Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 24 : Sedikit Memberi Pelajaran


__ADS_3

Aku menundukkan kepalaku, aku masih tidak percaya dengan semua yang aku dengar dari kakak seperguruanku ini. Tapi bagaimanapun juga aku harus membalaskan dendam ini...


"Kakak seperguruan... Siapa yang ikut membunuh keluargaku?" gumamku pelan


"Seluruh anggota 10 anggota mafia terkuat dan juga Sasha"


"Oh begitu ya? Apa tetua tahu masalah ini?"


"Tetua tahu, tapi tetua tidak mau memberitahukannya kepadamu"


"Kenapa?"


"Karena kamu orang yang sangat dilindungi oleh tetua, tetua tidak mau kamu gegabah dan malah memberi umpan di jebakan lawan sehingga kamu yang terjebak di perangkap"


"Tapi kan tetua belum pernah bertemu dengan kakak?"


"Ya benar, tapi Han Lee yang sering bertemu dengan tetua"


"Apa ada hubungannya perang ini dengan membunuhku?"


"Ada... Perang ini ingin membunuhmu dengan Sony sedangkan di tujuan dari 10 mafia tertinggi itu ingin membunuhmu saja karena Sony juga ikut ..."


"Hmmm ... Apa kakak seperguruan punya bukti?"


"Bukti? Hari ini ada rapat 10 anggota mafia terkuat dan Sasha serta Hyung ada disana juga"


"Rapat apa? Kenapa aku tidak di ajak?" protesku kesal


"Kan tujuan rapat ini untuk mencari cara membunuhmu Sani"


"Oh.. Jadi kalian juga ikut?" desahku pelan


"Kami di undang tapi sebelumnya kami tidak diundang. Jadi setelah kamu melakukan penyerangan kepada Hyung dan membunuh Bram banyak ketua mafia yang khawatir selanjutkan itu mereka jadi mereka ingin segera membunuhmu dengan bantuan kami" gumam Hasan menatapku


"Kalau begitu bunuh aku saja..." gumamku menyerahkan pedangku kepada Hasan


"Kenapa kamu ingin aku membunuhmu?" tanya Hasan terkejut


"Kan kalian ingin membunuhku.."


"Walaupun kami diundang kami juga belum tentu setuju" gumam Hasan mengembalikan pedangku


"Kenapa kakak seperguruan belum tentu setuju?"


"Kamu orang terpenting bagiku, aku tidak ingin kamu terluka Sani..." gumam Hasan memeluk tubuhku


"Kalau kamu tidak percaya kami akan mengajakmu" gumam Han Lee menatapku serius


"Oh baiklah.." desahku menyiapkan senjataku


"Tapi Sani kamu harus menyamar jadi kamu hanya perlu berakting saja" gumam Hasan menarikku berdiri


"Berakting apa?"


"Ya kamu jadi bawahanku, karena aku ketuanya jadi mungkin kamu akan berdiri di belakangku"


"Oh baiklah, lalu siapa ketua rapat malam ini?"


"Steven, ketua mafia darah biru"


"Oh begitu ya... Tapi aku ingin melakukan sebuah pertunjukan kecil dengan cara menyamar, anggap saja kakak seperguruan tidak mengenalku"


"Emang kamu mau melakukan pertunjukan apa?" tanya Hasan terkejut


"Kakak seperguruan akan tahu sendiri"


"Hmmm kamu ini suka banget kalau disuruh menyamar"


"Ya itu keahlian mafia penguasa" gumamku santai


"Tapi sebelum itu, ini obatmu" gumam Hasan melemparkan lima botol obat untukku


"Kakak memberikanku obat?"


"Ya, minum itu kalau penyakitmu kambuh" gumam Hasan berjalan mendahuluiku


"Oh baiklah, emang kakak yang paling pengertian" gumamku memuji Hasan


Aku mengikuti Hasan dan Han Lee masuk ke dalam hutan yang lebih dalam lagi, aku menarik tali rambutku dan memakai penutup kepala, aku juga menyembunyikan pedang dan samuraiku di dalam jubah sedangkan tanganku memegang sebuah pistol dan jarum beracun di tangan kiriku sehingga orang lain tidak menyadari kalau itu aku


Tidak lama kami berjalan aku melihat sebuah perkemahan di tengah hutan, banyak anggota mafia yang berjaga di sepanjang jalan bahkan di pintu masuk kami di periksa serius oleh anggota mafia. Setelah melewati pemeriksaan itu kami bertiga masuk ke dalam tenda perkemahan yang berdiri di tengah - tengah area perkemahan.


