
"Hei kalian malah enak-enakan disini!" gerutu Tian berjalan dengan Fiyoni yang membuatku terkejut tapi Lanlan masih dengan santai menciumku.
"Heeii kalian!" gerutu Tian kesal. Lanlan melepaskan ciumannya dan mengusap lembut rambutku.
"Ada apa?" tanya Lanlan dingin.
"Ku panggil dari tadi gak di peduliin!" gerutu Tian kesal.
"Ya salah sendiri kau mengganggu aku yang sedang asik bermanja dengan istriku!" gerutu Lanlan dingin.
"Di suasana seperti ini kau masih saja menyempatkan bermanja dengan wanita apalagi dengan adikku lagi!"
"Biarlah, dia istriku lagi pula sejak kapan aku bermanja dengan wanita."
"Oh ya kah? Bukannya dulu kau selalu bermanja dengan Siany ya sampai-sampai kau..." ucap Tian keras, aku mendengarkan dengan serius perdebatan mereka tapi saat Tian mengatakan sesuatu dengan wajah serius, Fiyoni langsung membungkam mulut Tian yang dengan tangan kanannya.
"Haish kau masih saja seperti anak-anak Tian!" gerutu Fiyoni dingin. Tian berusaha melepaskan tangan Fiyoni dan menatap Fiyoni dingin.
"Heei kau membuatku tidak bisa bernafas tau!" gerutu Tian kesal.
"Biarinlah, lagian kau hampir mengatakan hal yang sangat tidak penting tahu!" gerutu Fiyoni kesal.
"Apa? Kenapa juga? Itu yang sebenarnya terjadi ya!!!" gerutu Tian kesal.
"Apa itu kak Tian?" tanyaku penasaran.
"Itu si Lanlan..."
"Tidak ada apa-apa, jangan hiraukan dia. Kakakmu agak gila beberapa hari ini!" ucap Fiyoni memotong ucapan Tian sedangkan Tian menatap Fiyoni kesal.
"Benarkah? Apa ada yang kalian bertiga sembunyikan dariku?" tanyaku dingin.
"Tidak ada sayang, hanya sebuah masa lalu yang tidak perlu di bahas..." gumam Lanlan mengusap lembut rambutku.
"Apa itu?" tanyaku dingin.
"Masalah masa lalu jadi tidak perlu di bahas."
"Beritahu aku!" gerutuku kesal.
"Huusstt sayang dengar, kamu sedang hamil dan kita ada di pesta... nanti kalau sudah waktunya aku akan mengatakannya padamu."
"Kenapa harus nanti kalau sudah waktunya?" tanyaku serius.
__ADS_1
"Aku tidak mau kamu kesal dan meninggalkanku... hanya itu yang aku takutkan."
"Emang apa yang kau lakukan dimasa lalu dengan Siany?" tanyaku pelan.
"Sebenarnya tidak ada, hanya saja aku dulu benar-benar seperti seorang pria yang tidak bisa lepas dari wanitanya. Aku dulu sangat mencintai Siany, kemanapun aku harus dengannya dan apapun yang terjadi aku selalu melindunginya. Berlatih atau tidurpun selalu dengannya..." ucap Lanlan menggenggam erat tanganku.
"... Siany sering mengajakku berhubungan layaknya sepasang suami istri tapi aku tidak bisa melakukannya, setiap aku berniat melakukannya tidak tahu kenapa dadaku terasa sakit dikarenakan cincin ini. Saat itu karena rasa cintaku dan rasa inginku memiliki Siany begitu dalam akhirnya aku memutuskan memaksa diriku melakukannya. Tapi belum sampai benar-benar melakukannya, tiba-tiba Tian datang dengan wakilnya memergoki kami dan memarahiku habis-habisan bahkan sampai semua orang yang mengetahui hubunganku denganmupun selalu memarahiku apalagi dulu kakek dan ayah juga memberiku hukuman saat itu yang membuatku benar-benar menderita..." gumam Lanlan menundukkan kepalanya.
"Heeeh... ternyata kau masih ingat masalah itu!" gerutu Tian dingin.
"Hei kau kenapa menceritakan semuanya yang seharusnya tidak dia tahu!" protes Fiyoni dingin sedangkan Lanlan hanya terdiam sambil terus menundukkan wajahnya.
"Biarlah, biar Sani tahu bagaimana kelakuan suaminya di masa lalu!" gerutu Tian dingin sedangkan Lanlan hanya terdiam.
"Kau sebagai kakak kandungnya seharusnya tidak...." gerutu Fiyoni kesal, tiba-tiba ada bawahan tuan Shinju yang memberi kode kepada Tian dan Fiyoni yang membuat ucapan Fiyoni terhenti.
"Oh baiklah...Oh ya aku lakukan ini karena Sani adik kandungku dan aku tidak terima jika adikku di sakiti seperti itu, kalau saat itu Lanlan memiliki anak dengan Siany otomatis Sani akan dengan Elang dan kau tahu kalau aku dengan Elang benar-benar tidak pernah akur!" gerutu Tian berjalan pergi keluar kamar.
