Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 22 : Menjenguk Ryuki


__ADS_3

Setelah pertarungan di hutan itu, tetua terus mengajak aku dan Sony untuk membahas pertempuran selanjutnya apalagi kami sudah tahu strategi yang digunakan oleh mereka dalam pertarungan berikutnya atas bantuan Hyung yang sekarang ada di tanganku


"Jadi untuk pertarungan berikutnya kita akan menggunakan cara seperti yang sudah kita diskusikan tadi" gumam tetua mafia serius


"Baik tetua.." gumamku dan Sony bersamaan


"Baiklah karena kondisinya lumayan kondusif, kalian bisa beristirahat sebelum kembali ke Australia"


"Ke Australia? Ke tempat itu lagi? Serumah dengan dia lagi?" gerutuku kesal


"Ya benar, kalian masih belum aman apalagi musuh utama kalian Han Lee dan juga Sasha.. Walaupun Sasha tidak ada apa - apanya dari pada kalian tapi Han Lee yang menjadi masalah utama bagi kalian"


"Hmmm baiklah tetua..." desahku mengalah


"Ya sudah kalian istirahatlah. Sony kamu tinggallah sebentar disini ada yang ingin aku tanyakan kepadamu"


"Baik tetua" gumamku meninggalkan ruangan itu


Karena markas pusat berada di dekat rumah sakit tempat semua dirawat jadi aku berpikir untuk menjenguk mereka semua apalagi Tony, Ryuki, dan Angel. Sebelum ke rumah sakit aku menyempatkan diri mampir ke toko bunga untuk membeli beberapa bunga untuk mereka


"Silahkan nona.." sapa pemilik toko bunga dengan ramah


"Mmm saya mau ini, ini, dan ini" gumamku menunjuk beberapa bunga di depanku


"Sama buah ini, ini dan ini" gumamku menunjuk buah apel anggur dan jeruk di depanku


"Baik nona, totalnya 700 won nona"


"Ini tuan, terimakasih" gumamku memberikan uangku dan segera pergi ke rumah sakit


Di rumah sakit aku ingin menjenguk Angel dan Tony dulu, karena mereka seruangan jadi lebih mudah untukku menjenguk mereka berdua sekaligus


"Selamat datang nona" gumam Roy dan Zaki menundukkan badannya kearahku


"Iya, mmm bagaimana keadaan mereka berdua?"


"Nona ANgel belum sadar nona tapi tuan Tony sudah sadar"


"Oh begitu baiklah..." desahku masuk ke dalam ruangan itu


Di dalam ruang perawatan aku melihat Tony yang sedang duduk membaca bukunya seperti kebiasaannya terdahulu


"Pagi Tony..." gumamku tersenyum


"Eeeh Sani, kamu datang" tanya Tony terkejut


"Ya, aku ingin menjenguk kalian berdua" gumamku menaruh buket bunga di atas meja mereka berdua


"Mmm terimakasih Sani sudah menolong kami"


"Tidak masalah, kan kita keluarga. Aku juga tidak ingin kehilangan keluargaku lagi" gumamku tersenyum


"Oh benarkah? Aku senang mendengarnya"


"Ini buah untuk kalian berdua" gumamku memberikan buket buah untuk Tony


"Terimakasih Sani, oh ya kamu tidak akan pergi lagi kan?"


"Aku? Aku masih harus pergi lagi sih, jadi kalian harus jaga diri kalian baik - baik jangan terluka"


"Sani jangan pergi..."


"Hmmm tenang saja Tony aku tidak pergi jauh kok" gumamku tersenyum


"Tapi Sani, aku takut kamu terluka"


"Tenang saja, aku tidak akan terluka. Malah aku khawatir kalian terluka apalagi perang belum selesai"


"Hmmm ya benar, perang belum berakhir" desah Tony pelan


"Tenang saja, kalian harus rajin berlatih dan berusaha ya. Begitu juga denganku jadi jangan sampai terluka lagi"


"Mmm baiklah Sani, aku akan berlatih sungguh - sungguh"


"Ya sudah, aku akan ke kamar kakakmu dulu"


"Kakak terluka?" tanya Tony terkejut


"Ya, tapi tidak separah kalian. Kita akau bertemu lagi Tony" gumamku tersneyum dan pergi dari kamar itu


"Terimakasih Sani.." gumam Tony senang dan aku hanya tersenyum kearahnya


"Kalian berdua jaga si kembar itu" gumamku menatap Roy dan Zaki


"Baik nona" gumam Roy dan Zaki menundukkan badannya


Setelah dari kamar si kembar itu aku menaiki tangga untuk menuju ke kamar Ryuki yang berada di lantai atas. Di depan kamar Ryuki berdiri Wan yang menjaganya dari luar


"Selamat pagi nona muda" sapa Wan menundukkan badannya


"Pagi Wan, bagaimana keadaan Ryuki?"