Sebelum masuk ke dalam tenda itu aku melemparkan jarumku dan semua anggota mafia yang menjaga tempat itu tewas dengan tenang dan ketiga bawahanku langsung membersihkan area perkemahan dari mayat - mayat itu dengan secepat mungkin


Di dalam tenda itu aku melihat banyak sekali 10 mafia tertinggi yang hadir dan 20 mafia tertinggi yang hadir di tenda itu bahkan Tony, Angel, Ryuki, Sony, Sasha dan Hyung ada di dalam juga. Tidak aku duga orang yang aku selamatkan ternyata malah ingin membunuhku


"Kamu harus bersabar ..." bisik Han Lee di telingaku


"Ya aku tahu, aku punya rencanaku sendiri" gumamku santai


"Baiklah, semua orang sudah hadir kan?" gumam Steven memakai jubah yang mirip denganku. Hmmm kesempatan emas...


"Untuk strategi kita kedepannya untuk membunuh Sani bagaimana?  Bram dan Hyung yang terkuat diantara kita saja tidak mampu melakukannya" desah Steven pelan


"Ya dia sekarang semakin kuat.." gumam Hyung pelan

__ADS_1


"Aku memberikan kesempatan Hyung untuk melukaiku agar dia bisa membunuh Sani malah dia yang terluka" gumam Sony kesal


"Kan sudah aku bilang sebelumnya... Kita tidak akan mungkin menang melawan Sani kalian tidak percaya" sindir Ryuki dingin


"Bilang saja kamu takut melukainya karena  kamu menyukainya" sindir Nara Zenn dingin


"Ya memang, aku menyukainya. Itulah alasanku tidak ikut membunuh keluarga besarnya" gumam Ryuki dingin. "Ternyata Ryuki tidak ikut penyerangan itu ya, tapi kenapa dia ada disini?" gumamku dalam hati


"Kalau kamu bukan mafia tertinggi ke 4, sudah kami bunuh kamu" sindir Sony kesal


"Halah kalau bukan perang dunia bertujuan membunuhmu kamu juga tidak ingin ikut melakukannya?" sindir Ryuki dingin


"Ya benar...Tapi apapun itu kamu musuhku" gumam Sony mengarahkan pedangnya kearah Ryuki


"Bilang saja kamu ingin mengajakku bertarung untuk memperebutkan Sani" sindir Ryuki dingin mengarahkan pedangnya kearah Sony


"Mari aku ladeni kamu" gerutu Sony dingin


"Hei kalian berdua malah berantem!!" protes Sasha kesal


"Bukan urusanmu!!!"


"Sudahlah kalian berdua" desah Tony dingin


"Jadi bagaimana ini kita tidak tahu kelemahan Sani"


"Sani memiliki penyakit dalam, penyakitnya sedang kambuh saat ini setelah melawan Hyung" gumam Sony dingin


"Oh benarkah? Itu kesempatan yang bagus, penyakitnya jarang banget kambuh" desah Taka Zenn pelan


"Baguslah, kita bisa menyerangnya saat penyakitnya kambuh" gumam Sasha dingin


"Waah ide yang bagus.."


"Baiklah itu rencana yang bagus apalagi Sani tidak memiliki obat untuk menyembuhkan penyakitnya" gumam Steven dingin


"Siapa yang akan menyerangnya?" tanya Moi pelan


"Kita bersamaan saja, kalau hanya beberapa orang akan kesulitan" gumam Steven dingin


"Nah betul juga..."


"Ya setuju.." teriak semua orang tertawa


"Hmmpp tertawalah kalian saat ini..." gerutuku kesal dalam hati, aku membuka botol obat dari Hasan dan meminumnya dengan sembunyi - sembunyi


"Setelah mengalahkan Sani kita harus membunuh si tua bangka mafia pusat itu.." gumam Sasha dingin


"Tanpa Sani tetua mafia itu tidak berdaya... Jadi kita fokuskan saja membunuh Sani.." gumam Hyung dingin


"Ya betul nanti setelah itu kita akan berpesta ..." teriak Steven senang


"Hmmmppp..." desahku kesal, aku melemparkan satu jarumku ke arah perut Steven


"Aduuhh..." rintih Steven pelan


"Kamu kenapa?" tanya semua orang terkejut


"Perutku sakit.."


