
"Kalau kakak benar - benar mencintaiku, buktikanlah kepadaku" gumamku pelan
"Kamu ingin bukti apa?"
"Apapun itu terserah kakak" gumamku pelan
"Baiklah, aku akan membuktikannya kepadamu wanitaku" gumam Hasan mencium keningku lembut
"Oh ya kak, mungkin aku tidak bisa lama - lama ada disini. Apapun yang aku lakukan semoga kakak tidak keberatan dan mungkin kita akan bertemu saat perang itu berlangsung" gumamku pelan
"Kenapa? Apa kamu tidak ingin..." gumam Hasan terkejut
"Tidak, Aku tidak ingin melibatkanmu tentang urusanku" gumamku memotong pembicaraan Hasan
"Kamu adikku, kamu wanitaku, aku tidak masalah terlibat dalam urusanmu"
"Mafia kakak belum teruji kehebatannya, aku takut kalau kalian berdua terluka" gumamku pelan
"Hei kamu tidak pernah mendengar mafia mutiara emas saat perang asia pasifik?"
"Tidak..."
"Haish, yang membantu kalian berdua menghabiskan seluruh pasukan musuh siapa?" gerutu Hasan mencubit pipiku
"Auu sakit lah" protesku kesal
"Tunggu dulu emang ada gitu?" tanyaku terkejut
"Pasukan berjubah hitam membawa senjata pedang dan samurai panjang, kamu tidak ingat?" tanya Hasan menatapku
"Berjubah hitam? Pemakai pedang dan samurai... Panjang?" gumamku terkejut
"Tunggu dulu, jadi si samurai panjang itu?" tanyaku menatap Hasan
"Ya, itu pasukanku"
"Tapi kenapa aku tidak bertemu kakak?" protesku kesal
"Aku ada ya, membantu ketua mafia - mafia bocil itu" gumam Hasan santai
"Yang di tengah hutan lebat itu tindakan kakak?" tanyaku tidak percaya
"Ya benar, itu tindakanku dengan Han Lee saja"
"Pantas saja aku tidak mendapatkan satu orangpun yang hidup. Padahal aku masih ingin bermain - main" gerutuku kesal
"Sudah tahu kan kekuatan kami, itulah kenapa para mafia tertinggi terus mengelabuhiku untuk bekerja sama walaupun aku sering menolaknya"
"Hmmm tidak aku sangka kakak bosa sehebat itu, tapi kenapa kakak tidak melakuan uji untuk melihat kemampuan mafia kakak?"
"Aku sudah pernah ikut.." gumam Hasan mengusap rambutku lembut
"Pernah ikut? Lalu peringkat kakak?" tanyaku terkejut
"Peringkat SSS lebih tinggi darimu" gumam Hasan menunjukkan lencana di tangannya
"Triple S? Ini setara dengan mafia senior?" teriakku terkejut
"Ya memang, mafiaku masuk ke mafia senior sekarang. Makannya aku jarang ikut - ikut melakukan pertempuran para bocil"
"Tapi perang di Jepang kemarin kakak tidak ikut?"
"Tidak, mungkin nanti saat perang dunia kami para mafia senior akan ikut" gumam Hasan santai
"Kakak, ajarkan aku agar aku bisa masuk mafia senior"
"Hei mafia penguasa sudah masuk mafia senior tahu!!"
"Mana ada aku hanya level SS aja" gumamku pelan
"Kamu sekarang level SSS tahu..."
"Kata siapa?" tanyaku terkejut
"Ini buktinya" gumam Hasan memberiku sebuah lencana level SSS dan di baliknya bertuliskan namaku dan mafia penguasa
"Tunggu!! Kenapa aku bisa dapat, aku kan tidak ikut ujian lagi!!" protesku terkejut
"Kemampuanmu diakui seluruh mafia di dunia bahkan para mafia senior Sani, aku mengajakmu bertemu sebenarnya hanya ingin memberikan lencana ini kepadamu
Sebentar lagi ada survival para mafia dari seluruh level, dan kita mafia senior akan menjadi jurinya"
"Aku jadi juri?" gumamku terkejut
"Yups benar sekali"
"Tapi aku ingin menjadi pesertanya saja" gumamku pelan
"Kamu bisa menjadi pesertanya tapi bukan untuk melakukan sebuah misi"
"Misi apa?" tanyaku penasaran
"Nanti saat rapat para mafia senior kamu akan tahu"
"Kapan rapatnya?"
