Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 4 :Kebenaran Yang Tidak Terduga


__ADS_3

Aku mengikuti langkah Lia dari belakang, selama perjalanan aku melihat rumah ini sangatlah besar dan mewah. Banyak barang - barang mewah yang mengisi disetiap sudut ruangan yang ada di rumah ini. Tidak lama kami berdua berjalan, akhirnya kami sampai di depan pintu besar yang ada di depan kami, Lia mengetuk pintu itu dengan perlahan


"Permisi tuan, nona ini ingin bertemu dengan anda" ucap Lia sopan


"Bawa dia masuk" ucap seorang laki - laki yang ada di dalam ruangan itu, Lia membuka pintu itu dengan perlahan dan kami masuk ke dalam ruangan itu


Di dalam ruangan itu aku melihat banyak buku - buku yang tersusun rapi di rak buku, sebuah sofa berwarna putih dan jendela yang menghadap langsung laut biru yang luas. Disebelah jendela aku melihat seorang laki - laki sedang berdiri membelakangi kami


"Maaf tuan, ini nona yang ingin bertemu dengan anda"


"Baiklah, kamu boleh keluar"


"Baik tuan" gumam Lia berjalan meninggalkanku


"Jadi apa yang ingin kamu katakan kepadaku?" gumam laki - laki itu menatapku


Wajahnya sangat tampan saat terkena sinar matahari, Perutnya terlihat seperti roti sobek jika dilihat dari kemeja yang dia gunakan dan tatapannya sangat dingin menatapku sampai terasa ke tulang


"Emmm... An... Anu..."


"Tidak perlu gugup, santai saja" gumam laki - laki itu menutup bukunya


"Mmmm terimakasih tuan sudah menyelamatkanku"


"Tidak masalah, siapa namamu?"


"Sani Shin"


"Oh kamu dari keluarga yang dibantai beberapa tahun yang lalu?"


"Iya tuan, kenapa tuan bisa tahu?"


"Hal seperti itu siapa yang tidak tahu, duduklah" gumam Ryuki duduk di sofa putih itu


"Ya aku ingin membalaskan dendam atas kematian keluargaku"


"Apa kamu tahu siapa yang membunuh mereka semua?"


"Tidak, pokok yang aku tahu mafia korea terkejam"


"Hahaha mafia terkejam? Sejak kapan itu berlaku untuk mereka"


"Ka... kamu mengenalnya?" gumamku terkejut


"Ya cuma sekumpulan orang tidak berguna"


"Tapi kata orang - orang mereka mafia terkejam bahkan polisi di kotaku saja takut"


"Namanya mafia siapa yang tidak takut"


"A... Apa kamu tidak takut?"


"Takut? Buat apa aku takut"


"Kenapa bisa begitu?"


"Karena kakakku ketua mafia gelap" gumam Tony di depan pintu ruangan itu


"Bentar ketua mafia gelap yang berkuasa di seluruh dunia itu?"


"Ya benar, kamu tahu?"


"Ya aku tahu, ayah pernah bercerita tentang itu. Jangan - jangan kamu yang membunuh keluarga besarku ya" teriakku kesal


"Aku membunuh keluargamu? Haah aku tidak sudi melakukannya"


"Kenapa tidak mau?"


"Mafia yang hanya membunuh keluarga itu mafia lemah"


"Lalu mafia terkuat itu yang seperti apa?" gumamku bingung


"Ya yang membunuh satu wilayah"


"Jangan bilang yang membantai seluruh masyarakat di Daratan China itu ulah kalian?"


"Ya benar, itu baru mafia terkuat"


"Jangan - jangan kamu membawaku kemari karena ingin membunuhku"


"Kakakku kalau mengajakmu kemari itu tidak mungkin akan melukaimu, biasanya kalau dia mengajak wanita kemari iru karena kakakkku..."


"Udah diamlah, kenapa kamu kemari?"ucap Ryuki dingin

__ADS_1


"Dia temanku jadi aku hanya memastikan saja dia tidak kamu lukai"


"Tenang saja, aku tidak akan melukainya"


"Baguslah" desah Tony meninggalkan ruangan itu


Ryuki menatapku dengan tatapan aneh dan itu membuatku merasa tidak nyaman


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"


"Kamu berteman dengan dia?"


"Iya, emang kenapa?"


"Tidak ada, aku hanya terkejut aja dia punya teman"


"Kenapa kamu bersikap seperti itu dengan adikmu?"


"Emangnya kenapa?"


"Kamu tidak boleh seperti itu"


"Biarin lah dia laki - laki"


"Kamu tidak boleh seperti itu, itu membuatnya merasa kesepian tahu. Aku sudah merasakannya hanya hidup sendiri setiap hari di caci maki di hina di bully seperti orang yang tidak berguna" gumamku menatap Ryuki sedih


"Emang kamu merasa seperti itu?"


"Ya semenjak kematian keluarga besarku"


"Kamu tahu siapa ketua mafia yang membunuh keluarga besarmu?"


"Tidak, emang siapa?"


"Samuel"


"Samuel mantanku?" teriakku kaget


"Iya"


"Bohong, mana mungkin dia!!!"


"Dia orang korea asli dan dia menamparmu saat kamu di caci maki warga kan?"


"Ke... Kenapa kamu tahu?"