"Kebanyakan minum kamu mungkin, ke kamar mandi sana!!" protes Sasha dingin


"Ya mungkin saja sih" gumam Steven keluar dari perkemahan itu


Selama berjam - jam Steven tidak masuk ke dalam tenda itu yang membuat semua orang yang ada di dalam khawatir


"Kenapa si Steven lama banget?" gerutu Sasha kesal


"Ya namanya sakit perut pasti lama lah"


"Tapi gak selama ini, hei kalian para bawahan pergi cari Steven..." protes Sasha kesal dan semua orang yang dari tadi berdiri pergi dari tempat itu. Aku melihat Han Lee yang bergegas pergi langsung aku cegah dengan cepat


"Biar aku saja, anggap kalian tidak mengenaliku" bisikku pelan dan pergi dari tenda itu


Di lingkungan perkemahan kami semua mencari Steven, ada yang meneriaki namanya ada yang berkeliling sekitar perkemahan. Melihat mereka sibuk sendiri - sendiri aku langsung membunuh satu persatu bawahan mereka dengan pedang dan samuraiku


"Roy, Zaki, Wan bersihkan area ini" gumamku dingin


"Baik nona muda..." gumam ketiga bawahanku langsung membersihkan area perkemahan


"Hmmm... mau main - main denganku ya" gumamku dingin


Aku menutup wajahku dengan penutup kepala yang ada di jubahku dan berusaha menjadi Steven. Aku masuk ke dalam tenda dan terduduk di kursi Steven


"Nah akhirnya datang juga" desah Sasha kesal


"Maaf..." gumamku berusaha merubah suaraku agar mirip dengan Steven, aku mengambil bolpoint di depanku dan menulis sesuatu di  buku milik Steven


"Baiklah, bagaimana keputusan tadi?" tanya Hyung serius


"Boleh lah agar lebih cepat" gumam Taka Zenn dingin


"Ya aku sangat dendam dengan Sani apalagi dengan si tua bangka itu jadi kita harus berhasil..." protes Sasha kesal


"Hummpp..." desahku melemparkan jarumku ke arah kaki Sasha dari bawah meja

__ADS_1


"Aduuuhh.." rintih Sasha kesakitan


"Kenapa lagi kamu?" tanya Hyung terkejut


"Tidak tahu, terasa ada yang menancap di kedua kakiku" gumam Sasha mengambil jarumku yang belum meleleh itu dan mengangkatnya ke atas


"Jarum?" teriak Sasha terkejut


"Jarum? Siapa yang punya?" teriak Hyung terkejut


"Mana mungkin aku" gumam Ryuki dingin


"Aku juga tidak pandai memakainya" gumam Sony dingin


"Itu bukan jarum kami... Jarum kami berwarna perak" gumam Tony menunjukkan jarumnya


"Ya benar disini tidak ada yang bisa menggunakannya" gumam Hasan dingin


"Lalu siapa?" protes Sasha kesal


Sony dan Ryuki menatapku dengan tatapan curiga, mereka berdua menatapku tanpa berkedip sedangkan aku hanya menatap mereka dengan tatapan dingin


"Siapa kamu sebenarnya?"gumam Ryuki dingin


"Kamu pasti bukan Steven!!" gumam Sony dingin


"Ya dari tadi Steven hanya diam setelah pergi ke kamar mandi, biasanya dia yang sangat aktif mengutarakan idenya" umam Hyung tersadar dengan keberadaanku


"Oh kalian mencurigaiku ya?" gumamku dingin


"Siapa kamu sebenarnya?" gumam Sony dingin


"Kalian tidak perlu tahu aku siapa?" gumamku dingin


"Dimana Steven?" protes Sasha kesal


"Steven ya?" gumamku dingin sambil mengangkat tanganku, tidak lama kemudian Wan yang menggunakan jubah hitam membawakan tubuh Steven dan segera pergi


"Itu ya orang rendahan yang kalian bilang Steven?" gumamku dingin


"STEVEENN!!" teriak Sasha berusaha berdiri tapi di kembali terjatuh


"Hei siapa kamu sebenarnya?" gumam Sony mengarahkan pedangnya kearahku dan seluruh orang juga mengarahkan senjatanya ke arahku


