Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 39 : Tersadar Sekarang


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 3 pagi dan aku sama sekali belum tidur sama sekali. Aku terduduk di sebelah Alan yang sedang tertidur pulas, aku menulis strategiku dengan mencampur strategi versi Alan, ya walaupun tidak terlalu sulit tapi membuatku sangat pusing apalagi aku ketua mafia jadi aku tidak mau sampai rencanaku gagal lagi


Tiiiinnggg...


Tiba - tiba handphoneku bergetar di dalam pakaianku, aku mengambil handphoneku dan membaca pesan dari Sann Liu yang mengatakan kalau Sain dan Sina dilukai oleh anggota kelompok organisasi pemberontak dan untungnya mereka berdua bisa melarikan diri, Sina hanya luka ringan tapi sekarang Sain sedang kritis. Aku segera membalas pesan itu agar Sann dan Hassan terus menjaga kedua adikku dan meletakkan kembali handphoneku di sebelahku


"Hmmmm..." desahku menyembunyikan wajahku diantara kakiku sambil menahan tangisku walaupun aku benar - benar menangis sekarang


Aku merasa sudah sangat gagal menjadi seorang kakak, aku sudah tidak bisa melindungi kedua adikku dan sekarang mereka terluka karena aku mengambil adikku dari tangan organisasi itu. Aku tahu kedua adik Alan bisa melindunginya tapi aku... Aku merasa sangat tidak berguna ingin sekali aku mengakhiri hidupku yang tidak berguna ini


"Kamu kenapa menangis?" gumam Alan membuka matanya dan menatapku dingin, aku terdiam dan sama sekali tidak mau menceritakan apapun kepada Alan


"Kenapa kamu menangis?" tanya Alan sekali lagi tapi aku hanya terdiam


"SANI JAWAB!!!" teriak Alan yang membuatku sangat sakit mendengarnya bukannya dia menenangkanku malah meneriakiku seperti itu, tanpa berkata apapun aku beranjak dari tempat tidur dan berlari meninggalkan kamar


"Sani mau kemana kamu malam - malam seperti ini!!!" teriak Alan mengambil handphoneku. Walau aku tahu dia mengambil handphoneku tapi aku sama sekali tidak peduli dan terus berlari dari markas besar milik Alan ini. Saat melewati dapur aku mengambil sebuah pisau dan kembali berlari keluar


"Nona muda anda mau kemana?" teriak penjaga gerbang dengan kencang tanpa memperdulikannya aku terus berlari meninggalkan area markas itu dan masuk kedalam hutan


Aku berlari dan terus berlariĀ  sampai - sampai aku terjatuh ke tanah karena tersandung akar yang muncul di atas tanah. Rasa sakit di lutut dan sikuku tidak aku rasa sama sekali hanya rasa sakit di hatiku yang aku rasakan sekarang. Aku masih tidak bisa melindungi dan membahagiakan kedua adikku


"AYAH ... IBU ... KENAPA KALIAN MENINGGALKANKU? KENAPA AKU HARUS PUNYA TANGGUNGAN KEDUA ADIKKU INI? KENAPA KALIAN MEMBUAT HIDUPKU MENDERITA SEPERTI INI? AKU TIDAK SANGGUP... AKU TIDAK SANGGUP LAGI AYAH IBU!!!!" teriakku kencang


Jeeeedddrrrrrr


Suara petir menyambar langit, hujan turun dengan sangat lebat, aku yang sedari tadi tergeletak di tanah hanya bisa menangis sambil merasakan dinginnya hari dan tanah yang basah terkena air. Aku tidak peduli dengan baju tidur yang basah, aku tidak peduli dengan dinginnya malam ini, aku tidak peduli butiran hujan yang menghujam kuat di tubuhku, dan aku tidak peduli terhadap apapun. Yang aku tahu aku ingin segera membalaskan dendam kematian keluargaku dan mengakhiri hidupku


Aku mengambil pisau dapur di tanganku. Aku menggoreskan jarum itu di leherku yang membuat leherku terluka dan darah keluar bersatu dengan air hujan. Tiba - tiba hujan yang menghujam tubuhku menghilang, aku melirik ke belakangku dan melihat Alan yang sedang membawa payung sambil menatapku khawatir. Alan langsung menggendong tubuhku berjalan meninggalkan hujan


"Kenapa kamu kemari?" desahku pelan tapi Alan hanya terdiam tanpa kata menggendongku kembali ke markas miliknya


"Tuan muda... Nona muda?" gumam para penjaga membungkukkan badannya sambil menatapku yang sedang berdarah tanpa berkata apapun Alan terus berjalan masuk ke dalam kamar


Alan membantuku terduduk diatas kursi dan mengambil kotak obat di atas lemari. Alan segera menghentikan pendarahan hebat di leherku dan membalut leherku dengan perban. Setelah selesai mengobatiku, Alan menatapku dengan tatapan dinginnya bahkan tanpa berkedip sama sekali.


