Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 83 : Pergi Ke Markas Mafia Tertinggi


__ADS_3

Di pelukan Lanlan aku benar-benar tertidur pulas dan sama sekali Lanlan tidak membangunkanku, Lanlan lebih suka memainkan rambutku dari pada menggangguku saat tidur. Aku membuka mataku dan menatap Lanlam yang terus memainkan rambutku


"Oh mmmm kamu sudah bangun sayang?" ucap Lanlan pelan.


"Ya, kita ada dimana?"


"Kita masih dipesawat, tuh kakek, Tian, Fiyoni, dan ketiga wakilmu sedang tertidur pulas tuh."


"oh mmm ya sudahlah, jangan diganggu..." gumamku pelan, aku beranjak dan terduduk di sebelah Lanlan.


"Kamu mau apa?" Tanya Lanlan pelan tapi aku hanya menggelengkan kepalaku pelan.


"Tidak ada, hanya ingin seperti ini..." gumamku pelan dan menatap keluar jendela pesawat.


"Apa kamu kamu pikirkan sayang?"


"Tidak ada..." gumamku pelan dan tiba-tiba ponselku berbunyi yang membuatku mengangkat telepon masuk dari tetua X.


"Aku dengar kamu membawa beberapa orang, kenapa?" Tanya Tuan X dingin.


"Eehh mmm maaf tuan, tetua yang mengajaknya dan..."


"Ini pertemuan penting jadi hanya kau dan wakilmu yang berhak menemuiku, apa kau mengerti!" Ucap tuan X kesal dan menutup telepon itu.


"Hmmm..." desahku memasukkan ponselku kembali.


"Ada apa?" Tanya Lanlan bingung.


"Tuan X marah saat tahu banyak orang yang datang karena Tuan X ingin hanya aku dan kak Fiyoni saja yang datang."


"Oh begitu, tenang saja kami ada urusan dengan seseorang jadi kami akan berbeda jalur nantinya dengan kalian."


"Oh mmm baiklah..." desahku pelan.


Tidak lama kemudian pesawat kami mendarat di sebuah bandara dan kami benar-benar terpisah, aku dan Fiyoni berkendara di sebuah mobil khusus sedangkan Lanlan dan yang lain naik ke mobil yang berbeda.


Selama perjalanan aku melamun tanpa berpikir apapun sampai mobil yang kami kendarai sampai di depan markas mafia tertinggi. Aku turun bersama dengan Fiyoni memasuki markas di depanku.


"Mari nona muda..." ucap seorang pria di depan pintu masuk dan berjalan mendahuluiku. Di sebuah pintu yang besar pria itu membukakannya untukku dan telah berkumpul banyak orang berjubah yang duduk di kursi yang melingkar di depanku, aku terduduk dan sedikit menekuk kakiku menghadap pemimpin mafia tertinggi.


"Hormat Sani tetua..." gumamku pelan.


"Akhirnya kamu datang juga Sani, duduklah..." gumam tuan X pelan dan aku langsung duduk di kursiku.


"Lama tidak bertemu denganmu Sani."


"Mohon maaf kalau saya membuat tetua sampai mencari saya."

__ADS_1


"Yaah tidak apa. Aku sudah membaca perkembangan yang telah kamu lakukan selama ini, bagus juga..." gumam tuan X membaca kertas di depannya.


"Terimakasih tetua."


"Nah aku akan menjelaskannya kepadamu, sekarang banyak mafia yang telah bersekutu dengan mafia musuh dan memberontak kepadaku dan membuat beberapa keresahan di dunia mafia dan mereka mengancam mafia tertinggi, jadi menurutmu bagaimana kita akan melawannya?"


"Mmm tetua apakah ada daftar nama mafia yang bersekutu dengan mafia musuh?" Tanyaku pelan.


"Ada." Di depanku ada seorang pria membawa sebuah gulungan kepadaku dan aku membacanya.


"Itu nama-nama mafia yang bersekutu."


"Mmm mohon maaf tetua tapi saya belum pernah mendengar nama mafia ini sebelumnya."


"Kamu tinggal di luar wilayah mafia tertinggi masa kamu tidak mengetahuinya?" Ucap pria bertopeng di depanku, aku menatap pria itu dan terlihat kalau pria itu adalah ketua agen A.


"Mohon maaf ketua keadaan dilapangan sangat rumit sehingga saya sulit untuk menghafal nama-nama mafia tapi tetua bolehkah saya meminta waktu agar saya bisa menyelidikinya."


"Boleh, kamu harus hati-hati jangan sampai organisasi lainnya tahu ditambah lagi suamimu dari organisasi mafia yang berbeda denganmu."


"Eehh mmm tetua tahu akan hal itu?" Tanyaku terkejut.


