Tangan Kanan Tuan Muda Mafia

Tangan Kanan Tuan Muda Mafia
Episode 33 : Perang Dimulai


__ADS_3

Seluruh persiapan persenjataanku sudah aku siapkan dan aku juga tidak lupa memakai jubah untuk menutupi identitasku, tidak lupa juga aku mempersiapkan persefiaan selama kami berada di hutan


Setelah semua persiapan beres aku dan seluruh anggota mafia senior pusat bergerak menuju ke tengah hutan. Kami semua sudah siap untuk bertarung di pertarungan kali ini. Para anggota kami juga mengikuti kami dari belakang.


"Roy, Zaki, Wan..." gumamku pelan


"Ya nona muda"


"Kalian bersamaku saja nanti, biarkan ketua mafia ini menghabisi mereka dulu. Kalau mereka terpojok baru kita bantu" gumamku pelan


"Baik nona muda"


"Kita rencanakan rencana kita dulu" gumamku pelan


"Baik nona muda" gumam ketiga bawahanku semangat


"Pergilah ke posisi kalian masing- masing" gumamku pelan dan ketiga bawahanku pergi


"Apa yang kamu bicarakan dengan bawahanmu?" gumam Sann Liu menatapku


"Tidak ada..." desahku terus melangkahkan kakiku


Di tengah hutan aku melihat sebuah asap dan suara seperti berperang di telingaku. Tepat di area bertempuran


"Mmmm lumayan seru nih" gumamku berdiri di atas pohon


"Kamu tidak menggunakan jarummu?" tanya Sann Liu menatapku


"Tidak, nanti kalau sudah menemukan targetku" gumamku menyandarkan tubuhku di pohon


"Siapa targetmu?"


"Kamu akan tahu sendiri nanti"


"Kamu gak mau membantu yang lain menyerangnya?"


"Tidak, kamu sendiri gak ikut?"


"Nanti kalau mereka sudah terdesak"


"Hmmm, mereka masih mafia lemah anggota kita masih sanggup melawannya" gumamku santai


"Kenapa kamu tahu?"


"Ya tahu saja, lihat saja nanti" gumamku mengambil makanan di tasku, dan duduk di dahan pohon


"Mau?" gumamku menawarkan makananku


"Disaat seperti ini masih bisa santai?"


"Kenapa juga? Masih awal juga" gumamku santai dan memakan kripik kentang kesukaanku


"Terkadang aku ragu kamu mafia terkejam dan ditakuti seluruh mafia kalau perilakumu seperti ini" gumam Sann Liu terduduk di sebelahku


"Tidak perlu percaya dengan omongan orang, aku hanya orang lemah" gumamku pelan


"Orang lemah apanya kamu ketua mafia terhebat tahu... Kata orang" gumam Sann Liu memakan makananku


"Orang hebat tuh kayak dia?" gumamku menunjuk salah satu ketua mafia tertinggi di depanku


"Dia lemah tahu"


"Tidak juga, dia hebat tahu. Liat aja dia menghajar beberapa anak buahmu"


"Dia mafia lemah tahu, masih kuat tuh orang di belakangnya"


"Kuat apanya? Mereka hanya peringkat 20 tahu"


"Peringkat 20 juga termasuk tinggi loh"


"Aah tidak, mereka lemah" gumamku santai


Di atas pohon aku melihat pertarungan yang sangat sengit, targetku hanya pembunuh keluargaku saja. Di lama pertarungan itu akhirnya selesai, aku memasukkan separuh makananku ke dalam tasku


"Benar kan perkataanku" gumamku menatap Sann Liu dingin


"Kenapa kamu memprediksi dengan tepat?"


"Strategi mereka sama seperti saat perang asia pasifik walaupun sedikit berbeda tapi aku tahu hal itu akan terjadi" gumamku santai


"Permulaan perang seperti ini masih di dominasi mafia lemah, jadi jangan buang - buang senjatamu hanya untuk mafia lemah. Itu nasehatku" gumamku kembali melompat meninggalkan arena itu


"Hmmm strategi bagus juga ya"


"Tidak juga, aku hanya memprediksi saja" gumamku santai


"Hmmm tapi aku masih penasaran dengan caramu bertarung loh, tidak ada yang tahu tentang bagaimana caramu menyerang. Para korban hanya bilang mereka di lukai seorang ketua mafia penguasa, dia sangat kejam" gumam Ade salah satu anggota mafia senior pusat


"Lebih baik kalian tidak perlu tahu"


"Kenapa?"


