnya
"Ciuman pertama?" tanyaku terkejut
"Ya benar, itu ciuman pertamaku. Ciuman pertamaku denganmu Sani"
"Maksudnya? Eh... Tunggu. Kenapa kakak seperguruan memberikan ciuman pertamamu untukku?" tanyaku sedikit terkejut
"Hei.. Kamu tidak ingat kalau aku pernah menciummu di saat sebelum aku pergi dari markas?"
"Mmm yang mana? Aku tidak ingat"
"Haish saat di danau ini loh, sore - sore saat matahati tenggelam"
"Yang terakhir kali kita berlatih itu?" tanyaku terkejut
"Ya benar, itulah ciuman pertamaku dan juga..." gumam Hasan menatapku
"Itu ciuman pertamaku" gumamku terkejut
"Ya benar, itulah kenapa aku bilang ciuman pertamaku denganmu karena memang ciuman pertamaku denganmu Sani " gumam Hasan sambil terus menatap mataku
"Hmmm, pasti selain itu kakak juga pernah dengan yang lain kan?"
"Tidak sama sekali, tanyakan Han Lee kalau tidak percaya. Han Lee bersamaku semenjak aku pergi dari markas" gumam Hasan mengelus rambutku lembut
"Kenapa kakak seperguruan tidak melakukannya dengan wanita lain?" tanyaku terkejut
"Sebab..." desah Hasan menatap ke belakang kami
"Ada seseorang, ayo pergi.." gumam Hasan menarik tanganku pergi dari danau itu
"Kakak seperguruan kenapa menarikku?" gumamku terkejut
"Kamu ikut saja denganku"
"Tidak... Kakak seperguruan pergilah sendiri" gumamku menarik tanganku
"Tidak bisa, kamu harus ikut!!" protes Hasan menggendong tubuhku
"Kakak, turunkan aku!!" protesku kesal
"Tidak..."
"Haish kamu juga sih teriak - teriak" desah Hasan bersembunyi di bawah lubang galian di depan kami
"Han Lee kemana?" tanyaku terkejut
"Tenang saja biar Han Lee yang mengurusnya"
"Tapi kakak gak perlu mengajakku!!" teriakku kesal dan Hasan kembali menciumku yang membuatku tidak bisa berbicara sama sekali
"Hei Han Lee kamu tahu Sani dimana? Tadi kami mendengar suaranya?" gumam seorang laki - laki di atas kami
"Sani? Dia tidak ada disini"
"Oh benarkah? Kalau dia ada di sini beritahu kami ya" gumam laki - laki itu pergi
"Okey..."
"Hmmm..." desah Hasan melepaskan ciumannya
"Sudah dengar kan, kamu di cari banyak orang tahu, jadi diam dan menurutlah" desah Hasan menatapku, sedangkan aku masih tersipu malu apalagi Hasan menciumku dengan lama bahkan aku berada digendongannya saat ini
"Kamu tinggal di markasmu juga tidak aman, mereka tahu dimana markas persembunyianmu jadi lebih baik kamu sementara tinggal di tempatku" desah Hasan melangkahkan kembali kakinya
"Han Lee mari kita pulang" gumam Hasan dan Han Lee mengikuti Hasan dari belakang
"Kakak seperguruan terimakasih" gumamku pelan"
"Tidak masalah, panggil aku kakak saja jangan kakak seperguruan"
"Baiklah kakak" gumamku tersenyum
"Hmmm, kamu sangat manis" desah Hasan tersenyum kepadaku
"Manis dari mana coba" gumamku malu
"Dari senyumanmu"
"Benarkah?" desahku pelan
"Apa kamu serius memutuskan tunanganmu dengan Sony? Padahal kan kamu tidak bisa memutuskan hubungan kalian"
"Bodo amat, yang penting aku sudah memutuskannya"
"Mmm lalu apa sekarang kamu punya calon lainnya"
"Tidak ada"
"Benarkah? Baguslah kalau begitu" desah Hasan tersenyum manis kepadaku
__ADS_1
"Emang kenapa kak?"
"Tidak ada apa - apa kok" desah Hasan mencium keningku
"Kakak suka banget menciumku ya" gerutuku kesal
"Ya, kamu manis seperti gulali yang membuatku ingin memakanmu seperti ini" desah Hasan mencium bibirku kembali
"Kakak!!!" protesku kesal dan Hasan hanya tertawa
Kami melewati hutan yang lebat dan jalan setapak untuk menuju ke persembunyian Hasan, pantas saja aku tidak pernah bertemu dengannya selama bertahun - tahun kalau memang jalan ke markasnya seperti ini
Setelah beberapa jam kami berjalan, akhirnya kami sampai di sebuah mulut gua yang di penuhi dengan daun yang menjalar di depannya sehingga seseorang yang tidak menyadarinya akan berpikir itu hanya kumpulan daun - daun yang menjalar saja
Hasan dan Han Lee masuk ke dalam gua itu, di dalam gua ini aku melihat seperti gua bpada umumnya tapi saat Hasan memencet suatu tombol tiba - tiba muncul sebuah tangga ke atas di sebelah kanan kami.