"A... Apa aku tidak percaya!!" ucapku marah mendengar penjelasan Ryuki


"Ini baca berita nih" gumam Ryuki memberiku koran internasional


"Keluarga Shin bangkrut, dikarenakan kalah berjudi. Saat ini seluruh harta benda keluarga Shin diambil alih oleh Tuan Samuel" gumamku membaca salah satu berita utama di koran itu


"A... Apa ini benar - benra nyata?"


"Ya, dia mengambil seluruh harta keluargamu"


"Ta.. Tapi kenapa dia dulu membantuku dan menghiburku"


"Ya dia hanya ingin memperdayamu dan menghancurkanmu"


"Tapi... Tapi kenapa dia seperti itu!!! Aku percaya dengannya kenapa dia yang membunuh keluarga besarku dan mengambil semua harta benda milik keluargaku" teriakku kesal, hatiku terasa hancur, sedih, sakit rasanya bercampur aduk membuatku sangat marah


Aku beranjak dari sofa dengan kesal tapi tangan Ryuki menahan tanganku


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau membalaskan dendamku!!"


"Kamu tidak akan sanggup melawannya sendirian, nanti kamu terbunuh" desah Ryuki berdiri di sampingku


"Bodo amat, aku tidak terima" tiba - tiba Ryuki memelukku dan mengusap rambutku dengan lembut


"Ya aku tahu, tapi kamu hanya wanita biasa pastinya kamu tidak akan bisa mengalahkannya"


"Tapi... Tapi aku harus melakukannya, aku tidak terima" gumamku kesal dan Ryuki memelukku semakin erat


"Ya aku tahu, tenanglah. Kamu mau bekerja sama denganku?"


"Bekerja sama denganmu?"


"Ya, aku juga punya dendam dengannya"


"Apa dendammu kepada dia?"

__ADS_1


"Kamu ingat seorang wanita yang bersama dengan Samuel?"


"Iya aku tahu"


"Wanita itu mantan tunanganku dulu"


"Mantan tunanganmu?"


"Ya, dia dulu tunanganku. Kami hampir menikah, tapi suatu ketika perusahaanku terpuruk dan tunanganku tidak terima jadi ya Samuel merebutnya dari tanganku jadi kami tidak melaksanakan pernikahan, padahal waktu itu kami sudah sebar undangan"


"Kamu kenal Samuel?"


"Ya dia sahabat baikku"


"Kami kemanapun bersama suka maupun duka, tapi ya dia malah mengkhianatiku dan malah bercumbu dengan tunanganku dan itu membuatu sangat hancur" desah Ryuki memelukku dengan erat


Ryuki terlihat sangat sedih bahkan dari matanya terlihat kalau dia ingin sekali menangis tapi dia tahan dan hanya memelukku untuk memendam emosinya, melihat dia seperti sangat sedih aku memeluknya kembali dan mengusah lembut punggungnya


"Aku mengerti kamu, aku mau kok bekerja sama denganmu" bisikku pelan


"Benarkah?"


"Ya, benar. Jadi jangan khawatir"


"Baiklah, aku senang mendengarnya"


"Baiklah aku pulang dulu ya" gumamku melepaskan diriku dari pelukan Ryuki dan memegang gangang pintu


"Emang kamu mau pulang ke mana?"


"Ke rumahlah"


"Emang kamu punya rumah?"


"Ehhh... Mmm aku lupa, sekarang aku jadi gelandangan" desahku menyandarkan tubuhku di pintu ruangan Ryuki


"Jadi?" gumam Ryuki menatapku


"Aku tidak tahu"


"Ya udah mulai sekarang kamu tinggal saja disini"


"Tapi aku ... Aku tidak punya uang untuk membayarmu"


"Tidak perlu, malah aku yang akan membayarmu"


"Membayarku? Kenapa?"


"Karena kamu sudah mau menjadi teman adikku"


"Aku menolak. Aku berteman dengan dia bukan karena ingin imbalan darimu"


"Ya aku tahu, maksudku kamu bisa bekerja denganku"


"Bekerja denganmu bagaimana?"


"Ya kamu bisa menjadi teman mereka berdua dan bisa mengawasi mereka, apalagi aku orang sibuk susah buat mengawasi mereka berdua dan kamu jadi sekretaris pribadiku. Bagaimana?"


"Nah kalau itu aku setuju"


"Baiklah, ini buatmu" gumam Ryuki menyerahkan sebuah kartu kepadaku


"Apa itu?" gumamku berjalan ke arah Ryuki


"Kartu kreditku, pakai saja sesukamu dan sepuasmu"


"Kalau abis gimana?"


"Tenang saja ini tanpa batas"


"Serius?"


"Ya pakai aja" aku langsung mengambil kartu itu


"Baiklah terimakasih" gumamku senang dan berjalan dengan gembira


"Hei kemari dulu"


"Iya ada apa tuan" gumamku berjalan kearah Ryuki, Ryuki berdiri di depanku dan langsung mencium keningku


"Ka...Kamu menciumku?" gumamku kaget


"Terimakasih" bisik Ryuki di telingaku

__ADS_1


"Kamu boleh kembali ke kamarmu, besok kita akan rapat dengan salah satu petinggi"


"Ba... Baiklah" gumamku langsung berlalu meninggalkan Ryuki, betapa kagetnya aku Ryuki menciumku secara tiba - tiba tanpa ijin dariku. Padahal kami baru bertemu dua kali tapi dia begitu baik kepadaku, tapi di dalam pikiranku saat ini apakah aku bisa membalaskan dendamku?


__ADS_2