Melihat tatapan Alan yang menakutkan membuatku bertambah sedih dan akhirnya aku menangis kembali, Alan memelukku lembut dan mengusap rambutku yang basah dengan lembut. Pelukan Alan membuatku bertambah sedih dan sangat putus asa


"Hmmm, aku tahu kamu sedih karena apa sayang. Aku juga sedih mendengarnya..."desah Alan pelan


"Tapi kamu tidak boleh menyakiti dirimu seperti ini..."


"Percobaan bunuh dirimu membuatku sangat sedih istriku..."


"Apa kamu tega meninggalkan suamimu yang telah setia menunggumu selama berpuluh tahun ini?" desah Alan pelan, dibahuku yang dingin karena terkena sisa hujan ini aku merasakan ada sebuah cairan hangat yang terasa di bahuku. Aku melepaskan pelukan Alan dan pertama kali melihat air mata Alan yang menetes deras di pipinya. Aku mengusap air mata Alan dengan kedua tanganku dan kembali memeluk Alan


"Maaf Alan aku sudah membuatmu kecewa... Lagi.." desahku memejamkan kedua mataku


"Kenapa kamu selalu lakukan itu Sani? Apa kamu tidak ingin bersamaku?" desah Alan terbata - bata

__ADS_1


"Aku ingin Alan tapi..."


"Kalau kamu ingin kenapa kamu lakukan ini Sani, kenapa kamu selalu ingin meninggalkanku sendiri..." desah Alan pelan


"A... Aku..."


"Aku sudah capek hidup sendiri Sani, aku gak mau sendiri Sani. A...Aku ... Aku ingin hidup bersamamu" desah Alan pelan


"Aku tidak punya siapa - siapa lagi Sani, aku jauh dari keluarga dan jauh dari kedua adikku. Aku hanya punya kamu seorang tidak ada yang lain lagi..." desah Alan sambil terus menangis


"Aku hanya gadis yang berpenyakitan dari kecil, aku kejam, aku jahat, dan aku membuat siapapun sial. Untuk apa kamu terus bertahan denganku Alan, sehausnya kamu cari wanita lain jangan..."


"TIDAK MAU!!!" teriak Alan memotong pembicaraanku dan meremas punggungku dengan kuat. Remasan Alan membuatku sedikit terkejut, Alan terlihat sangat sedih dan marah saat aku mengatakan itu, padahal aku tidak ingin dia sial seperti orang lain apalagi tidak ada yang tau soal umur..


"Hmmm maafkan aku Alan, Aku akan berjanji agar tidak melakukan itu lagi dan kita menikah bagaimana?" gumamku pelan, remasan Alan semakin lama semakin melemah. Kedua mata yang telah dibanjiri oleh air mata kesedihan dengan semangat menatap wajahku serius


"A.. Apa kamu mau berjanji?"


"Ya aku berjanji kepadamu" desahku tersenyum kearah Alan


"Hmmm makasih Sani..." desah Alan tersenyum kepadaku dan pingsan di pelukanku dengan mendadak


"Alan? Alan... Kamu kenapa?" tanyaku terkejut, aku memegang kepalanya yang sangat panas


"Roy, Zaky, Wan!!!" teriakku dan ketiga bawahanku muncul


"Dan Tu.. Tuan Alan kenapa pingsan?" tanya Zaki terkejut


"Nanti saja aku ceritakan, yang penting tolong ambilkan air, makanan, dan obat obat demam untuknya" gumamku berusaha mengangkat tubuh Alan yang berat itu


"Eeeehh baik nona muda" gumam ketiga bawahanku dan pergi dari kamarku


Aku merebahkan tubuh Alan di tempat tidur dan aku segera mengganti pakaianku sekalian mengambil pakaian Alan dari lemari, walaupun pakaiannya tidak terlalu basah tapi dia demam habis hujan - hujanan


"Nona muda apa yang terjadi dengan tuan muda?" gumam Fians berdiri di tempat tidur


"Dia pingsan, badannya panas"


"Hmmm ... Tuan muda beberapa bulan ini tidak tidur sama sekali dan baru hari ini tuan muda tidur. Ada terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh tuan muda dan juga tuan muda selalu memikirkan keadaan anda nona muda apalagi anda selalu menyendiri dan selalu ingin bunuh diri.." gumam Fians pelan, aku menatap wajah Alex yang terlihat sangat pucat dan itu membuatku sangat sedih


"Nona muda ini air, makanan, dan obat untuk tuan Alan.." gumam Wan menaruh nampan di atas meja


