Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 66 : Teringat Pernah Membunuh Nyonya Liu


__ADS_3

Walaupun semalam aku melakukan pesta tapi sebisa mungkin aku tidak boleh terlambat bangun apalagi aku berada di keluarga Kim. pagi ini seperti biasanya aku bangun pagi dan seperti biasa Lanlan memelukku erat sambil mematapku dengan terus menutup kedua matanya.


"Kak Lanlan aku mau mandi tahu!" protesku berusaha terduduk.


"Mau kemana kamu?"


"Aku tidak kemana-mana, hanya ingin mandi saja."


"Ya sudah jangan lama-lama..." gumam Lanlan membelakangiku.


"Namanya mandi pasti lama lah..." gumamku beranjak dari tempat tidur dan segera mandi. Aku berendam di air hangat dan menatap sebuah lukisan di depanku.


"Lukisan siapa ini ya?" gumamku menatap sebuah lukisan keluarga di depanku.


"Wanita itu sangat cantik..." gumamku menatap wanita yang berdiri di samping tuan Kim.


"Apa itu nyonya Liu ya?" gumamku pelan.


Saat aku sedang asik menatap lukisan itu, tiba-tiba handphoneku berdering yang ternyata bawahanku Wan yang menelepon.


"Halo ya Wan..." gumamku pelan.


"Nona muda, nanti malam ada pesta di sebuah gedung di wilayah kekuasaan keluarga Kim. Pesta itu akan di hadiri oleh seluruh keluarga mafia."


"Apa kak Alan juga ikut?"


"Ya nona muda, keluarga Liu akan menghadiri pesta itu."


"Memangnya itu pesta apa?" tanyaku memainkan air dengan tanganku.


"Itu pesta setiap tahun di akhir musim panas, pesta ini biasanya dihadiri oleh seluruh keluarga mafia, anda tidak pernah datang ke pesta karena anda selalu menolak datang ke pesta nona muda."


"Oh ya aku memang tidak suka pesta..." desahku pelan.


"Jadi apa anda akan ikut pesta nona muda?"


"Kalau aku tidak ikut pesta juga tidak enak dengan tuan Kim, jadi kemungkinan aku ikut tapi beritahukan apa yang terjadi di pesta itu ya..."


"Baik nona muda... ehh oh ya nona muda, ada satu pesan dari pemimpin petinggi mafia..."


"Apa itu?" tanyaku beranjak dari bathtub.


"Di pesta nanti akan hadir berbagai mafia bahkan mafia-mafia lainnya akan hadir nona muda dan disana akan ada tetua mafia pusat juga, jadi nona muda disuruh bertemu dengan tetua mafia pusat untuk lebih jelasnya."


"Ohh baiklah, kabari aku kalau ada yang lainnya Wan." desahku pelan.


"Baik nona muda..." gumam Wan menutup telponnya dan aku segera memakai pakaianku.


Saat dikamar aku melihat Lanlan yang sedang meminum wine di sofa sambil memegang handphonenya. Aku berjalan kearahnya dan merebut gelasnya.


"Tumben kamu sudah siap-siap..." gumamku meminum wine sambil menatap Lanlan dingin.


"Ayah memintaku mengajakmu menemuinya sekarang..." gumam Lanlan beranjak dari tempat duduknya.


"Oh kenapa?"


"Kan ayah ingin berbicara denganmu." gumam Lanlan berjalan keluar kamar.


"Oh..." desahku mengikuti Lanlan.

__ADS_1


Di ruang keluarga aku melihat tuan Kim dengan memakai pakaian merah yang sedang duduk di sofa sambil meminum secangkir kopi di tangannya. Aku dan Lanlan menunduk ke arah tuan Kim dan terduduk di kursi depan Tuan Kim.


"Oh kalian sudah datang ya..." gumam Tuan Kim meletakkan cangkir kopinya.


"Ada apa ayah?"


"Tidak ada, hanya ingin bertanya sesuatu kepada Sani."


"Mmm eee memangnya tuan Kim ingin bertanya tentang apa?" tanyaku terkejut.


"Apa Sony Kim itu mantan kekasihmu?"


"I...iya dia mantan kekasihku saat masih di perguruan..."


"Apa kamu sekarang membenci Sony?"


"Ke...kenapa ayah bertanya hal itu?" tanyaku terkejut.


"Hanya penasaran saja, kelakuan Sony memang membuat malu keluarga Kim..." gumam tuan Kim pelan.


"Ayah kenapa ayah bahas itu sih!" gerutu seorang pria di belakang tuan Kim, aku melihat Sony yang sedang berjalan kearah kami. Aku melihat tangan Sony yang mengambil senjatanya dan mengarahkannya kepadaku sedangkan aku langsung mengarahkan senjataku ke arah Sony.


"Oh astaga kalian berdua masih saja dendam?" gumam tuan Kim menggelengkan kepalanya.


"Masukkan kembali senjatamu istriku..." gumam Lanlan menatapku dingin.


"Hmmpp...." desahku memasukkan senjataku.


"Sony!" ucap Tuan Kim dingin dan Sony memasukkan senjatanya.


"Maaf atas kelancangan saya ayah..." gumamku membungkukkan badanku kearah Tuan Kim.


"Kalau tidak salah dulu kalian bertunangan ya?" tanya Tuan Kim serius.


"Sampai sekarang kami bertunangan ayah!" gumam Sony serius.


"Dia istriku dan kau sudah memiliki istri jadi kau tidak bisa bertunangan dengannya!" protes Lanlan kesal.