"Tentu saja. Pria tua itu mengatakan kalau kamu sedang hamil anaknya dan pernikahanmu di saat kamu kecil akupun juga tahu. Jadi kamu harus merahasiakannya!."


"Oohh mmm baik tetua."


"Aahh ide yang bagus, nanti akan kita lakukan semua rencanamu!" Ucao tuan X senang dan aku hanya terdiam sedikit menundukkan badanku.


"Baiklah Sani karena kamu baru di Agen A maka kamu harus lebih mengenal agen A, Elang ajak Sani berkeliling!" Ucap tuan X kencang dan pria bertopeng itu menundukkan badannya dan menarikku pergi dari ruang rapat itu. Kami terus terdiam selama aku berjalan dengan pria itu yang membuatku sangat canggung, ingin sekali aku berbicara dengannya tapi aku ragu.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya pria itu yang membuatku terkejut.


"Mmm oh ya namamu Elang?" Tanyaku pelan.


"Ya benar."


"Oh ya kenapa kamu bisa bermusuhan dengan kakakku?" Tanyaku pelan.


"Siapa kakakmu?" Tanya pria itu menghentikan langkah kakinya yang membuatku terkejut.


"Tian."


"Oh kamu adiknya ya?" Gumam pria itu pelan dan kembali melangkahkan kakinya kembali.


"Iya, mmm kenapa kalian bermusuhan?"


"Karena takdir saja."

__ADS_1


"Mana bisa takdir membuat kalian bermusuhan? Apa lagi kata Lanlan kalian juga tidak akur, kenapa?" Tanyaku serius, pria itu kembali menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatapku dingin.


"Kenapa kau bertanya?"


"Aku hanya bertanya walaupun aku dan kakak juga bermusuhan tapi..."


"Kenapa kau begitu penasaran?" Ucap pria itu berjalan kearahku yang membuatku mundur.


"Mmm ya aku hanya penasaran apa itu salah?"


"Untuk apa kamu sangat ingin tahu masalah itu?" gumam pria itu dingin dan kembali melangkahkan kakinya kearahku suasana yang dingin dan menakutkan terjadi yang membuatku sangat canggung padanya.


"Aku mmm aku..." desahku pelan dan terus mundur sampai tubuhku menabrak dindin belakangku.


"Iya gadis kecil?"


"Mmm maaf membuatmu tersinggung ketua dan..." gumamku pelan tapi pria itu menekan tanganku dan menatapku dingin.


"Tersinggung ya..." desah pria itu membuka tudung jubahnya yang membuat wajah tampannya terlihat jelas di mataku, benar kata Lanlan kalau pria yang bernama Elang sangat amat tampan.


"Eehh mmm k-ketua.."


"Dengar ya gadis kecil, apapun yang menjadi milik Lanlan itu juga milikku dan apapun yang dirasakan Lanlan aku juga harus merasakannya." Lanlan mendekatkan wajahnya di depanku yang membuatku terkejut.


"T-tapi aku mmmppphhh..." pria itu langsung menciumku dengan liar yang membuatku sangat sulit bernafas.


"K-ketua jang mmpphh..."


"Kamu benar-benar manis seperti bunga sakura Sani Shin." Elang terus menciumku dan tangan satunya terus meraba tubuhku.


"K-ketua j-jangan nanti Lanlan akan..."


"Apa peduliku? Lanlan tidak akan ada disini..." bisik Elang terus menciumku. Lanlan tolong aku.... Batinku.


Disaat nafasku hampir habis dan nafsuku kembali muncul, tiba-tiba ciumannya dan genggamannya Elang terlepas dan tanganku langsung ditariknya ke pelukan seseorang di sampingku, aku membuka kedua mataku dan menatap Lanlan yang sangat marah.


"Kau! Beraninya kau hampir mempermainkan istriku!" teriak Lanlan marah yang membuat Elang tertawa senang.


"Hah? Lalu kenapa? Milikmu itu milikku juga, jadi jika dia istrimu maka dia istriku juga!" Ucap Elang santai.


"Kau!!" Teriak Lanlan mengambil senjatanya tapi dengan cepat tetua menghentikan Lanlan.


"Elang kau jangan keterlaluan, dia istri Lanlan!"


"Lalu apa peduliku? Dia juga milikku!" Ucap Elang tersenyum dingin dan pergi meninggalkan kami.


"Mmm sudahlah mari..." desah tetua berjalan pergi sedangkan tanpa mengatakan apapun Lanlan menggendongku mengikuti tetua, nafsuku yang muncul membuat tubuhku terasa panas, aku mencium Lanlan yang membuatnya terkejut tapi langkah kaki Lanlan terus mengikuti tetua dengan santainya.

__ADS_1


__ADS_2