"Aku hanya takut membuat kalian kecewa saja" gumamku pelan


"Tidak mungkin lah, mafiamu masuk ke peringkat empat besar seluruh dunia bagaimana kamu bisa mengacewakan kami" gumam Nanda menatapku


"Aku sudah mengingatkan loh ya" gumamku pelan, di bawah aku melihat Sony yang sedang bersama dengan beberapa ketua mafia tertinggi


"Husstt ..." desahku menghentikan langkahku dan anggota mafia senior lainnya menghentikan langkahnya


"Ada apa kakak?" tanya Sain terkejut


"Sebentar, aku ingin menguping" gumamku melompat turun dan bersembunyi di balik pohon


"Apa yang dia lakukan?" tanya Hassan Liu bingung


"Gak tahu, kita tunggu sebentar saja" gumam Sann Liu pelan


Aku bersembunyi di belakang pohon besar dan mendengarkan pembicaraan mereka


"Aku belum melihat tanda - tanda kehadiran Sani dan mafia senior pusat" gumam Hyung serius


"Aku juga sama, bahkan mafia senior barat dan mafia senior lainnya juga tidak terlihat" gumam Taka Zenn pelan


"Apa mereka tidak tahu kalau ada perang ya?" gumam Hyung pelan. Aku mengambil batu dan meleparkannya di semak - semak para hewan malam sedang mencari makan


Kreesssekkk... Krreesseekk


"Siapa itu?" teriak Sony dan segera melihat ke arah semak itu


"Siapa Sony?" tanya Sasha pebasaran


"Hanya hewan" desah Sony kembali terduduk


"Hmmm aku kira Sani" gumam Sasha menghela nafas panjang


"Tapi Sani tidak terlihat sama sekali. Atau memang benar - benar dia tidak tahu ada perang?"


"Tidak mungkin, aku yakin Sani tahu tentang perang ini" gumam Sony serius


"Ya, tapi tumben dia tidak muncul?"


"Enggak tahu, dia biasanya muncul di awal"

__ADS_1


"Hmmm ya sudah kita pakai saja strategi saat asia pasifik saja sesuai dengan rencana kita awal" gumam Sony dingin


"Baiklah, mulai kerja kalian" teriak Sasha keras


"Baik..." gumam seluruh orang semangat dan pergi meninggalkan tempat itu


"Heemmpp.." desahku kembali ke atas pohon


"Apa yang kamu dapatkan sayang?" tanya Sann Liu penasaran


"Ya seperti dugaanku awal" gumamku santai


"Mereka memakai strategi asia pasifik?"


"Ya..."


"Hmmm kamu hebat ya bisa mengendap tanpa ketahuan" gumam Hassan Liy terkejut


"Ya padahal aku tadi lihat Sani memancing mereka"


"Sudah biasa" gumamku pelan


"Emang kalau mencari informasi bukan anggotamu ya?" gumam Ade menatapku


"Tidak, hanya aku dan ketiga bawahanku yang boleh melakukannya?" gumamku pelan


"Kenapa?"


"Karena aku ingin saja"


"Hmmm apa kamu takut di bohongi?"


"Itu juga termasuk"


"Tapi kalau kamu sendiri yang melakukannya akan berbahaya untukmu tahu!!"


"Tidak juga..." gumamku pelan


"Hei lihat itu!!" tetiak Nanda melihat ada kebakaran hebat di depan kami


"Apa itu termasuk strategi asia pasifik?"


"Apa mereka yang berdiskusi tadi yang melakukannya?" gumam Ade bingung


"Bukan, bukan mafia tertinggi yang melakukannya" gumamku pelan


"Kalau begitu anggota mafia pemberontak?


"Yups tepat sekali" gumamku pelan, di depan kebakaran itu aku melihat seorang laki - laki yang tidak asing untukku.


"Kalian tidak perlu ikut..." gumamku turun dari dahan pohon. Aku melangkahkan kakiku dan berjalan menemui laki - laki itu


"Lama tidak bertemu Ryuki" gumamku dingin


"Siapa kamu?"


"Kenapa kamu sangat penasaran?" gumamku dingin


"Ya aku penasaran saja"


"Kamu akan tahu sendiri nanti, ngomong - ngomong kenapa kamu disini?" gumamku dingin


"Kenapa kamu ingin tahu?"


"Bukan aku yang ingin tahu, tapi..." gumamku mengeluarkan pedangku


"Pedangku yang ingin tahu" gumamku pelan


"Pedang milik penguasa... Kamu Sani?" tanya Ryuki terkejut


"Aaah Sani aku sangat merindukanmu!!" teriak Ryuki memelukku erat


"Heei kamu membuatku tidak bisa bernafas tahu!!" gerutuku kesal


"Eehh mmm Maaf... " gumam Ryuki melepaskan pelukannya


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Kamu tidak tahu kalau ada perang?" tqnya Ryuki terkejut


"Aku tahu"


"Oh ku kira kamu tidak tahu"


"Apa yang tidak aku ketahui coba..."


