
Telingaku mendengar suara burung hantu yang terdengar dengan kuat di telingaku, aku membuka mataku dan melihat ada seekor burung hantu yang berdiri di lantai balkon. Aku mengambil burung pembawa surat itu dan membaca surat yang terikat di kakinya.
"Surat? Di tengah malam ini?" gumamku mengusap mataku mencoba membaca surat yang ada di kaki burung itu.
"Kepada ketua polisi militer mafia tersayang, apa kau mengingat aku tampan? aku sangat merindukanmu, tadi kenapa tidak datang ke pertemuan? Aku tadi sangat menantikanmu loh, kamu selalu saja jahat ya tampan. Oh ya di pesta pertemuan nanti jangan lupa datang ya, aku tidak sabar menunggumu pangeran tampanku...Salam cinta dari Putri Claudia." gumamku membaca surat tersebut.
"Putri Claudia? Siapa dia?" gumamku kesal. Aku melihat di taman ketiga bawahanku, Ryuki, dan Fians sedang mengobrol santai, tanpa basa basi aku turun dari balkon dan berjalan ke arah mereka.
"Kalian tidak tidur?" tanyaku menatap mereka bingung.
"Eeeh mmmm nona muda..." gumam bawahanku terkejut.
"Santai saja, oh ya kalian tidak tidur?"
"Belum nona muda, kami sedang mengobrol santai saja."
"Oh begitu ya..." desahku menggenggam erat kertas di tanganku.
"Ada apa Sani? Kenapa kamu tampak marah?" tanya Ryuki bingung.
"Eeemm ini, aku ingin bertanya kepada kalian. Apa kalian mengenal Putri Claudia?" tanyaku serius.
"Putri Claudia? Aku pernah mendengarnya..." gumam Ryuki menggaruk kepalanya.
"Kami kenal nona muda!" ucap bawahanku dan Fians bersamaan.
"Oh benarkah? Siapa dia?"
"Apa nona muda tidak ingat?"
"Tidak, memangnya dia siapa?" tanyaku penasaran.
"Dia sahabat anda disaat akademi nona muda, wanita cantik yang dulu tidak setuju atas hubungan anda dengan tuan muda..." gumam Wan serius.
"Sahabat? Aku tidak ingat aku punya sahabat?"
"Bentar nona saya carikan fotonya....mmm ini nona..." gumam Wan menunjukkan foto wanita cantik di sebelahku saat kami masih kecil.
"Dia...sahabatku? Maksud kalian si sombong itu?"
"Ya benar nona, dia dikenal dengan julukan si sombong karena dia dulu sangat sombong."
"Oh... aku ingat, ternyata dia masih ingat saja. Lalu Fians, apa dia sering mengirimi Alan surat?"
"Ya benar nona, dimanapun tuan Alan berada maka disitu nona Putri akan ada dan selalu mengganggu tuan muda. Kalau tuan muda tidak meladeni dia tuan muda akan diancam dan di permalukan apalagi nona tahu keadaannya seperti apa selama sebelum kenal nona muda."
__ADS_1
"Di ancam ya? Sangat menarik, nanti malama ada pesta pertemuan kan?"
"Betul nona muda."
"Kalau begitu kita akan datang ke pesta itu dan kita permalukan dia." gumamku dingin.
"Apa anda yakin Sani? Menurut mata-mataku, dia mafia terkenal kejam loh!" ucap Ryuki terkejut.
"Menurut seluruh mafia yang terkenal kejam siapa?" tanyaku balik.
"Mafia penguasa sih."
"Ya sudah, semua orang tidak sadar kalau aku masih aktif dalam mafia, pesta itu adalah pesta pertemuan para mafia tertinggi kan? Aku juga mendapatkan undangannya beberapa bulan yang lalu dari mafia pusat. Aku ingin memberikan dia balasan apa yang telah dia lakukan kepada Alan..." gumamku membalikkan badanku.
"Oh ya... Roy, Zaki, Wan... tolong selidiki Putri sekarang seperti apa dan berikan hasil kalian sebelum sebelum matahari terbit ya."
"Baik nona muda..." gumam bawahanku menundukkan badan mereka.
Aku kembali berjalan menuju kamar dan terduduk di pinggir pagar sambil meminum sebotol wine di sebelahku. Aku memikirkan apa rencanaku apa yang harus aku lakukan...empat jam sebelum matahari terbit, aku menunggu kabar dari para bawahanku tentang Putri sekalian memikirkan apa yang harus aku lakukan nantinya...dua jam sebelum matahari terbit, ketiga bawahanku datang ke balkon menyerahkan beberapa berkas kepadaku.
"Ini nona muda beberapa informasi yang kami dapat." gumam Wan memberikanku beberapa lembar kertas.
