Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 56 : Penasaran Dengan Rahasia Keluarga Shin


__ADS_3

Setelah semua orang pergi dari kamar, aku hanya terdiam dan terus mengusap rambut Alan yang sangat berantakan. Kalau aku telat menyelamatkan Alan pasti aku akan terkena masalah dengan para petinggi mafia yang banyak maunya itu.


Aku menatap keluar jendela dan melihat sinar matahari yang sedikit muncul di ufuk timur, benar-benar tidak aku sangka waktu bisa berjalan cepat seperti ini.


"Sani...apa kau benar-benar melakukan itu?" tanya Fiyoni dingin.


"Melakukan apa?" tanyaku pelan.


"Kau masih saja pura-pura bodoh! Apa kau benar-benar melihat wajahnya bahkan dicium oleh pria itu!"


"Ya...memang itu kenyataannya."


"Dan kamu mengatakan di depan suamimu sendiri?" gerutu Fiyoni kesal.


"Aku tidak sadar mengatakannya."


"Tidak sadar? Apa kau gila Sani? Pasti hati Alan hancur mendengarnya!" protes Fiyoni kesal.


"Aku tahu, tapi tidak aku sangka saja Lanlan mengakui itu."


"Ya bagaimana dia tidak mengakuinya Lanlan juga menyukaimu sekaligus ingin membunuhmu, astaga kau tahu Sani, dia sama sekali tidak menunjukkan wajah aslinya kepada semua orang!" protes Fiyoni kesal.


"Kemarin dia kan bertarung denganmu? Bukannya kamu?"


"Kami memang bertarung, kamu bilang bola matanya merah kan tapi saat bertarung denganku bola matanya berwarna hitam. Kapan kau bertemu dengannya langsung?"


"Saat pertama kali sampai gedung ini."


"Jangan bilang saat kamu menyuruh semua bawahanmu dan bahkan aku berfokus pada Alan?"


"Ya, aku sebenarnya tidak niat bertemu dengannya tapi tidak aku sangka saja dia datang sendiri kepadaku..." gumamku memainkan handphoneku.


"Dan kamu tidak takut dibunuh olehnya?"


"Tidak, jika dia bertemu denganku tanpa siapapun dia akan mengatakan kebenarannya, kau dengar sendirikan saat denganmu saja Lanlan mengatakan penderitaannya secara tidak dia sadari..." gumamku pelan.


"Yang dia bilang dia selama hidupnya menderita dan kamu menunjukkan bekas luka di tubuhmu? Haish memang kau masih saja gila Sani!" gerutu Fiyoni menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah bilang kan kalau aku sangat gila dan kau masih saja setia menjadi wakil dari ketua yang sangat gila ini."


"Apa motivasimu menunjukkan pada Lanlan coba?"

__ADS_1


"Ya aku tidak terima saja dia bilang tidak dianggap dan menderita, apa dia tidak tahu yang lebih menderita aku dari pada dia. Jika dilihat dia pria yang sangat beruntung, kau tahu kan masa laluku seperti apa Fiyoni dan Kau juga tahu akan semua tentangku Fiyoni."


"Aku tahu tapi...Alan..." gumam Fiyoni menatapku tidak percaya, tanpa berkata apapun Alan hanya terdiam sambil terus memelukku erat. Dari genggaman tangannya benar-benar terlihat kalau Alan sedang benar-benar sakit tapi pastinya dia tidak berani protes kepadaku.


"Sudahlah, kau tidur sana. Nanti aku bangunin..." gumamku pelan.


"Haish terserahlah, aku mengantuk. Capek berdebat denganmu Sani..." gumam Fiyoni merebahkan tubuhnya di sofa.


"Nanti ada yang aku beritahukan kepadamu Fiyoni..." gumamku pelan.


"Ya nanti bangunkan saja..." gumam Fiyoni pelan, disaat Fiyoni benar-benar tertidur aku berusaha menidurkan Alan tapi Alan tetap memelukku erat.


"Sayang... kamu belum tidur... tidurlah..." gumamku pelan, Alan menggelengkan kepalanya dan kembali memelukku erat.


"Ada apa?"


"Tidak ada, hanya takut.."


"Tenang saja sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan menemanimu..." gumamku pelan dan Alan menatapku serius.


"Beneran aku akan menemanimu sayang..." gumamku tersenyum yang membuat Alan bersedia berbaring di sampingku dan kembali memelukku erat.


"Ada apa sayang?" tanyaku pelan tapi Alan hanya menggelangkan kepalanya.


"Ya...aku...aku merasa..."


