
Selama perjalanan tetua mafia pusat menjelaskan rencana kami di medan pertempuran nanti, rencana ini dibutuhkan agar kami melakukan pernyerangan ini dengan terencana dengan baik agar kami bisa menang.
"Baiklah apa kalian mengerti?" gumam tetua menatap kami serius
"Ya kami mengerti tetua" ucap kami serius
"Baguslah kalau begitu, perjalanan darat kalian akan membutuhkan waktu berjam - jam jadi tetap waspada"
"Baik tetua" gumam Sony dan Rian serius
"Hmm..." desahku melihat ke bawahku yang dipenuhi dengan asap dan juga hutan yang terbakar hangus
"Ada apa Sani?" tanya tetua menatapku
"Sangat buruk" gumamku pelan
"Area pertempuran ya? Ya memang snagat kejam mereka karena mereka sangat kuat. Makanya aku meminta kalian bertiga bekerjasama, perang ini berbeda dengan perang asia pasifik"
"Baik tetua"
"Kalian bertiga jangan sampai mati apalagi kalian berdua Sani dan Sony.." gumam tetua menundukkan kepalanya
"Perang dunia belum dimulai dan ini masih awal dari perang dunia jadi aku harap kalian masih hidup" desah tetua pelan
"Ini masih awalnya?" teriakku terkejut
"Ya benar, jadi jaga diri kalian baik - baik"
"Lalu kapan perang dunia ini dimulai tetua?" tanya Sony penasaran
"Tidak ada yang tahu, ini masih awal mungkin beberapa tahun lagi, awal peperangan ini di khususkan untuk mafia level rendah. Semakin banyak pertempuran semakin tinggi level mafia yang akan di musnahkan dan lama kelamaan sasaran mereka adalah 10 mafia tertinggi di dunia" gumam tetua serius
"10 mafia tertinggi? Tidak mungkin kan?" tanyaku terkejut
"Ya itu kenyataannya" desah tetua pelan
"Tujuan adanya perang dunia adalah menghapuskan mafia pusat dan menciptakan mafia baru yang bisa mereka pimpin seenak mereka dan emnginjak - injak orang lemah" gumam tetua serius
"Jadi kalian harus mencegah hal itu terjadi" gumam tetua serius
"Baik tetua" ucap kami bersamaan
"Baiklah, kita sudah sampai. Kalian bisa pergi sekarang.." gumam tetua membuka pintu helikopter itu
"Baik tetua" ucap kami serius dan segera berlari menuju tempat diadakannya pertarungan itu
Selama perjalanan kami berjumpa dengan berbagai jenis mayat mafia yang terbunuh dengan cara yang kejam, di antara mayat itu aku melihat tubuh Tony yang terluka parah. Aku menghentikan langkahku dan segera ke tempat Tony terbaring lemah itu
"Tony!!! Angel!!!" teriakku terkejut ternyata tubuh itu benar tubuhnya tony, tubuh Tony terluka dengan sangat parah yang membuatnya lemah sedangkan Angel dia tidak bergerak sama sekali
"Tony kamu masih hidup kan?" gumamku menggerakkan badannya Tony
"O.. Ooh hay Sani, kita bertemu lagi" desah Tony lemah
"Jangan banyak bergerak!!"
"Aku senang bisa bertemu denganmu di sisa hidupku Sani"
"Kamu ngomong apa sih!!!"
"Aku serius Sani, aku senang bisa bertemu denganmu di sisa hidupku saat ini bahkan sebelum mati aku bisa bertemu denganmu, aku sangan senang" gumam Tony memejamkan matanya
"Tony!!! Jangan meninggal dulu!!" teriakku panik. Rian segera memegang nadi Tony
"Dia masih bisa di selamatkan, sepertinya dia kelelahan dan dipenuhi luka jadi dia pingsan"gumam Rian pelan
"Kalau dia bagaimana?" tanyaku mengangkat tubuh Angel
"Detak jantungnya sangat lemah kalau tidak segera di tangani, aku khawatir dia akan mati" gumam Rian pelan
"Roy...!!! Zaki!!!"" teriakku keras
"Iya nona..."
