
Pagi ini aku terbangun lebih awal untuk mencoba racun merah dari Sann Liu ke beberapa senjataku dan juga ke jarum - jarum milikku, sedangkan Sann Liu masih tertidur pulas di tempat tidurnya
Tookkk... Tttookkk... Ttookkk
Terdengar suara di pintu kamarku, aku membuka pintu itu dan melihat Sain dan Hassan Liu berdiri di depan pintu sambil membawa makanan
"Hai kakak, kami bawakan makanan untukmu" gumam Sain polos
"Oh ... Mmm terimakasih" gumamku memngambil nampan dari tangan Sain
"Mmm kamu sudah sembuh?"
"Ya, Hassan Liu yang menjagaku dan mengobatiku"
"Oh baguslah, terimakasih Hassan Liu" gumamku tersenyum ramah
"Tidak masalah, dia istriku jadi aku harus mengobati istriku. Ngomong - ngomong dimana kakak?" gumam Hassan Liu menatap wajahku
"Kenapa mencariku?"
"Tidak ada, hanya mengingatkan saja hari ini ada rapat"
"Emang kamu kira kakakmu ini pelupa apa!!" protes Sann Liu kesal
"Ya mana tahu kakak pelupa apalagi kakak sudah tua" sindir Hassan Liu tertawa
"Umur kita sama tahu, beraninya kamu memanggilku tua!!!" teriak Sann Liu kesal
"Kabuuurrr!!" teriak Hassan Liu dan sain berlari meninggalkan kami
"Dasar anak nakal!! Kembali kesini kalian!!" teriak Sann Liu kesal
"Haish..." desahku kembali masuk ke dalam kamar
"Apa yang kamu lakukan dari tadi pagi?" gumam Sann Liu menatapku
"Aku hanya mempersiapkan senjataku saja" gumamku pelan
Aku mencoba melakukan eksperien kepada semia racun yang aku miliki. Mencampurkan racun milikku dengan racun merah itu di sebuah wadah, mencampurkan racunku dengan racun ungu dan mencampurkan racun ungu dengan racun merah di wadah lainnya dan betapa terkagetnya aku ternyata hanya warna tiga percobaan racunku sangat berbeda
Warna campuran racunku dengan racun merah menjadi warna putih, racunku dengan racun ungu menjadi warna putih tulang, sedangkan warna campuran racun merah dengan racun ungu berubah menjadi hitam
"Kenapa jadi berbeda ya?" gumamku mengambil wadah lainnya dan mencampurkan ketiga racun itu sekaligus
"Berwarna transparan?" gumamku terkejut
"Transparan?" gumam Sann Liu terduduk di sampingku
"Racun transparan itu racun level S loh, hebat kamu bisa membuat racun transparan" gumam Sann Liu mengangkat wadah racun milikku
"Padahal aku hanya mencampurkannya aja" gumamku pelan
"Kalau warnanya hitam dan putih seperti ini berarti pencampuran racunmu gagal, tapi kalau di ketiga racun yang gagal ini di satukan.." gumam Sann Liu mencampur tiga racunku itu
"Transparan juga?" gumamku tidak mengerti
"Waah ajaib, kenapa bisa ya?" gumam Sann Liu bingung.
"Aku akan mencobanya" gumamku merendamkan jarum - jarumku ke dalam racun transparanku
"Kamu mau mencobanya kesiapa? Ke aku?" tanya Sann Liu terkejut
"Enggak lah, ke mata - mata" gumamku melemparkan satu jarumku ke luar jendela
"Uuukkkhhh..." rintih seseorang di luar jendela
"Aku dapat satu kan?" gumamku santai, Sann Liu segera keluar kamar dan melihat orang yang baru saja aku lempar jarum itu, aku berjalan mengikuti Sann Liu dari belakang
"Ada apa kak?" tanya Hassan Liu dan Sain berjalan ke arah kami
"Hmmm... Benar kata kamu, dia mata - mata" gumam Sann Liu melihat identitas laki - laki muda itu
"Jarum? Siapa pengguna jarum?" tanya Hassan Liu mengambil jarum itu
"Sepertinya aku pernah mengenal jarum ini.." gumam Hassan Liu berfikir dan jarum yang di pegangnya meleleh di tangan Hassan Liu
"Me... Meleleh?" teriak Sain terkejut
"Istriku yang melakukannya" gumam Sann Liu mengambil beberapa identitas milik laki - laki itu
"Bukannya itu jarum yang ada di saat peperangan asia pasifik dan membunuh seluruh musuh yang kita temui dulu?" gumam Hassan Liu terkejut
"Perang asia pasifik? Perang terbesar itu?"
