Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 60 : Perasaan Lanlan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Selama beberapa jam kami berdua hanya terdiam tanpa kata, walaupun kami hanya terdiam tapi Lanlan terus mengusap rambutku lembut, perbuatannya kepadaku sangat berkebalikan dengan wajahnya yang dingin dan menyebalkan.


"Kamu tidurkah?" tanya Lanlan pelan.


"Tidak kok."


"Kenapa kamu tidak tidur?"


"Aku tidak mengantuk."


"Apa kamu jarang tidur?"


"Ya aku jarang tidur..." gumamku pelan.


"Apa kamu juga jarang makan?"


"Ya aku jarang makan juga."


"Kenapa?"


"Aku sudah terbiasa, tidak makan, tidak tidur, tidak mandi, dan tidak melakukan apapun..." gumamku pelan.


"Apa hinaan keluarga Shin dan orang-orang di kotamu membuatmu menderita?" tanya Lanlan pelan.


"Ya, suara mereka terdengar jelas di telingaku. membuatku...sangat menderita..." gumamku meremas pakaian Lanlan kuat.


"Hmmm tenang saja, aku akan terus bersamamu mulai sekarang..." gumam Lanlan mengangkat daguku dan menciumku lembut.


Ciuman Lanlan membuatku teringat anak kecil yang dulu pernah menciumku dengan waktu yang sangat lama, aku menatap mata Lanlan dan senyuman hangatnya yang membuatku menyadari ternyata pria yang menciumku pertama kali adalah Lanlan.


"Ada apa? Apa ciumanku membuatmu terkejut."


"Ti...tidak kok, mmm kak Lanlan...apa kamu memberikanku ciuman pertama saat pernikahan awal dulu?"


"Ya, sampai membuat ibumu menangis melihat kamu menjadi milikku. Bahkan dulu sampai ayahmu dan ibuku menenangkan ibumu" ucap Lanlan serius. Jadi benar-benar Lanlan yang menciumku waktu itu... Batinku.


Ditangan Lanlan aku melihat gelang yang sama seperti milikku, aku sedikit menyandingkan gelang itu dan benar-benar gelang couple.


"Oh ya aku juga ingat kak Lanlan..." gumamku menyembunyikan kembali wajahku.


"Benarkah? Bukannya kamu melupakan semuanya?"


"Terkadang aku juga teringat kok."

__ADS_1


"Oh aku kira kamu bakal melupakannya..." gumam Lanlan menggendongku dan berjalan pergi.


"Ka..kak Lanlan turunkan aku!" ucapku terkejut tapi Lanlan hanya terdiam.


"Kak Lanlan turunin aku...kamu mau membawaku kemana?" tanyaku terkejut.


"Ke kamar, sudah hampir fajar jadi kamu harus tidur dulu..." gumam Lanlan masuk ke dalam rumah dan membuka pintu kamarku dengan tangan kanannya.


"Ka...kamu bisa melakukannya dengan mudah? padahal kamu sedang menggendongku loh!" tanyaku terkejut.


"Bagiku tidak ada yang tidak mungkin selama bisa aku lakukan..." gumam Lanlan merebahkanku di tempat tidur.


"Kamu tidurlah, aku akan menunggumu sampai kamu terbangun..." gumam Lanlan berjalan kearah sofa, aku segera menahan tangan Lanlan yang membuatnya terkejut.


"Ada apa? Aku akan tidur di sofa."


"Temani aku..."


"Temani kamu? Kan aku menemanimu disitu."


"Temani aku!" gumamku menarik tangan Lanlan yang membuatnya terjatuh di sampingku. Aku memeluk Lanlan dan menyembunyikan wajahku di pelukan Lanlan.


"Kamu ingin aku temani disini?" tanya Lanlan pelan dan aku hanya mengangguk pelan.


"Emangnya manja kepada suami sendiri tidak boleh ya?" tanyaku pelan.


"Oh kamu masih menganggapku suamimu?" tanya Lanlan pelan.


"Ya, aku terikat pernikahan awal denganmu bagaimana aku bisa tidak menganggapmu suamiku?"


"Ku kira kamu masih tidak menganggapku dan lebih memilih adikku yang lemah itu."


"Kalau kebenarannya seperti itu bukankah aku terlihat sangat jahat tidak menganggap suamiku sendiri?" gumamku pelan.


"Ya kamu terlihat seperti sangat melindungi adikku itu jadi aku mengiranya kamu tidak menganggapku."


"Dia dulu kekasihku, dia mengatakan aku terikat pernikahan awal dengannya apalagi tetua memintaku untuk mengawasinya lalu bagaimana bisa aku tidak melindunginya?" gumamku pelan.


"Lalu siapa yang kau cinta aku atau dia?" tanya Lanlan pelan.


"Kenapa kamu tanyakan hal itu?" gumamku terkejut.


"Hanya penasaran saja..." gumam Lanlan pelan, aku terdiam dan berfikir Siapa yang aku cinta saat ini? Dan...aku benar-benar tidak tahu jawabannya.

__ADS_1


Disaat hatiku dan pikiranku berkecamuk selama beberapa menit aku mendengar suara dengkuran Lanlan pelan, aku menatap Lanlan yang ternyata dia benar-benar tertidur pulas. Di saku kemejanya aku melihat handphone Lanlan yang seperti hampir tertindih badannya, aku mengambil handphonenya.