"Satu jam lagi rapat akan dimulai, jadi istirahatlah dulu" gumam Hasan memelukku erat
"Hmmm emang tidak jauh apa?"
"Jauh sih cuma istirahatlah dulu, masuk ke dalam rapat akan ada pemeriksaan kehebatanmu kalau kamu tidak hati - hati kamu akan terluka"
__ADS_1
"Oh, hanya pemeriksaan kecil" gumamku pelan
"Hmmm kamu ini selalu menyepelekan lawan"
"Biarlah, meskipun begitu aku juga berhati - hati ya" gumamku pelan
"Hasan, sudah semua!!!" teriak Han Lee di luar kamar
"Okeey, kamu siap - siaplah!!" teriak Hasan terbangun dari tidurnya
"Kamu bersiap - siaplah, kita akan berangkat"
"Lah katanya tadi aku disuruh istirahat" gumamku bingung
"Istirahat beberapa menit sudah cukup, gantilah pakaianmu di ruang ganti"
"Emang ada pakaian wanita disini?" tanyaku terkejut
"Ya, khusus untukmu. Udah cepetan, keburu telat!!" protes Hasan mendorongku ke ruang ganti
Di ruang ganti, aku melihat banyak sekali gaun - gaun yang berjajar di gantungan. Aku mengambil sebuah gaun berwarna hitam dan segera memakainya
"Bagaimana munurutmu?" gumamku keluar ruang ganti
"Sangat cantik" gumam Hasan menatapku terkejut
"Kenapa aku harus memakai gaun?" tanyaku bingung
"Ya memang saat pertemuannya memakai gaun dan jas"
"Hummp kayak pesta saja" desahku duduk di meja rias
"Ini kan pertemuan besar Sani, banyak mafia senior yang datang ke tempat itu" gumam Hasan merangkul bahuku dari belakang
"Disana akan banyak laki - laki tampan dan hebat jadi jangan sampai tertarik tahu, kamu itu milikku" bisik Hasan di telingaku
"Aku tidak tertarik dengan laki - laki, aku lebih tertarik membunuh musuh keluargaku" gumamku dingin
"Hmmm kamu ini ya suka banget kalau disuruh mdmbunuh orang" desah Hasan memasukkan tangannya di saku dan mengambil sebuah kotak hitam di tangannya
"Apa itu?" gumamku penasaran
"Untukmu" gumam Hasan membuka kotak yang berisi kalung kristal yang sangat indah
"Kalung? Untuk apa?"
"Ini kalung buatanku sendiri, memang dari dulu aku ingin memberikannya kepadamu saat kita remaja tapi malah kamu dijodohkan dan bertunangan dengan orang lain. Jasi aku masih menyimpannya sampai sekarang"
"Kristal itu bukannya kristal yqng kita temukan di tambang saat kita tersesat dulu?" tanyaku terkejut
"Ya benar, aku melihat kristal itu sangat indah jadi aku ambil dan aku buatkan kalung untukmu" gumam Hasan memasangkan kalung itu di leherku
"Bukannya kakak ambil tiga buah ya?" tanyaku penasaran
"Jadi jaga baik - baik kalung itu ya" gumam Hasan mencium pipiku
"Hmmm mentang - mentang ciuman pertama kakak denganku, kakak suka banget menciumku" gerutuku kesal
"Ya lah, kamu adikku, kamu wanitaku, kamu milikku jadi suka - suka aku melakukan apa kepadamu"
"Hmmm terserah lah..." desahku pelan
"Baiklah, mari kita pergi sayang" gumam Hasan menggandeng tanganku
"Sa... Sayang?" gumamku terkejut
"Udah jangan protes" ucap Hasan tersenyum
Di luar kamar aku melihat Han Lee yang sudah menunggu kami dengan memakai jas hitam yang terlihat mewah. Di luar gua aku melihat sebuah helikopter yang terparkir tidak jauh dari gua. Kami bertiga naik helikopter dan helikopter hitam itupun mulai terbang meninggalkan tempat itu
Di dalam pesawat aku melihat Han Lee yang sedang asik bermain game di handphonenya sedangkan Hasan yang sibuk dengan telponnya sedangkan diluar jendela aku melihat matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat dengan hiasi langit berwarna oranye ke merah - merahan. Hasan merangkulku dengan lembut di sebelahku
"Bagus ya pemandangannya Sani" gumam Hasan sambil menatap matahari tenggelam di depannya
"Ya, memang indah" desahku pelan
"Tempatnya apa jauh?" gumamku menatap Hasan
"Tidak, sebentar lagi kita sampai"
"Kalau dekat kenapa harus memakai helikopter?"