"Ya itu jarumku dan seluruh orang - orang itu aku yang membunuhnya" gumamku santai sambil berjalan meninggalkan tempat itu
"Kamu yang membunuhnya? Aku tidak percaya!!" gerutu Hassan Liu dingin
"Yang dia katakan benar, dia ketua mafia penguasa" gumam Sann Liu serius
"APA? MAFIA YANG SANGAT KEJAM BAHKAN MISTERIUS ITU?" teriak Hassan Liu dan Sain terkejut
"Ya, aku ketuanya. Kenapa kalian begitu terkejut" guammku santai
"Mana buktinya kalau kamu..." gumam Hassan Liu dan aku melemparkan kartu mafiaku dan lencanaku
"Be... Benar..." desah Hassan Liu terkejut
"Kalian bertiga sudah tahu kan, kalau kalian sampai membocorkan rahasia ini aku bisa saja membunuh kalian bertiga tanpa belas kasihan" gumamku dingin dan melemparkan beberapa jarum ke arah belakang Hassan Liu dan Sain
"Ukkhhh.." rintih beberapa orang terluka
"He... Hebat..." gumam Hassan Liu dan Sain menatap ke arah mereka dengan terkejut
"Ternyata kamu memegang teguh prinsip kerahasiaan dan misterius mafia kalian ya" desah Sann Liu pelan
"Ya, jadi hanya itu yang bisa aku beritahu kepada kalian. Aku harap kalian bertiga mengerti" gumamku berjalan kembali berjalan
"Kakak aku tidak menyangka istrimu sangat hebat, pengindraannya juga bagus bahkan dia bisa mengetahui musuh dengan mudah" gumam Hassan Liu terkejut
"Aku juga tidak percaya dengan kemampuannya" gumam Sann Liu terkejut
"Apa lagi aku saudara kembarnya saja sangat terkejut"
"Sepertinya kamu salah memperhitungkan level untuknya kak" gumam Hassan Liu yang terdengar di telingaku
"Biar aku pikirkan lagi" gumam Sann Liu berjalan mengikutiku
Aku tidak peduli lencana apapun yang akan si berikan, aku hanya ingin membalaskan dendam kematian keluargaku itu saja
Krriiinnggg
Tiba - tiba telponku berbunyi dengan keras, aku mengangkat teleponku yabg ternyata dari Wan
__ADS_1
"Ada apa Wan?" gumamku pelan
"Nona muda, saya mendapat kabar buruk tentang dalang pembunuhan keluarga nona muda"
"Ada apa?"
"Dalangbya bukan Sasha seperti yang nona muda ketahui"
"Lalu? Siapa?" gumamku terkejut
"Linshi nona muda ketua organisasi pemberontak mafia senior pusat"
"Kamu dapat informasi dari mana?"
"Dari tuan Hasan Kim dan San Kim nona, mereka baru saja mengintrogasi salah satu mata - mata organisasi mafia pemberontak"
"Oh baiklah, kalian bertiga... Kembalilah saja" gumamku pelan
"Nona muda tidak ingib informasi lainnya"
"Tidak... Kalian kembali saja"
"Baik nona muda" gumam Wan menutup teleponnya
"Siapa?" tanya Sann Liu masuk ke dalam kamar
"Bawahanku"
"Ada berita apa?"
"Dalang pembunuhan keluargaku Linshi ketua organisasi mafia pemberontak"
"Oh sudah ku duga" desah Sann Liu santai
"Kamu tahu?"
"Tidak, hanya menduganya saja. Kita pikirkan itu nanti, kamu siap - siaplah gaunmu sudah ada di dalam ruang ganti. Sebentar lagi kita akan segera berangkat"
"Baiklah" desahku pergi ke ruang ganti dan mengganti pakaian yang sudah tersedia di dalam ruang ganti lalu berdandan, tidak lupa aku juga membawa beberapa senjataku
"Aku sudah selesai" gumamku pelan
"Waaah cantiknya istriku ini" ucap Sann Liu yang sudah memakai jas hitam dan sangat tampan
"Kamu juga tampan" gumamku dengan wajahku yang memerah
"Oh benarkah? Kamu melihatku sampai wajahmu merah seperti itu?" desah Sann Liu merangkulku
"Eeemm... Tidak kok siapa juga mukanya memerah" gummaku mencari alasan
"Hmmm benarkah?" gumam Sann Liu mencium pipiku dengan lembut
"Tuh kelihatan memerah hahaha"
"Apa sih aaah" gumamku malu tapi Sann Liu malah tertawa kencang
"Mmmm kita akan rapat dimana?"