"Ya makasih.." gumamku pelan


"Apa ada yang bisa saya bantu nona muda?" gumam Fians menatapku serius


"Tidak ada, kalian istirahat saja biar Alan yang aku urus" gumamku pelan


"Baik nona muda" gumam keempat orang itu dan menutup pintu kamar

__ADS_1


Aku membuka pakaian Alan dengan pelan, dada bidang dan perut yang kotak - kotak terlihat jelas di depanku. Aku mengganti pakaian Alan dan kembali mengancingkan kancing bajunya, aku memegang dadanya dan ternyata jantungnya masih berdetak walaupun pelan. Aku mengusap lembut pipinya yang lembut dan terus menatap wajahnya Alan itu, aku tidak menyadari kalau aku sudah membuat Alan menderita selama ini bahkan sampai dia tidak pernah tidur dan aku tadi juga sudah mengganggu tidur malamnya dengan keegoisanku


"Sani... Sani jangan tinggalin aku Sani..." gumam Alan pelan


"Aku tidak meninggalkanmu sayang.." desahku pelan, aku memegang dahi Alan yang terasa sangat panas


"Hmmm kamu mengigau ya kalau sedang panas" gumamku mengambil seember air hangat dan mengopres dahi Alan dengan handuk hangat


"Sani... Sani... Aku kepanasan Sani... Sani kamu dimana?" gumam Alan meneteskan air matanya


"Hmmm..." desahku pelan


"Permisi nona muda, ini obat demam khusus untuk tuan muda" gumam Fians memberikanku beberapa obat kapsul


"Obat demam khusus?"


"Ya nona muda, kalau tuan muda tidak diberikan obat ini pasti dia akan mengigau berhari hari dan demamnya tidak akan turun"


"Kenapa bisa seperti itu?" tanyaku bingung


"Fisik tuan Alan sangat lemah, sebenarnya dia tidak diperbolehkan untuk begadang apalagi sampai berbulan - bulan tapi tuan Alan tidak mendengarkan perkataanku atau dokter tapi tetap saja tuan Alan bergadang"


"Ohh mmm baiklah makasih Fians, jangan khawatir aku akan menjaga Alan" gumamku tersenyum


"Eee.. Mmm baik nona muda" gumam Fians dengan wajah memerahnya pergi dari kamarku


"Sani... Sani kemarilah, lihat ada aku menemukan senjata yang bagus untukmu. Mungkin jarum ini sangat cocok denganmu..." gumam Alan terus mengigau tidak jelas


"Hmmm Alan apa kamu masih belum sadar?" desahku berusaha membangunkan Alan tapi Alan teus saja mengigau


"Sani... Sani... Kamu sangat cantik seperti bunga sakura, tidak akan aku biarkan siapapun mengambilnya dariku!!!" gumam Alan mengigau keras


"Hmmm ya sayang, aku hanya buatmu saja kok" bisikku pelan


"Sani ... Sani... Apa kamu mau menikah denganku? Aku sangat ingin menikahimu!!!" gumam Alan mengigau menaruh


"Iya Alan, aku akan menjadi istrimu kok, yang jelas kamu harus minum obat sekarang ya.."gumamku meletakkan obat dan air di mulutku dan aku langsung mencium Alan agar obatnya bisa langsung masuk ke dalam tubuhnya


"Sani... Apa yang kamu berikan kepadaku barusan? Kenapa terasa pahit?" gumam Alan mengigau dengan ekspresi wajah yang lucu dan melihatnya membuatku ingin tertawa


"Kamu kalau mengigau bisa selucu itu ya Alan..." desahku berbaring di sebelah Alan


"Sani... Aku lelah... Jangan tinggalkan aku ya... Temani aku..." desah Alan pelan


"Hmm iya sayang, aku tidak akan meninggalkanmu..." gumamku memeluk erat Alan sambil terus mengusap rambut Alan yang sedang setengah kering itu


"Maafkan aku Alan, maafkan aku yang selalu menyusahkanmu, maafkan aku yang belum bisa menjadi pasangan hidup yang terbaik buatmu. Maafkan aku yang selalu putus asa Alan. Tenang saja Alan, aku janji aku akan menjagamu aku akan mencintaimu aku akan berubah demi kamu suamiku.." desahku mencium pipi Alan dan memeluknya erat


Aku memejamkan mataku dan tertidur bersama Alan, rasa sakit di leherku tidak aku rasakan lagi. Sekarang aku sadar kalau rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan rasa sakit saat mengetahui kedua adikku terluka dan rasa sakit saat melihatmu yang terus ada untukku sedangkan aku selalu menyusahkanmu bahkan sejak kita masih anak - anak...Alan...

__ADS_1


__ADS_2