
Pagi ini aku bangun terlalu pagi, aku pergi dari perkemahan dan terduduk di atas pohon, cuaca yang sangat dingin dan suara burung disekelilingku membuatku merasa sedikit tenang
Aku terduduk di atas pohon seharian bahkan sampai matahari kembali terbenam, tanpa tujuan yang jelas hari ini jadi aku hanya duduk termenung di atas pohon.
Aku menggerak - gerakan kakiku dan melihat beberapa pohon yang berdaun lebat dan sunyi. Tiba - tiba ada sebuah pedang kecil yang mengarah ke arahku dan aku terkejut ada sebuah pedang yang menepisnya dengan cepat
Taaaanngggg
"Alan?" gumamku terkejut saat melihat Alan berdiri di sampingku sambil membawa dua senjata miliknya
"Kamu ngapain disini sendirian? Tadi sangat berbahaya tahu!!"
"Ya aku tahu..." gumamku turun dari pohon dan mengambil pisau itu
"Milik siapa?"
"Milik salah satu mafia tertinggi tapi sepertinya sasaran" gumamku pelan
"Tapi tebakanmu salah" gumam Alan menatap salah satu pohon dengan dingin
"Lama tidak berjumpa Sani... Alan..." gumam seorang wanita di balik pohon
"Dewi Chu?" gumamku terkejut
"Oh kamu masih mengenalku ya?"
"Menurutmu?" gumamku dingin
"Heeh kenapa kamu disini Alan? Mengganggu saja" gerutu Dewi kesal
"Emang kenapa? Suka - suka aku lah, dia istriku" gumam Alan dingin
"A... APA ISTRI??" teriak Dewi kesal
"Oh ya aku ingat kan kamu yang terus mengejar Alan saat kami masih pacaran ya... Hmm tidak aku sangka masih mengejar Alan juga ya...Emang kamu gak laku ya sampai harus mengejar Alan sampai sekarang?" sindirku dingin
"Apa katamu!!!" teriak Dewi kesal dan melempariku pisau kecil lagi tapi Alan terus menepisnya dengan pedangnya
"Hei Dewi sudahlah, jangan melukai dia..." gumam salah satu wanita berjalan ke samping Dewi dan diikuti oleh beberapa orang lainnya. Salah satu di antara mereka aku melihat ada seorang wanita yang wajahnya hampir mirip denganku dan dia memakai kalung kristal biru mirip yang sama dengan kalung yang aku pakai dan Sain pakai
"Kenapa sih ketua harus memilih dia?" gerutu Dewi kesal
"Ya itu sudah keputusan ketua tahu"
"Hmmppp..." gerutu Dewi kesal
"Eeemmm... Apa kamu Sani?" tanya salah satu laki - laki di depanku
"Ya aku Sani... Shin..." gumamku dingin, aku melihat wanita berkalung kristal biru itu terkejut saat aku bilang nama lengkapku
"Jadi gini ketua kami ingin mengajakmu bergabung dengan kami..."
"Bergabung dengan kalian?" gumamku dingin
"Ya, kamu sangat berbakat Sani. Kamu bisa bergabung dengan kami?"
"Berbakat ya? Tidak juga aku hanya orang lemah" gumamku dingin
"Kalau kamu orang lemah, ketua tidak mungkin meminta kami untuk menjemputmu Sani"
"Menjemputku ya?...Kenapa tidak ketua kalian yang menjemputku?"
"Tidak boleh... Dia istriku!!" gumam Alan kesal
"Diamlah..." gumamku melirik Alan dingin
"Emang apa yang aku dapatkan dengan aku bergabung kalian?" gumamku dingin
"Ya kamu akan bisa menjadi kuat seperti kami dan keahlianmu akan terasah dengan baik..."
"Kuat seperti kalian ya? Tapi sepertinya kalian sangat lemah ya..." sindirku dingin
"Dasar kamu sombong!!!" teriak Dewi melempariku pisau kecil dan Alan terus menepisnya dengan senjata yang ada di tangan Alan
"Kamu jangan mengganggu kenapa sih Alan?" teriak Dewi kesal
"Kamu ingin melawanku?" gumamku dingin
"Ya lah, aku tidak terima ketua lebih sayang kamu dari padaku!!!"
