
Sann Liu terus menggendonh tubuhku dengan lembut bahkan sesekali Sann mencium keningku dan pipiku yang membuatku sedikit kesal
"Kenapa kamu menciumku mulu sih!!"
"Kamu istriku, wajar saja aku menciummu"
"Hmmm terserah kamu saja lah" desahku pelan
"Kamu hanya perlu menjadi istriku yang polos dan penurut saja, paham!"
"Ya aku paham, tapi..."
"Kamu mengkhawatirkan kedua kembaran keluarga Kim itu?" aku hanya mengangguk pelan
"Tenang saja, mereka bukan tandinganku"
"Tapi mereka berdua kuat bahkan San Kim pengguna senjata beracun sepertiku" gumamku pelan
"Aku tidak takut..." ucap Sann Liu serius
"Kamu kira kami bukan pengguna senjata beracun apa?" protes Hassan Liu kesal
"Kalian pengguna senjata beracun?"
"Ya, kami pengguna racun merah"
"Racun merah? Bukannya itu racun yang penggunanya sangat langka ya?" tanyaku terkejut
"Benar, hanya keluarga Liu pengguna racun merah"
"Sann ajarin aku racun merah" gumamku memohon
"Untuk apa?"
"Untuk menambah koleksi racunku lah..." gumamku pelan
"Kamu kira mainan apa!!" protes Hassan Liu kesal
"Sayang menggunakan racun merah itu tidak bisa di buat mainan tahu!!" gumam Sann Liu menatapku lembut
"Ya aku tahu, aku hanya ingin mempelajarinya untuk balas dendam tidak lebih..." desahku pelan
"Nanti lah aku ajarin kamu..." gumam Sann Liu berhenti di sebuah lapang rumput yang sepi dan sunyi
"Kenapa kita berhenti disini?" tanyaku penasaran
"Ke salah satu cabang markas senior pusat" gumam Sann mengambil sebuah jarum di sakunya dan melemparkannya ke depan kami, tiba - tiba di depan kami muncul sebuah bangunan yang sangat megah
"I... Ini markas kalian?" tanyaku terkejut
"Ya ini hanya markas cabang" gumam Sann Liu berjalan masuk ke dalam bangunan itu
"Hassan, istirahatkan istrimu dulu"
"Ya aku tahu lah" gerutu Hassan Liu kesal dan berjalan ke sebuah kamar
"Mmm Sann emang adikku tahu kalau dia dijodohkan dengan adikmu?" tanyaku pelan
"Ya dia tahu, makanya dia menolak menikah dengan San. Walaupun adikmu disiksa keluarga Kim itu dia tetap ngotot menolak"
"Oh..." desahku pelan
Sann terus menggendongku masuk ke sebuah kamar dan mendudukkanku di atas tempat tidur. Dia mengambil sekotak obat dan mengobatiku
"Uukkkhhh sakitnya" rintihku menahan sakit
"Hmmm tahan sebentar" gumam Sann Liu terus mengoleskan obat merah di tanganku
"Roy, Zaki, Wan..." teriakku dan ketiga bawahanku berdiri di belakang Sann Liu
"Iya nona muda..."
"Jangan bilang siapapun kalau aku bersama dengan keluarga Liu, kalau mereka berdua tanya bilang saja kalian juga mencariku" gumamku pelan
"Baik nona muda..."
"Bagaimana tugas kalian?"
"Sudah nona muda, tuan Sann Liu dan tuan Hassan Liu membantu kami mencarikannya"
"Oh baiklah, setelah survival ini kita pindah ke tempat itu... Kalian boleh pergi..." gumanku pelan
"Baik nona muda" gumamku dan ketiga bawahanku pergi dari kamar
"Bawahanmu penurut banget ya" desah Sann Liu pelan
"Ya, bawahan kepercayaanku..."
"Oh ya? Sangat penurut banget. Kenapa bisa penurut banget sama kamu?"
"Karena aku ketua mafia penguasa" gumamku pelan
"Kamu? ketua mafia yang kejam dan misterius itu?" tanya Sann Liu terkejut
"Ya benar, aku ketuanya"
"Oh tidak aku sangka ketuanya adalah istriku, pantas kamu masih bisa bertahan dari gigitanku"
"Ya aku sudah biasa terluka parah dan menderita akibat chip itu jadi aku sudah terbiasa" gumamku pelan
"Hmmm..." desah Sann Liu memelukku erat
"Terus jadilah kuat sayang, aku akan membantumu membalaskan dendammu" gumam Sann Liu pelan
"Membantuku?"
__ADS_1
"Ya, ini racun merah untukmu" gumam Sann Liu memberikanku sebotol racun merah di tangannya
"Serius?" tanyaku terkejut
"Ya aku serius..."
