Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 57 : Penjelasan Masa Lalu Yang Mengejutkan


__ADS_3

"Permisi nona muda..." gumam mata-mataku di belakangku yang membuatku terkejut.


"Eeeh mmm, bagaimana hasilnya Caca Cici?" tanyaku menatap dua mata-mataku serius.


"Kami tidak menemukan apapun, tapi Cici menemukan sebuah berankas yang terkubur di tanah nona muda..." gumam Caca memberikanku berankas yang berukuran sedang dan di penuhi tanah.


"Berankas?" tanyaku bingung.


"Ya nona muda, coba nona muda cek..." gumam Caca serius, aku mencoba membuka berankas itu tapi tidak bisa terbuka.


"Apa hanya ini?"


"Ya hanya ini yang kami dapatkan nona muda."


"Oh makasih ya..." gumamku mencoba membuka berankas itu tapi kuncinya selalu salah.


"Astaga apa kodenya?"gumamku bingung.


"Kodenya...gabungan tanggal lahir kita..." gumam Lanlan terduduk di pagar balkon kamar.


"Ka...kamu? Kenapa kamu masih disini?" tanyaku terkejut.


"Memangnya aku tidak boleh kemanapun?" tanya Lanlan dingin.


"Caca Cici, masuklah kekamar jangan sampai dua orang itu terbangun..." gumamku pelan.


"Baik nona muda..." gumam Caca dan Cici masuk ke dalam kamar.


"Hmmm kenapa kamu bisa tahu kodenya?" gumamku dingin.


"Udah coba saja...13022212." gumam Lanlan mengambil gelas wineku dan meminum wineku.


"Hei itu gelasku tahu!"


"Biarlah, apa kamu keberatan?"


"Yalah aku keberatan, kita kan..."


"Sudah coba aja dulu kodenya..." gumam Lanlan menuangkan wine ke dalam gelas.


Saat aku mencoba membukannya tidak aku sangka berankas itu benar-benar terbuka.


"Bagaimana bisa kamu tahu kodenya?" tanyaku terkejut.


"Apapun berankas milik ayahmu atau ayahku pastinya berkode gabungan tanggal lahir kita."


"Apa kau kira aku percaya dengan ucapanmu?"


"Kalau tidak percaya, coba saja. Semua berankas penting milik ayahmu atau ayahku terkode gabungan tanggal lahir kita. Si kakek tua itu juga tahu kode berankas surat militer karena hanya dia dan aku yang tahu kode itu."


"Oh benarkah?" tanyaku tidak percaya.


"Terserah padamu mau percaya atau tidak..." gumam Lanlan santai.


"Lanlan sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?" tanyaku membuka satu persatu isi berankas milik ayah itu.


"Memangnya apa kamu kira kalau aku menyembunyikan sesuatu darimu?"


"Ya, instingku selalu berkata seperti itu..." gumamku pelan. Disalah satu dokumen yang ada di berankas aku melihat satu dokumen perjanjian ayah dengan seseorang bernama X tentang perjodohan empat anak perempuannya, dimana tiga perempuan kembar di jodohkan dengan tiga pria kembar dari keluarga Liu sedangkan satu perempuan berbeda keluarga akan di jodohkan dengan satu pria berbeda keluarga dari keluarga Liu."


"Tunggu dulu... empat anak perempuan?" tanyaku terkejut.


"Kamu tidak tahu kalau kamu empat bersaudara tiri?" tanya Lanlan menatapku bingung.


"Tidak, aku tidak tahu apapun..." gumamku mencari dokumen yang lainnya.


"Kau sama sepertiku Sani, sebenarnya kita sama-sama bukan anak kembar tapi kita anak tunggal dari ibu dan ayah yang berbeda dengan ketiga adik kita hanya saja mereka selalu mengatakan kalau kita kembar dengan salah satu adik tiri kita..."

__ADS_1


"Tunggu anak tunggal? Apa maksudmu?" tanyaku terkejut.


"Ya...pasti kau pernah di beritahu Alan tentang video tiga bayi benarkan?" tanya Lanlan pelan.


"Benar...kata dia, bayi perempuan itu..."


"Itu bukan kamu..."


"Tunggu apa!!" teriakku terkejut.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, ketiga adik kita tidak tahu apapun. Kita dulu lahir ditahun yang sama Sani tapi disaat kamu kecil ibu kandungmu dibunuh ibu tirimu ya bisa dikatakan wanita yang kau anggap ibu selama ini itu ibu tirimu..." gumam Lanlan yang membuatku benar-benar terkejut.


"Apa kau gila mengarang cerita?" protesku kesal.