"Karena tempatnya ada disana" gumam Hasan menunjuk ke sebuah bangunan yang ada di puncak gunung tinggi di depan kami
"Bukannya gunung itu tidak bisa di daki ya? Gunung Kehancuran?"
"Yups benar, makanya kita harus menggunakan helikopter untuk kesana dan juga gak sembarang helikopter bisa masuk kesana" gumam Hasan melepaskan rangkulan yang ada di bahuku
"Karena kamu termasuk ke dalam mafia senior jadi kamu bisa masuk ke dalam markas"
"Oh begitu ya, aku baru tahu ada markas di atas gunung kehancuran. Sama sekali tidak ada rumor apapun tentabg markas mafia senior"
"Ya memang kami menjaga sekali rahasia itu, dan kamu juga harus menjaga rahasia ini apalagi kamu sekarang mafia senior"
"Ya aku tahu, bahkan aku menjamin tidak ada yang akan tahu kalau aku mafia senior sebelum survival itu dilaksanakan" gumamku dingin
"Hmmm ya aku percaya tentang itu..." desah Hasan tersenyum kepadaku
"Baiklah kita turun sekarang" gumam Han Lee berjalan mendahuluiku dan Hasan juga mendahuluiku. Mungkin karena ada pemeriksaan awal Hasan juga turun mendahuluiku, aku berjalan biasa saja tapi kedua tanganku memegang senjataku
Tidak beberapa langkah aku berjalan banyak senjata yang menyerangku, dengan cepat aku menangkis semua senjata - senjata itu dengan pedang dan samuraiku. Tapi saat aku hampir sampai di depan gerbang dan mereka berdua sudah masuk ke dalam bangunan itu, tiba - tiba ada yang melemparkan jarum ke arahku dengan cepat aku menangkap jarum itu dan melemparkan jarumku ke arah orang yang melemparkan jarum itu
__ADS_1
"Waah hebat juga dia, pantas kalau kita beri lencana triple S" gumam seorang laki - laki di atas bangunan itu
Di atas bangunan aku melihat ada 10 orang laki - laki dan 1 orang perempuan yang berdiri sambil menatapku dingin, dan Hasan juga berdiri di antar mereka bersepuluh itu
"Dia pengguna jarum juga ya? Sama sepertimu ketua" gumam wanita itu dingin
"Iya, dia hebat sepertimu ketua" gumam laki - laki di sebelahnya
"Apa dia benar - benar menangkap jarum ketua?" tanya seorang laki - laki berambut pirang menatapku dingin
"Jadi ini miliknya ya?" gumamku menatap jarum yang ukurannya lebih besar dari punyaku
"Eeh dia beneran menangkapnya dong" gumam wanita iti terkejut
"Jarum yang unik" gumam laki - laki berambut hitam menatapku dingin
"Apa kamu yang bernama Sani?" gumam laki - laki berambut coklat turun dari atas bangunan dan berdiri di depanku
"Ya, aku Sani" gumamku dingin
"Kamu sebenarnya pengguna apa?" tanya seorang laki - laki di sebelahnya
"Aku pengguna pedang dan samurai beracun"
"Tapi kenapa kamu bisa menggunakan jarum? Padahal yang bisa menggunakan itu..."
"Ya memang hanya aku dan San yang bisa menggunakannya" gumamku dingin
"Kamu tahu siapa ketua mafia senior?" tanya wanita itu terkejut
"Ya, aku mengenalnya" gumamku menatapnya dingin sedangkan dia hanya tersenyum dingin kepadaku dan pergi dari atas bangunan
"Oh baguslah kalau kamu sudah mengenalnya, aku Ade, Lyla, Nanda, Abe, Hasan, Hanbin, Rai, Sam, Ran dan Cen. Lalu ketua kami bernama San" gumam Ade bersalaman denganku
"Aku Sani..." gumamku menjabat tangan Ade
"Baiklah masuklah, ketua sudah menunggumu di dalam" gumam Nanda menggandeng tanganku masuk ke dalam bangunan itu
Di dalam ruangan aku melihat banyak meja dan kursi yang tertata rapi di dalamnya
Di tengah - tengah meja aku melihat San yang sedang duduk menatapku dingin.