Disaat aku akan meletakannya di meja, handphone itu hidup dan terlihat walpaper foto pernikahan awal kami di layar handphonenya. Aku mencoba membuka kuncinya tapi tidak terbuka.


"Jangan bilang kuncinya seperti kode berankas itu..." gumamku mencoba memasukkan kode itu dan ternyata kunci handphonenya benar-benar terbuka.


Aku melihat satu persatu pesan percakapan hanya ada pesan tentang mafia dan di arsipnya benar-benar kosong tidak ada pesan yang disembunyikannya. Setelah puas mencari aku melihat satu persatu video dan melihat galerinya yang ternyata hanya berisi foto-foto pernikahan awal kami dan juga foto candid milikku saat berada di sebuah pesta dan di medan pertempuran.


"Astaga sembunyi-sembunyi kamu juga memfotoku ya... dasar..." gumamku pelan, aku mencoba mencari arsip dan folder yang disembunyikan Lanlan dan ternyata benar-benar bersih tidak ada yang disembunyikan apapun dariku. Di aplikasi catatan aku terkejut melihat banyak catatan diary miliknya tapi yang membuatku sangat terkejut adalah satu folder yang bertuliskan Cintaku.


"Lanlan Love Sani.."


"Aku sangat merindukanmu, apa kamu tidak merindukanku?"


"Apa kamu sangat membenciku sampai-sampai kamu sama sekali tidak mengingatku?"


"Bolehkah aku menciumu lagi? Aku ingin menjadikanmu istriku seutuhnya, aku merindukanmu Sani..."


"Sani kembalilah ke pelukanku, aku masih terus merindukanmu...di danau ini...tempat kita melakukan pernikahan awal ini aku selalu menunggumu datang, tapi kenapa kamu sama sekali tidak pernah datang? Apa kamu tidak merindukanku?"


"Astaga aku sangat sangat sedih melihatmu terus menerus dengan adik tiriku, apa kamu tidak sadar aku dari dulu menunggumu? Kembalilah istriku, aku ingin kamu, sungguh-sungguh menginginkanmu."


"Dua puluh tahun sudah aku menunggumu di danau ini, tapi kamu tidak pernah datang kepadaku. Sani apa kamu masih asik dengan laki-laki itu? Kalau iya aku akan menunggumu sampai kapanpun."


"Melihatmu sangat melindungi adik tiriku membuatku sangat sakit Sani, aku selalu melindungimu tanpa kamu sadari tapi kenapa kamu malah menganggapku musuhmu? Aku suamimu Sani! Aku benar-benar suamimu!"


"Sani aku sangat mencintaimu Sani, aku benar-benar ingin menyerah tapi aku tidak bisa, aku tidak ingin kehilanganmu!"


"Tahukah kamu Sani...setiap malam aku tidak bisa tidur, aku selalu memikirkanmu, disaat mata aku terpejam aku teringat kepadamu, teringat penderitaanmu yang aku lihat langsung yang membuatku dendam dengan mereka yang menyakitimu istriku, tapi kenapa kamu tidak datang kepadaku? Aku tidak ingin ucapan terimakasih, aku hanya ingin kamu selalu ada disampingku selamanya istriku..."


Aku membaca diary milik Lanlan membuatku sangat sedih, kenapa aku bisa melupakan Lanlan dan membuatnya benar-benar sangat menderita seperti ini.


"Sani...Sani..." gumam Lanlan pelan, aku menatap wajah Lanlan yang sudah dipenuhi air mata.


"Ka...kamu menangis?" gumamku pelan.


"Sani...aku sangat merindukanmu, kenapa...kenapa kamu tidak merindukanku? Aku selalu setia menunggumu di danau ini bahkan sampai danau ini mengering tapi kamu tidak pernah datang kepadaku? Kenapa Sani kenapa?" gumam Lanlan terus mengigau memanggil namaku. Aku meletakkan handphone Lanlan dan mengusap air mata Lanlan pelan.


"Suamiku...maafkan istrimu ini, maafkan aku yang tidak menyadari dari awal kalau kamu suamiku..." gumamku mencium pipi Lanlan pelan dan Lanlan berhenti mengigau.


"Kalau kamu suamiku pastinya aku sangat mencintaimu sayang, aku akan mencintaimu dan selalu ada untukmu, aku berjanji padamu, maaf aku selalu membuatmu menunggu dan membuatmu sakit...jangan sedih lagi ya suamiku aku akan selalu ada dipelukanmu, aku benar-benar berjanji kepadamu sayang..." gumamku mencium bibir Lanlan dan tertidur di pelukan Lanlan.


Melihat Lanlan benar-benar menderita karena menungguku yang tidak tahu apapun ini, aku sangat merasa bersalah kepada Lanlan. Aku tidak menyangka Lanlan begitu setia menungguku yang membuatku jatuh cinta kepada Lanlan saat ini. Walaupun aku tertidur tapi aku belum benar-benar tertidur, aku merasa ada yang mengusap lembut pipiku dan terus menerus memainkan rambutku bahkan sesekali mencium pipiku lembut. Aku sebenarnya penasaran siapa yang terus memainkan rambutku tapi karena aku sangat mengantuk jadi aku membiarkannya dan benar-benar tertidur.

__ADS_1


__ADS_2