
Pagi ini aku terbangun dari tidurku, di sebelahku aku melihat Alan yang masih terbaring tertidur pulas di sampingku, aku memegang dahi Alan yang masih sangat panas. Aku mengganti air yang ada di ember dan mengompres Alan kembali.
"Apa kamu benar-benar sakit Alan?" gumamku pelan, aku segera mandi lalu membersihkan markas dan menyiapkan sarapan untuk Alan dan yang lainnya. Walaupun aku beberapa jam memasak tapi Alan belum saja bangun. Aku masuk ke dalam kamar dan melihat Fians berdiri di sebelah Alan, aku mendekatinya dan melihat Fians memegang lengan Alan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku penasaran.
"Eehh... mmm nona muda...ini aku sedang mengecek kondisi tuan muda."
"Bagaimana keadaannya?"
"Sudah agak membaik, denyut nadinya sudah kembali normal. Mungkin sebentar lagi tuan muda akan sadar nona muda."
"Apa obatnya harus terus diberikan?"
"Ya nona muda, tanpa obat itu mungkin nyawa tuan muda akan terancam, tubuhnya sangat lemah walaupun dia tidak selemah anda tapi bisa dikatakan tuan muda sangat lemah dari pada pria lainnya, kalau bisa saya meminta satu permintaan nona muda...."
"Permintaan apa?" tanyaku bingung.
"Tolong jaga tuan muda dan juga kesehatannya nona muda, umur tuan Alan tidak akan lama jika tuan muda terus tidak menjaga tubuhnya. Saya takut kalau penyakitnya tambah parah."
"Penyakit apa?" tanyaku terkejut.
"Pembekuan darah langka nona muda, menurut tuan Liu dahulu kalau anda di jodohkan dengan tuan muda karena darah kalian cocok dan tuan muda sangat membutuhkan darah anda untuk hidup, sudah bertahun-tahun lamanya tuan muda hanya terbaring lemah di tempat tidur sambil mencari keberadaan anda, saat tuan muda tahu keberadaan anda tuan muda tidak ingin bertemu karena tuan muda takut kalau anda tahu penyakitnya dan membuat anda meninggalkan tuan muda makanya tuan muda selalu mengawasi anda sampai anda menyadari kalau tuan muda mengawasi anda di hutan saat itu..."
"Darah kami cocok?" tanyaku terkejut.
"Ya nona, tuan muda butuh darah anda untuk hidup, sudah bertahun-tahun tuan muda hanya berbaring karena tuan muda sudah lama tidak mendapatkan darah dari anda. Setiap tuan muda menggigit anda, tuan muda selalu menghisap darah anda tanpa ketahuan anda. Kalau tidak menghisap darah anda mungkin tuan muda tidak bisa bertarung atau melakukan kegiatan lainnya..." jelas Fians yang membuatku terkejut.
"Oh begitu ya... terimakasih penjelasannya Fians."
"Mmm nona muda, apa anda akan meninggalkan tuan muda setelah tahu penyakitnya?" tanya Fians khawatir.
"Tidak, walaupun dia memiliki penyakit apapun aku tidak masalah, aku istrinya jadi aku akan menjaganya."
"Oh mmm syukurlah, baiklah saya permisi nona muda..." gumam Fians keluar dari kamar.
"Membutuhkan darah ya?" desahku membuka mulut Alan dan melukai lenganku.
"Kalau kamu menginginkan darah seharusnya kamu mengatakannya kepadaku...Alan..." desahku memejamkan kedua mataku.
Tidak tahu berapa lama aku tertidur tapi saat ini tubuhku sangat capek apalagi markas ini memiliki bangunan yang sangat besar membuatku capek membersihkannya.
Saat aku mulai sedikit sadar, aku merasakan ada seseorang yang mengusap rambutku lembut. Aku membuka kedua mataku dan aku terkejut ternyata aku tidur di paha Alan dan Alan terduduk sambil mengusap rambutku lembut.
"Selamat pagi istriku..." sapa Alan tersenyum manis kearahku, aku menatap lenganku yang aku lukai tadi telah terperban rapi.