"Sayang aku? Hahaha kamu yang lemah..." gumamku
"Beraninya kamu bilang aku lemah!!" teriak Dewi mengambil pedangnya dan berlari ke arahku dan tanpa basa basi aku mengambil senjataku dan menahan pedang Dewi
Taaannggg
"Pedang milik mafia penguasa?" teriak salah seorang laki - laki terkejut
"Oh jadi kamu ya mafia terkuat dan terkejam itu?" salah satu orang terkejut
"Bukan, aku hanya orang lemah" gumamku santai
"Tidak, aku ingat itu. Perang Asia Pasifik kemarin, aku ingat pedang itu melukai orang tuaku!!" teriak salah satu laki - laki kesal
"Hei Dewi mundurlah!!!" teriak salah seorang laki - laki dan Dewi mundur
"Aku sekarang tahu kenapa ketua terus meminta dia bergabung ternyata dia mafia yang kejam itu" desah laki - laki itu pelan
"Sani bagaimana apa kamu mau bergabung dengan kami?" tanya laki - laki itu dingin
__ADS_1
"Waaah... Waah ada rame - rame ada apa ini?" gumam Sann Liu berjalan mendekatiku di ikuti beberapa anggota mafia senior pusat lainnya
"Kamu bergabung dengan mereka Sani?" tanya laki - laki itu terkejut
"Tidak..."
"Lalu kenapa anggota mafia senior pusat datang kemari?"
"Mana aku tahu..." gumamku santai
"Kak Sina..." teriak Sain terkejut
"Sina apa kamu kenal dia?"
"Mmmm... Tidak.." gumam Sina pelan
"Jahatnya aku tidak di anggap..." desah Sain kesal
"Sudahlah sayang.." gumam Hassan Liu mengusap lembut rambut Sain
"Bagaimana Sani apa kamu mau bergabung dengan kami?"
"Kamu tidak capek apa terus bilang bergabung dengan kalian mulu" desahku memasukkan senjataku
"Tidak, kami akan berhenti bilang sampai kamu mau bergabung dengan kami"
"Oh benarkah? Tapi maaf... Aku tidak tertarik bergabung dengan siapapun" gumamku santai
"Kenapa kamu tidak mau bergabung?"
"Ya tidak ingin saja, mafia senior pusat juga memintaku bergabung dengan mereka tapi aku juga menolaknya kok" gumamku santai
"Mending kalian pergilah, kalau ketua kalian menginginkan aku, suruh datang dan menghadapiku..." gumamku dingin
"Ya sudah lah ya aku ada urusan lainnya" gumamku dingin dan berjalan meninggalkan tempat itu, tanganku mengambil beberapa jarum di tasku dan bersiap kalau mereka menyerang
"Jangan salahkan kami kalau kami memaksamu sani!!" teriak Dewi kesal dan mereka semua menyerangku dengan cepat
"Sani hati - hati!!" teriak Alan terkejut, tanpa basa basi aku melemparkan jarum dan mengenai kaki mereka kecuali Sina
"Uuukkhhh..." rintih semua orang terkejut
"Ke... Kenapa aku tidak kena?" tanya Sina terkejut
"Karena memang aku tidak mau melukaimu saja" gumamku berbalik dan menatap Sina
"Tu... Tubuhku terasa kaku semua..." rintih seorang laki - laki kesakitan
"Ya... A.. Aku juga.."
"Aku sudah mengingatkan untuk pergi kan kalian sendiri tidak mau pergi" gumamku santai
"Tapi ngomong - ngomong katanya kalian terkuat ya setelah bergabung dengan mafia pemberontak ya? Mmmm kurasa omongan kalian salah, kalian tidak kuat sama sekali malah sangat... Lemah" gumamku dingin
"Karena dia ... Kembaranku, benarkan... Sina?" gumamku santai
"Apa?" teriak seluruh orang terkejut
"Lalu kenapa kamu melukai kami?"
"Tidak aku tidak melukai kalian kok, hanya saja melumpuhkan saja..."
"Itu sama saja!!"
"Tidak itu berbeda, kalian tidak terluka sama sekali kan? Aku hanya melumpuhkan otot - otot kalian dan semakin lama kalian akan... MATI"
"Melumpuhkan tanpa melukai? Jangan bilang itu jarum racun Level S?" tanya Sina terkejut
"Ya benar sekali, racun buatanku dan akan membuat kalian para mafia pemberontak mati dengan tenang!!" gerutuku dingin
"Ke... Kenapa kamu ingin membunuh mafia pemberontak? Apa itu tujuanmu?"
"Mmm bisa dibilang tujuan pedangku yang sebenarnya adalah membunuh pelaku yang membunuh keluarga besar Shin..."
