
Aku menatap bulan purnama bersama ketiga bawahanku, walaupun aku merepotkan mereka tapi aku sangat senang mereka bisa setia kepadaku yang lemah ini. Walaupun ditakuti oleh banyak ketua mafia tapi aku benar-benar direndahkan oleh orang biasa apalagi orang-orang dikota tempat tinggalku, kalau aku kembali lagi pasti aku akan di hina habis-habisan seperti dulu.
"Nona...nona muda!!" teriak Wan mengagetkanku.
"Eeehh mmm maaf aku tadi melamun, ada apa?" tanyaku pelan.
"Tuan Fiyoni sudah memberitahukan kalau tuan Fiyoni melihat dua wanita itu menuangkan serbuk ke dalam minuman tuan Alan nona."
"Serbuk? Tunggu dulu, sejak kapan?" tanyaku terkejut.
"Dari tadi nona muda, saat ini mereka sudah hampir sampai kamar."
"Oh astaga dasar Fiyoni memberitahukanku mendadak!" gerutuku segera berlari kembali ke dalam gedung dan ketiga bawahanku mengikutiku dari belakang.
"Nona muda, serbuk yang dimaksud tuan Fiyoni?"
"Ya, serbuk yang pernah digunakan kepadaku oleh mafia tertinggi saat aku remaja. Kalian pasti ingat masalah itu kan!"
"Oh ya kami mengingatnya nona muda, serbuk itu lebih bahaya dari pada pil merah."
"Ya benar, kalau di campurkan minuman keras pasti akan cepat mengefek!" ucapku masuk ke dalam aula yang masih di penuhi banyak orang.
Saat aku akan berjalan melewati lantai dansa, banyak orang yang menghalangi langkah kakiku. Disaat aku ke kiri banyak yang mengikutiku ke kiri kalau aku ke kanan mereka juga mengikuti ke kanan yang membuatku sangat kesal.
"Haish apa sih kalian tuh!! Ku bunuh kalian semua!" teriakku kesal sambil memegang senjataku yang membuat mereka sedikit membuka jalan untukku.
"Iisshh benar-benar membuatku kesal!" gerutuku kesal. Aku kembali melangkahkan kakiku menuju kamar yang ditempati Alan. Di depan pintu aku melihat Fiyoni berusaha mendobrak tapi tidak bisa terdobrak.
"Sani...mereka ada disini!" ucap Fiyoni serius.
"Apa tidak bisa di dobrak?"
"Tidak, kata Fians dari tadi Alan di dalam. Tadi Fians dan Ryuki pergi ke kamar mandi sedangkan Tony sedang makan jadi mereka benar-benar lengah mengawasi Alan."
"Haish... kenapa tidak lewat balkon?"
"Balkon di kunci rapat dan tidak bisa di dobrak! Fians dan Ryuki ada di balkon."
"Roy tolong awasi tangga, beritahu kalau tetua datang kemari ya!"
"Baik nona muda..."ucap Roy berlari ke tangga.
"Haish benar-benar membutuhkan sedikit waktu..." gumamku mengambil jepit rambutku dan berusaha membuka kunci pintu kamar di depanku.
"Apa kamu yakin dengan itu Sani?" tanya Fiyoni serius.
"Mungkin..." desahku berusaha membuka pintu itu.
Dari luar aku bisa sedikit mendengarkan percakapan mereka yang berada di dalam. Suara dua wanita yang menggoda Alan membuatku kesal.
"Oh Alan akhirnya kamu menjadi milikku..." gumam seorang wanita di dalam kamar.
"Ke...kenapa ka...kalian...mmmppphh..." gumam Alan pelan.
"Diamlah dan nikmati malam yang indah ini tuan tampan..." gumam seorang wanita yang lain membuatku kesal.
"Ada apa Sani?" tanya Fiyoni bingung.
"Tidak ada apapun!" gerutuku berusaha membuka pintu itu, kalau bukan keinginan dan tugas tetua pasti aku tidak akan melakukan ini. Kesalahanku sendiri sih mengatakan aku akan menghukum Alan belum saja aku hukum dia sekarang dia terjebak lagi yang membuatku dalam masalah juga.
Setelah beberapa menit aku berjuang membuka pintu akhirnya pintupun terbuka. Di tempat tidur aku melihat pakaian atas Alan yang terbuka dan dipenuhi lipstik dua wanita di depannya.
"Si...siapa kamu!" teriak wanita itu terkejut.
"Tidak perlu tahu siapa aku!" gerutuku menarik wanita itu yang membuatnya terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Kamu jangan mengganggu tugas kami!" teriak wanita itu berusaha melukaiku tapi dengan cepat aku menggenggam kedua tangan mereka yang membuat mereka tidak bisa melakukan apapun.
"Wan...Zaki tali mereka!" teriakku dan kedua bawahanku langsung mengikatkan tali yang dibawa mereka berdua.
"Sa...Sani...Sani!!!" tangis Alan merengek seperti anak kecil. Aku naik ke atas tempat tidur dan Alan langsung memelukku erat.
"Tidak apa, aku ada disini..." gumamku pelan dan Alan hanya terdiam dan memelukku erat.
"Kamu haus sayang?" tanyaku pelan dan Alan hanya mengangguk pelan.
"Ya sudah minumlah..." gumamku dan Alan langsung menggigit leherku sambil terus memelukku.
"Hebat kau Sani dengan sekejab bisa mengalahkan mereka berdua padahal mereka sangat hebat!" teriak Fiyoni terkejut.
"Tidak juga..." gumamku mengusap lembut rambut Alan.
Aku menatap kedua wanita yang terduduk dilantai sambil terus menundukkan wajah mereka, Zaki membuka pintu balkon dan Fians langsung berlari menghampiri Alan.
"Tu...Tuan muda...maaf tadi saya ke kamar mandi..." gumam Fians membungkukkan badannnya tapi Alan hanya terdiam dan terus sesenggukan. Oh astaga kenapa Alan jadi kayak anak kecil sih! Batinku
"Kalian berdua ya yang hampir mencelakakan tuanku! Kalian membuat aku sangat marah, aku akan membalas kalian!" gerutu Fians kesal.
"Fians biar nona muda saja yang mengurusnya..." gumam Wan yang menghentikan langkah Fians dengan cepat Fians hanya terdiam dan mundur beberapa langkah.
"Hmmm..." desahku terus mengusap rambut Alan.
"Oh ya kalian berdua dari mafia utara dan mafia barat ya?" tanyaku dingin.
"Bukan urusanmu!"
"Oh bukan urusanku ya? Tapi kalian membuat suamiku seperti ini kalian bilang bukan urusan kalian!" gerutuku kesal.
"Heeh suami? Kau sama saja dengan dia lemah dan tidak berguna, buat apa kau...huft hampir saja..." desah seorang wanita terkejut saat aku melempar senjataku ke tengah-tengah mereka.
"Kalian berdua sama saja, seharusnya kau pergi biar kami bisa menyelesaikan tugas kami dengan cepat!" gerutu wanita di depanku kesal.
"Oh beraninya kau mengusirku? Kau tidak tahu aku siapa?" gumamku menunjukkan tulisan mafia penguasa di pedangku yang membuat salah satu wanita itu terkejut.
"Ma...mafia penguasa?"
"Halah mafia penguasa apa yang ditakutkan, hanya tuan yang menguasai segalanya pasti kau akan kalah!"
"Oh benarkah? Tuan kalian sekuat apa?" tanyaku santai.
"Kekuatan tuan muda sangat kuat banyak orang yang mati karenanya, kau bukan tandingannya!"
"Oh benarkah? Kalau begitu tunjukkan dimana tuan muda yang kalian agungkan itu?"
"Dia tuan muda yang sangat misterius, tidak ada seorangpun melihat wajahnya bahkan wanitanya!"
"Oh benarkah? Aku sudah pernah melihatnya kok. Mungkin kalian yang kurang beruntung ya... hah kasihan, padahal kalian menginginkan tuan muda kalian. Benarkan?" sindirku menatap dua wanita itu dingin.
"Kau...beraninya kau mengatakan itu!!" teriak seorang wanita mencoba menyerangku, dengan cepat Fiyoni melawannya dan membuatnya terduduk kembali.
"Kalian ingin melawanku? Tidak masalah kalau kalian ingin, tapi mungkin kalian akan disiksa habis-habisan dengan tuan muda kalian."
"Kau jangan asal bicara, tuan muda tidak mungkin melakukannya!!" teriak wanita itu serius.
"Oh mmm benarkah? Tapi sebelum tuan muda kalian menjemput kalian, ada baiknya kalian merasakan hukuman keluarga Shin ya kan... Wan..." gumamku dingin dan Wan memberikan hukuman kepada dua wanita itu.
"Aaaa...Ampun...Ampun!!" teriak kedua wanita itu kesakitan, suara kedua wanita itu benar-benar nyaring membuat telingaku kesakitan.
"Ada apa ini teriak-teriak?" tanya para tetua petinggi mafia berdiri di depan pintu.
"Tidak ada apapun, hanya ada dua pengganggu malam orang lain..." gumamku menyelimuti Alan dengan selimut.
__ADS_1
"Hei kalian berdua kenapa kalian mengganggu mereka berdua!" protes petinggi mafia dingin.
"Tuan selamatkan kami, dia menghukum kami dengan kejam tanpa persetujuan anda tuan!" ucap wanita itu mencari pertolongan.
"Lalu kenapa? Kamu ingin membuatku dihukum mereka?" tanyaku dingin.
"Haish, apapun hukuman yang diberikan ketua mafia penguasa adalah mutlak. Kedudukannya lebih tinggi dari pada kedudukan kami sebagai petinggi mafia..." gumam petinggi pelan.
"A...Apa?" teriak dua orang itu terkejut.
"Memangnya kalian kira mereka berbohong?" gumamku menunjukkan kalung kristal di leherku.
"Lagi pula, tuan muda kalian yang kalian agungkan juga tidak berani melawanku, betulkan tuan muda..." gumamku menatap Lanlan yang berdiri di balkon, melihat kehadiran Lanlan membuat badan Alan bergemetar hebat. Aku kembali mengusap rambut Alan dan gemetaran di tubuh Alan sedikit berhenti.
"Ternyata kau masih saja sombong ya gadis kecilku..." gumam Lanlan dingin.
"Sombong ya? Kan kau yang mengajarkanku sombong benarkan?" tanyaku dingin.
"Kau masih saja bertahan dengan pria lemah itu gadis kecilku..." sindir Lanlan dingin.
"Kan kamu yang bilang untuk memuaskan keinginanku bersama adik kecilmu ini benarkan? Jadi salah siapa?" sindirku kesal.
"Hahaha dan kamu menganggap ucapanku adalah perintah?"
"Tidak juga, tidak ada yang bisa memerintahkanku selain tetua dan petinggi mafia. Lagi pula kalian berdua harus memperebutkanku bersama dengan pria lain kan jadi...sebelum kau memerintahkanku lebih baik kau memenangkanku terlebih dahulu tuan Lanlan Liu!" ucapku dingin tapi Lanlan hanya terdiam sambil tersenyum dingin.
"Tu...tuan...apa benar wanita itu pernah melihat wajah anda?" tanya wanita itu serius.
"Ya."
"APA!!" teriak kedua wanita itu terkejut.
"Bahkan dia pernah menciumku loh!" ucapku dingin, mendengar ucapanku kedua wanita itu menatap Lanlan terkejut.
"Ya dia wanita yang aku cium pertama kali..." gumam Lanlan yang membuat semua orang terkejut.
"Ja...jadi jangan bilang..."
"Ya ciuman pertamaku sudah aku berikan kepada wanita menyebalkan yang duduk di atas tempat tidur itu..."
"Tunggu, Apa! Mana bisa seperti itu, kata tuan..."
"Kalian gagal dalam tugas kalian lebih baik kalian merasakan hukuman kalian berdua..." gumam Lanlan menjentikkan jarinya dan datang dua pria yang membawa dua wanita itu pergi.
"Oh ya...sampai berjumpa lagi dilain waktu istriku..." gumam Lanlan pergi meninggalkan kamar.
"Tunggu tadi Lanlan?" tanya para petinggi terkejut.
"Waah dia terlihat sangat hebat!" ucap para petinggi pergi meninggalkan kamar.
"Kalian bisa istirahat..." gumamku menatap Fians dan Ryuki sambil mengusap rambut Alan.
"Baik!" teriak Fians dan Ryuki meninggalkan kamar.
"Kalian berempat juga istirahatlah..." gumamku pelan.
"Aku akan disini saja..." gumam Fiyoni terduduk di sofa.
"Kami juga nona muda...." gumam bawahanku serius.
"Sudah kalian istirahat saja, tidak apa Fiyoni disini. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya..." gumamku pelan.
"Baik nona muda..." gumam ketiga bawahanku meninggalkan kamar.
Aku menatap Alan yang masih sesenggukan di pelukanku, aku tahu dia sangat sedih kalau tahu Lanlan pernah menciumku, tapi ya untuk memancing Lanlan datang disaat banyak petinggi mafia aku juga harus melakukan hal itu agar para petinggi tidak salah paham.
__ADS_1