Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 69 : Pembicaraan Dengan Tuan Shinju dan Tuan Kim


__ADS_3

Aku menatap kristal itu dan mengusapnya, aku menatapnya serius dan melihat ada bekas darah yang tersisa di sela-sela patahan kristal itu. Aku mencoba mengambil bekas darah itu tapi mungkin karena sudah menempel terlalu lama membuatnya tidak bisa diambil.


"Apa yang kamu lihat Sani?" tanya Tuan Shinju menatapku bingung.


"Mmm ini ayah, kenapa ada bekas darah?"


"Oh itu darah Tian."


"Darah kakak? Kenapa bisa ada disini?" tanyaku terkejut.


"kristal itu dulunya adalah sebuah kristal yang berbentuk seperti berlian, dulu kristal itu milikku sebagai kado ulang tahun ibumu. Ayah dulu memberikan dua kristal untuk ibumu tapi ibumu memberikannya kepada kedua anak laki-lakinya, yang satu diberikan kepada Fiyoni dan yang satu di pakai oleh Tian."


"Tapi, kenapa kristal ini bisa patah ayah?"


"Dulu... kakakmu bertengkar hebat dengan Tuan Shin,saat itu Tuan Shin menganggap semua pemberian ibumu harus di musnahkan termasuk kristal itu agar Tian menurut dengan tuan Shin, tapi Tian sama sekali tidak mau melepaskannya dan bekas darah itu adalah bekas darah saat dia terluka parah di kepala..." gumam tuan Shinju meminum teh hijau di atas meja.


"...aku ingat saat itu badai salju melanda, tiba-tiba Tian datang ke rumah dengan wajah yang penuh luka dan darah yang tidak berhenti menetes. Aku bilang ingin mengobatinya tapi dia selalu menolak dan hanya bilang...ayah, jaga Sani ya dan berikan ini padanya. Jika suatu hari nanti dia sudah dewasa beritahu dia kalau aku akan selalu menunggunya dan akan sangat-sangat mencintainya...dan yaaah dia memberikan kalung itu dan memintaku mengubah nama marganya menjadi Khun."


"Khun? Kenapa tidak Shinju?" tanyaku terkejut.


"Khun adalah marga ibumu yang asli, nama Shinju diambil setelah menikah denganku. Aku menawarkan marga Shinju tapi dia bilang kalau dia akan mengganti marganya kalau kamu sebagai adiknya mau mengganti marganya juga."


"Aku..." gumamku pelan.


"Dari dulu kakakmu sangat menyayangimu, dia pernah menyuruh Lanlan untuk menjagamu selama dia pergi tapi Lanlan terus menolaknya. Dan aku ingat kata Tian kalau sampai Sani terluka Tian akan benar-benar marah besar kepada Lanlan..." ucap Tuan Kim terduduk di depanku sambil membawa sebuah kotak.


"Oh kata-kata yang itu ya... ya aku ingat..." gumam Lanlan merangkulku erat.


"Kalau dilihat-lihat walaupun kamu memakai kalung miliknya tapi ayah yakin dia tidak akan langsung mengakuimu, aku yakin dia akan mengujimu apalagi dia sangat keras kepala dan sangat membenci orang yang sangat lemah, ya mirip dengan Lanlan itu..." gumam Tuan Shinju serius.


"Ya aku juga berpikir begitu, jadi karena kamu juga termasuk keluarga Kim maka aku akan memberikanmu senjata milikku menantuku!" ucap Tuan Kim memberikanku kotak hitam panjang. Aku membuka kotak itu dan terkejut melihat sebuah pedang yang sangat langka, pedang yang bisa menjadi sangat mematikan jika penggunaannya benar.


"Kak Fiyoni, ini kan..." gumamku terkejut.


"Ya pedang yang kamu inginkan sejak dulu Sani..." ucap Fiyoni santai.


"Oh kamu memang menginginkannya ya? Baguslah, pakai saja. Lanlan tidak mau memakainya."


"Aku tidak terlalu ahli dalam hal racun ayah!" protes Lanlan kesal.

__ADS_1


"Ya ayah tahu, makanya ayah berikan kepada Sani. Ayah sudah tua untuk menggunakannya, apalagi ayah lihat dua senjata Sani terlihat sudah lapuk dan berkarat karena dimakan usia."


"Mmm eeehh mmm terimakasih ayah.." gumamku menundukkan badanku ke arah tuan Kim.


"Baiklah mari kita kembali ke pesta apalagi ini masih termasuk pesta ulang tahun tuan Kim, di pesta ada banyak keluarga Mafia jadi kalian harus berhati-hati takutnya ada mata-mata yang berkeliaran..." gumam Tuan Shinju beranjak dari kursinya.