"Bawa mereka berdua berobat segera mungkin!!" teriakku keras
"Baik nona" gumam Roy dan Zaki menggendong tubuh Tony dan Angel pergi dari tempat itu
"Kenapa kamu sangat peduli dengan mereka Sani?" gumam Sony menatapku
"Mereka temanku dan sudah aku anggap adikku sendiri bahkan Ryuki juga sudah aku anggap keluargaku sendiri jadi aku tidak ingin keluargaku terluka ataupun terbunuh lagi" gumamku dingin
"Oh benarkah? Bukan karena mereka mencintaimu?" gumam Sony dingin
"Mencintaiku? Tidak hanya mereka yang mencintaiku tapi banyak laki - laki yang mencintaiku. Dan aku tidak terkejut masalah itu" gumamku pelan
"Kamu wanitaku Sani dan akan selalu seperti itu"
"Aku tidak tertarik" gerutuku kesal dan beranjak pergi kembali
"Kamu ya!!" protes Sony kesal
Aku tidak peduli sekarang, yang aku khawatirkan adalah Ryuki. Apakah dia akan baik - baik saja? Kalau kedua adiknya yang kuat dari dia saja terluka parah seperti itu bagaimana dengan keadaan Ryuki?
Perjalanan jauh kami lalui dan banyak mayat mafia yang menghiasi jalur yang kami lalui ini. Karena kami melompat dari dahan pohon ini membuatku bisa melihat beberapa pertarungan di bawah kami. Tidak beberapa lama kemudian aku melihat Ryuki, Taka Zenn, dan Samuel yang sedang terluka di tanah sedangkan Hyung dan Bram berdiri di depan mereka berdua
"Kalian berhenti" gumamku pelan yang membuat Sony dan Rian berhenti
"Ada apa Sani?" tanya Sony bingung
"Liat itu, adikmu, Taka dan Ryuki ada di bawah" gumamku menunjuk ke bawah
"Samuel!!!" teriak Sony terkejut, aku segera menahan tangannya
"Lepaskan aku Sani, adikku terluka!!" protes Sony kesal
"Nanti dulu, kita lihat dulu apa yang mereka lakukan, nanti kita akan menyerang mendadak" gumamku menenangkan Sony
"Hmmm baiklah" desah Sony mengalah
Aku melihat dan mendengarkan baik - baik apa yang mereka katakan sekalian menunggu waktu yang tepat untuk menyerang
"Hahaha... Ini? Yang dimaksud 10 mafia terkuat?" teriak Bram tertawa
"Sangat lemah!!"
"Lemah ya? Kami tidak lemah!!!" protes Taka kesal
__ADS_1
"Hahaha buktinya kalian bertiga melawan Hyung saja tidak bisa"
"Memang sampah...!!!" gumam Hyung dingin
"Matilah kalian bertiga!!!" teriak Hyung dan Bram mengangkat kedua tangan mereka
"Ayo Soni... Rian" teriakku mengambil senjatau dan turun ke bawah
Taaaannggg
Suara senjataku dan senjata Sony menahan senjata milik Hyung sedangkan Rian menahan senjata Bram
"Kita ketemu lagi Hyung Sa..." ucapku menatap Hyung dengan dingin
"Sa... Sani!!!" teriak Ryuki, Samuel, dan Taka bersamaan
"Oh si cantik ya, tumben bersama dengan si sampah ini" sindir Hyung menatap Sony dingin
"Siapa yang kamu sebut sampah haaah!!!" teriak Sony melawan Hyung sendirian
"Memang kamu sampah, kamu tidak pantas dengan si cantik"
"Tutup mulutmu Hyung Sa!!!" teriak Sony kejam
"Huuh sudah aku duga kan dia melakukan seorang diri.." desahku menepuk dahiku
"San... Sani..." gumam Ryuki berusaha meraih tanganku
"Ryuki kamu tidak apa - apa?" tanyaku terkejut melihat Ryuki terluka parah
"Aku... Aku tidak apa - apa, aku senang bisa bertemu denganmu sebelum aku mati"
"Haish kamu ngomong apa sih!!" gerutuku kesal
"Aku mengatakan sebenarnya.." desah Ryuki tersenyum, Haish sama seperti Tony saja
"Sani... Uhhuuukkkk... Uuuhhuuukkk" tiba - tiba Ryuki batuk darah yang membuatku sangat khawatir, mungkin dia terluka di organ dalam
"Jangan banyak bergerak tahu!!!" protesku kesal
"Aku sangat bahagia bertemu denganmu Sani"
"Hmmm aku juga" desahku tersenyum
"Woy Sani bantuin napa!!" protes Sony kesal
"Iya bawel!!" protesku melepaskan tangan Ryuki
"Sani jangan, kamu nanti terluka!!" gumam Ryuki lemah