"Aku tidak peduli! Dia tetap milikku!" protes Sony pergi meninggalkan ruang keluarga.


"Dasar bocah keras kepala!" gerutu Lanlan kesal.


"Yaah sudah tahu adikmu itu suka apapun yang menjadi milikmu. Kalau kamu dulu tidak protes dan menolak Sani menjadi istrimu, pasti adikmu tidak akan menganggap Sani sebagai tunangannya..." gumam Tuan Kim menatap Lanlan serius.


"Aku dulu belum bisa menerima karena...ya sudahlah, sudah berlalu juga..." gumam Lanlan membuang mukanya.


"Ka...karena apa?" tanyaku bingung.


"Ya dulu ibunya Lanlan dibunuh ayahmu, ibunya Lanlan dulu suka berselingkuh dengan beberapa pria termasuk aku dan ayahmu. Setelah pernikahan kalian, ibunya Lanlan menjalin hubungan terlarang dengan ayahmu dan sedang hamil anak perempuan. Karena ingin tanggung jawab ayahmu, dia datang ke keluarga Shin tapi di tolak mentah-mentah oleh keluarga Shin dan di perjalanan dia dibunuh di depan Lanlan. Dan saat itu Lanlan melihat kamu juga berada di tempat yang sama dengan ayahmu jadi Lanlan menduganya kamu juga ikut membunuh ibunya yang membuatnya dendam..." jelas Tuan Kim serius.


"Ayah kenapa ayah menceritakannya!" protes Lanlan kesal.


"Membunuh nyonya Liu?" gumamku menatap pakaian merah milik Tuan Kim serius.


Saat aku menatap serius warna itu, aku ingat perkataan ayah untuk membunuh wanita yang sedang berlari menjauh.


"Bunuh dia...kalau kau gagal aku akan menyiksamu!!" ucapan ayah yang teringat jelas di pikiranku membuat kepalaku dan dadaku terasa sangat sakit.


Aku ingat dimana ayah memaksaku membunuh wanita paruh baya di depan kami dan tanpa ragu aku membunuhnya.

__ADS_1


"A...aku...aku..." gumamku ketakutan, aku menundukkan kepalaku sambil menutupi telingaku dengan kedua tanganku.


"Sani...Sani!!" teriak Lanlan yang membuatku tersadar.


"Eee...mmm maaf..." gumamku pelan.


"Apa kamu berhalusinasi lagi?" gumam Lanlan khawatir.


"A...aku ingin ke kamar mandi sebentar..." gumamku berlari menaiki tangga dan menutup pintu keras.


"Haaah...haaah kenapa aku bisa ingat kejadian di malam itu..." desahku bersandar di belakang pintu.


"Astaga..." desahku berjalan ke arah balkon sambil mengambil beberapa botol wine di tanganku.


Aku terduduk di lantai balkon meminum sebotol wine dan melingkarkan tanganku ke kedua kakiku. Mengingat kejadian yang tidak aku ingat sebelumnya membuatku kembali merasa bersalah.


"Uuhhhuuukkk...uuuhhhuuukk..."


Jika teringat masa lalu atau terkejut dengan sesuatu aku selalu saja kembali terbatuk. Dulu warna merah adalah warna favoritku tapi sekarang warna itu yang membuatku teringat masa lalu. Alasan kenapa ketiga bawahanku yang selalu membersihkan tempat kejadian penyerangan karena aku tidak bisa menatap warna merah terlalu lama.


"Kamu kenapa ada disini?" gumam Lanlan berjalan kearahku.


"Ti...tidak ada apapun... uuuhhhuuukkk... uuuhhuuukkk..."


"Penyakitmu kambuh lagi?"


"Aku tidak apa kok..." gumamku pelan.


"Tidak apa? Wajahmu memucat dan kamu bilang tidak apa?"


"Aku tidak apa beneran..." gumamku pelan.


"Haish... minumlah obatmu?" gumam Lanlan memberikanku obat tapi aku segera menepisnya.


"Tidak... jangan berikan kepadaku..." gumamku pelan.


"Kenapa kamu tidak menurut suamimu, istriku yang nakal!" protes Lanlan kesal.


"Ke...kenapa kamu masih menganggapku istrimu padahal aku..."


"Kamu yang membunuh ibuku? Aku tahu, aku melihatmu melakukannya secara langsung." gumam Lanlan mengangkat tanganku dan meletakkan obat itu di tanganku.


"Tapi kenapa kamu masih menganggapku istrimu?"


"Mau bagaimanapun kamu istriku dan aku terikat denganmu kalau tidak pasti aku sudah membunuhmu!"


"Kalau gitu bunuhlah!"


"Kau akan mengandung anakku dan kau ingin aku membunuh calon anakku? Tidak, aku tidak akan melakukan itu."


"Kalau begitu setelahnya kau bunuh aku..."


"Aku tidak akan melakukan itu! Itu sudah masa lalu sayang jangan dipikirkan lagi..." gumam Lanlan memelukku erat.


"Tapi kan..."


"Aku sekarang tidak menyalahkanmu kok, jadi jangan dipikirkan..." gumam Lanlan mengusap rambutku lembut.


"Hmmm..." desahku menundukkan wajahku ke lantai balkon.

__ADS_1


Walaupun memang benar itu kejadian dimasa lalu tapi aku masih merasa bersalah kepada Lanlan, aku tidak menduga aku bisa teringat kejadian yang tidak pernah aku ingat selama ini. Dari tatapan Lanlan dia sangat benci tapi ucapan lembutnya kepadaku seperti mengalahkan tatapan kebenciannya padaku.


__ADS_2