"Aku ya?" gumamku dingin dan membuka penutup kepalaku


"SA... SANI!!!" teriak seluruh orang terkejut


"Oh Hay kalian para mafia rendahan.." gumamku dingin


"Bagus juga ya rencana payah kalian.. Tapi maaf banget loh ya kalian bukan lawanku" gumamku dingin


"Dan kamu Sasha, bagus juga ya kamu mengelabuhi seluruh ketua mafia yang bodoh ini untuk membunuhku, tapi sayang sekali kamu akan lumpuh selamanya dan rasakan kesakitan yang sangat menyakitkan sebelum ajalmu mendekat" gumamku dingin


"Apa? Jadi jarum itu?"


"Ya itu jarum beracun milikku, mungkin kamu tidak akan bertahan hidup selama setahun eeh atau bahkan hanya sebulan" gumamku dingin


"DASAR KAMU!!! BUNUH DIA!!!" teriak Sasha kesal dan semua orang berlari kearahku. Aku mendorong meja di depanku dan membuat seluruh orang terjatuh.


"Heeh hanya segini kemampuan kalian? Menyedihkan" gumamku dingin.


"Roy, Zaky, Wan.. bagian kalian" teriakku dan ketiga bawahanku langsung melawan seluruh ketua mafia yang ada di tenda itu kecuali Ryuki, Hasan, Han Lee, Tony, Angel dan Sony. Mereka berenam hanya terduduk tanpa melakukan apapun


"Eehh kalian hanya duduk saja? Katanya ingin membunuhku" sindirku dingin


"Tidak, mereka yang ingin membunuhmu tapi kami tidak" gumam Ryuki dingin


"Oh benarkah? Padahal mangsa ada di depan mata loh" sindirku dingin


"Iya itu kenyataannya Sani, kamu teman kami, kamu keluarga kami jadi kami tidak akan melukaimu" gumam Tony menatapu dengan tatapan dingin


"Oh benarkah? Tapi aku tidak percaya dengan namanya teman atau keluarga dari kalian semua" gumamku dingin


"Kami mengatakan yang sebenarnya Sani!!" protes Angel serius


"Oh ya? aku sangat terkejut, terkejut melihat orang yang aku bantu malah punya niatan membunuhku" gerutuku kesal dan melemparkan dua jarum ke tangan dan kaki Hyung


"Aaaaakkhhh.." teriak Hyung kesakitan


"Sani jangan sakiti mereka dengan jarummu!!!" protes Tony menatapku


"Kenapa juga... Itu balasannya kalau berurusan denganku" gumamku beranjak dari tempat duduk itu


"Roy, Zaki, Wan... Kita pergi" gumamku dingin dan ketiga anak buahku mundur saat membuat seluruh mafia yang melawanku terluka parah, aku menyobek kertas yang ada di buku milik Steven dan melemparkannya kepada Hasan, Ryuki, dan Sony


"Oh baiklah..." desah Hasan merobek kertas itu


"Oh" desah Ryuki menyobek kertas itu


"Apa ini?" gumam Sony dan membaca kertas itu


"Sani apa kamu yakin? Aku tunanganmu!!!" protes Sony kesal


"Tunangan? Heeh sekarang kamu bukan tunanganku" gumamku melepaskan cincinku dan melemparkan ke tanah

__ADS_1


"Aku harap kalian benar - benar kuat dan saat kita bertemu kalian bisa membunuhku" gumamku dingin dan pergi dari tempat itu


Aku sengaja hanya memberikan kertas untuk ketiga orang itu dengan isi berbeda - beda. Kertas untuk Hasan aku menulis rasa terimakasihku kepadanya, sesekali harus mengirimi obat untukku dan aku akan sesekali datang ke tempat persembunyian Hasan. Selain itu aku juga akan menunggunya di danau tadi, karena aku tidak ada tempat tinggal jadi aku akan menginap di tempat persembunyiannya, sedangkan kertas untuk Ryuki aku menuliskan rasa terimakasihku kepadanya dan kalau butuh bantuan bisa bilang kepadaku karena aku masih salah satu tangan kanan Ryuki selain itu jangan pernah berharap untuk menikah denganku, sedangkan untuk Sony aku menuliskan rasa terimakasihku dan ingin pergi  jauh mulai hari ini dan memutuskan hubungan tunangan ini dengannya.


__ADS_2