"Tapi... Kenapa kamu benar - benar memberikannya kepadaku?" gumamku pelan
"Karena kamu istriku dan kamu ketua mafia penguasa jadi aku sebagai suamimu harus membantumu" gumam Sann Liu serius, tanpa sadar aku mencium bibir Sann Liu san memeluknya erat
"Terimakasih" gumamku pelan
"Hmmm Sama - sama istriku, oh ya bukannya mafia kalian sangat menjaga kerahasiaan ya?"
"Ya, hanya beberapa orang yang tahu. Selain itu tidak ada"
"Siapa saja?"
"Kamu, Hasan Kim, San Kim, Taka Zenn, Nara Zenn, Sony, dan Ryuki saja"
"Ketua mafia terkenal di barat saja ya" desah Sann Liu terduduk di sebelahku
"Ya, mafiaku juga"
"Tidak, mafiamu sangat terkenal kejam dan misterius di seluruh dunia mafia bahkan di wilayahku juga kamu terkenal"
"Oh benarkah?" desahku menundukkan kepalaku
"Mafiaku tidak sekuat mafia aliran hitam dan mafia kematian jiwa" gumamku pelan
"Tapi kamu salah satu dari 10 mafia terkuat di dunia mafia loh"
"Benarkah?"
"Ya, kamu ada di posisi ke empat mafia terkuat di seluruh dunia mafia"
"Tidak juga, aku sangat payah bahkan mafiaku juga. Aku masih level S bintang 3, masih kalah dari seluruh anggotamu"
"Ya memang tapi meskipun begitu kamu dan mafiamu sangat kuat loh!!"
"Hmmm kalau kamu ketua mafia apa?" gumamku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur
"Aku?" gumam Sann Liu menekan tanganku yang membuatku sedikit terkejut
"Aku ketua mafia Kegelapan ... Jiwa" gumam Sann Liu menatapku dingin
"Mafia terkuat di posisi pertama itu?" tanyaku terkejut
"Ya, aku ketua mafianya" gumam Sann Liu menciumku dengan lembut
"Jangan - jangan kamu membawaku kemari hanya siasatmu untuk membunuhku?" gumamku pelan
"Tidak, aku tidak akan melakukannya kepada istriku" gumam Sann Liu melepaskan tanganku
"Oh hmmm... Kenapa kamu mau menyelamatkan kami? Padahal wanita banyak di luar sana" gumamku pelan
"Walaupun banyak wanita diluar sana tapi kami tetap memilih kalian berdua apalagi istriku adalah wanita yang kuat sepertimu" gumam Sann Liu serius
"Aku tidak kuat seperti yang kamu kira Sann, aku masih lemah"
"Ketua mafia perempuan yang masuk di urutan terkuat hanya kamu ya. Kami kira kalau ketua mafia penguasa itu laki - laki"
"Serius?"
"Ya, besok aku ajak kamu menemui 10 besar letua mafia terkuat" ucap Sann Liu mengusap rambutku lembut
"Hmmm terserah kamu saja" desahku pelan
"Oh ya cara memakai merah ini bagaimana?" tanyaku penasaran
"Pakai saja seperti kamu menggunakan racun biasamu"
"Oh benarkah? Apa ada penawarnya?"
"Ini penawarnnya?" gumam San Liu memberiku sebotol bubuk transparan
"Terimakasih Sann, bahan - bahan dari bubuk ini apa?"
"Kembalilah bersamaku ke keluarga Liu, aku akan mengajarimu sayangku"
"Aku ingin tapi..." desahku pelan
"Ada apa sayang, apa karena keluarga Kim itu?"
"Bukan, aku cuma ada tugas di survival ini saja dan memgalahkan mafia pemberontak mafia senior"
"Mafia pemberontak? Di mafia senior barat? Itu tidak ada"
"Apa? Kamu serius?"
"Ya, aku serius. Mafia pmberontak itu memberontak mafia senior pusat sayang. Itu hanya alasan mereka untuk mencari Sain dengan bantuanmu. Udah itu saja"
"Oh... Aku kira kalau beneran ada. Sedikit kecewa" desahku pelan
"Kamu kecewa tidak bertarung ya?"
"Ya begitulah"
"Kamu masih bisa bertarung besok"
"Masih bisa bertarung?" tanyaku terkejut
"Ya benar, akan ada permulaan perang dunia di hutan ini. Dan malam ini para tikus - tikus itu akan bertarung dengan mafia senior barat"
"Tikus? Siapa yang kamu maksud?"
__ADS_1
"Halah mafia yang menjadi umpan saja tapi mereka hebat"
"Tapi bukankah aku salah aku berada disini sedangkan mereka kesulitan?"