"Ya aku tahu, dari kecil kalian selalu bertengkar seperti tikus gemuk yang dikejar kucing yang kelaparan aja..." gumam Fiyoni menutup pintu kamar dan meninggalkan kami berdua.
Aku menatap tangan Lanlan terus menggenggam erat tanganku sedangkan kepalanya masih saja menunduk ke bawah. "Jika tidak menjadi istri Lanlan pasti akan menjadi istri Elang ya?" tanyaku dalam hati.
"Kamu sudah tahu kan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, aku memang bersalah padamu, aku dulu memang bodoh dan selalu mementingkan emosiku dan egoisku, tapi saat ini aku...aku takut... benar-benar takut kehilanganmu..." gumam Lanlan menggenggam erat lengan kananku sampai benar-benar memerah.
"Ka...kamu tidak marah?" tanya Lanlan terkejut.
"Tidak, aku masalah berterimakasih padamu karena sudah mau jujur padaku..."
"Berterimakasih? Kenapa kamu malah berterimakasih padaku? Kalau wanita lain pasti akan marah besar karena..."
"Kan sudah aku katakan kalau itu masa lalu dan aku lebih suka kalau aku mendengarnya hal pahit atau manis dari orangnya langsung dari pada orang lain yang mengatakannya akan terasa sangat sakit..." gumamku menundukkan kepalaku dan Lanlan langsung memelukku erat.
"Maafkan atas masa laluku sayang, aku benar-benar bodoh hampir melakukannya."
"Tidak apa, aku maafkan kok."
"Benarkah? Terimakasih sayang."
"Tidak perlu berterimakasih padaku, kamu tidak bersalah tapi aku yang seharusnya minta maaf kepadamu, kalau aku dulu tidak membunuh ibumu pasti kamu tidak akan membenciku dan juga pastinya kamu tidak akan mencintai wanita itu..." gumamku memainkan kancing pakaian Lanlan.
"Sudahlah sayang, itu masa lalu... lagi pula yang salah ibu kalau saja... mmmm sudahlah jangan merasa bersalah sayang, kita sama-sama bersalah dan kamu memaafkanku jadi aku juga memaafkanmu istriku..." gumam Lanlan mencium dahiku lembut.
"Mmm terimakasih suamiku."
__ADS_1
"Oh ya sayang... besok malam kamu ada pertemuan dengan pemimpin mafia tertinggi kan?"
"Ya, apa kamu jadi ikut?" tanyaku pelan.
"Iya tapi aku tidak ikut di pertemuan, aku hanya menunggumu di luar dengan kakek kecuali aku di ajak kakek dan pemimpin mafia tertinggi masuk ke dalam pertemuan itu."
"Oh begitu ya..." desahku merangkul erat leher Lanlan.
"Ada apa sayang?" tanya Lanlan pelan.
"Tidak ada, aku hanya capek saja."
"Baiklah mari kita pergi sayang, kamu bisa istirahat di pesawat nantinya..." gumam Lanlan menggendongku keluar dari kamar.
"Pergi sekarang? Apa kamu tidak capek?"
"Tidak, selama denganmu capekku benar-benar hilang kok sayang."
"Oh begitu ya... mmm sayang aku mau tanya hmmm kalau aku dengan Elang itu apa yang akan terjadi?" tanyaku penasaran.
"Apa kamu ingin dengan Elang?" tanya Lanlan mengerutkan alisnya.
"Tidak, hanya penasaran saja dengan apa yang akan terjadi saja."
"Akan ada pertarungan antara kakakmu dan Fiyoni dengan Elang apalagi disisi lain Hassan Shi akan bertarung dengan kita semua, ya intinya seperti itu.."
"Oh mmmm aku belum tahu kekuatan kakak yang sebenarnya sih."
"Dia termasuk mafia terkuat dan setara denganmu masa kamu tidak tahu?"
"Tidak, aku hanya tahu mafia terkuat hanya mereka kecuali kakak saja sih."
"Mmmm ya mungkin setelah dia marah besar padaku karena masalah masa lalu itu membuatnya pergi tanpa jejak sama sekali, kalau bukan karena kamu dan bawahanmu mungkin kami akan salah tangkap saat itu, tapi aku kagum padamu kenapa kamu bisa memancing Hassan Shi agar dia menampakkan wajahnya dan mengakui semuanya?" tanya Lanlan penasaran.
"Aku kenal kak Hassan Shi sejak kecil dan dengan informasi mata-mataku membuatku bisa mengerti apa yang diinginkan kak Hassan Shi, udah itu aja."
"Hanya itu?" tanya Lanlan terkejut.
"Ya... hanya itu...hoooaaammm" desahku sambil menguap.
"Baiklah aku mengerti, kalau mengantuk tidurlah sayang..." gumam Lanlan tersenyum manis padaku.
"Ya kak Lanlan..." desahku menutup kedua mataku.
__ADS_1
Peperangan ya? Peperangan seperti apa maksudnya aku benar-benar tidak mengerti, apalagi kekuatan Tian, Elang, Lanlan dan Hassan Shi yang saat ini benar-benar membuatku benar-benar penasaran, walaupun aku tahu Lanlan seperti apa tapi aku tidak yakin kalau kekuatan Lanlan benar-benar seperti itu.