"Ya benar, jangan sampai terluka ya..." gumam Tuan Kim berjalan mengikuti tuan Shinju dari belakang. Sedangkan aku, Lanlan dan Fiyoni mengikuti mereka dari belakang.


"Oh ya ayah, apa jadi pertemuan keluarga itu?" tanya Fiyoni pelan.


"Ya bentar lagi."


"Eeh pertemuan apa?" tanyaku bingung.


"Pertemuan rutin tiap tahun, karena kamu tidak pernah ikut jadi Siany yang selalu menggantikan kedudukan ayahmu..."


"Lalu... kalau keluarga Shinju?" tanyaku pelan.


"Aku yang selalu menggantikannya..." gumam Fiyoni santai.


"Lalu... keluarga Khun?" tanyaku serius.


"Seorang pria bertopeng, dia tidak pernah mau melepaskan topengnya. Walaupun di paksa seperti apapun dia tetap tidak mau membukanya." ucap Fiyoni pelan. "Pria yang tidak mau melepaskan topengnya? Jangan-jangan kakak lagi.." gumamku dalam hati.


"Tapi kan anakku..."


"Sani mohon ayah!!" gumamku terus memohon.


"Haish, baiklah... apa kamu tahu selalu ada perdebatan di pertemuan itu? Apa kamu punya rencana?" tanya tuan Shinju serius.


"Perdebatan?"


"Ya, setiap keluarga memiliki masalah sendiri dan apalagi masalah rencana perang dunia dari Lin Shi itu yang membuat banyak keluarga yang memiliki pendapat sendiri-sendiri jadi kalau kamu tidak bisa biar aku saja!" gerutu Fiyoni dingin.


"Kakak gak bisa berdebat jadi biar aku saja weeelllkk!" gerutuku menjulurkan lidahku.


"Ka...kamu selalu menyindir kakakmu!" gerutu Fiyoni kesal.


"Haish baiklah, tapi kalau ada yang mengajakmu bertarung kamu harus mundur tahu, Fiyoni selalu kalah jika bertarung dengan pria dari keluarga Khun itu!" ucap tuan Shinju serius.

__ADS_1


"Tenang saja ayah, Sani tidak akan kalah kok. Apalagi Sani ingin mencoba kehebatan perwakilan keluarga Khun saja..." gumamku mencoba tersenyum manja


"Hmmm baiklah... mari kita kepesta saja dulu, ruangannya sedang di persiapkan jadi nikmati saja pestamu anakku..." gumam tuan Shinju mengusap lembut rambutku.


"Baik ayah..." gumamku menarik tangan Lanlan pergi ke pesta terlebih dahulu.


"Pelan-pelan sayang!" protes Lanlan yang berusaha menyimbangkan tubuhnya, aku melambatkan langkahku dan menatap Lanlan serius.


"Sayang, saat berdebat... jangan ikut-ikut okey, aku ingin memastikan sesuatu."


"Memastikan apa? Pria dari keluarga Khun itu?"


"Ya benar."


"Kenapa kamu ingin tahu? Apa kamu kira dia kakakmu?"


"Benar, aku ingat tuan Khun sudah lama meninggal dan sampai sekarang tidak tahu siapa gantinya. Apalagi kamu tahukan kalau keluarga Khun itu sangat misterius?"


"Mmm benar juga sih, tapi kan..."


"Ayolah, kalau dia benar-benar kakakku dan aku benar-benar bertarung dengannya maka ini adalah suatu keuntungan bagiku."


"Keuntungan?" tanya Lanlan bingung.


"Ya, aku jadi bisa membuat rencana untuk meluluhkan kakakku sendiri jadi tugas itu bisa aku lakukan dengan mudah..." gumamku serius.


"Hmmm baiklah aku tahu sayang. Baiklah aku ijinkan tapi jangan sampai terluka ya."


"Baiklah aku mengerti."


"Ya sudah ayo kita makan dulu istriku..." gumam Lanlan menarikku pergi ke pesta.


Di pesta aku terduduk di meja makan dan melihat Lanlan membawa sebotol minuman dan dua piring makanan ditangannya.


"Ini makanlah sayang."


"Kamu bisa membawa makanan dan botol itu dengan dua tangan saja?"


"Ya aku sudah biasa, udah makanlah sayang sebentar lagi pertemuan akan dimulai."

__ADS_1


"Oh mmm baiklah..." desahku memakan makanan itu.


Selama aku makan aku berusaha memikirkan rencanaku untuk memojokkan pria itu agar dia mau bertarung denganku agar aku tahu identitasnya, walaupun aku tidak tahu wajah kakakku tapi dengan foto keluarga yang aku foto itu bisa menjadi bekal untukku mengenali kakak kandungku itu.


__ADS_2