"Mmmm...eeeh pagi? Kamu sudah sadar?" tanyaku terkejut.
"Ya makasih darahmu Sani...oh ya lain kali, jangan lukai tubuhmu demi aku. Aku tidak ingin kamu terluka karenaku."
"Tidak kok, aku tidak keberatan."
"Tidak boleh, kamu harus..." aku mendorong Alan dan menatap wajahnya serius.
"Aku istrimu dan aku juga tangan kananmu jadi memberikan darahku juga tanggung jawabku sebagai bawahanmu sekaligus istrimu."
"Tidak, aku..."
"Aku tidak perduli, yang penting kamu harus tetap hidup suamiku. Jangan bergadang setiap hari, kamu harus menjaga tubuh dan kesehatanmu, jangan karena aku...kamu harus kehilangan nyawa karena penyakitmu kambuh Alan!" protesku kesal.
"Ka...kamu tahu tentang penyakitku?" tanya Alan bingung
"Ya dan kamu tidak boleh melakukan hal bodoh lagi, kalau kamu ingin mati, aku akan mati bersamamu! Aku tidak ingin kehilanganmu...suamiku!" protesku kesal, aku meremas pakaian Alan dan menangis di pelukan Alan.
"Hmmm... apa Fians mengatakannya kepadamu?"
"Ya, kamu pingsan dipelukanku membuatku panik Alan. Badanmu sangat panas dan kamu terus mengigau, kalau Fians tidak memberikanku obat milikmu aku pasti tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kalau kamu membutuhkan sesuatu atau memiliki penyakit apapun bilanglah padaku, jangan kamu pendam sendiri." gumamku pelan.
__ADS_1
"Aku takut kamu meninggalkanku Sani, aku takut kehilanganmu, aku...."
"Alan dengar...aku dijodohkan denganmu, aku terikat denganmu, aku mencintaimu, mana mungkin aku meninggalkanmu hanya karena penyakitmu, aku juga berpenyakitan Alan tidak hanya kamu, aku juga dan kamu tidak mempermasalahkan penyakitku kan jadi buat apa aku mempermasalahkan penyakitmu!" ucapku serius.
"Apa kamu serius?" tanya Alan terkejut.
"Ya aku mengatakan yang sejujurnya, kalau kamu membutuhkan apapun katakan jangan kamu pendam sendiri Alan."
"Hmmm baiklah, terimakasih mau menerimaku Sani...aku benar-benar takut kamu meninggalkanku," desah Alan mengusap lembut rambutku.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukannya selama kamu menjaga hatimu untukku."
"Aku selalu menjaga hatiku untukmu sayang, aku tidak akan mengkhianatimu."
"Oh ya kenapa kamu masih setia kepadaku? Apa karena kamu membutuhkan darahku? Padahal kan banyak wanita yang menginginkanmu."
"Tidak juga."
"Lalu apa alasanmu Alan?"
"Alasannya...karena aku mencintaimu Sani. Memang banyak yang menyukaiku tapi aku dari dulu mencintaimu Sani, tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisimu di hatiku."
"Oh benarkah? Aku tidak menerima gombalan Alan."
"Aku mengatakan yang sejujurnya Sani, tidak ada gunanya aku menggombal." gumam Alan memeluk tubuhku kuat.
"Baik...baik aku mengerti." gumamku berusaha melepaskan pelukan Alan tapi Alan memelukku erat.
"Lepaskan Alan!"
"Kamu mau kemana?" gumam Alan menatapku dingin.
"Ka...Kamu memelukku kuat, aku tidak bisa bernafas tahu!"
"Oh mmmm maaf..." desah Alan melepaskan pelukannya dan berbaring di sampingku.
"Astaga aku tidak kemana-mana Alan."
"Aku tahu, kamu habis membersihkan seluruh markasku pasti kamu capek makanya kamu disini saja tidur bersamaku."
"Aku sudah tidur tadi. Aku harus...uuuhhhuukkk... uuuhhuukkk.."
"Kamu kenapa sayang?" tanya Alan khawatir.
"Tidak apa kok,"
"Apa penyakitmu kambuh?"
"Tidak kok...Waaan..."teriakku kencang dan muncul bawahanku.
