
Setelah selesai rapat aku segera mandi dan memasakkan makanan untuk Alan dan yang lainnya lalu kembali terduduk di balkon lagi. Aku berusaha mematangkan rencanaku sebelum pertarungan yang dikatakan tetua benar-benar terjadi, mengundang seluruh mafia yang bermusuhan di suatu pesta adalah hal konyol, kalau tetua tidak memberitahukanku pasti aku tidak tahu lapapun.
Disaat aku duduk termenung sendiri tiba-tiba ada seseorang yang memelukku dari belakang, aku menoleh ke arah belakang dan melihat Alan yang sedang memelukku erat.
"Pagi istriku, tumben bangun tidak membangunkanku?"
"Kamu tidur pulas Alan, tidak mungkin aku membangunkanmu."
"Apa kamu bangun dari tadi pagi buta?"
"Tidak juga,"
"Kamu tidak bisa membohongiku Sani, kamu disini bersama dengan ketiga bawahanmu. Apa yang kalian bicarakan?"
"Kenapa kamu bisa tahu?"
"Aku tadi kebangun tapi karena sangat mengantuk akhirnya aku tidur lagi. Jadi apa yang kalian bicarakan?"
"Rahasia."
"Kamu ini suka bermain rahasia dengan suamimu ya?" bisik Alan menggigitku.
"Uugggghhhh..." rintihku pelan.
"Katakan apa yang kamu sembunyikan dariku."
"Aku akan mengatakannya kepadamu, tapi kamu jelaskan apa hubunganku dengan Putri Claudia?" tanyaku dingin, mendengar pertanyaanku tangan Alan sedikit gemetar dan melepaskan gigitannya.
"Le...Lebih baik tidak perlu berurusan dengan dia." gumam Alan berjalan pergi ke kamar mandi.
"Sudah aku duga.." desahku kembali menatap matahari di atasku.
"Apa kau kira aku tidak tahu apa yang terjadi Alan Liu...walaupun Putri di dukung para petinggi mafia tapi lihatlah reaksinya ketika petinggi mafia melihat keberadaanku..." gumamku menggenggam surat undangan dari petinggi mafia.
"Haah padahal aku ingin pensiun dini tapi kenapa sulit banget sih..." desahku kembali memasukkan undangan itu dan meminum wineku kembali.
__ADS_1
Tidak berapa lama Alan sudah berdandan tampan sama seperti permintaan Putri di surat itu yang membuatku sangat cemburu. Melihatnya sedang berdandan membuatku kesal, aku memeluk Alan dari belakang dan menatap dingin Alan dari cermin.
"Kamu...mau kemana?" tanyaku dingin.
"Eee...mmm ada pertemuan jadi aku mau ke pertemuan itu. Mmmm tidak akan lama kok sayang."
"Kamu tidak mengajakku? Aku kan tangan kananmu!" protesku kesal.
"Pertemuan itu ada undangan khusus, bagaimana aku bisa mengajakmu sayang. Tenang saja, aku akan segera pulang cepat kok..." gumam Alan meyakinkanku.
"Terserah saja, sebelum berangkat... makanlah dulu, aku capek membuatkanmu makanan."
"Nanti setelah pulang aku akan memakannya, aku harus buru-buru..." gumam Alan segera keluar dari rumah, aku menatap mobil Alan yang keluar dari markas miliknya.
"Hmmm kau kira aku tidak ikut dalam pesta jebakan itukah Alan?" gumamku mengambil jubahku dan segera turun dari markas.
"Pagi nona muda..." sapa bawahanku di depan mobil.
"Mari kita pergi!" gumamku masuk ke dalam mobil dan ketiga bawahanku mengikutiku dari belakang.
Bisa keluar dari markas memang tidak mudah tapi karena bantuan Fians aku bisa memakai salah satu mobil Alan tanpa harus bilang kepada Alan jadi aku bisa ke pesta tanpa bingung mau naik apa.
"Sangat bodoh..." desahku memakai topengku dan turun dari mobil, didepan ada seorang pria menghalangiku.
"Surat undangan!" ucap pria itu dingin, aku memberikan undanganku dan menunjukkan lencanaku.
"Eeehhh mmm nona muda ya... si...silahkan masuk.." gumam pria itu ketakutan.
"Beritahu aku dimana tempat pemimpin petinggi mafia!"
"Ba...baik nona muda, mari silahkan..." gumam pria itu berjalan mendahuluiku dengan gemetar.
Pria itu mengajakku melewati samping gedung dan membuka pintu belakang dan aku melihat beberapa petinggi mafia menatapku dengan terkejut.
"Siapa dia pengawal?" tanya petinggi mafia terkejut.
__ADS_1
"Di...Dia Sani, ketua mafia penguasa tuan."
"Sani? Apa benar kamu Sani?" tanyaa pemimpin terkejut.
"Salam tuan..." gumamku membuka topengku yang membuat semua orang terkejut.
"Astaga benar itu Sani,"
"Aku tidak percaya ternyata dia masuh hidup!"
"Ya benar, berarti benar perkataan tetua mafia pusat kalau Sani masih hidup!" teriak beberapa petinggi mafia yang sesuai dengan tebakanku.
"Mmm ya memang saya masih hidup tuan..." gumamku sedikit membungkukkan badanku.
"Oh syukurlah, kami sangat khawatir kalau kamu benar-benar mati Sani, kami mencoba mencarimu tapi kami tidak mendapatkan jawabannya, kata Putri kamu sudah lama mati. Jadi awalnya kami ragu memberikan undangan itu kepada bawahanmu tapi ternyata kamu masih hidup!!" teriak pemimpin petinggi senang. "Oh jadi Putri yang menyebarkan berita kalau aku sudah mati agar dia bisa menggantikanku ya?" gumamku dalam hati.
"Saya tidak pernah berhubungan lagi dengan Putri tuan, bagi saya dia hanyalah sampah!" gerutuku kesal.
"Yaah kami tidak tahu harus bagaimana jika kamu mati Sani, kamu tahu kan Putri itu sombong dan licik. Kami tidak bisa melakukan apapun bahkan ketua polisi militer mafia saja tunduk kepadanya kaki takut kalau kristal itu jatuh ke tangan Putri." jelas pemimpin petinggi khawatir.
"Tenang saja tuan, saya yang membawa kristalnya. Lagi pula kata tetua akan ada peperangan disini ya?"
"Ya... benar, kamu harus lebih waspada Sani."
"Oh ya Sani, pesta ini adalah permintaan Putri, kami tidak bisa melakukan apapun selain menurutinya kami mengundangmu untuk membereskan semuanya apa kamu siap?"
"Tentu saja tuan."
"Baguslah, aku ada sesuatu rencana untukmu..." gumam pemimping petinggi mafia membisikkan sesuatu rencana kepadaku.
"Oh baiklah...Saya mengerti tuan." gumamku menundukkan badanku dan memakai topengku lagi
"Baiklah temui kami di aula Sani..." gumam para pemimpin mafia berjalan masuk ke dalam aula lewat belakang sedangkan aku melewati pintu depan sambil membaca situasi yang ada.
Tidak aku sangka semua tebakanku dan Fians benar-benar terjadi, kalau begini lebih mudah aku melakukan tugasku yang menyebalkan ini dan juga membalas Putri karena dia memfitnah aku sudah mati dan berusaha membunuhku dengan bekerjasama dengan mafia tertinggi dan mafia pemberontak yang membuatku sangat kesal.
__ADS_1
Di dalam aula aku melihat banyak ketua mafia yang menggunakan pakaian mewah sedangkan aku hanya menutupi pakaianku dengan jubah hitam dan topeng di wajahku, walaupun banyak yang menatapku curiga tapi karena aku terlihat seperti perempuan lemah jadi mereka menganggapku seorang pelayan disini.
Aku memutar mengamati sekelilingku dan melihat ada beberapa yang bersembunyi siap dengan senjata mereka, kalau tidak di teliti pasti tidak akan menyadarinya apalagi pesta semewah ini.