
Setelah Siany dan Alan pergi, Lanlan melepaskan pelukannya dan menatapku serius. Dalam pikiranku, ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikiranku. Aku menatap kedua mata Lanlan dan Lanlan menatapku bingung.
"Ada apa sayang?" tanya Lanlan serius.
"Aku ingin bertanya serius padamu!" ucapku dingin.
"Baiklah, kita ke kamar dulu ya..." gumam Lanlan menarik tanganku menyelusuri lorong di depan kami.
"Kenapa harus ke kamar dulu?" tanyaku serius.
"Aku tidak ingin siapapun mendengar pembicaraan kita sayang, apa lagi ini masih berada di pesta sayang!"
"Hmmm.." desahku mengikuti Lanlan yang dari tadi menarikku melewati lorong-lorong di depan kami sampai kami berada di sebuah kamar yang luas di ujung lorong.
"Baiklah apa yang ingin kamu katakan?" tanya Lanlan serius.
"Kenapa Siany memanggil ibumu dengan sebutan ibu? Kenapa dia bisa sangat akrab denganmu? Kenapa dia bisa berkata akan merebutmu?" tanyaku serius.
"Oh masalah tadi ya...hmm seharusnya tidak satupun yang perlu kamu tahu, tapi malah... Siany yang mengatakannya sendiri..." gumam Lanlan terduduk di sofa kamar.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku Lanlan?" tanyaku serius.
"Tidak ada yang aku sembunyikan sayang."
"Lalu kenapa Siany berkata..."
"Sebelum aku mencintaimu, aku pernah menjalin hubungan dengan Siany, kami pernah hidup bersama di satu rumah dalam waktu yang lama dan kami dulu sama-sama memiliki rencana untuk membunuhmu tapi sayangnya Tuan Liu menyuruh Siany hidup dengan Alan yang membuat kami harus berpisah dalam waktu lama yang membuatku tidak mencintainya lagi dan malah mencintaimu Sani saat aku bertemu denganmu untuk pertama kalinya setelah sekian lama..." gumam Lanlan menarik tubuhku dan memelukku erat.
"Kalian pernah punya anak?" tanyaku serius.
"Tidak, kami hanya hidup bersama tanpa status sama sekali apalagi aku adalah suamimu Sani jadi aku tidak bisa melakukan apapun kecuali aku sudah cerai denganmu."
"Apa kamu mencintai Siany?" tanyaku serius.
"Ya, aku dulu mencintai Siany. Apalagi Siany sangat cantik dari pada wanita yang pernah aku temui sebelum bertemu kamu."
"Kalau kamu mencintainya kenapa kamu tidak merebut dia dari Alan?" tanyaku pelan.
"Tidak, aku milikmu...aku suamimu...aku tidak bisa memiliki siapapun kecuali kamu sayang."
"Kenapa tidak bisa? Kalau kamu mencintainya seharusnya kamu..."
"Sayang dengar...dia salah satu wanita yang aku suka dan itu sudah masa lalu tapi sekarang Aku benar-benar mencintaimu Sani. Aku...aku suamimu...aku terikat denganmu...apalagi... kamu hamil anak kita... jadi...kamu selamanya adalah istriku!" ucap Lanlan menciumku lembut.
"Benarkah?" tanyaku pelan.
"Ya, aku benar-benar mencintaimu. Emang benar kata ayah... banyak yang menyukaimu bahkan kakak dan adik tiriku juga berusaha memilikimu, tapi kamu milikku Sani... kamu istriku...tidak aku biarkan siapapun memilikimu kecuali aku apalagi aku benar-benar mencintaimu..." gumam Lanlan menciumku lembut yang membuat wajahku memerah.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu beritahu aku semua yang kamu dan Siany rencanakan dahulu ya..."
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya kepadamu setelah pertemuan nanti ya!" gumam Lanlan menciumku lembut.
"Eehhheemmm...ternyata kalian disini ya, dari tadi aku cari-cari juga!" gerutu Tian masuk ke dalam kamar dengan Fiyoni.
"Yaah...istriku cemburu saat Siany mengungkit masa lalu jadi aku hanya mau menenangkannya saja."
"Mengungkit hubungan kalian?" tanya Tian serius.
"Ya benar, padahal dia juga sedang hamil dengan Alan tapi masih saja mengungkit masa lalu bahkan hampir membuat istriku terjatuh ke lantai yang membuatku sangat kesal!" gerutu Lanlan kesal.
"Siapa yang menolak denganmu Lanlan? Banyak juga yang menginginkanmu bahkan adik tiriku juga menginginkanmu."
"Padahal kan itu masa lalu."
"Memang, tapi tahu sendiri kan demi mendapatkan restu ibumu dia sampai menganggap ibumu sebagai ibunya sendiri."
"Ya...aku tahu, tapi ibu benar-benar menolak jika aku dengan Siany dan memaksaku menikah dengan Sani. Ya kau tahu awalnya aku benar-benar ragu jika bersama dengan Sani, tapi sekarang aku benar-benar nyaman dengannya..."
"Ya kau diberitahu juga ngeyel Lanlan!"