Di ujung tangga itu aku bisa melihat ruangan yang mewah dan terlihat seperti rumah yang ada di dalam gua. Dekorasi dan perabotannya dari barang mewah yang membuatnya terlihat mewah.
"Han Lee kamu atur dulu semuanya" gumam Hasan terus menggendongku dan berjalan menuju ke sebuah lorong
"Baiklah..." desah Han Lee masuk ke salah satu pintu. Aku menatap Hasan bingung, dia tidak menurunkan aku malah terus berjalan menyusuri lorong
"Kakak mau mengajakku kemana?" gumamku bingung
"Ke kamarmu, kamu harus istirahat"
"Tapi kenapa harus menggendongku juga, aku bisa berjalan sendiri"
"Tidak apa, aku hanya ingin menggendongmu saja" desah Hasan tersenyum manis kepadaku
"Hmmm kakak kenapa selalu baik kepadaku?" desahku pelan
"Karena kamu adikku"
"Pasti bukan karena aku adikmu kan?" desahku pelan
"Kamu bisa tahu juga ya..."
"Apa alasannya kakak selalu baik kepadaku? bahkan bertahun - tahun tidak bertemu kakak masih baik kepadaku" gumamku pelan
"Alasan ya? Aku hanya punya satu alasan" gumam Hasan membuka pintu di depanku
"Apa alasan kakak?" tanyaku sedikit terkejut
"Kenapa kamu ingin tahu alasanku?" gumam Hasan menidurkan aku di tempat tidur yang empuk itu
"Ya aku hanya ingin tahu aja"
"Hmmm mending kamu tidak perlu tahu" gumam Hasan berjalan meninggalkanku tapi aku langsung menarik tangan Hasan yang membuatnya hampir terjatuh mengenai tubuhku tapi dia bisa menahan tubuhnya dengan tangan kirinya
"Beri tahu aku!!" gumamku dingin dan menatap Hasan serius
"Kamu ingin tahu alasanku?"
"Ya, aku sangat ingin tahu"
"Hmmm, aku..." desah Han mendekatkan bibirnya di telingaku
"Aku mencintaimu Sani" bisik Han pelan yang membuatku sangat terkejut
"Mencintaiku? Kenapa kakak bisa mencintaiku?" tanyaku terkejut
"Ya sejak aku kecil aku hanya bermain denganmu berlatih denganmu bagaimana bisa aku tidak mencintaimu Sani. Aku pergi meninggalkan markas karena aku tidak terima kamu di jodohkan dengan Taka Zenn yang lemah itu bahkan tetua dan kamu menerima tunangan Sony yang membuatku sangat sakit hati" protes Hasan serius, matanya terlihat sedang menahan air matanya. Aku menarik tubuhnya dan mendekap erat tubuh Hasan
"Maaf kakak kalau aku membuatmu sakit hati" gumamku pelan
"Tidak, itu sudah masa lalu..." desah Hasan melepaskan dekapanku
"Kamu istirahatlah" desah Hasan pelan, tanpa pikir panjang aku langsung menarik tangan Hasan yang membuatnya terjatuh di tempat tidur
"Kakak tidak boleh kemanapun" desahku pelan
"Kenapa?"
"Temani Sani..." gumamku pelan
"Hmmm..." desah Hasan berbaring di sebelagku dan mengusap lembut rambutku
"Tumben kamu manja setelah aku beritahu alasanku?" gumam Hasan menatap wajahku
"Menurut kakak?" gumamku menyembunyikan wajahku di dada bidangnya
"Aku tidak mengerti, makanya aku bertanya"
"Lebih baik kakak tidak perlu tahu" gumamku pelan
"Beri tahu aku Sani"
"Tidak, kakak tidak perlu tahu" gumamku pelan
"Apa kamu... Mencintaiku?" gumam Hasan dengan wajah merahnya
"Menurut kakak?" gumamku pelan
"Hmm ya aku tahu jawabanmu" gumam Hasan tersenyum kepadaku
"Maaf kak, aku tidak bisa mencintaimu. Kamu sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri" desahku dalam hati dan membenamkan wajahku di dadanya lagi.
Aku tidak peduli dia akan menilai ucapanku sebagai pertanda aku mencintainya, walaupun aku tahu nanti aku akan membuat Hasan kecewa tapi aku juga tidak tahu nantinya bagaimana hatiku akan jatuh hati kepada siapa. Tapi untuk saat ini aku mencoba untuk fokus melawan mafia 10 tertinggi dan mafia 20 tertinggi itu sekarang
__ADS_1