"A... AAPAAAA? KELUARGA SHIN TERBUNUH?" teriak Sina terkejut
"Ya... Ayah, ibu, dan seluruh keluarga besar Shin terbunuh oleh... Ketua mafia pemberontak... Linshi"
"I... Itu tidak mungkin..." dedah Sina menundukkan kepalanya
"Terserah kamu mau percaya atau tidak..." gumamku berjalan ke arah Sina dan memeluknya dengan lembut
"Kenapa... Kenapa kakak selalu memperdulikan aku? Kenapa semua orang mencintai kakak dari pada aku? Kenapa... Kenapa selalu kakak yang mendapatkan semuanya sedangkan aku... Tidak sama sekali!!" teriak Sina mengangkat pedangnya dan dengan cepat aku menangkap pedang itu dengan tanganku yang membuat tanganku berdarah
"Sani!!" teriak seluruh anggota mafia senior pusat terkejut
"Apa kamu sangat dendam denganku sampai kamu ingin membunuhku adikku?" gumamku menatap Sina serius
"Ya, aku sangat dendam dengan kalian berdua. Kalian berdua selalu mendapatkan apa yang kalian inginkan sedangkan aku... Aku harus berusaha untuk mendapatkannya!!" protes Sina kesal
"Emang kamu kira aku mendapatkan apa yang aku punya sekarang dari ayah dan ibu? Tidak Sina aku tidak melakukan dengan cara seinstan itu, aku juga butuh perjuangan..." gumamku membuang pedang milik Sina
"Kamu sudah mengambil semua peninggalan milik ayah kan setelah Linshi berhasil membunuh seluruh keluarga besar kita. Apa kamu masih menganggap kamu tidak mendapatkan apapun? Semua harta milik seluarga Shin termasuk hartaku dan harta Sain juga sekarang milikmu, kami tidak meminta itu semua dan kamu bilang kami sebagai saudara kandungmu tidak adil!!!"
"Kamu kembaranku, kamu adikku, Sain juga adikku, aku juga selalu adil kepada kalian berdua" gumamku pelan
"Kalau kamu memang sangat ingin membunuhku..." gumamku melepaskan pelukanku dan berjalan pergi
"Datanglah kepadaku suatu saat nanti..." gumamku dingin dan menebaskan pedangku ke arah seluruh mafia pemberontak yang terjatuh di tanah
__ADS_1
"Aku akan menunggumu menancapkan pedangmu di dadaku ... Atau aku tidak sungkan - sungkan untuk membunuhmu adikku..." gumamku dingin dan berjalan meninggalkan tempat itu
"Kak Sina, kamu sekarang gila apa melukai kak Sani, dia sangat menyayangimu dari pada aku... Seharusnya aku yang lebih cemburu kepadamu tapi aku sama sekali tidak punya keinginan untuk melukai kalian berdua tapi malah kamu ingin membunuh kak Sani!!! Kalau kamu berani melukai kak Sani aku tidak segan - segan membunuhmu juga!!!" teriak Sain kencang yang terdengar di telingaku
Aku hanya berjalan pergi dan terus menundukkan kepalaku, darah menetes dari tanganku, rasa sakit di tanganku tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di hatiku. Aku merasa gagal menjadi seorang kakak bahkan aku dulu sudah melupakan kedua kembaranku dan membuat kembaranku sangat dendam kepadaku, saat ini aku merasa sangat tidak pantas sebagai seorang kakak.
Aku berjalan menyusuri hutan di depanku, aku tidak tahu aku harus berbuat apa. Aku sangat merasa bersalah kepada kedua adikku bahkan adikku sendiri ingin membunuhku juga.
Di ujung hutan aku melihat sebuah laut yang di hiasi sinar matahari terbenam yang sangat indah. Aku berdiri di ujung tebing yang sangat tinggi ini dan melihat ombak tinggi di bawahku.
"Ayah... Ibu... Maaf aku tidak bisa menjadi kakak yang baik..." gumamku pelan sambil terus menangis. Aku melangkahkan kakiku ke ujung tebing itu dan bersiap untuk melompat ke bawah, tapi tiba - tiba ada seseorang yang memelukku dari belakang dan menarikku kepelukannya
"Apa yang kamu lakukan!!" protes Alan kesal
"LEPASIN AKU ALAN.. LEPASIN!!" teriakku terus menangis
"Tidak... Kamu tidak boleh seperti itu Sani... Kamu selalu saja bunuh diri kalau kamu sangat sedih... Kamu tidak boleh seperti itu Sani" desah Alan memelukku erat
"LEPASIN AKU ALAN!!!!!" teriakku kesal
"Menangislah... Teriaklah yang kencang... Aku tidak akan melepaskanmu!!" gumam Alan memelukku dengan sangat erat
Pelukan Alan yang sangat kuat membuatku tidak bisa melawan lagi. Pelukan yang sangat nyaman membuat tangisanku menjadi - jadi. Aku terus menangis tanpa henti, Alan terus mengusap rambutku dengan lembut dan terus menenangkanku
"Jangan menangis sayangku"
"A... Aku tidak pantas menjadi kakak Alan, aku tidak bisa menjaga adikku, aku sangat bodoh Alan...Aku sangat bodoh..." gumamku terus menangis
"Sudahlah Sani, adikmu dari dulu memang keras kepala seperti adikku jadi kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri..."