"Aku tahu, tapi kau tahu kan bagaimana rasa dendamku dengan Sani di waktu itu?"
"Ya aku tahu kok. Kalau kau mencintai Sani...kau harus menerimanya apa adanya dan terus menjaganya jangan sampai Sani terluka sedikitpun!" gumam Tian memberikan Lanlan sebuah kertas.
"Benarkah? Bagus juga mata-matamu Tian!" puji Lanlan senang.
"Sudah aku katakan kan, jangan samakan aku dengan mata-mata diluar sana."
"Ya ya aku percaya dengan perkataanmu."
"Baiklah, aku mau beritahu Fiyoni dulu. Pinjam balkonnya ya!" ucap Tian berjalan menuju ke arah balkon dengan Fiyoni.
"Apa itu kak Lanlan?" tanyaku pelan.
"Hanya beberapa informasi saja..." gumam Lanlan memasukkan kertas itu dan memelukku erat.
"Kak Lanlan... beritahu aku semuanya sekarang juga!"
"Nanti saja sayang."
"Gak mau! Beritahu aku sekarang!" protesku kesal.
"Ba...baiklah, kamu ingin dimulai dari mana dulu?"
"Terserah kak Lanlan, tapi... aku ingin tahu tentang rencanamu dengan Siany itu."
__ADS_1
"Rencana kami ya... rencananya sebenarnya hanya membuatmu mencintaiku dan kami akan membunuhmu disaat kamu benar-benar mencintaiku, tapi ternyata hatiku sendiri yang terjatuh di dalam cintamu. Sampai aku sendiri tidak bisa kuat menahan saat melihatmu bersama dengan Alan itu, hatiku benar-benar sakit melihat ke romantisan kalian..." gumam Lanlan menggenggam erat tanganku.
"Benarkah? Sejak kapan kamu bisa mencintaiku?" tanyaku pelan.
"Aku mengatakan yang sebenarnya sayang, hmmm sejak kapan ya...sejak kita bertemu di pertemuan dulu."
"Pertemuan kapan?"
"Entah ya aku juga lupa, pokok itu pertama kalinya aku jatuh hati padamu. Saat aku mencari tahu siapa identitasmu dan aku kaget kalau wanita itu adalah istriku sendiri, akhirnya aku mencari tahu ternyata kamu selama itu berada di genggaman Alan."
"Lalu? Apa yang terjadi?" tanyaku penasaran.
"Ya, aku mengajak Alan bertemu dan meminta kamu kembali di pelukanku tapi dia benar-benar menolak, akhirnya aku mengajak kakek bertemu dengan Alan dan akhirnya dalam kesepakatan kami kalau aku akan merebutmu dan memberitahukan semuanya di saat waktunya saja."
"Oh lalu?"
"Lalu... ya hanya itu sayang tidak ada yang lain. Kita banyak yang menyukai sayang tapi kita berdua terikat pernikahan suci, hubungan kita akan sirna jika kita cerai dan ceraipun ada syarat-syarat yang sangat menyebalkan."
"Syarat? Apa syaratnya?" tanyaku pelan.
"Syaratnya... kita berdua harus mati atau kamu yang harus menceraikan aku terlebih dahulu agar cincin di tangan kita lepas sendiri."
"Cerai? Aku yang harus melakukannya?"
"Ya."
"Oh mmm..." desahku melihat cincin di jari tanganku.
"Kak Lanlan, dalam lubuk hatimu apa kamu mencintai Siany?" tanyaku serius.
"Kalau sejujurnya... ya aku masih mencintainya, dia wanita yang sangat cantik bagiku!" ucap Lanlan serius, mendengar ucapan Lanlan membuat hatiku sedikit sakit.
"Kalau begitu jika kamu masih mencintainya maka aku akan...mmmppphhh..." gumamku pelan dan Lanlan langsung menghentikan ucapanku dengan menciumku.
"Huussttt kamu tidak boleh mengucapkan kata-kata itu, aku memang masih mencintainya tapi cintaku saat ini tertuju padamu sayang, aku sangat mencintaimu dan sangat mencintai anak kita. Kalau aku tidak mencintaimu aku sudah membunuhmu dari awal tahu..." gumam Lanlan kembali menciumku.
"Tapi kak Lanlan..."
"Ya aku tahu aku salah, aku minta maaf masih mencintai Siany tapi sayang...kamu istriku, aku lebih mencintaimu dari pada siapapun. Aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik buatmu jadi jangan ucapkan kata-kata cerai ya...aku tidak mau kehilanganmu!" ucap Lanlan serius.
"Benarkah?"
"Ya aku mengatakan yang sebenarnya, kamu istriku aku akan mencintaimu dan berusaha menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk keluarga kita, aku akan menjagamu istriku..." gumam Lanlan menciumku kembali.
"Mmmpphh makasih suamiku...mmmpphhh..." gumamku kembali mencium Lanlan sambil merangkul lehernya sedangkan Lanlan memeluk tubuhku erat.
Melihat Lanlan yang benar-benar mencintaiku membuat sangat mencintainya, aku akan berusaha menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk keluarga kecilku.
__ADS_1