"Kalau kau tidak percaya tanya tuh sama si kakek tua..." gumam Lanlan menunjuk tetua yang berdiri di samping Lanlan.


"Yang dikatakan Lanlan benar Sani, dari kamu kecil aku sudah mengurusmu karena kamu dari kecil selalu di siksa dan dihukum oleh keluargamu. Sebagai tetua mafia aku tidak tega melihat seorang anak perempuan yang disiksa diseumur hidupnya. Kau dengan Lanlan itu bernasib sama tapi Lanlan masih bisa memberontak dan menjadi keras kepala seperti saat ini akibat siksaan yang dia dapat, dan penyakit lupa ingatanmu itu terjadi karena siksaan yang sangat kejam membuat otakmu bermasalah yang membuatmu melupakan semua kecuali siksaan keluargamu..." jelas tetua yang membuatku benar-benar terkejut, kalau dipikir-pikir perkataan tetua benar, aku tidak ingat apapun kecuali siksaan keluargaku.


Aku menatap kosong berankas itu, aku benar-benar sakit jika teringat siksaan yang aku dapatkan dulu. Siksaan yang tidak tahu kenapa tapi aku bisa mendapatkan siksaan yang kejam di masa kecilku. Apalagi sekarang melihat kebenaran tentang diriku yang membuatku semakin terkejut.


"Ke...kenapa tetua baru memberitahukanku?" tanyaku pelan.


"Ayahmu yang memintanya, ayahmu tidak ingin kamu dendam dengan ibu tiri dan keluarganya yang menyiksamu habis-habisan, ayahmu sudah menduga kalau kamu bisa sangat hebat dari pada ketiga adik tirimu, jadi ayahmu takut kamu membunuh mereka semua. Tapi tidak aku sangka cucuku yang keras kepala ini yang membunuh keluarga besarmu."


"Kalau aku memiliki tiga adik tiri, siapa adik tiriku yang satunya?" tanyaku pelan.


"Namanya Siany dia sekarang dengan Sann dan Hassan, sebenarnya Sianylah yang menjadi istri Alan dan Alan pasti tahu akan hal itu. Tidak hanya Alan tapi seluruh orang di sekitarmu juga tahu apa yang terjadi pada keluargamu Sani...Kamu bukan anak kandung tuan Shin dan seharusnya marga kamu Shinju karena ibumu bermarga Shinju dan kamu sebenarnya adik tiri Fiyoni wakilmu itu sedangkan Lanlan bukan bermarga Liu tapi bermarga Kim dan Lanlan itu saudara tiri Soni Kim, San Kim dan Hasan Kim" gumam tetua yang membuatku terdiam.


"Tetua kenapa tetua menceritakan hal itu kepada Sani?" protes Fiyoni keluar kamar.


"Dia sudah dewasa, dia seharusnya tahu apa yang terjadi di masa lalunya."


"Tapi kan tetua, tuan Shin meminta hal itu disembunyikan dari Sani kalau tidak dia pasti..." gerutu Fiyoni kesal.


"Uuuhhhuukkk...uuuhhhuukkk..."


"Aduuuh benarkan ucapanku..." desah Fiyoni mencoba memberiku obat tapi aku menepisnya.


"Tidak perlu..." gumamku pelan.


"Tapi Sani..."


"Aku tidak apa..." gumamku mengatur nafasku.


"Tetua...kenapa tetua menyembunyikan ini semua?" tanyaku pelan.


"Itu permintaan ayahmu di surat militer ayahmu. Ayahmu tahu kamu akan menguasai mafia saat ini Sani, ayahmu takut kamu menjadi tidak peduli kepada keluarga Shin apalagi ayahmu bermarga Shin, ayahmu ingin kamu hidup rukun dengan ketiga adik tirimu."


"Apa karena itu?" tanyaku meminum wine di depanku.


"Ya karena itu, dan alasan Lanlan tidak mendapatkan jatah jabatan karena..."


"Aku bukan bermarga Liu...itu alasannya." gumam Lanlan dingin.


"Walaupun begitu Lanlan menjadi jenderal kemiliteran khusus, jabatan dua tingkat lebih tinggi dari Alan."


"Jenderal kemiliteran khusus? Apa itu?" tanyaku penasaran.


"Dia yang menjembatani antara mafia dengan militer dunia itulah kenapa Lanlan sangat ditakuti..." gumam Fiyoni menghidupkan rokoknya.


"Oh. Tapi tetua...kenapa... marga Shin masih di tulis di margaku?" tanyaku pelan.