"Baik nona, dia sudah sadar"


"Oh baguslah" desahku masuk ke dalam ruangan itu


Di dalam ruangan aku melihat Ryuki yang sedang tertidur di tempat tidurnya, aku meletakkan bunga di vas yang ada di sampingnya dan meletakkan buket buah di meja


"Ryuki aku membawakan buah untukmu, nanti dimanakan ya" gumamku pelan dan berjalan meninggalkan Ryuki, tapi tanganku tertahan oleh tangan Ryuki


"Ryuki?" gumamku terkejut


"Temani aku Sani..." gumam Ryuki pelan


"Hmmm baiklah, mau aku kupaskan buah?"


"Ya..." desah Ryuki melepaskan tanganku


"Syukurlah kamu tidak apa - apa Ryuki" gumamku pelan


"Ya terimakasih Sani, sudah menolongku" gumam Ryuki sedih


"Tidak apa - apa, ya kebetulan saja lewat kemarin" gumamku berbohong


"Oh benarkah? Jadi kamu akan pergi lagi Sani?"


"Ya aku akan pergi lagi"


"Berapa lama Sani?"


"Tidak tahu" gumamku mengupas kulit buah apel


"Hmmm..." desah Ryuki menutup matanya


"Ada apa Ryuki?"

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya sedikit sedih"


"Sedih kenapa?"


"Ya aku sangat lemah bahkan mengalahkan musuh aku sampai terluka parah, bagaimana aku bisa mengalahkan Sony" desah Ryuki pelan


"Ya makanya berlatihlah dengan serius, mana tahu bisa mengalahkan musuh yang lebih berat dari kami berdua" gumamku tersenyum


"Hmmm aku terus berlatih kok Sani" desah Ryuki pelan


"Baguslah" gumamku menyuapi Ryuki buah apel yang sudah aku kupas


"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi Sani"


"Aku juga, aku sangat mengkhawatirkan kamu tahu.." desahku pelan


"Benarkah? Ini pertama kalinya ada yang mengkhawatirkanku" desah Ryuki pelan


"Oh benarkah?"


"Ya, kenapa bisa tidak ada yang mengkhawatirkanmu?"


"Tahu sendiri kan mafiaku di takutioleh semua orang karena aku kejam, tapi kenyataannya aku sangat lemah" desah Ryuki sedih


"Hmmm..." desahku mengelus rambut Ryuki dengan lembut


"Tidak juga, kamu bisa bertahan sampai aku datang itu sudah membuktikan kamu hebat Ryuki" gumamku tersenyum


"Tapi Sani..."


"Kamu masuk ke dalam 10 mafia terkuat pastilah kamu kuat Ryuki" gumamku terus mengusap lembut rambut Ryuki


"Hmmm kamu benar Sani, aku kuat.. Aku harus membuktikannya kepada semua orang" gumam Ryuki serius


"Nah gitulah, masa ketua gelap yang ditakuti lemah seperti ini" gumamku tersenyum


"Hmmm iya Sani" desah Ryuki pelan


Ryuki terus menatapku dengan tatapan aneh, aku tidak mengerti arti dari tatapan Ryuki itu kepadaku


"Ada apa Ryuki?" gumamku pelan


"Sani bolehkah aku bertanya kepadamu?"


"Boleh, kamu mau tanya apa?"


"Sani... Apa kamu hanya bercanda bilang kamu mencintaiku?" gumam Ryuki menatapku serius


"Tidak, aku tidak bercanda" gumamku pelan


"Serius?" tanya Ryuki terkejut


"Ya aku mengatakan yang sesungguhnya. Tapi untuk kedepannya.."


"Aku tidak tahu siapa yang akan aku nikahi" desahku pelan


"Tapi pasti kamu punya alasan tersendiri kan bilang seperti itu di depan Sony?"


"Ya memang, aku ingin tahu seberapa kuatnya Sony. Seharusnya dia harus lebih kuat dariku atau dari Hyung tapi malah dia tidak bisa mengalahkan Hyung, kalau aku berkata langsung seperti itu aku harap kamu dan Sony bisa lebih kuat lagi, lebih kuat dariku dan juga tanpaku kalian berdua bisa lebih hebat lagi" gumamku tersenyum


"Tanpamu maksudnya?"