"Hmmm kamu itu salah satu mafia senior pusat sayang bukan mafia senior barat. Lencana padamu itu adalah pemberianku bukan pemberian mereka. Aku kemari juga ingin menjemputmu tahu" gumam Sann Liu mengacak rambutku
"Mafia senior pusat?" tanyaku terkejut, aku segera membaca lencana milikku dan ternyata aku benar - benar mafia senior pusat
"Yaah kamu benar" desahku terkejut
"Sudah percaya kan perkataanku. Jadi jangan khawatirkan mereka berdua, kamu disini saja bersamaku. Besok kita akan mengikuti rapat dengan seluruh mafia terkuat membahas perang dunia mafia sayang"
"Perang dunia mafia? Jadi akan bertarung dengan siapa?" tanyaku penasaran
"Mafia pemberontak dan beberapa sekumpulan mafia yang lainnya bahkan akan ada sekumpulan mafia yang membunuh keluarga besar Shin juga..."
"Benarkah? Aku ikut Sann aku mohon!!" ucapku memohon
"Baiklah, tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya?" tanyaku penasaran
"Kamu harus menjadi istriku yang penurut dan polos untukku...."
"Ya baiklah.."
"Kamu harus kembali dengan kami di keluarga Liu mulai besok.."
"Ya baiklah, aku juga ingin bertemu dengan ibu" gumamku semangat
"Kemanapun kamu pergi dan kemanapun kita pergi aku harus ikut.."
"Ya aku akan penuhi, ada lagi?"
"Ada, yang terakhir... Mulai sekarang kamu harus tidur denganku sekamar denganku dan tidak boleh protes apapun yang aku lakukan dan aku inginkan kepadamu" ucap Sann Liu serius
"A... Apa? Bisa tidak syarat lain"
"Tidak, mau tidak mau kamu harus menyetujui keempat syaratku. Kamu istriku tahu!!" protes Sann Liu mendekatkan wajahnya ke wajahku
"Baik baik aku akan menuruti apapun syaratmu apapun keinginanmu apapun kemauanmu... PUAS!!" teriakku kesal
"Baguslah, jadi istriku yang penurut" gumam Sann Liu menciumku dengan lembut
"Hmmm adikku bagaimana?"
"Dia bersama dengan Hassan Liu jadi santai saja, itu urusan mereka"
"Hmmm baiklah..." desahku mengalah
"Sann emang penyakit dalamku berbahaya ya?" gummaku merebahkan tubuhku
"Dulu waktu kamu kecil iya, bahkan dokterpun mendiagnosis kamu tidak akan bertahan sampai umur 10 tahun saja. Tapi sekarang umurmu 22 tahun dan itu tandanya penyakitmu sudah sembuh"
"Benarkah? Tapi kenapa Hasan Kim memberikanku beberapa obat?"
"Obat apa?" tanya Sann Liu terkejut
"Obat ini" gumamku memberikan beberapa botol kepada Sann Liu
"Jangan diminum lagi!!" protes Sann Liu merebut botol itu dari tanganku
"Kenapa?"
"Di dalamnya ada racun ungu!!"
"Apa itu racun ungu?" tanyaku penasaran
"Racun ungu memang bisa untuk mengobati sakitmu tapi kalau di biarkan terus maka organ dalammu lainnya akan rusak"
"Kenapa kamu bisa tahu ini ada racun ungunya?"
"Ini aku buktikan kepadamu" gumam Sann Liu mengambil secarik kertas putih dan membuka isi obat di atasnya
"Warnanya ungu?" tanyaku terkejut
"Ya ini racun ungu, kalau racun ini diberikan obat penawar racun merah hasilnya..." gumam Sann Liu menuangkan beberapa obat penawarnya
"Ter... Terbakar?" teriakku terkejut
"Ya benar, itulah kenapa racun ungu ini tidak baik di konsumsi. Kamu sudah makan berapa obat?"
"Masih dua, Hasan Kim baru memberikanku" gumamku pelan
"Hmmm sebelum meminuk sesuatu kamu harus nya bertanya dulu kandungan di dalamnya tahu!!"
"Ya aku mengerti, maafkan aku" gumamku pelan
"Tidak apa sayang, itu hanya sebagian kecil saja kamu tidak perlu khawatir"
"Hmmm baiklah" desahku pelan
"Baiklah mari tidur sayang, sudah hampir pahi
Besok kita ada agenda"
"Hmmm baiklah" desahku merebahkan tubuhku
"Haaahh senang rasanya bisa tidur bersama isteiku tercinta" desah Sann memelukku erat
"Oh benarkah?" gumamku pelan
"Ya pastilah, siapa yang tidak mau dengan oeang tersayang coba"
"Hmmm ya terserah kamu Sann" gumamku memejam mataku dan tertidur di malam ini
__ADS_1