"Karena ayahmu tidak mau melepaskanmu untuk keluarga Shinju, ayahnya Fiyoni sering memintamu menjadi anaknya tapi ayahmu menolaknya. Ibumu dengan Fiyoni itu sama hanya berbeda ayah saja."


"Aku...dengan Fiyoni?" tanyaku menatap Fiyoni terkejut.


"Ya begitulah..." desah Fiyoni membuang mukanya.

__ADS_1


"Oh...uuuhhhuuukkk...uuuhhhuukkk.." desahku pelan, aku mencari dokumen yang lainnya dan melihat akta kelahiranku yang dimana tertulis nama ibu kandungku Wulan Shinju, bahkan di berankas itu terdapat sebuah foto pernikahan awal anak perempuan dan anak laki-laki yang sama-sama memiliki mata merah.


"Apa ini aku dengan Lanlan?" tanyaku pelan.


"Ya...itu kamu dengan Lanlan. Ayahmu dan ayah kandung Lanlan yang menikahkan kalian berdua..."


"Ayah kandung Lanlan?"


"Tuan Kim ayah kandungku dan nyonya Liu itu ibuku..." gumam Lanlan pelan.


"Oh begitu ya...uuhhhuukk...uuuhhhuukkk..." desahku mengambil beberapa berkas yang penting dan menutup kembali berankas itu.


"Sani minum obatmu!" protes Fiyoni kesal.


"Tidak mau!"


"Kau dibilangin kok!"


"Jangan memaksa aku!!" protesku kesal.


"Kamu tidak boleh membantah kakakmu Sani!" gerutu Fiyoni kesal.


"Kakak ya...tumben kamu memanggilmu sebutan kakak."


"Mau menolak atau tidak aku kakak tirimu jadi menurutlah!" gerutu Fiyoni dingin.


"Kalau kenyataannya seperti itu ya sudah aku mengakuinya kok..." gumamku pelan.


"Kalau begitu minumlah!" gerutu Fiyoni memberikanku obat berwarna hitam dan aku mengambilnya.


"Tetua...siapa yang membuatkan obat ini?" tanyaku menatap obat itu.


"Tuan Shinju yang membuatkannya untukmu. Tuan Shinju ahli dalam hal pengobatan."


"Oh benarkah? Kenapa tuan Shinju memperdulikanku?" tanyaku pelan.


"Ayah menginginkan anak perempuan tapi tidak mendapatkannya tapi saat ibuku menikah dengan ayahmu membuat ayahku sangat sedih dan ingin menjadikanmu anak tapi ayahmu tidak mengizinkannya. Walaupun di tolak ayah tidak pernah menyerah, saat kamu memintaku menjadi wakilmu ayah sangat senang dan menyetujuinya. Ayah juga berharap agar aku bisa menjagamu dan menganggapmu adik kandungku sendiri..." gumam Fiyoni pelan.


"Oh begitu ya, nanti malam kita pergi ke keluarga Shinju Fiyoni..." gumamku pelan.


"Apa kau yakin?" tanya Fiyoni terkejut.


"Ya memang tidak boleh?"


"Boleh kok, bentar aku mengabari ayahku dulu..." gumam Fiyoni mengambil handphonenya.


"Tuh lihat Fiyoni sangat senangkan melihatmu mau berkunjung ke keluarga ibumu sendiri..." gumam tetua pelan.


"Ya aku tahu tetua..." gumamku pelan.


"Oh ya apa benar makam ayah dan ibuku ada di makan keluarga Liu?"


"Yang ada disana ibu tirimu, kalau ibu kandungmu ada dikeluarga Shinju."


"Oh mmm ayah yang kamu panggil ayahmu itu siapa Lanlan?" tanyaku pelan.


"Tuan Liu dan tuan Kim yang selalu aku panggil ayah, entah orang lain berfikir hanya tuan Liu tapi sebenarnya tuan Kim juga aku panggil ayah."


"Oh begitu ya..." desahku meminum obat ditanganku dan menatap hutan di depanku.


"Apa kamu mau bertemu dengan ayah?" tanya Lanlan serius.


"Kalau kamu tidak keberatan tidak masalah..." gumamku pelan.


"Baiklah, kalau kamu mau bilang saja aku akan menjemputmu..." gumam Lanlan memelukku erat.


"Iya aku tahu..." desahku pelan. Aku menundukkan kepalaku dan berfikir kalau bukan Alan yang menciumku pertama kali apa Lanlan yang melakukannya disaat pernikahan awal ya? Tapi kenapa dia bilang ciuman pertamanya diberikan kepadaku? Ciuman yang di malam itu atau saat pernikahan awal? Kenapa aku bisa tidak ingat apapun!

__ADS_1


__ADS_2