"Ya umur tidak ada yang tahu Ryuki, aku hanya ingin menjadikan kalian kuat"


"Tidak akan Sani, aku akan menjagamu... Aku tidak akan membiarkanmu terluka" gumam Ryuki serius


"Ya, aku akan terus berusaha lebih kuat Sani dan bisa menikahimu" gumam Ryuki serius


"Oh baguslah kalau begitu" desahku meletakkan pisau di atas meja


Uuuhhuukkk.. Uuuhhuuukkk


Tiba - tiba aku terbatuk - batuk, sepertinya penyakitku kambuh kembali setelah bertarung dengan Hyung kemarin


"Sani... Kamu tidak apa - apa?" tanya Ryuki terkejut melihatku yang sedang batuk berdarah


"*Uhhuukkk...*Tidak apa\, apa kok" desahku pelan


"Nona obat anda" gumam Wan memberiku obatku dan segelas minum


"Terimakasih Wan..." desahku meminum obatku


"Sani kamu sakit apa?"


"Tidak apa - apa kok, jangan khawatir" gumamku tersenyum


"Sani..." gumam Ryuki memegang tanganku dengan serius


"Beritahu aku..." gumam Ryuki menatapku serius


"Aku tidak apa - apa Ryuki percayalah"


"Tidak... Aku khawatir kepadamu.."


"Ryuki... " desahku memejamkan mataku


"Nona muda punya penyakit dalam, jadi kalau nona kecapekan nona akan batuk berdarah. Itulah kenapa nona tidak memegang mafia penguasa saat ini karena penyakit nona" gumam Wan pelan


"Apa tidak bisa disembuhkan?"


"Saya tidak tahu dan dokter juga tidak bisa menjaminnya karena organ dalam nona terluka parah. Dokter mendiagnosis nona muda hanya bertahan sampai umurnya 40 tahun saja"


"Sani..." gumam Ryuki terduduk di tempat tidurnya dan memelukku erat


"Ryuki kamu masih sakit jangan banyak bergerak.." gumamku terkejut


"Sakitku tidak seberapa dari pada sakitmu Sani, aku tidak ingin kehilanganmu..." gumam Ryuki meneteskan air matanya


"Ryuki kenapa kamu menangis?" tanyaku terkejut


"Ak... Aku benar - benar tidak mau kehilanganmu Sani, aku ingin menjagamu dan melindungimu"


"Hmmm..." desahku menngelus lembut punggung Ryuki


"Jadilah kuat dan doakan aku berumur panjang Ryuki" gumamku tersenyum


"Baik Sani, aku kan berusaha menjadi kuat untuk bisa melindungimu"


"Kamu istirahatlah, jangan sampai terluka lagi ya.." gumamku menidurkan Ryuki dan mencium kening Ryuki dengan lembut


"Aku akan kembali untuk beristirahat, kamu semangatlah untuk menjadi kuat... Aku mungkin akan pergi lebih lama kalau kamu merindukanku kamu bisa menghubungiku" gumamku tersenyum


"Aku harap kita bertemu saat kamu menjadi kuat Ryuki" desahku tersenyum


"Siap Sani, aku akan melakukannya"

__ADS_1


"Oh baguslah, aku pulang dulu ya" gumamku berjalan meninggalkan Ryuki


"Ya hati - hati Sani" desah Ryuki menatap kepergianku


"Wan, jaga dia... Kalau dia sudah diperbolehkan pulang kalian kembalilah ke Australia menemuiku" gumamku berjalan meninggalkan ruangan Ryuki


"Baik nona muda" gumam Wan membungkukkan badannya


Aku segera keluar dari rumah sakit menuju ke markas pusat untuk beristirahat, kepalaku sangat pusing dan luka di punggungku karena senjata Hyung sangat menyakitkan jadi au harus segera pulang


Saat aku berjalan, aku tidak sengaja bertabrakan dengan seorang laki - laki memakai jubah hitam dn membuatku terjatuh


"Aaauu..." rintihku berusaha berdiri


"Kamu tidak apa - apa?" tanya laki - laki itu mengulurkan tangannya dan aku menjabat tangannya. "Kenapa aku tidak asing dengan tangan ini?"