"Hmmm ya aku tahu itu, kamu ngapain disini?"


"Lah kamu sendiri ngapain disini?" gumamku berbalik bertanya


"Kami hanya membakar markas ini saja"


"Kami? Emang kamu ikut mafia tertinggi?"


"Tidak? Buat apa, aku tidak mau membunuhmu"


"Lalu kamu dengan siapa?"


"Kamu tidak perlu tahu, aku kesini hanya untuk membalaskan dendamku saja"


"Dendammu? kenapa?"


"Angel dilukai salah satu mafia tertinggi dan membuatnya terbaring tidak sadarkan diri" gumam Ryuki pelan


"Terluka? Benarkah?" tanyaku terkejut


"Ya dia dilukai oleh Mohi adik Steven yang kamu bunuh dulu"


"Kenapa Angel bisa di lukai?"


"Karena dia menolak bergabung jadinya dia dilukai" gumam Ryuki pelan


"Tapi saat aku menyerang markas mereka aku tidak menemukannya, aku jadi tidak bisa membalaskan dendamku" gumam Ryuki sedih


"Mau aku bawakan dia untukmu?" gumamku mengambil jarum di tasku


"Boleh... Emang kamu tahu dia dimana?" gumam Ryuki terkejut


"Ada kok..." gumamku melemparkan jarumku ke arah belakangku


"Uukkhhh.." rintih laki - laki di belakang pohon, aku berjalan ke arah laki - laki itu dan membawanya ke depan Ryuki


"Apa dia yang kamu maksud?" gumamku polos


"Ya, dia Mohi itu"


"Ya udah tuh lakukan sesukamu" gumamku santai dan tanpa basa basi Ryuki membunuh Mohi dengan pedangnya


"Huuhh terimakasih Sani"


"Sama - sama, ku dengar kamu sudah membunuh Samuel ya?"


"Ya kenapa kamu tahu?"

__ADS_1


"Apa yang tidak aku ketahui, jadi tugasku menjadi tangan kananmu sudah berakhir dong" gumamku santai


"Sampai kapanpun kamu tetap tangan kananku!!"


"Lah, kan tugasku sudah selesai. Kenapa kamu menyuruhku menjadi tangan kananmu lagi?"


"Kamu bergabunglah bersama kami Sani" gumam seorang laki - laki di depan Ryuki


"Bergabung dengan siapa?" tanyaku polos


"Mafia pemberontak" gumam laki - laki tampan di depanku dan muncul beberapa orang yang kuat di belakang Ryuki


"Mafia pemberontak ya? Hmmm tidak terima kasih"


"Kenapa? Kamu sangat hebat tahu. Kamu bisa membantu kami"


"Ya semua mafia tertinggi bergabung dengan kalian, nanti ujung - ujungnya aku terbunuh lah" gumamku santai


"Tidak, aku akan menjamin kamu tidak akan terluka" gumam laki - laki itu dingin


"Ohh benarkah? Tapi aku akan mempertimbangkan lagi..." gumamku menaiki pohon dan berdiri di sebelah Sann Liu


"Aku akan mempertimbangkan untuk membunuh kalian..." gumamku dingin


"Sani..."gumam Ryuki terkejut. Aku melemparkan sebuah kotak ke arah Ryuki


"Berikan itu kepada Angel dan Tony"


"Apa ini?" gumam Ryuki membuka kotakan itu


"Hanya sekotak hadiah ulang tahun kecil dariku"


"Bilang ke Angel dan Tony kalau aku tidak bisa menengoknya ya..." gumamku pelan


"Oh baiklah... Sani apa kamu ketua mafia senior pusat?" tanya Ryuki terkejut


"Bukan, ketuanya dia dan ketua kalian sudah tahu akan hal itu" gumamku santai


"Apa kamu termasuk mafia senior pusat?" gerutu laki - laki itu melemparkan pedang kecil ke arah kami dan dengan cepat aku menepis semua pedang kecil itu dengan pedang dan samuraiku


Taaannggg... Taaannggg


"Waah hebat" gumam Ade terkejut


"Kamu sangat hebat, sayang sekali kamu tidak bergabung dengan kami malah bergabung dengan mereka"


"Bergabung? Tidak aku bukan anggota mereka, aku hanya numpang lewat saja" gumamku santai


"Oh benarkah? Bukannya tujuanmu membantu mereka melawan kami?" tanya laki - laki itu dingin