San dulu laki - laki yang mengajarkanku penggunaan senjata beracun, hanya aku dan dia yang bisa menggunakan racun tingkat tinggi, dulu dia sangat menyukaiku bahkan dia ingin menikah denganku tapi karena aku tidak memiliki rasa apapun. Setelah perang asia pasifik tiba - tiba dia menghilang seperti Hasan setelah adiknya meninggal di bunuh oleh dalang perang asia pasifik. Aku kira dia telah mati ternyata dia menjadi ketua mafia senior
"Duduklah Sani..." gumam Nanda melepaskan tanganku dan duduk di sebelahku, aku tidak tahu kenapa tempat dudukku berada di tengah - tengah mereka bersepuluh tepat di depan San lagi
"Baiklah kita akan mengadakan rapat pelaksanaan survival" gumam Hasan dingin
"Hari ini ada penambahan anggota mafia senior yang baru, Sani bisa memperkenalkan diri" gumam Hasan menatapku, aku berdiri dari tempat dudukku dan menatap semua orang yang ada disitu
"Aku Sani Shin, aku ketua mafia penguasa dan aku pengguna senjata beracun" gumamku dingin dan terduduk kembali di tempat dudukku
"Mafia penguasa yang dikenal kejam itu?" tanya Ran terkejut
"Ya tidak aku sangka ketuanya seorang wanita cantik" gumam Sam mematapku tidak percaya
"Senjata beracun ya? Mirip dengan ketua berarti" gumam Hanbin pelan
"Ya kan dia tadi bilang kenal dan mereka berdua sama - sama pengguna senjata beracun" gumam Ade pelan
"Baiklah, mari kita mulai.." desah Hasan pelan
"Survival ini dilakukan untuk memberikan lencana kepada para mafia di dunia dan kita hanya menjadi juri. Tapi selain itu kita memiliki tugas untuk melakukan pengawasan kepada para peserta, karena peraturannya peserta dilarang untuk bekerja sama. Jadi tugas kalian langsung mengeliminasi paserta yang ketahuan tidak jujur" jelas Hasan dingin
"Lalu apa yang harus kami lakukan?" gumam Nanda bingung
"Tunggu sebentar, aku belum selesai menjelaskan tugasnya loh!!" protes Hasan kesal
"Hehehe maaf..."
"Hmmm selain itu, dalam survival ini pasti akan ada pemberontak mafia senior. Kemungkinan ada yang bisa membantu ketua untuk melawan mereka"
"Pemberontak yang menakutkan itu?" gumam Ran terkejut
"Ya benar, apa ada yang bisa membantu ketua?" gumam Hasan dan semua ketua hanya terdiam dan saling berpandangan
"Eehh tidak ada yang mau membantu?" tanya Hasan terkejut
"Emang kamu tidak ikut membantu?" tanya Abe menatap Hasan dingin
"Aku ..."
"Aku akan membantunya" gumamku dingin
"Sani? Kamu serius?" tanya Nanda terkejut
"Ya..."
"Kamu tahu siapa pemberontak itu? tanya Sam menatapku
"Dia yang melakukan penyerangan di asia pasifik tahu!! Kamu masih pemula..." protes Abe menatapku
"Aku tidak peduli, aku harus bisa membunuhnya. Dia masih memiliki hutang nyawa denganku saat perang asia pasifik" gerutuku dingin
"Jadi kamu dulu ikut perang itu?" tanya Nanda terkejut
"Ya .."
"Oh pantas saja kalau kamu tidak takut" desah Nanda pelan
"Baiklah kalau begitu, Sani akan membantuku dan ketua dalam penyerangan pemberontak itu, sedangkan yang lain melakukan pengawasan" gumam Hasan menatap kami semua
__ADS_1
"Baik laksanakan!!" ucap seluruh orang berteriak kencang
"Heeh dalang penyerangan asia pasifik ya? Liat saja nanti permainanku ... Baim" gumamku dalam hati