"Mmmmm tidak apa - apa.." gumamku pelan, di tangannya terselip sebuah kertas dan memberikanku kertas itu


"Baiklah.." desah laki - laki itu tersenyum dingin dan segera berjalan pergi


"Hei.. Kamu sia... Pa?" desahku melihat di belakangku tidak ada orang itu


"Siapa dia?" gumamku bingung dan membuka kertas itu


Hay Sani, apa kabarmu? Apa kamu masih bertunangan dengan Sony? Apa kamu masih sakit - sakitan seperti dulu? Hahaha. Uppss maaf... Oh ya aku sudah lama tidak bertemu denganmu, aku tidak menyangka kamu semakin hebat dan cantik saja. Aku senang bisa bertemu denganmu di peperangan kemarin. Aku harap kamu mau bertemu denganku di tempat biasanya kita sering bertemu dulu. Kamu bisa menebak siapa kan aku? Aku tunggu kedatanganmu besok malam cantik


"Di tempat dulu?" gumamku berfikir


"Kakak sepeguruan?" gumamku menatap seseorang berjubah hitam berdiri di atas rumah sakit


"Tidak aku sangka dia masih hidup saja" gumamku memasukkan kertas itu dan berjalan pulang kembali ke markas


Sesampainya di markas pusat aku segera masuk ke dalam kamar, aku segera mengobati lukaku yang belum sembuh


"Kamu kemana saja Sani?" ucap Sony menatapku


"Tidak kemana - mana"


"Kamu terluka?" tanya Sony berjalan kearahku


"Aku tidak apa - apa, sungguh.." gumamku menutup lukaku dengan pakaianku


"Tidak, lukamu dalam Sani..." gumam Sony membuka pakaianku dan mengolesi obat merah di luka yang ada di punggungku


"Aaaa... " rintihku kesakitan


"Tahan sebentar Sani" desah Sony membalutkan perban dengan lembut


"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu terluka..."


"Aku tidak apa - apa sungguh..." desahku pelan


Uuhhuukkk ... Uuuhhhuukkk


"Sani penyakitmu kambuh?" teriak Sony terkejut, dia langsung mengambil obat dan memberikanku obat


"Haaah aku tidak apa - apa sungguh..." deshaku menolak obat itu


"Tidak Sani, penyakitmu kambuh..."


"Aku tidak apa Sony, aku tadi sudah minum obat.."


"Pasti obat dari Wan kan, itu hanya sementara Sani... Kamu harus minum obat ini!!"


"Gak mau, obat yang itu pahit!!!" protesku kesal


"Hmmm..." desah Sony memasukkan obat itu di mulutnya bersamaan dengan air putih dan langsung mencium bibirku untuk memasukkan obat ke dalam mulutku secara paksa


Uuuhhuuukk.. Uuuhhuukk


"Kamu mau membuatku mati cepat apa!!" protesku tersedak


"Kamu yang memaksaku melakukannya Sani, kamu sakit kamu harus minum obat"


"Hmmm..." desahku berusaha berjalan ke tempat tidurku, tapi kakiku lemas dan aku terjatuh ke lantai


"Sani kamu tidak apa - apa?" teriak Sony membantuku berdiri


"Aku tidak apa - apa, hanya capek" desahku pelan


"Ya sudah kamu istirahatlah istriku" gumam Sony membaringkan tubuhku dia atas tempat tidurku


"Aku akan menemanimu sayang" gumam Sony mengelus rambutku


"Hmmm Sony.." desahku pelan


"Ada apa sayang?"


"Kenapa kamu tetap menganggapku istrimu? Padahal aku wanita yang sakit - sakitan" desahku pelan


"Ya karena kamu tunanganku jadi apapun yang terjadi kamu tetap istriku, walaupun kamu sakit - sakitan itu bukan masalah untukku"


"Kenapa kamu tidak mencari wanita lain saja?"


"Tidak mau, aku maunya menikah denganmu"


"Padahal kan wanita lain...."


"Tidak..." protes Sony kesal


"Aku hanya mencintaimu, aku tidak ingin menikahi wanita lain.." protes Sony kesal


"Hmmm dasar keras kepala" desahku menutup mataku


"Aku tahu kamu bilang mencintai Ryuki hanya ingin memancingku agar aku emosi kan?"


"Ya benar, aku ingin tahu kekuatanmu saat ini tapi tidak aku sangka kamu sangat lemah Sony"


"Hmmm memang aku lemah berbeda denganmu yang sangat kuat dari dulu Sani"


"Kalau kamu seperti itu terus kamu akan kalah dari Ryuki loh, nanti aku menikah dengan Ryuki kalau kamu tetap lemah seperti itu"


"Tidak akan, aku tidak akan membiarkannya!!!" protes SOny kesal


"Kalau begitu jadilah kuat Sony" desahku pelan


"Ya aku akan membuktikannya kepadamu Sani"


"Heeh silahkan saja buktikan kepadaku, tapi sampai kapanpun aku tetap membencimu Sony" desahku pelan


"Hmmm kamu selalu seperti itu" desah Sony mencubit hidungku


"Aaau sakit lah!!!" protesku kesal


"Ya sudah cepetan tidur, aku gak mau kamu sakit"

__ADS_1


"Hmmm baiklah" desahku memejamkan mataku dan tertidur di sore ini


__ADS_2