"Di markas sini" gumam Sann Liu membuka sebuah pintu di depanku. Di dalamnya ada beberapa anak tangga yang menuju ke bawah, Sann Liu terus merangkulku menuruni anak tangga itu
Di ujung anak tangga itu Sann Liu membuka sebuah pintu besar dengan sebuah kartu di tangannya dan pintu itu terbuka lebar. Di balik pintu itu aku melihat ada beberapa orang laki - laki dan dua orang perempuan yang duduk di kursi
"Selamat datang Sann Liu" ucap semua orang menundukkan badan mereka
"Kenapa kamu membawa orang asing kemari?" gumam seoramg laki - laki menatapku dingin
"Mana laki - laki ketua mafia penguasa yang kamu ceritakan itu?" tanya seorang laki - laki menatap Sann Liu dengan bingung
"Dia ketua mafia penguasa yang selama ini kita pikir laki - laki" ucap Sann Liu serius
"APA? APA KAMU BERCANDA?" teriak seluruh orang tidak percaya
"Aku Sani Shin ketua mafia penguasa" gumamku melemparkan lencana dan identitasku
"Yaah benar, dia tidak berbohong"
"Tidak aku sangka mafia kejam dan misterius itu ketuanya perempuan" gumam seorang laki - laki mengembalika lencana dan identitasku
"Yah mafia penguasa yang sangat hebat dan terkenal kejam itu ketua mafianya perempuan aku sangat tidak menyangka" gumam seorang perempuan menatapku
"Baiklah mari kita bahas beberapa agenda" gumam Sann Liu duduk di kursinya
"Nanti dulu" gumamku melemparkan beberapa jarum perakku ke atas
"Uuukkkhhh..." rintih seorang laki - laki terjatuh dari atas langit - langit ruangan
"Mata - mata? Kenapa bisa ada mata - mata disini?" gumam salah satu laki - laki terkejut
"Ya, kenapa dari tadi kita tidak menyadarinya" gumam salah satu laki - laki terkejut
"Memang ada beberapa mata - mata disini, Sani sudah mengalahkan 5 mata - mata untuk pagi ini"
"Apa?"
"Waah hebat"
"Ya benar dia hebat, tapi sayang dia masih lencana level S bintang 3"
"Ya, kenapa tidak di naikan ke level S bintang 5 saja?"
"Mmm ya setuju"
"Ya itu sekalian kita bahas" gumam Sann mengambil beberapa identitas yang dibawa laki - laki itu
"Hai, aku Lia dan dia Widi" gumam seorang wanita cantik di depanku
"Oh hay aku Sani" gumamku tersenyum
"Hai cantik, aku Doni" ucap seorang laki - laki tampan di depanku
"Hai aku Leo" ucap laki - laki berambut pirang di sampingku
"Oh hay juga"
"Udah menikah belum?"
"Eee..."
"Sudah punya suami belum?"
"Eeemmm..."
"Mau tidak menikah dengan Babang tampan dingin" ucap salah satu laki - laki di depanku
__ADS_1
"Eemmm... A... Aku "
"Hei sudah lah kita akan rapat sekarang!!" protes Sann Liu duduk di kursinya dengan wajah dingin
"Kita bahas masalah ini dahulu" gumam San Liu dingin sambil melemparkan beberapa identitas di atas meja
"Oh organisasi pemberontak ya?"
"Ya benar, kita harus mempersiapkan dengan matang sesuai dengan rencana kita sebelumnya apalagi sebentar lagi perang dunia mafia akan dimulai"
"Hmmm benar juga, tapi gadis cantik ini belum mengetahui apa rencana kita"
"Tenang saja nanti aku yang akan menjelaskan kepadanya, saat ini kita pikirkan bagaimana cara kita melakukannya apalagi kemungkinan kita akan membantu mafia senior lainnya bersamaan" gumam Sann serius
"Boleh aku memberikan usulan?" gumamku dingin
"Silahkan..."
"Kenapa tidak melakukan penyerangan seperti saat perang asia pasifik dulu saja apalagi musuh bukan termasuk anggota perang asia pasifik. Jadi akan lebih menguntungkan kita" gumamku santai
"Jadi apa rencanamu?"
"Ya mafia senior lain akan menyerang musuh terlebih dahulu jadi kita membantu dari belakang dengan artian kita lakukan serangan dadakan, kalau kita tidak menggunakan serangan dadakan akan percuma seperti mafia senior pusat sebelumnya dan banyak anggota kalian yang mati "
"Oh jadi itu rencanamu saat perang asia pasifik dahulu yang membuat kalian membunuh begitu banyak musuh?" tanya salah satu laki - laki terkejut
"Ya begitulah" gumamku santai
"Hmmm ide bagus, tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Emang istriku sangat pintar" gumam Sann Liu mengelus rambutku
"A...APA ISTRI??" teriak seluruh orang terkejut
"Emang dia istriku, kenapa?" ucap Sann Liu menatap kesal
"Eemmm... Ti... Tidak apa - apa" gumam beberapa laki - laki menundukkan kapalanya
"Tapi terserah kalian sih, kemungkinan mafiaku akan mengikuti perang dunia mafia secara independen"
"Kenapa harus independen?" tanya salah satu laki - laki di sampingku
"Aku ada tugas tersendiri..."