"Ta... Tapi..."
"Hmmm sudah lah sayang jangan terus menangis seperti itu.."
"Bunuh aku Alan bunuh aku!!" teriakku kencang
"Hei kamu gak boleh seperti itu... Kamu harus terus hidup tahu..."
"Bunuh aku saja... Aku tidak pantas untuk hidup!!"
"Kalau kamu ingin mati... Mari mati bersama sayang" gumam Alan menatapku serius
"Mati bersama? Apa kalian sudah gila?" teriak Sann Liu berjalan ke arah kami dengan beberapa anggota mafia senior pusat lainnya
"Aku tidak masalah kalau Sani ingin mati tapi dia harus mati bersamaku..." gumam Alan memelukku erat
"Kakak jangan melakukan hal bodoh hanya karena kak Sina, kakak tidak boleh putus asa seperti itu!!!" teriak Sain serius
"Hmmm... "desahku menyembunyikan wajahku di dada bidang Alan
"Kalian persiapkanlah dulu apa yang mau di persiapkan, biar Sani tenang dulu" gumam Alan pelan dan semua anggota mafia senior pusat pergi meninggalkan tempat itu
"Nanti malam akan ada pertarungan jadi kamu gak boleh putus asa seperti ini..." gumam Alan pelan
"Aku tidak tertarik..."
"Benarkah?"
"Ya... Aku capek mau istirahat" gumamku berusaha melepaskan pelukan Alan
"Aauuuu..." rintihku kesakitan
"Oh ya aku lupa tanganmu berdarah" gumam Alan memegang tanganku dan menarikku terduduk di tanah
"Aku harus mengobatimu dulu" gumam Alan mengambil obat merah khusus dan mengolesnya di tanganku
"Aaauuuu sa... Sakitnya" rintihku kesakitan
"Tahan sedikit sayang"
"Kenapa bisa sesakit ini?"
"Ya ini obat merah khusus, jadi nanti lukamu akan sembuh lebih cepat dari obat merah biasanya" gumam Alan memperban tanganku
"Hmmm..." desahku menatap tanganku yang dibalut perban dengan sangat rapi
"Karena Sani terluka biarkan dia istirahat dulu, kalian harus hati - hati " gumam Alan pelan
"Jadi mau melakukan rencana itu?" gumam Sann Liu dingin
"Ya tergantung kamu, kamu seorang ketua pasti kamu tahu apa yang harus kamu lakukan apalagi dia ... Istrimu" gumam Alan dingin
"Ya aku tahu..." gumam Sann Liu pergi meninggalkan kami
"Kamu pergilah..." gumamku pelan
"Tidak..." gumam Alan merangkulku erat
"Kenapa?" gumamku pelan
"Kalau aku meninggalkanmu pasti kamu akan melompat ke bawah, aku sudah tahu tentang kamu Sani, aku gak mau kamu melakukan hal bodoh seperti dulu Sani"
"Hmmm kamu masih ingat saja" desahku pelan
"Bagaimana aku tidak ingat luka di lehermu, lehermu ini membuatku sangat menyesal tidak bisa mencegahmu untuk bunuh diri waktu itu. Kalau kamu tidak sembuh waktu itu, aku mungkin akan kehilanganmu selamanya" desah Alan menyibakkan rambutku dan terlihat bekas jahitan di leherku
"Dan aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, kamu istriku dan aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi..." gumam Alan menatapku serius. Aku mencium Alan dengan lembut dan menatap wajah Alan yang tampan
"Terimakasih suamiku.." gumamku pelan
__ADS_1
"Tidak perlu berterimakasih, ini kewajibanku sebagai suamimu. Kamu harus tetap semangat, aku yakin suatu hari nanti Sina akan memaafkan kalian berdua dan kembali seperti adikmu yang dulu" gumam Alan pelan
"Yah semoga saja" desahku mencium Alan di atas tebing dengan di temani laut yang disinari matahari terbenam yang indah