"Maaf membuatmu sedih, dia menciumku dengan mendadak yang membuatku terkejut."


"Aku tahu...kakak pasti menginginkanmu juga..."


"Benar, dia mengatakan hal itu. Tapi jangan dipikirkan sayang, aku ada bersamamu..." gumamku serius.


"Tapi kan...mmmpphhh..." aku mencium Alan yang membuat wajahnya memerah.


"Sudah aku katakan kan jangan dipikirkan sayang, aku selalu bersamamu..." gumamku kembali mencium Alan.


"Sani...bolehkah aku..." gumam Alan memberikanku suatu kode yang tidak aku mengerti.


"Kamu ingin punya anak?" tanyaku terkejut.


"Tidak, aku belum memikirkan hal itu. Aku hanya ingin menciummu lama."

__ADS_1


"Ohhh tidak masalah..." gumamku pelan dan Alan menciumku lembut.


"Sani kamu benar-benar cantik ..." gumam Alan kembali menciumku.


"Oh benarkah? Terimakasih pujianmu sayang..." gumamku pelan.


"Aku berjanji padamu sayang, aku akan jadi kuat seperti sumpah pernikahan awal kita..." gumam Alan serius.


"Ya...jadilah kuat suamiku. Kamu menciumku seperti ini membuatku teringat saat kamu menciumku sangat lama yang membuat terkejut orang tua kita..." gumamku tertawa pelan.


"Kamu masih ingat?" tanya Alan terkejut.


"Ya, bagaimana aku tidak ingat saat melihat kamu selalu suka menciumku bahkan saat kita masih di akademi dulu..."


"Aku benar-benar mencintaimu Sani, bahkan sampai sekarang aku benar-benar mencintaimu!"


"Ya aku mencintaimu juga suamiku..." gumamku mencium Alan dan menarik tubuhnya.


"Sudah hampir pagi, kamu tidurlah..." gumamku memeluk Alan erat.


"Kamu tidak tidur?"


"Sudah tidurlah kalau kamu tidur aku ya tidur..."


"Benarkah?" tanya Alan pelan dan aku hanya mengangguk pelan.


"Baiklah, jangan sampai tidak tidur..." gumam Alan tertidur dalam pelukanku.


Aku menatap kembali hutan yang sedikit terang karena sinar matahari sedikit demi sedikit mulai menampakkan sinarnya. Aku menatap cincinku dan masih bingung, kalau Lanlan dijodohkan denganku dan Lanlan adalah pelakunya lalu kenapa ayah malah menyembunyikanku saat pembantaian itu terjadi. Tidak tahu kenapa aku merasa kalau Lanlan tidak memiliki niatan sama sekali untuk membunuh keluargaku.


Sebenarnya siapa yang membunuh keluargaku? Kenapa bisa serumit ini masalahku? Batinku.


Apa yang sebenarnya kau sembunyikan Lanlan? Batinku


Disaat Alan benar-benar tertidur, aku beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati. Aku mengambil tiga botol wine di depan Fiyoni dan membawanya ke depan balkon.


Aku meminum wine sambil menatap langit yang sudah terang karena sinar matahari pagi, aku tadi mencoba meminta mata-mataku dilapangan untuk mencari petunjuk apapun yang ada di rumahku yang lainnya. Aku hanya berharap aku mendapatkan petunjuk dari teka teki yang membuat kepalaku pusing ini.


Ketidak tahuanku selama ini membuatku pusing memikirkan apa yang terjadi, ditambah karena penyakitku ini. Aku tidak ingat apa yang sudah terjadi bahkan apa yang telah terjadi padaku.


Sejak kecil aku tidak dianggap kedua orang tuaku dan keluargaku karena aku sangat lemah, kedua orang tuaku mulai mengakui setelah keluar akademi dengan peringkat pertama dan disaat aku menjadi wanita yang ditakuti seluruh mafia yang membuat kedua orang tuaku memberikan kasih sayangnya padaku.

__ADS_1


Selama aku hidup aku merasa ada yang disembunyikan keluarga besar Shin dariku. Aku merasa aku selalu di sakiti dan aku yang selalu menderita sedangkan kedua adikku selalu berdebat kalau aku selalu dimanja dan disayang padahal aslinya aku yang selalu menderita, kalau bukan karena kehebatanku dan aku memiliki tiga bawahan yang hebat ditambah wakil mafia yang kuat pasti aku masih menderita sekarang. Tapi yang masih aku bingung, sebenarnya apa yang keluarga Shin sembunyikan dariku?


__ADS_2