"Tenang saja, kamu jangan mati sebelum aku mengobatimu. Paham" gumamku pelan dan mencium kening yuki dengan lembut dan Ryuki hanya tersenyum manis
"Waaan!!" teriakku keras
"Iya nona muda"
"Tolong obati mereka bertiga..." gumamku dingin
"Baik nona" gumam Wan mengeluarkan obat merah dan perban
"Sani hati - hati di belakangmu!!!" teriak Ryuki dan secepat kilat aku menahan pedang milik Hyung
"Haah menurutmu?" gumamku dingin dan menyerang Hyung serius
Di belakang Hyung aku melihat Sony yang terluka akibat senjata milik Hyung
"Oh kamu ternyata bisa melukai Sony itu ya" gumamku dingin
"Heeh si sampah saja, dia bukan tandinganku" gumam Hyung sombong
"Oh ya benar dan kamu juga bukan tandinganku" gumamku dingin dan mengganti formasi gerakanku yang menyebabkan pedang milikku terkena lengan Hyung
"Uuukkhh..." rintih Hyung kesakitan
"Hanya ini kemampuanmu dari dulu? Mantan pacarku" gumamku dingin
"Mantan pacar?" gumam Ryuki terkejut
"Ya memang Hyung itu mantan pacar nona muda" gumam Wan mengobati Ryuki
"Heeh sudah lama aku tidak mendengarkan kamu memanggilku mantan pacar" gumam Hyung dingin
"Ya, pasti kamu juga ingat kan gerakanku seperti apa dari dulu. Tapi maaf saja kamu bukan tandinganku Hyung" gumamku mengarahkan samuraiku ke arah Hyung dan melemparkan pedangku ke arah Bram
"Uukkkkhhh..." rintih Bram terjatuh karena pedangku tertancap di dadanya
"Waaah Sani hebat..." terak Ryuki, Samuel, dan Taka terkejut
"Hei kamu hampir membunuhku!!" protes Rian terkejut
"Kamu semakin hebat saja wanitaku.." gumam Hyung tersenyum dingin
"Hei dia wanitaku ya!!" protes Sony kesal
"Heeh kamu sampah tidak pantas dengan wanitaku"
"Dasar Hyung sialan!!!" teriak Sony kesal
"Hyung, sekarang jawab pertanyaanku siapa yang menyuruhmu membunuh seluruh keluarga besarku dan keluarga besar Sony" gumamku dingin
"Heeh kenapa kamu ingin tahu?"
"Menurutmu?" gumamku dingin
"Seumur hidupku aku tidak akan mengatakannya kepadamu"
"Oh benarkah? Kalau begitu boleh aku menyiksamu sebelum kamu mati kan" gumamku dingin dan menggoreskan samurai beracunku di dada Hyung
"Aaaauuu sakitlah!!" protes Hyung kesal
"Jadi mau menjawab atau aku akan terus menyiksamu" gumamku dingin
"Baik - baik aku akan mengatakannya kepadamu" desah Hyung pelan
"Tuan Nizar Lee yang menyuruhku Sani. dia ketua mafia terbesar di Korea. Dia bilang ayahmu kalah berjudi dengan Tuan Nizar dan ayahmu tidak mau menyerahkanmu kepada Tuan Nizar Lee"
"APA? Alasan yang klasik" gerutuku kesal
__ADS_1
"Itu kenyataannya Sani"
"Lalu untuk apa dia menginginkanku?" gumamku kesal
"Kamu akan dinikahkan dengan anaknya yang bernama Han Lee"
"Han Lee?" gumamku terkejut
"Ya Han Lee, ketua mafia Mutiara Emas. Dan dia bekerjasama dengan Sasha mantan murid tetua mafia pusat"
"Apa katamu? Sasha?" teriak Sony terkejut
"Ya benar, dan peperangan ini adalah ide dari Sasha.." gumam Hyung pelan
"Sasha ya.." desahku mengerti
"Aku sebenarnya tidak berani membunuh keluarga kalian berdua tapi aku diancam Sani, Keluargaku juga di bunuh oleh Bram dan juga mereka berdua lalu menjadikanku alat pembunuh saja Sani, aku tidak bisa melawan ataupun melakukan apapun. Kamu tahukan Han Lee seperti apa dan kamu pernah bertarung melawannya kan" gumam Hyung pelan
"Ya aku tahu..." desahku menarik pedangku dari tubuh Bram
"Aku sangat ingin balas dendam atas kematian keluargaku Sani, tapi aku tidak berdaya..." desah Hyung pelan
"Kamu mau membalaskan dendammu?" gumamku dingin
"Ya pastilah, aku juga sudah tahu strategi mereka. Kalau aku kuat aku sudah membalaskan dendamku. Tapi..." desah Hyung pelan aku memasukkan senjataku kembali dan terduduk di depan Hyung
"Kalau begitu kamu mau membantuku membalaskan dendam kita" gumamku mengulurkan tanganku
"Sani apa kamu gila?" teriak Sony terkejut
"Sani dia musuh bisa saja dia berakting dan membunuhmu" protes Rian kesal
"Tenang saja, aku tahu mana yang berakting dan mana yang serius. Apalagi aku lebih mengenal Hyung dari pada kalian semua.." gumamku tersenyum
"Sani apa kamu serius?" tanya Hyung tidak percaya
"Ya aku serius mengajakmu bekerjasama..." gumamku tersenyum, tiba - tiba Hyung memelukku erat
"Sani terimakasih.." gumam Hyung pelan
"Tidak masalah, aku percaya kepadamu.. Hyung Sa" gumamku tersenyum
"Hmm kamu sama seperti dulu sangat polos.." desah Hyung melepaskan pelukannya
"Tidak juga..." desahku berdiri di depan Hyung
"Aku akan bekerjasama denganmu tapi kamu harus mendapatkan hukuman menyakitkan dari mafia penguasa dulu, kalau kamu bisa bertahan dan menjaga kepercayaanku kepadamu. Aku akan bersedia bekerjasama denganmu" gumamku menatap Hyung dingin
"Baiklah, apapun hukumanmu aku akan melakukannya.." desah Hyung menundukkan kepalanya
"Baguslah... Roy, Zaki... Bawa dia ke markas" gumamku melangkahkan kakiku ke arah Sony
"Baik nona" gumam Roy dan Zaki pergi bersama dengan Hyung
"Kamu terluka?" gumamku menatap Sony
"Tidak juga..." gumam Sony pelan
"Hmmm dasar tukang bohong..." gumamku mengambil obat merah dan perban di dalam tasku
Aku membuka pakaian Sony dan mengobati luka yang ada di punggung Sony
"Uukkhh... Sakit.." rintih Sony pelan
"Kamu semakin kurus saja ya Sony.." desahku pelan
"Ti... Tidak juga, aku merasa tambah gemuk"
"Hmm gemuk dari mana juga, kamu sangat kurus" gerutuku pelan
"Oh benarkah.. Hmmm terimakasih Sani..." desah Sony pelan
"Tidak masalah" gumamku berdiri di depan Sony
"Sani, apa kamu masih mencintai Hyung?" gumam Sony menatapku serius
"Tidak, aku tidak mencintainya"
"Lalu siapa yang kamu cintai?" gumam Sony menatapku serius
"Kenapa kamu bertanya masalah itu?"
"Aku hanya ingin tahu saja.."
"Kamu akan tahu nanti" gumamku berbalik arah, tangan Sony menggenggam tanganku dengan erat
"Jawab Sani... Siapa yang kamu cinta!!"
"Apa aku harus menjawabnya sekarang?" gumamku pelan
"Ya, kamu harus menjawabnya sekarang"
"Hmmm... desahku pelan
"Aku mencintai... Kamu dan Ryuki" gumamku pelan
"APA?" teriak semua orang terkejut
"Ya aku mengatakan yang sebenarnya, jadi kalian harus lebih kuat dariku untuk merebut hatiku. Apa kalian mendengarnya Ryuki... Sony?" gumamku serius
"Ya aku mendengarnya Sani..."
"Huummpp kamu tidak bisa mengalahkanku Ryuki" gerutu Sony kesal
"Heeh liat saja nanti..." gumam Ryuki dingin
"Sani kamu itu tunanganku!!!" protes Sony kesal
"Ya aku tahu itu, aku ingin tahu seberapa hebatnya kamu berlatih beberapa tahun yang lalu... Jadi jangan sampai kalah melawan Ryuki... Tunanganku" gumamku tersenyum dingin
"Heeh? Aku tidak akan mudah terkalahkan" gumam Sony dingin
"Baguslah... Buktikan kepadaku tunanganku" desahku pelan
"Wan, tolong bawa mereka semua berobat ya... Aku mau istirahat" gumamku bergegas meninggalkan tempat itu
"Baik nona muda"
__ADS_1
Aku bergegas pergi menuju ke markasku untuk beristirahat, aku masih tidak menyangka saja otak yang membunuh keluarga besarku adalah Sasha dan Han Lee. Dan aku tidak menyangka juga kekuatan Hyung masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah sama sekali dan aku dengan mudahnya mengalahkan Hyung sedangkan Sony sama sekali tidak bisa melukainya. Apa Sony semakin lambat sekarang? Apa aku memancing emosi Sony dengan bilang aku mencintai Ryuki dia menjadi kuat seperti dulu?