"Oh... baguslah..." gumamku membaca satu persatu.
"Ya... ini beliau sedang menelepon saya nona muda.." gumam Wan memberikan telponnya kepadaku.
"Hallo cucuku yang tersayang!!" teriak tetua mafia pusat.
"Astaga aku terkejut tetua.." gerutuku kesal.
"Kemana saja kamu tidak menghubungiku setelah perang itu?"
"Aku... ada urusan."
"Apa kamu berada di polisi militer mafia?"
"Ke...kenapa tetua tahu?"
"Alan itu cucu keponakanku, apa yang tidak aku ketahui."
"Cucu keponakan maksudnya?" tanyaku bingung.
"Kakek alan itu sepupuku jadi Alan itu cucu keponakanku."
"Oh begitu ya... jadi apa tujuan tetua mengundangku ke pesta itu?"
__ADS_1
"Tugas kamu melindungi batu kristal yang di bawa Alan, itu batu kristal milik mafia tertinggi, banyak yang menargetkan Alan untuk mendapatkannya. Untung kamu menahan Alan ikut pertemuan itu, pertemuan selanjutnya adalah pertemuan menjebak jadi aku harap kamu yang membawa batu kristal itu."
"Dimana batu kristalnya?"
"Dikalung yang kamu pakai."
"Kalung? sejak kapan?" tanyaku terkejut menyadari kalau aku memakai kalung berwarna biru.
"Mungkin Alan yang memberikannya kepadamu, ingat Sani...kamu harus menjaga baru kristal itu kalau tidak akan muncul kerusuhan di dunia mafia dan juga rebut kristal milikmu yang di pakai seorang wanita."
"Oh baiklah, oh ya tetua apa tetua tahu kenapa Putri Claudia mencari Alan?"
"Dia ingin menjatuhkan Alan dan ingin menikahinya untuk merebut kristal itu makanya aku suruh kamu merebut kristal yang di bawa oleh Putri kalau kristal itu sampai jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab ditakutkan banyak mafia yang akan menyingkirkan kalian dan menjadi ketua umum mafia yang baru."
"Oh begitu ya... aku mengerti tetua, tetua jangan khawatir."
"Oh baiklah aku sedikit lega Alan ada yang mengawasinya, dia sangat lemah darimu takutnya dia..."
"Tenang saja tetua, aku akan menjaganya."
"Baguslah, baiklah...jaga dirimu baik-baik Sani..." gumam tetua menutup teleponnya.
"Yaaah keadaan yang rumit..." desahku mengembalikan handphone Wan.
"Sepertinya kita harus menyusun strategi nona muda..." gumam Roy serius.
"Ya...sebelum Alan bangun kita harus punya rencana..." gumamku membuka buku catatanku dan duduk bersama ketiga bawahanku.
Selama aku berdiskusi dengan bawahanku, aku sesekali melirik Alan takut kalau dia bangun tapi nampaknya dia benar-benar kecapekan karena dia jarang tidur beberapa bulan.
Menargetkan Alan memang sangat mudah apalagi dia sangat lemah, kalau bukan karena keahlian yang dimilikinya saat kecil mungkin dia tidak akan bisa bertahan hidup di dunia mafia yang kejam ini, kadang aku berfikir...kenapa dia tidak menyerah dan menjadi pria biasa yang tampan dan jauh dari dunia mafia, tapi walaupun sejauh apapun kalau sudah terjun dari dunia mafia juga tidak mungkin benar-benar terbebas kecuali dia benar-benar mati.
"Nona muda..." gumam Fians mengagetkan lamunanku.
"Eeh iya ada apa?"
"Ini barang yang bisa menjatuhkan nona Putri, dia sangat terobsesi dengan tuan muda...kalau anda memberitahukan ini pasti dia tidak bisa berkata apapun." gumam Fians memberikanku beberapa foto Putri tidur bersama dengan beberapa ketua mafia tertinggi yang menjadi musuhku.
"Oh... bagus... bisa ku gunakan ini..." gumamku tersenyum dingin.
"Terimakasih Fians, kamu ikutlah kami diskusi..." gumamku pelan.
"Apa anda yakin?"
"Ya... kamu pastinya ingin melindungi Alan kan? Kalau begitu bantu aku menyempurnakan rencana ini..." gumamku memberikan beberapa lembar kertas, dengan cepat Fians memberikan saran dan ide yang sangat bagus untuk kami. Kecerdasan Fians hampir sama denganku, rencananya bisa di katakan sempurna dan jika aku menggabungkannya pasti akan menjadi rencana yang sangat sempurna. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Putri saat melihatku yang masih hidup setelah bertahun-tahun menyembunyikan identitasku.
__ADS_1