"Aku punya tujuanku sendiri, kalau tujuanku kalian sudah dari tadi aku membunuh kalian" gumamku memasukkan pedang dan samuraiku


"Kalian punya hutang budi kepadaku karena kau tidak membunuh kalian, semoga kalian membalas hutang budi itu" gumamku menutup kembali kepalaku


"Oh ya sampai jumpa lagi Ryuki, jangan sampai terluka lagi ya" gumamku tersenyum dingin


"Dan jangan beritahu siapapun tentang identitasku dan jangan beritahu kalau aku ada disini" gumamku pelan dan Ryuki mengangguk pelan


Aku dan semua mafia senior pusat segera pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat


"Siapa dia?" tanya Sann Liu menatapku


"Mantan bosku"


"Mantan bosmu?"


"Ya..."


"Ku kira kakak akan ikut bergabung dengan mereka" gumam Sain pelan


"Tidak, aku tidak bergabung dengan siapapun. Aku mau membantu kalian karena Sann terus memaksaku jadi ya mau tidak mau" gumamku santai


"Kalau Sann bukan suami kakak apa kakak menolaknya?"


"Ya, aku tidak pernah bekerja untuk orang lain selain tetua"


"Tapi tetua kan termasuk ke mafia senior pusat"


"Ya memang tapi aku memang tidak bekerja selain tetua" gumamku pelan


"Lalu yang kamu bilang mantan bosmu itu?" gumam Sann Liu menatapku


"Aku hanya balas budi saja karena dia telah menyelamatkanku dan menjagaku saat aku terpuruk, udah itu aja" gumamku santai


"Hanya alasan itu?" tanya Hassan Liu terkejut


"Ya, dia menyelamatkanku saat aku benar - benar jatuh setelah kematian seluruh keluargaku. Aku dibully dihina oleh seluruh orang di kota, mereka menganggapku kalau aku yang membunuh keluargaku sendiri dan menyebabkan orang - orang di kota mengalami kesulitan ekonomi"


"Kenapa bisa langsung mengalami kesulitan ekonomi?"


"Ya ayah dan ibu sering menyumbangkan uang mereka untuk kota, saat ayah dan ibu meninggal tidak ada lagi yang menyumbangkannya apalagi hanya aku yang tersisa, itulah alasannya yang membuat aku dibully habis - habisan di kota" gumamku pelan


"Jadi dia yang menyelamatkanmu?"


"Ya, aku menjadi tangan kanannya agar aku bisa mencari tahu siapa pembunuh keluargaku sebenarnya, awalnya aku salah orang tapi ternyata emang semua mafia tertinggi di wilayah barat yang ingin membunuhku dan pelaku membunuh keluargaku" desahku pelan


"Tapi kak, sebenarnya dalangnya itu laki - laki yang kamu jumpai tadi loh" gumam Sain serius


"Tunggu... Apa?" teriakku terkejut


"Emang kakak kira mafia tertinggi akan melakukannya dengan inisiatif sendiri?"


"Hmmm kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku!!" protesku bergegas kembali ke tempat itu


"Kamu mau kemana?" gumam Sann Liu memegang tanganku


"Kembali kesanalah!!" gerutuku kesal


"Percuma, dia sudah pergi" gumma Sann Liu pelan


"Hmmm, lain kali bilang!!" gerutuku kesal


"Kakak sendiri tidak tanya"


"Ya mana kakak tahu, kamu kalau tahu dia pembunuh keluarga kita kamu kan bisa langsung membunuhnya!!" protesku menatap Sain kesal tapi Sain hanya menundukkan kepalanya


"Hmmm sudahlah sayang, kamu nanti pasti ketemu dengan dia" gumam Sann Liu menenangkanku


"Kalau kamu bukan kembaranku sudah ku bunuh kamu!!" gerutuku kesal


"Kak Sann..." gumam Sain sedih


"Tenang saja kakakmu lagi sensitif dia tidak mungkin melukaimu" gumam Sann Liu pelan


"Hmmm emosinya kayak kakak kalau marah" gumam Hassan Liu


"Apa katamu!!" protes Sann Liu kesal


"Haish kamu juga malah ikut - ikut marah" desah Ade menggelengkan kepalanya


"Hmmm ya sudahlah, kita lanjutkan dulu" desah Sann Liu pelan


"Mari sayang..." gumam Sann Liu merangkulku pelan

__ADS_1


"Hmmm iya" desahku kembali melompati pohon di depanku


Aku masih sangat kesal aku melewatkan kesempatan langka itu, kalau aku tahu dia dalangnya sudah tidak aku beri kesempatan untuknya


__ADS_2