"Apa karena mafia senior barat?" tanya Sann Liu menatapku serius
"Bukan, tugas balas dendamku sendiri. Walaupun banyak kelompok mafia yang menginginkan keikutsartaanku tapi aku menolaknya"
"Tapi Sani kalau kamu melakukannya sendiri apa kamu bisa melakukannya?" tanya seorang laki - laki di depanku
"Sudah keputusanku sebagai ketua mafia penguasa"
"Tapi kan Sani kamu termasuk mafia senior pusat dan mafiamu mafia terkuat keempat kamu seharusnya ikut membantu kami"
"Maaf tidak bisa, aku tidak mau melibatkan orang lain dari masalahku"
"Masalahmu masalah kami juga Sani!!" protes salah satu laki - laki serius
"Ya benar, sesama mafia terkuat harus saling membantu..."
"Maaf tidak bisa" gumamku dingin
"Ikutlah dengan kami Sani..."
"Ya ikutlah dengan kami..." gumam seluruh orang memohon kepadaku tapi aku hanya diam saja
"Walaupun suamimu sendiri yang meminta?" ucap Sann Liu menatapku kesal
"Ya.."
"Hmmm... Vans tolong lanjutkan sebebentar, aku akan membujuknya" gumam Sans Liu menarik tanganku
"Aku bilang enggak ya enggak!!" protesku kesal
"Udah ikut aja!!" gerutu Sans Liu kesal, dia membuka salah satu pintu dan mendorongku ke dinding
"Apa!!!" teriakku kesal
"Kenapa kamu sangat keras kepala?"
"Aku daei awal emang ingin melakukannya sendiri!! Apa salah!!" protesku kesal
"Ya itu salah, kamu istriku seharusnya kamu menurut denganku"
"Aku tidak mau melibatkan siapapun ke dalam urusan pribadiku, banyak yang ingin membunuhku... Aku tidak ingin kalian terlibat!!" teriakku kesal, Sann Liu mengangkat daguku dan menatap mataku dengan tatapan sangat dingin
"Aku tidak peduli, siapapun yang ingin membunuh istriku... Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!!" gerutu Sans Liu dingin
"Sann kamu tidak mengerti, banyak yang ingin membunuhku. Aku hanya ingin membalaskan dendam kematian keluargaku setelah aku lakukan semua itu aku memang ingin... Bunuh diri" gumamku pelan
"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya Sann Liu terkejut
"Dulu tujuanku hidup hanya untuk markas tetua senior, tapi saat ini tujuanku hidup untuk balas dendam, hanya itu setelah itu aku tidak punya tujuan hidup" gumamku pelan, Sann Liu memeluk erat tubuhku yang membuatku sedikit sedih
"Kamu istriku, aku tidak akan membuatmu menderita. Kamu harus tetap hidup dan menjadi istriku yang polos dan penurut. Apa kamu mengerti!!"
"Tapi Sann..."
"Tidak ada tapi - tapi..."
"Hmmm tolong mengertilah Sann, aku hanya ingin melakukannya sendiri. Aku tidak ingin melibatkanmu atau ketua mafia lainnya"
"Sayang kamu swmalam sudah berjanji melakukan semua persyaratanku kan? Jadi lakukanlah"
"Aku akan melakukannya tapi bukan... Mmm..." gumamku dan San Liu mencium lembut bibirku dan menggigitnya dengan keras
"Aku tidak peduli, apapun keadaannya hal itu tetap berlaku apa kamu mengerti!!"
"Tapi... Uuuukkkhhh" rintihku kesakitan saat Sann Liu mengigit leherku dengan kuat
"Kamu mau lakukan tidak!!!"
"Tidak!! ... Uuuukkkhhhh" rintihku kesakitan
"Lakukan tidak!!!"
"Ba... Baik... Baik!!! Aku akan melakukannya tapi jangan melarangku membunuh mangsaku" rintihku kesakitan
"Hmmm bagus, itu baru istriku..." gumam Sann Liu melepaskan gigitannya. Aku memegang leherku yang masih terasa nyeri
"Ka... Kamu tidak apa - apa sayang?"
"Tidak... Kembalilah" gumamku terduduk dan bersandar di dinding belakangku
"Hmmm, baiklah kamu harus kembali ke rapat tahu" gumam Sann Liu keluar dari ruangan itu dan meninggalkanku sendiri
__ADS_1
Aku hanya tertunduk diam, aku sangat sedih semua rencanaku akan terbuang sia - sia. Dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang