Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 62 : Masih Bingung


__ADS_3

Walau aku tahu handphone milikku sedang di pakai Lanlan tapi tidak tahu kenapa aku biasa saja. Padahal aku paling benci ada orang yang memainkan barangku apalagi handphoneku tanpa izin dariku.


"Ada lebih dari seratus pesan di handphonemu dan kamu tidak membacanya sejak beberapa hari yang lalu?" tanya Lanlan pelan.


"Ya..." gumamku pelan.


"Kenapa?"


"Tidak ada, aku jarang memegang handphoneku saja."


"Kenapa mana tahu itu pesan penting bagaimana?"


"Apapun yang penting itu pasti mereka akan meneleponku..." gumamku pelan.


"Oh...Sani...boleh aku tanya sesuatu?" gumam Lanlan menatapku serius.


"Boleh...kamu mau tanya apa?" tanyaku pelan.


"Di leher sebelah kananmu itu kenapa?" tanya Lanlan pelan.


"Yang mana? Inikah?" tanyaku menunjukkan bekas luka di leherku.


"Ya, kenapa ada bekas itu?"


"Mmm dulu saat aku digenggaman San Kim dan Hasan Kim mereka meletakkan chip disini terus saat aku digenggaman Sann Liu dan Hassan Liu mereka menggigitku untuk melepaskan chip itu..."


"Chip ya? Pantas aku sulit untuk menemukanmu lagi..." gumam Lanlan pelan.


"Memangnya kenapa?" tanyaku bingung.


"Chip itu sebagai penangkal halusinasi dan penyakitmu, tuan Shinju yang membuatnya untukmu. Obat yang dibawa San Kim dan Hasan Kim itu obat agar sedikit mengurangi rasa sakit penyakitmu tapi selain itu sebagai penanda kalau kamu milikku, di chip itu ada gps yang membuatku bisa mengawasimu dan ternyata chip itu terlepas dari tubuhmu ya..." desah Lanlan meletakkan handphoneku di meja sambil menghela nafas panjang.


"Oh begitu ya..." desahku pelan.


"Oh ya...apa kamu pernah berhubungan dengan pria sebelumnya?" tanya Lanlan pelan.


"Mungkin tidak."


"Benarkah?" tanya Lanlan terkejut.


"Aku tidak ingat apapun, tapi kalau aku belum punya anak berarti aku tidak melakukannya lah!"


"Mmmm benar juga sih.." desah Lanlan pelan.


"Kak Lanlan kalau kamu tahu aku milikmu kenapa kamu tidak muncul di depanku tapi selalu bersembunyi dan sesekali memotretku dengan handphonemu?" tanyaku serius.


"Karena...aku sangat malu bertemu denganmu.."


"Malu? Malu kenapa?" tanyaku terkejut.

__ADS_1


"Ya...kamu sangat cantik dan banyak yang menginginkanmu sedangkan aku tidak sebanding denganmu, aku punya banyak bekas luka di tubuhku... aku takut kamu menolakku dan membatalkan pernikahan awal kita..." gumam Lanlan pelan, aku menatap wajahnya yang benar-benar terlihat sedih.


"Aku juga memilikinya, tidak hanya kamu saja jadi buat apa kamu takut aku menolakmu?" tanyaku memainkan kuku jariku.


"Tapi kan kamu sangat cantik Sani sedangkan... aku.." gumam Lanlan pelan, aku membuka topeng Lanlan dan menatap wajah asli Lanlan.


"Aku tidak peduli, kamu suamiku dan aku terikat pernikahan awal denganmu, bagiku kamu sangat tampan aku tidak peduli dengan bekas luka di tubuhmu. Sampai kapanpun kamu milikku suamiku..." gumamku mengusap lembut pipi Lanlan.


"Lain kali...jangan menutupi semua bekas lukamu padaku dan jangan memakai topeng wajah itu jika kamu bersamaku, apa kamu mengerti!"


"Tidak! Aku tidak mau penglihatanmu terganggu Sani..."


"Aku biasa saja kok, bagiku kekuranganmu adalah kelebihan untukku..." gumamku membuka kancing pakaian Lanlan dan melihat bekas luka di tubuhnya.


"Kalau saat itu kamu tidak selalu melindungiku pasti aku sudah mati sekarang...terimakasih semua pengorbananmu kepadaku suamiku..." gumamku membenamkan wajahku di dada bidang Lanlan.


"Hmmm...tidak masalah, aku sangat senang melihatmu bisa tumbuh besar dan cantik seperti ini istriku..." gumam Lanlan memelukku erat.


"Hmmm.." desahku menatap Lanlan yang sedang tersenyum manis kearahku.


"Oh ya kata Fiyoni ayahmu sudah menunggu untuk sarapan, kita harus segera kesana...kasihan kalau ayahmu menunggumu..." gumam Lanlan memakai kancing pakaiannya dan menarik tanganku keluar kamar.


Genggaman tangan Lanlan sangat kuat bahkan seperti tidak mau melepaskan genggaman tanganku. Aku tahu Lanlan merasa sangat senang saat ini bisa denganku walaupun bisa di katakan terlambat untuk menyadari kalau Lanlan milikku tapi melihatnya senang juga membuatku ikut senang juga.


Di ruang makan aku melihat Tuan Shinju, Fiyoni, dan beberapa saudara tiriku sedang melahap makanan mereka. Lanlan menundukkan badannya sedangkan aku hanya terdiam mengikuti Lanlan.


"Oh kalian datang ya... mari-mari duduk disini..." gumam tuan Shinju menunjuk dua kursi kosong di dekatnya.


"Tidak apa, silahkan makanlah apa adanya ya..." gumam tuan Shinju pelan.


"Baik paman..." gumam Lanlan melahap makanan di depan kami, sedangkan aku hanya terdiam menatap makanan di depanku dengan tatapan kosong.


"Ada apa nak?" tanya tuan Shinju menatapku bingung.


"Mmm maaf ayah kalau kemarin Sani merusak acara ayah.."


"Tidak apa, tidak usah dipikirkan...makanlah keburu dingin makanannya..." gumam tuan Shinju tersenyum kearahku.


"Mmmm ba...baik ayah..." gumamku memakan makanan di depanku.


"Oh ya kak Sani ketua kak Fiyoni ya?" tanya Wildan Shinju menatapku.


"Mmm ya... mmm ada apa memangnya?" tanyaku bingung.


"Benarkah? Kak Fiyoni pernah bercerita kalau kak Sani sangat hebat!"


"Lebih hebat kak Fiyoni dari pada aku...Aku sering bilang kepadanya untuk menggantikanku jadi ketua sih tapi dia tidak mau..." gumamku melahap makananku.


"Menjadi ketua mafia terbesarmu? Gila aja aku tidak sanggup!" gerutu Fiyoni dingin.

__ADS_1


"Ya kak Fiyoni kan nanti bisa menjadi pria yang ditakuti dan juga disukai para wanita, apa kak Fiyoni yakin tidak mau?"


"Tidak perlu, aku menjadi wakilmu sudah capek apalagi ketuamu, bisa-bisa kamu membunuhku karena aku tidak bisa menjadi ketua yang baik."


"Mmm tidak juga, aku tidak akan menjadi wakilmu. Aku mungkin akan pensiun jika kamu jadi ketua..."


"Apalagi itu! Aku tidak mau!" gerutu Fiyoni menatapku dingin.


"Kalau aku kuat pasti aku mau menjadi ketuanya..." gumam Wildan Shinju serius.


"Kau tidak tahu beratnya memimpin mafia miliknya, lihat saja tubuhnya kurus kering karena memikirkan rencana...rencana...rencana bahkan sampai dia lupa tentang dirinya sendiri bahkan suaminya. Diumur yang sudah dewasa dia terus memikirkan mafia bukannya memikirkan rumah tangganya!" gerutu Fiyoni kesal.


"Husst Fiyoni!" gumam tuan Shinju menatap Fiyoni dingin. Aku tahu tuan Shinju menghentikan ucapan Fiyoni karena ucapannya sangat menyinggung tapi aku sama sekali tidak tersinggung.


"Eeehhh...maaf Sani, aku keceplosan..."


"Tidak masalah, aku tidak tersinggung kok..." gumamku pelan.


"Padahal ucapan kak Fiyoni sangat pedas dan kak Sani tidak merasa tersinggung?" tanya Ray Shinju terkejut.


"Tidak, itu memang benar kok...aku lebih memilih memikirkan mafia dari pada rumah tanggaku bahkan aku tidak tahu kalau aku sudah memiliki suami. Selain itu, Kak Fiyoni sering memarahiku dengan kata yang lebih pedas jadi aku sudah biasa..." gumamku pelan.


"Maafkan kakakmu Sani, dia memang seperti itu...sangat cerewet."


"Tidak apa ayah. Aku senang kalau kakak selalu memarahiku karena dia menyayangiku jadi aku tidak masalah..." gumamku meletakkan alat makanku di atas piring.


"Ohh mmm kalian kapan pergi ke keluarga Kim?"


"Nanti sore paman, oh ya ayah juga meminta paman untuk ikut."


"Ya nanti aku dengan Fiyoni yang akan datang, kamu dengan Sani saja tidak apa."


"Baik paman..." gumam Lanlan pelan.


"Ayah aku mau mandi dulu ya, tadi aku belum mandi..." gumamku menundukkan badanku.


"Silahkan anakku..."


"Mmm kak Sani kapan-kapan ajari kami bertarung ya!" ucap Wildan yang membuatku terkejut.


"Ya kalau aku senggang aku ajari kalian tapi kalau tidak biar kak Fiyoni yang mengajari kalian."


"Eeeh kok aku!!" protes Fiyoni kesal.


"Baik kakak...terimakasih..." gumam saudara tiriku senang dan menundukkan badan mereka. Aku hanya tersenyum dan berjalan kembali ke dalam kamarku. Aku menutup pintu kamar dan menghela nafas panjang.


"Haaah hmmm..." desahku segera mandi.


Aku membuka lemari dan memakai pakaian tipis, saat ini memasuki musim panas jadi rasanya benar-benar membuatku gerah. Aku terduduk kembali di kursi balkon dan menatap hutan dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Aku masih berfikir aku melakukan semua ini demi membalaskan dendam atas kematian keluarga besar Shin tapi setelah mengetahui aku bukan dari marga Shin asli dan mengetahui kalau suamiku membunuh semuanya karena membalaskan mereka yang pernah menyiksaku membuatku berfikir kalau selama ini aku melakukannya dengan sia-sia.


Tapi Lanlan hanya bilang kalau dia hanya membunuh keluarga besar Shin, tapi siapa yang membunuh ayah? Lanlan tidak mungkin membunuh ayah, di diary juga Lanlan hanya bilang kalau dia hanya membunuh keluarga besar Shin dan keluarga besar Shin tidak serumah denganku lalu saat di rumah..siapa yang membunuh ayah dan ibu?


__ADS_2