"Iya nona muda..."gumam Wan memberikan obat milikku.
"Terimakasih..." gumamku meminum obat itu.
"Sani kenapa Wan?" tanya Alan khawatir.
"Tidak ada apa-apa tuan muda, hanya kalau nona muda kecapekan nona muda biasanya batuk tuan muda."
"Bukan karena penyakitnya kambuh kan?"
"Tidak tuan muda, penyakit nona muda kambuh maka nona muda akan panas, badannya akan pucat dan terus terbatuk tanpa henti tuan muda. Jika penyakitnya lama tidak diobati nona muda akan sesak nafas dan pingsan tuan muda."
"Apa ada obatnya?"
"Ada tuan muda."
"Nanti beritahu aku ya Wan.."
__ADS_1
"Baik tuan muda, saya permisi tuan muda, nona muda..." gumam Wan keluar kamar.
"Kamu kenapa nampak khawatir Alan."
"Kamu istriku bagaimana aku tidak khawatir."
"Tenang saja, penyakitku jarang kambuh kok."
"Kenapa penyakitmu bisa kambuh?"
"Kalau aku kecapekan dan memikirkan sesuatu di otakku."
"Kalau begitu, kamu harus menjaga tubuhmu sayang."
"Ya aku tahu jangan khawatir, yang terpenting kamu harus menjaga kesehatanmu Alan."
"Selama kamu disampingku aku akan melakukannya."
"Aku akan selalu disampingmu Alan. Oh ya waktunya kamu minum obat."
"Tidak mau."
"Jangan kayak anak kecil Alan!" gerutuku kesal.
"Aku tidak mau, obatnya sangat pahit, aku tidak pernah mau meminum obat."
"Hmmm kamu ini sangat nakal ya Alan..." desahku memasukkan obat itu dan segera mencium Alan sambil memasukkan obat itu di mulutnya.
"Mmmppp...uuuhhuukk...uhhuukkk...apa kamu ingin membunuhku?" gerutu Alan segera minum air putih di tanganku.
"Udah jangan ngambek...kalau ngambek aku pergi nih."
"Eehh...baik-baik aku gak ngambek lagi..." desah Alan kembali memelukku.
"Hmmm baguslah, kalau ingin tidur...tidurlah sayang."
"Nanti saja, aku harus pergi setelah kamu tidur."
"Pergi kemana?"
"Ada rapat, jadi tidurlah sayang."
"Tidak boleh kamu sedang sakit, jadi kamu harus istirahat dulu."
"Tidak bisa sayang, aku benar-benar ada..."
"Kalau kamu tidak mendengarkanku, aku akan pergi tanpa sepengetahuanmu."
"Haish kamu ini selalu mengancamku Sani."
"Biarlah, aku istrimu dan aku tangan kananmu, buat apa aku disini sedangkan kamu sibuk sendiri. Kamu butuh istirahat Alan kalau kamu tidak menjaga kesehatanmu nanti kamu mati gimana? Apa kamu memang ingin meninggalkanku?" protesku kesal.
"Hmmm baik-baik, aku akan istirahat. Tapi setelah itu aku rapat ya?"
"Ya, kamu boleh berbuat apa terserah kamu tapi kalau kamu bersamaku."
"Baiklah, kalau kamu tidak keberatan kamu boleh ikut denganku."
"Aku tidak keberatan, itu tugasku sebagai tangan kananmu Alan."
"Hmmm ya aku tahu istriku..." desah Alan menciumku lembut.
"Ya sudah kamu tidurlah setelah itu makan, mengerti!"
"Aku mengerti sayang...." desah Alan menutup kedua matanya dan tertidur pulas.
"Hmm kamu sangat tampan Alan, jangan sakit mulu ya, aku sangat khawatir kamu kenapa-napa..." desahku pelan, aku mengusap lembut pipi Alan dan kembali tertidur, obat yang aku minum benar-benar membuatku sangat mengantuk, kalau aku tidak segera minum obat mungkin penyakitku akan kambuh dan Alan akan sangat khawatir apalagi aku tidak mau dia khawatir tentang keadaanku.
__ADS_1